ABANG PSIKOPAT [END]

ABANG PSIKOPAT [END]
Chapter five


__ADS_3

Terik nya sinar matahari memasuki kamar zhishu yang jendelanya tidak tertutup dari semalam.


Alan yang sedang tertidur sekarang sudah bangun dan mengelus puncuk kepala adiknya yang tersayang itu.


Zhi merasa terganggu dengan kelakuan alan, kini membuka matanya.


"Bangun dah pagi nanti telat lohh." ucap alan lembut pada adiknya.


"Iyaa." jawab zhishu.


"Kamu siap siap jangan lupa mandi ya kamu bau tau, abang mau ke kamar dulu." kata alan sambil membuka langkah menuju kamarnya, zhishu hanya mengendus kesal dengan kelakuan abangnya sekaligus senang.


Alan pov


"Sial! Kenapa ******** itu bisa kesini lagi?" tanya ku geram sambil memukul tembok kamarku.


Bagi ku dia bukan hanya ayah yang tidak bertanggung jawab tapi juga seorang laki laki yang tidak pantas dibilang laki laki lebih tepatnya BANCI.


Dia seorang pecundang! Egois! Aku benci dia! Aku ingin dia musnah dari muka bumi ini.


Selesai dengan amarahku aku memutuskan untuk mandi agar lebih rileks.


Dengan air dingin yang mengguyur tubuhku aku mendapatkan sedikit ketenangan. Aku segera bersiap siap untuk sekolah.


Kini aku dan didi sedang berangkat menuju sekolah tapi sebelum itu aku ke rumah Laurent untuk menjemput nya.


"Masuk." Perintah ku pada Laurent saat dia berada di depan mobilku, aku menyuruh didi untuk duduk dikursi belakang.


Tanpa aba aba Laurent langsung masuk kedalam mobil alan dan mereka berangkat ke sekolah masing-masing. (Alan ke kampus ya:v)


"Sampai, kalau ada apa apa bilang abang aja." Ucap alan. "Oke boss." Jawab didi dan keluar dari dalam mobil setelah berpamitan pada alan dan laurent.


Alan dan laurent langsung menuju ke kampusnya. Hening, hanya itu yang dapat mengungkapkan keadaan saat ini.


"Udah sarapan?." Tanya Alan.


"Udah." Jawab laurent tanpa melihat alan.


Saat mereka sampai di kampus, laurent langsung turun dari mobil Alan dan bergegas menuju kelasnya.


Alan mencekal tangan laurent yang hendak pergi. Laurent hanya memutar bola mata nya malas.


Alan dan laurent berjalan beriringan menuju kelas, saat sampai laurent langsung duduk dikursi nya dan mengabaikan Alan.


Alah hanya tersenyum tipis. Alan menelfon zhishu untuk merencanakan sesuatu yang menyenangkan.


"Gimana kita jadi taruhan?." Tanya Alan pada zhishu.


"Jadi dong." Jawab zhishu disebrang sana.


"Abang punya kejutan buat kamu." Ucap Alan.


"Apa?." Tanya zhishu penasaran.


"Nanti juga kamu tahu, tapi butuh waktu untuk merencanakan ini, kamu tunggu tanggal mainnya saja hahaha." Ucap Alan sembari tertawa kencang sehingga menyebabkan beberapa mata melirik dirinya. Namun, Alan ya tetap Alan. Dia tidak peduli sama sekali tentang orang lain.


"Yaya baiklah aku tunggu." Jawab zhishu dan menutup telfonnya.


Zhishu pov


"Kira kira kejutan apa ya yang dikasih abanh? Mayat anak kecil? Atau korban?." Gumam zhi


"Udahlah tunggu aja."

__ADS_1


Waktu terus berjalan, bunga yang kuncup menunggu untuk mekar, bayi yang kecil menunggu untuk dewasa, dan orang yang didekat mereka akan menunggu ajalnya.


Bel pulang sekolah berbunyi, dengan cepat zhi membereskan semua peralatan nya dan segera bergegas mencari korban.


"Halo.. Aku pulang sendiri." Ucap Zhi pada Alan di telfon dan langsung mematikannya tanpa memberi Alan kesempatan untuk bicara satu huruf saja.


Zhi berjalan seorang diri sambil melihat, apakah ada korban yang cocok atau tidak.


"Eh zhishu sendirian aja nih?." Tanya seseorang yang tiba-tiba muncul disamping Zhi dengan motor merahnya.


"Iya." Jawab Zhi.


"Mau gue anterin pulang gak?." Tanya seseorang itu, fio namanya teman sekolah Zhi juga namun beda kelas.


"Hmm... Boleh deh." Jawab zhishu dan naik ke motor fio.


"Bagus juga buat korban haha, gege siapkan saja dirimu untuk memenuhi kemauan ku." Batin zhishu.


"Alamatnya dimana?." Tanya fio.


"Depan belok kanan." Jawab zhishu dan fio hanya ber oh ria.


