ABANG PSIKOPAT [END]

ABANG PSIKOPAT [END]
Chapter two


__ADS_3

Zhi memasuki kamarnya dengan rasa biasa saja, tidak ada rasa bersalah setelah membunuh orang yang tidak bersalah. Begitu juga dengan alan, bahkan alan merasa sangat puas dengan kelakuannya.


Zhi bangun dari tidurnya yang lelap dan melihat jam, dan waktu menujukan pukul 04:00. Zhi memasuki kamar mandi yang berada didalam kamarnya, lalu dia memulai ritualnya.


Zhi turun kebawah dan disambut dengan para pelayan yang ada dirumahnya. "Pagi non." Sapa salah seorang pelayan dan zhi hanya mengangguk dengan wajah tetap datar. "Sarapan sudah siap non, dan haruskah tuan muda dibangunkan sekarang? Karna semalam tuan muda meminta untuk dibangunkan jam 04:00." Ucap gilang dengan panjang lebar.


"Tidak usah biar aku saja." Ucap zhi dengan senyum mengembang di bibirnya, mungkin hanya dengan gilang dan alan saja zhi bisa senyum semanis dan setulus ini. "Baiklah." Ucap gilang mengangguk dan pergi meninggalkan zhi.


Zhi melangkahkan kakinya kedalam kamar alan, yang masih terbalut selimut yang nyaman diatas kasur king sizeny.


"Ge bangun." Ucap zhishu sambil menggoyangkan pundak alan. Alan yang merasa risih hanya mengelik kecil dan kembali kealam mimpinya. "Ge bangunn." Ucap zhishu kini meninggikan suara nya. Tetap saja hasilnya nihil. Alan malah kembali tertidur bahkan ia menutup telinganya dengan bantalnya.


"Ish susah banget sih dibangunin." Dumel zhishu karna alan tak kunjung bangun. "Gege.... Bangunnn.... Gege... Bangun.... Bangun.... Bangun... Bangunnnnnnnnnnnnnnn." Teriak zhishu sambil melompat lompat di kasur alan dan mau tidak mau alan terpaksa membuka matanya dan terheran heran melihat kelakuan adiknya.


"Ck, kamu ngapain sih lompat lompat segala." Ucap alan sambil merubah posisinya dari tiduran jadi duduk dan menatap lekat manik adiknya yang sekarang sedang duduk dihadapannya. "Lagian dibangunin susah bener." Ucap zhi sambil menatap manik kakak nya malas.


"Ya tapi gak usah sampe lompat lompat juga kali, tar kalo rubuh gimana?." Oceh alan. "Terus aku harus masang petasan gitu biar gege bangun?." Kata zhi dan alan hanya berdecak kesal.


"Dah sono mandi, udah muka beler, badan bau pantes jomblo." Ledek zhi sambil berlari keluar dari kamar alan. "Dasar Adekk sialan." Teriak alan. "Emang aku adeknya si-alan". Teriak zhi yang masih mendengar perkataan alan tadi.


Selesai dengan pakaian yang cool alan turun kebawah dan menemukan adiknya yang sedang menyantap sarapannya. Dan muncul lah sebuah ide di benak alan.


"DORRRR." Alan mengejutkan zhi sampai zhi tersedak oleh makanan yang sedang ia makan. "Ehek... Ehek... Ekhe." Batuk zhi dan alan hanya tertawa puas lalu mengambilkan air minum.


"Nih minum makanya makan tuh yang bener." kata alan sambil memberikan air yang tadi ia ambil sambil tertawa. Zhi meminum air yang diberikan alan. "Gege yang ngagetin aku juga." Oceh zhishu tak terima.


"Hahaha udah buruan kita berangkat." Kata alan dan zhishu hanya mengangguk. Zhi Sekarang berada didalam mobil bersama alan.


"dah sono turun." Ucap alan pada zhi saat mereka sampai di sekolah zhi. "Iya sabar dikit napa herann." Kata zhi sambil keluar dan menutup pintu mobil dengan kencang lalu pergi dari mobil.


Alan hanya tersenyum tipis saat melihat adiknya itu seperti itu. Alan melanjutkan perjalannya menuju kampusnya.


