ABANG PSIKOPAT [END]

ABANG PSIKOPAT [END]
Chapter Twenty Seven


__ADS_3

Mata lebam, hidung dan mulut yang mengeluarkan darah segar serta pipi yang sudah sedikit robek.


***


Tertampanglah wajah Genus yang sudah hampir tak berdaya akibat siksaan para bajingan itu.


"Genus?" Tanya Alan.


Alan memeluk Zhi dengan erat.


"Perr.. Giii!" Ucap Genus.


Satu orang lagi datang dengan kupluk yang menutupi setengah wajahnya.


"Hahahahaha apa kamu terlalu benci pada ayahmu ini wahai anak ku?" Tanya nya sambil membuka kupluk nya.


Alan terkejut dengan apa yang dia lihat, Jhon winata masih berdiri di depan wajahnya dengan sehat, tanpa luka sedikit pun.


"Kokkk..?"


"Kenapa? Heran kenapa ayah kamu belum mati?" Tanya Jhon winata.


Alan hanya diam membisu, sedangkan Genus dari tadi berusaha memberikan kode untuk pergi.


Alan masih diam ditempat tanpa bergeming, Zhi yang mengetahui keadaan itu langsung mengambil pistol dari balik jaket yang digunakan Alan.


"Dorrr"


Zhi menembak tepat di dada kiri orang yang menjambak Genus.


Alan segera mendekat dan menggendong Genus lalu berusaha lari keluar gedung.


Sedangkan Zhi masih harus bermain pistol.


Dengan lincah Zhi melepaskan pelurunya dan tepat didada kiri semua anak buah Jhon, namun bagi Jhon ini bukan lah apa apa.


Jhon masih diam melihat aksi Zhi yang sudah membunuh seluruh anak buahnya.


"Kok kamu ditinggal?" Tanya Jhon.


"Bukannya abang kamu itu sayang banget sama kamu?" Tanya Jhon lagi.


Zhi tidak menjawab, dia hanya menatap manik Jhon dengan pekat. Terdapat dendam tersirat dihatinya.


"Kok diem?" Tanya Jhon lagi.


Lagi lagi Zhi tetap diam.


"Tett.. "


Akan membunyikan klakson mobilnya, Zhi langsung mengambil gas air mata yang ada di kantung celananya dan melemparkan ke arah Jhon winata dengan diam diam.


"Arghhhh!"


Zhi mendorong Jhon winata dan segera menembak nya, namun sialnya dia tidak menembak nya tepat di dada kirinya. Hanya terkena di kedua kakinya saja.


Zhi masuk ke dalam mobil dan Alam langsung menancapkan gas nya, membawa mobil dengan kecepatan menggila.


Alan kembali ke rumah yang lamanya.


Alan dan Zhi selama membunuh orang tinggal dirumah barunya. Dimana Gilang dan pelayan lainnya tidak ada disana.


Author: masih inget Gilang kan?


Gilang: lo sih thor gue jadi dilupakan:(


Author: maap gue juga lupa ma lu :"

__ADS_1


Hanya butuh waktu 30 menit untuk Alan.


Saat Alan berada di depan gerbang rumahnya, pelayan Alan langsung membukakan gerbang.


"Brakkkkk"


Alan membanting pintu dengan keras membuat pelayang yang didalam rumah sedikit terkejut.


"GILANGGG!!!" Teriak Alan dan Gilang langsung muncul dengan cepat.


"Iya tuan?" Tanya Gilang.


"Panggil dokter kesini! Cepat!" Perintah Alan dan Gilang langsung menghubungi dokternya.


Alan membawa Genus ke kamar tamu dan diikuti oleh Zhi.


"Abang keluar dulu aku mau bersihkan luka kak Genus dulu." Ucap Zhi dan Alan mengangguk.


Alan keluar dari kamar tamu, Zhi mengambil kotak obat yang berada di setiap kamar. Memberikan Genus pertolongan pertama.


Menggantikan pakaian Genus yang sudah ternoda dengan darah dibantu dengan pelayan wanita lainnya.


Sesudah memberikan pertolongan pertama dan menggantikan pakaian Genus Zhi keluar kamar dan menunggu dokter di ruang tamu bersama Alan.


