![ABANG PSIKOPAT [END]](https://asset.asean.biz.id/abang-psikopat--end-.webp)
Maurent Pov
"Gue dimana? Kok badan gue gak bisa gerak? Kenapa gelap? Mulut gue? Gue diculik!" Batin Maurent.
Maurent yang sudah sadar akhirnya memberontak dari kursi yang diikat dengan dirinya.
"Hallo kakak cantik udah sadar ya?" Tanya Zhi dan membuka tutupan yang ada di mulutnya.
"Siapa lo?" Tanya Maurent yang masih memberontak.
"Aku? Aku adik kamu kak." Ucap Zhi dengan mata yang tajam.
"Adik? Gue gak punya adik!" Ucap Maurent.
"Plakkkk!"
Satu tamparan mendarat di pipi kanan Maurent.
"Berani lo bentak adek gue hah?!" Tanya Alan dengan nada membentak.
"Lo siapa lagi?" Tanya Maurent.
"Astaga ada berapa orang sebenarnya? Papa tolong Maurent." Batin Maurent menangis.
"Gak usah banyak tanya." Ucap Zhi dan mengambil pisau yang tipis namun dapat menyayat sangat dalam.
"Slkttt"
Satu sayatan di bibir bawah Maurent.
"Argghhhhhhh... Sialan!" Teriak Maurent sambil memberontak dengan tenaga lebih.
Darah yang mengalir dari bibir bawah Maurent nampak begitu segar, menetes ke lantai dengan deras.
Perih, itu yang dirasakan Maurent.
"Darah kamu boleh juga ya, 'kakak'?" Ucap Zhi dan mengambil gelas untuk menadangi darah Maurent.
"Kak David mau ikutan gak?" Tanya Zhi.
"David? David kamu ada disini?" Tanya Maurent.
"Iya, kak David itu temannya abang aku. Gimana seneng gak dapet hadiah?" Tanya Zhi.
"David brengs*k." Teriak Maurent.
"Langsung ajalah!" Ucap Zhi dan hendak mengambil kapak.
"Tunggu." Ucap Leon menahan Zhi.
"Jangan gegabah, abang belum bisa menghubungi Jhon." Ucap Alan yang masih berusaha menghubungi ayahnya.
Zhi menahan dirinya untuk tidak gegabah dan menunggu perintah dari Alan.
"Coba sini." Ucap Leon.
Leon mencoba menghubungi Jhon Winata.
"Tutt.. Tutt.."
Tersambung.
"Hahaaa... Hebat juga trik kalian." Ucap Jhob disebrang sana.
__ADS_1
"Apa maksud lo? Disini anak lo gue sandra!" Teriak Alan.
"Hahahaaaa... Anak ku anak ku, kamu terlalu polos untuk melawan ku nak."
"Kalo lo gak kesini, anak lo akan gue bunuh!" Ucap Alan.
"Silahkan saja." Ucap Jhon.
"Sial!" Ucap Alan lalu memutuskan sambungan telepon.
Tanpa sadar air mata mengalir dari mata cantik Maurent setelah mendengar perkataan ayahnya.
"Silahkan saja."
"Silahkan saja."
"Silahkan saja."
"Silahkan saja."
Kata kata itu terngiang ditelinga Maurent. Bagaimana tidak? Ayahnya yang sangat dia sayangi berubah seperti monster yang membiarkan anaknya dibunuh.
"Kenapa? Kok nangis?" Tanya Zhi sambil melepaskan penutup mata Maurent.
"Lo siapa sebenarnya?" Tanya Maurent sambil berlinang air mata.
Perih dan sakit yang dibuat oleh Zhi tidak sesakit dan seperih perkataan ayahnya.
"Kita bunuh dia juga percuma." Ucap David.
"Gak percuma, setidaknya gue bisa mengasah keahlian gue." Ucap Alan dan merebut pisau dari tangan Zhi.
"Ayo mulaiii." Ucap Alan dengan nada gembira.
Leon : sstt.
Author: okeoke.
Dengan lihai Alan memainkan pisaunya dia tangan Maurent yang masih terikat.
Tangan yang mulus kini tak berbentuk lagi.
Darah menetes dengan deras, teriakan dan jeritan dari Maurent terdengar sangat kencang di telinga.
"Argghhhh"
"Saakiittt"
"Tolonggg"
"Lepasinnn"
"Aaaakkrgrgggg"
Jerit Maurent.
"Gantian aku dong." Ucal Zhi.
"Oke." Ucap Alan dan memberikan pisau nya kepada Zhi namun Zhi menolak.
"Aku mau main pake gunting, hehee..." Ucap Zhi dan mengambil gunting yang masih tersisa bercak darah dari korban sebelum nya.
Zhi mulai menggunting rambut panjang Maurent hingga tak terbentuk.
__ADS_1
Zhi mengambil setrika yang sudah dinyalakan dengan pemanasan penuh, dan menempelkan nya tepat diwajah Maurent.
"Errgmmm.. Eghmmmmm"
Darah mengalir begitu deras, bahkan hampir memenuhi semua lantai diruangan ini.
"Gak usah lama lama dek, kita harus cepet buat susun rencana." Ucap Alan.
"Oke." Ucal Zhi.
Zhi mengambil gergaji yang sudah berkarat dan mengambil sebuah kapak.
Zhi mulai menggergaji kepala Maurent hingga hampir putus.
Author: kasian bgt putus :(
David: sabar ya jomblo.
Author: David nongol nongol jahat ya.
Zhu memotong kepala Maurent dengan gergaji dan Menghancurkan kepala Maurent.
Darah Maurent tersemprot kemana mana, bahkan mengenai pakaian yang digunakan David dan Leon.
David dan Leon hanya bisa melihat dengan tatapan jijik, kepala yang hancur, tangan yang putus, lalu kini kaki yang mulus dan putih sudah berubah menjadi seperti monster.
Penuh darah, banyak luka sayatan.
Zhi sudah puas dengan MAINAN nya kini membersihkan semuanya dibantu Alan, Leon dan David.
Tak butuh waktu lama mereka membersihkan nya, hanya 30 menit dan semua nya sudah bersih.
Jhon Winata pov
"Tutt... Tutt.."
"Hallo?"
"Ikut saya ke alamat ini." Ucap Jhon.
"Wait!"
Jhon menunggu nya.
"Woii lo gila ya? Ke Jerman? Serius?"
"Cepat, saya akan kasih kamu harta yang berlimpah." Ucap Jhon.
"Oke otw."
Telpon ditutup*
"Maurent pasti sudah mati ditangan anak itu." Batin Jhon dan mempersiapkan rencana nya.
Note :
Awaw jangan lupa di vote ya ♥
Di Follow boleh lahh :
Ig : @njw_blqs (akun utama)
@njwblqs_ (akun kedua)
__ADS_1