Saat sampai si tempatnya fio kaget dengan apa yang dia lihat dihadapannya. Bagaimana mana bisa Zhi tinggal di sebuah gedung yang terbengkalai?


"Kamu tinggal disini?." Tanya fio.


Zhishu yang merasa fio sudah curiga langsung mengambil sarung tangan yang ada di saku roknya untuk membekap fio.


Tentu saja fio pingsan, sarung tangan itu sudah diberi obat olehΒ  Zhi.


Zhi langsung membawa fio kedalam, waktu sudah sore dan hampir menjelang malam. Zhishu sudah menyiapkan semuanya.


Fio yang tadi pingsan kini sudah sadar, tapi?


"Apa apaan ini?!." Tanya fio dengan nada tinggi karena heran dengan keadaan nya yang diiket.


"Lepasin gue!." Bentak fio.


"Iya nanti ya kalo kita udah main, nanti aku lepasin kok." Jawab zhishu dengan senyum mengerikan.


"Lo mau apa?." Tanya fio.


"Aku cuma mau main doang kok, gak usah takut gitu ah." Kata zhishu sambil memainkan pisau lipatnya didepan fio.


"Zhi lo gak mungkin kan." Tanya fio gugup.


"Gak mungkin apa? Gak mungkin bunuh lo? Sebenarnya gue gak niat sih buat bunuh lo, tapi lo sendiri yang nyamperin ajal lo." Ucap zhishu sambil mendekati fio.


"Zhishu lo dasar biadab!" Bentak fio dengan mata yang tajam.


Plakkkk


Satu tamparan mendarat dengan sempurna di pipi fio. Dengan geram zhishu memandang fio.


Author: weiii lu pada ngapa jadi pandang pandangan tar jatoh lohh..


Zhi : bacot lo Thor, mau jadi korban selanjutnya?


Author: aku anak baik aku diam:)


"Apa lo bilang? Coba ulang sekali lagi?." Tanya zhishu dengan senyum licik dan memainkan pisaunya, yang sudah siap dipakai.


"Lo biadab, ********, brengsek, dasar pelac*r." Teriak fio.

__ADS_1


Syattttt


Satu sayatan cantik membelah pipi kanan fio, fio hanya dapat menyumpahi Zhi dalam hati nya dan menahan rasa sakit.


"Gimana? Sakit?." Tanya zhishu. "Ulululu kasian sini aku tambahin." Ucap zhishu dan menambah sayatan di seluruh muka fio.


Fio menggerang kesakitan.


Zhishu yang sudah tidak sabar akhirnya langsung memulai nya, yang tadi hanyalah sebuah pemanasan.


Dengan bangga Zhi memotong telinga kanan fio.


"********."


"Arghhhh"


"Jalangggggg"


"Biadab"


Sebuah melodi indah terdengar ditelinga zhishu.


"Melodi yang indah, tapi kalo aku robek mulut kamu apa bisa mengeluarkan melodi yang indah lagi?." Ucap Zhi sambil mengasah golok miliknya.


"Fio... Fio... Jangan mati dulu ya? Aku masih mau main sama kamu." Ucap Zhi lembut namun mematikan bagi fio.


"Drttt-"


"Drrrt-"


Handphone Zhi berdering dengan hebatnya diatas meja yang telah berjejer beragam pisau.


"Siapa sih? Ganggu aja." Duel Zhi. Zhi melangkah kan kakinya menuju meja untuk mengambil HP nya.


"Abanh?" Gumam Zhi dan mengangkat telfon. Fio yang sudah tak berdaya itu dibiarkan merasakan sakit yang teramat.


"Apa?." Tanya Zhi.


"Kamu dimana ko belum pulang?." Tanya Alan disebrang sana.


"Lagi bunuh fio." Jawab Zhi santuy.


"Apa?! Kamu bunuh fio?!"Β  Tanya Alan kaget.


"Iya kenapa emangnya?" Tanya Zhi lagi.


"Kamu curang." Ucap Alan


"Lah ko curang? Makanya bang jangan sibuk sama pacar abang terus lupa kan sama kompetisinya." Cibir zhishu.


"Hahaha.. Cemburu nihh iyaiya abang minta maaf." Ucap Alan.


"Hm." Gumam Zhi.


"Udah ah aku mau lanjut lagu keburu mati entar orang nya kan gak asik." Ucap Zhi.


"Iya ud- tutt-" Zhi mematikan telfonnya.


Zhi melanjutkan aksinya, Zhi mendekati fio sambil memegang golok miliknya.


Plaskkkkk


Kepala fio gelinding entah kemana, alunan indah sudah tiada lagi yang ada hanya semringan Zhi yang menggelegar diseluruh penjuru ruangan.

__ADS_1


"Maaf ya fio, gue udah muak main sama lo, bye bye gue pulang duluan ya? Eh kan lo yang pulang duluan ya.. Hahahahaha." Ucap Zhi sambil tertawa lepas.


Note : selamat membaca πŸ˜πŸ™πŸ™Œ


__ADS_2