Sampai di kampusnya alan memarkirkan mobil nya di tempat seharusnya dan langsung bergegas menuju kantin.


"Nasi goreng satu, sama es teh manis satu." Ucap alan pada penjaga stand di kantinya. Kini alan sedang mengunyah sarapannya karna tadi ia tidak sarapan, entah apa yang membuat nya ingin berangkat pagi pagi seperti ini, padahal waktu masih menujukan pukul 04:25.


Alan berjalan santai dengan tas digendong di bahu sebelah kanan menuju parkiran. Alan memasuki mobilnya lalu pergi keluar area kampusnya. Alan mengambil benda pipih yang terletak di samping kursi penumpang dan menelfon zhi.


"Di.. Ikut gege sekarang."


"Tapi ge aku lagi sekolah."


"Ikut gege!."

__ADS_1


"Tapi--." Sambungan terputus, zhi hanya berdecak kesal karna alan menutup telfonnya sepihak.


Tanpa mendengarkan perkataan zhishu alan langsung menutup telfonnya dan bergegas menuju sekolah adiknya.


"Ngapain sih gege nyuruh aku buat ikut gege sekarang dah tau aku lagi sekolah, aku juga belum ngerjain pr mtk tau gak prnya tuh banyak banget emang gege mau ngerjain pr aku Hm? Aku sampe bilang ke satpam kalo aku sakit dan mau pulang, begonya lagi satpamnya percaya." Oceh zhishu panjang lebar tak berhenti henti. Dan alan yang mendengarkan nya hanya menggeleng gelengkan kepalanya.


"Gege cuma bosen aja, gege mau ngejalanin hobi kita, makanya gege ajak kamu." Ucap alan dan disambut dengan senyuman mengembang di bibir zhishu.


"Beneran ge? Kapan? Ayo buruan ge." Kata zhi sambil menggoyangkan lengan alan yang sedang menyetir. "Ck, Iya sabar makanya jangan kamu goyangin tangan gege terus, kita cari korban sekarang." Decak alan dan zhishu kembali duduk manis di kursinya.


"Kamu bawa baju ganti kan?." Tanya alan memastikan. "Kan aku selalu sedia baju sebelum membunuh haha ada donk di bagasi." Ucap zhi dan alan hanya mengangguk.


"Didi kamu lihat kan ada sepasang kekasih disana." Ucap alan sambil menunjuk ke arah sepasang kekasih yang sedang memakai seragam dari sekolah yang sama dan zhishu mengangguk sebagai jawaban.


"Bagus samperin sana terus kamu tau kan apa yang harus kanu lakuin?." Tanya alan. "Iya, tapi apa hadiahnya kalo aku bisa bunuh mereka?." Tanya zhi. "3 permintaan kamu bebas, akan gege lakuin." Ucap alan santai. "Okeh deal."


Zhi menghampiri sepasang kekasih tersebut dengan seragam  yang acak-acakan.


"Hei kalian, sedang apa disini?." Tanya zhishu sambil mengatur nafasnya karna lari terbirit birit. "Loh kamu kenapa, ko lari lari begitu? Dan pakaian kamu?." Tanya cewek itu dengan nada cemas dan khawatir. "A.. Ak.. Akuh.. La.. Lagi.. Dik... Ejar sama preman-preman yang... Badannya.. Gede...  Gede.. Banget." Jawab zhi dengan terbata bata untuk melancarkan aksinya.


Alan pov


Aku hanya melihat aksi adik kesayanganku ini dari dalam mobil.


"Ayo ikut aku, jika kalian ingin selamat." -zhi


Bagus! Adikku memang sangat pintar dalam hal seperti ini, aku bangga dengannya. Aku melihat adikku berjalan oh tidak sedikit berlari menuju gang sempit yang ada di sana.


Aku keluar dari mobilku dan membuntuti adikku tanpa sepengetahuan korbannya. Ada sebuah kardus seukuran badan manusia namun agak kecil sepertinya itu kardus bekas kulkas.


Aku melihat adikku menyuruh si perempuan itu masuk bersamanya kedalan kardus itu dan yang laki lakinya itu sembunyi dibelakang tumpukan kardus.