"Ini dokter nya tuan." Ucap Gilang.


"Cepet periksa." Ucap Alan.


Dokter itu memeriksa kondisi Genus dan memberikan obat serta memperban luka luka yang diderita Genus.


"Ini harus dibawa ke rumah sakit." Ucap dokter nya.


"Gak usah, kalo perlu barang bilang aja." Ucap Alan.


"Tapi ini harus dijahit."


Gilang yang sudah mengerti langsung memberikan peralatan lengkap untuk menjahit luka luka Genus.


"Kalian boleh keluar dulu?" Tanya dokter itu.


Alan, Zhi serta Gilang pun keluar menunggu dokter itu.


Alan dan Zhi duduk di sofa ruang tamu, Gilang mengambilkan minuman untuk mereka.


Alan melihat Zhi yang menyenderkan kepalanya di sofa.


"Dek." Panggil Alan.


"Hm?" Dehem Zhi.


Alan menarik kepala Zhi kedalam pelukannya.


"Maafin abang gak bisa jagain kamu." Ucap Alan sambil memeluk dan mengelus rambut Zhi lembut.


"Iya." Ucap Zhi dan membalas pelukan Alan.


"Abang sayang banget sama kamu, abang gak mau kehilangan kamu." Ucap Alan dengan setetes air mata.


"Iya, aku juga sayang banget sama abang." Ucap Zhi dan menghapus air mata Alan.


Alan tersenyum begitu juga dengan Zhi.


"Tuan." Panggil Gilang.


"Apa?" Tanya Alan.


"Dokter bilang lukanya sudah diobati hanya perlu istirahat yang cukup." Ucap Gilang.

__ADS_1


"Antar dokter itu keluar."


"Baik."


Gilang mengantarkan dokter itu keluar, Alan dan Zhi menghampiri Genus yang masih terbaring.


Genus membuka matanya berusaha menetralkan cahaya yang menerobos masuk ke matanya.


Dengan Alan dan Zhi di sampingnya.


"Udah sadar?" Tanya Alan.


"Buta mata lo?" Tanya Genus.


"Bukannya makasih." Ucap Alan.


"Nih orang kenapa jadi kayak gini? Kemarin aja romantis banget, sekarang? Beku lagi." Batin Genus.


"Kok bisa jadi kayak gini sih?" Tanya Zhi.


Genus langsung melihat ke arah Zhi.


"Kalian kenapa gak pergi pas gue bilang pergi?" Tanya Genus.


"Gak tau." Jawab Zhi menatap Alan.


Kini semua pandangan jatuh ke Alan. Alan yang canggung dengan situasi ini langsung merubah mimik wajahnya.


"Lo kan udah bantu kita." Ucap Alan cool.


"Tapi kok dia bisa hidup lagi?" Tanya Zhi.


"Bukan hidup lagi! Tapi kita ditipu."


"Ditipu? Maksudnya?" Tanya Alan.


"Dia udah malsuin dirinya sendiri, jadi orang yang kita bunuh itu bukan dia! Tapi orang yang udah dioperasi plastik semirip mungkin sama dia." Jelas Genus.


"Selama ini dia tinggal di India, dan yang ngurus bisnis di Jerman itu palsuanya dia." Jelas Genus lagi.


"Tapi kok lo gak tau?" Tanya Alan.


"Gue kan pembunuh bayaran, dia bayar ya gue ngebunuh. Mana gue tau itu asli atau bukan, lagian musuh utama gue itu Rai." Jawab Genus.


"Pembunuh bayaran tapi ko bego?" Tanya Alan.


"Maksud lo?!" Tanya Genus ngegas.


"Rai itu anak buahnya Jhon yang artinya dia yang nyuruh Rai buat ngebantai keluarga lo." Jelas Alan.


Genus terdiam.


"Bener." Batin Genus.


"Yaudah kak Genus istirahat aja dulu, kalo udah mendingan kan bisa kita omongin." Saran Zhi.


Alan dan Zhi keluar dari kamar tamu, membiarkan Genus beristirahat.


Note :


Terimakasih sudah membaca, saran kalian aku nantikan.


@njw_blqs


@mawp.qiss


Selamat membaca kelanjutan nya ✨

__ADS_1


__ADS_2