Zhishu piv


Aku sedang berada di sini! Ya, seperti yang kalian tahu, di dalam sini sangat sempit karna aku berdua dengan 'korbanku'


Perlahan aku melepaskan dasiku dan membekap mulut sang cewek yang menjadi korbanku, dia memberontak! Aku benci seperti ini!.


"Diam." Bisikku di telinganya, setelah itu aku tidak merasakan pemberontakan darinya, dia pingsan! Bagus!


Aku keluar dari kardus itu dan menghampiri cowok yang bersama cewek tadi. "Hei kenapa kau ada disini?." Tanya nya dengan nada berbisik. "Disana terlalu sempit dan aku memutuskan untuk kesini karna disana mungkin akan selamat tidak seperti disini, lagi pula aku yang membuat kalian jadi seperti ini." Ucapku dengan nada bersalah dan dia percaya! Dasar bodoh!


Aku mengumpat dibelakang nya karna dia menyuruhku bersembunyi agar aku tidak ketahuan. Dengan diam diam aku mengambil pisau yang sangat tipis yang aku taruh di dalam sepatuku. Dan..

__ADS_1


Jleb!


Aku menusukkan pisauku ke arah leher cowok itu dan darah mengalir deras.


"Arghhhhhh"


"Tolong hentikan"


"Ku mohon hentikan"


"Sakit"


"Lepaskan aku"


"Dasar wanita bangs*t"


"Hei anji*g"


"Lepaskan aku"


"Bodoh"


"Arghhhhhh"


Cowok itu menjerit kesakitan, aku puas dengan jeritannya. Dengan rasa senang aku memotong motong jarinya lalu memisahkan kuku dari jari jemarinya, habis sudah tangan dan kakinya kupotong kini aku bergantian memotong hidungnya yang mancung, ohhhhh tidakkkk!!!!! Darah mengalir dengan deras, aku menyukainya! Sangat menyukainya! Tubuh cowok itu sudah tak berdaya, dia sudah mati!


Masih belum puas aku memotong jari dan hidung nya, kini telinganya aku potong menjadi bagian bagian kecil. Lalu aku mencongkel matanya dengan tangan ku sendiri. Hahaha!!! Aku sangat senang, bosanku bermain dengannya aku beralih pada cewek yang berada didalam kardus. Dia masih pingsan! Huh!


"Boleh gak kalo itu gege aja?." Ucap seseorang dibelakang ku dan aku tau itu gege. Aku mengangguk "silahkan, aku juga sudah bosan bermain dengan manusia bodoh seperti mereka." Ucapku lalu aku berjalan menuju mobil untuk mengganti pakaian ku yang sudah dipenuhi dengan darah cowok bodoh itu.


Kalo kalian tanya kenapa kami tidak ketahuan dengan para warga? Jawabanya simple. Kami melakukannya sangat pagi pukul 05:00. Biasanya orang baru bersiap siap.


Gege melancarkan aksinya dan aku mengganti pakaian ku sambil menunggu gege kembali.


Alan pov


Aku meminta korban adikku untuk ku, bukan aku tidak bisa mencari korban, tapi aku sesang tidak ingin banyak bicara.


Langsung saja aku memulai aksiku. Jeritan, permohonan ampun, teriakan yang membuat orang yang mendengarnya sangat sakit terasa begitu indah di telingaku bagaikan sebuah lagu yang sangat indah.


Saat aku sedang menjalankan aksiny entah mengapa aku merasa seperti ada yang memperhatikanku! Aku tahu itu bukan didi, karna sedang mengganti pakaian nya jikalau selesaipun dia pasti memilih tidur atau mendengarkan musik didalam mobil.


"Krekk." Suara batang kayu diinjak oleh seseorang aku langsung berbalik badan dan ternyata oh ternyata ada seorang gadis yang sesang memandangku dengan pandangan takut.

__ADS_1


Aku mendekati nya dia semakin ketakutan! Aku terus mendekatinya dia hanya bisa berjalan mundur.


aku masih amatir... maaf hehe... selamat membaca 🙌


__ADS_2