ABANG PSIKOPAT [END]

ABANG PSIKOPAT [END]
Chapter Twenty Two


__ADS_3

2 jam kemudian.


"Aku dimana?" Tanya Zhi ketia sudah sadar dari pingsannya.


"Kamu ada dirumah sakit." Jawab Alan sambil tersenyum manis dan mengusap lembut rambut adiknya.


Author : Enak bat punya abang kea gituย  :"


David : sini dek, abang elus.


Author : off baperan.


"Rumah sakit?" Tanya Zhi.


"Iya tadi kamu pingsan, terus dibawa kesini." Jawab Alan.


Alan mengambil makanan yang disediakan oleh rumah sakit.


"Makan dulu ya? Isi perut." Ucap Alan lembut.


Zhi mengangguk, Alan membantu Zhi untuk duduk dan mengambil satu suap bubur untuk Zhi.


Leon, David, Genus dan Galang hanya diam menyaksikan.


"Duhh, ngeliat Zhi makan jadi laper gue." -David


"Sama gue juga." Timpal Leon.


"Cari makan yok?" Ajak Galang.


"Ayok." Ucap Leon dan David berbarengan.


"Gen lo mau ikut gak?" Tanya Galang.


"Gue gak laper." Jawab Genus dan duduk di kursi penunggu.


Genus memainkan ponsel nya, sedangkan Alan masih menyuapi Zhi.


"Kak Genus." Panggil Zhi.


"Iya?" Tanya Genus sambil menatap Zhi.

__ADS_1


"Sebenarnya kakak itu siapa?" Tanya Zhi.


"Hmm.. Ini ya?" Ucap Genus berfikir.


Zhi hanya menaikan salah satu alisnya.


"Okee, sebenarnya kakak itu seorang pembunuh bayaran yang handal hehe..." Jawab Genus.


"Pembunuh?" Tanya Alan.


"Hm." Jawab Genus.


"Bisa dong collab sama kita?" Tanya Zhi.


"Hah? Collab? Kamu kira ngebunuh orang itu kayak bikin konten youtube gitu?" Tanya Genus.


"Heheheee.."


Zhi menghabiskan makanan nya. Alan mengambilkan air minum yang ada di meja samping tempat tidur.


"Nih minum dulu." Ucap Alan dan memberikan segelas air hangat.


"Makasih abang."


"Eh, gue pulang duluan ya? Nanti kalo si Galang balik ke sini bilang aja gue udah pulang." Ucap Genus.


"Hm." Jawab Alan.


Genus melangkahkan kaki nya keluar dari ruangan Zhi.


Genus Pov


"Enak ya punya seorang kakak yang bisa jaga adiknya." Batin Genus.


Genus mengendarai mobil yang masih Milik Jhon Winata ke sebuah tempat.


Genus pergi ke hutan yang ada di daerah Jerman. Memarkirkan Mobilnya ditepi hutan. Lalu masuk kedalam hutan.


Genus berjalan ditemani dengan hembusan angin yang menyapa, menggerai rambut panjangnya membiarkan angin mengelusnya.


Genus berhenti setelah berada ditengah hutan. Terdapat satu rumah tua yang sudah tidak ditempatkan lagi, banyak ilalang yang menyelimuti rumah tua itu. Dinding yang mulai kropos, cat yang sudah pudar, serta lumut yang menempel.

__ADS_1


Rumah tua, yang disampainua terdapat satu ayunan. Rumah tua yang penuh kenangan.


Genus berjalan mendekati ayunan itu dan mendudukinya. Memainkan ayunan itu sendiri di tengah gelapnya malam.


Sendiri, bahkan sangat bintang pun engga menemani nya. Hanya sinar sang bulan lah yang dapat menemani nya.


"Kamu inget gak? Dulu kita sering main disini." Batin Genus sambil mengayunkan ayunannya.


Perlahan ayunan itu berhenti. Genus berjalan mengelilingi rumah tua itu.


Dengan rasa yang campur aduk. Genus mengambil sebuah foto yang ada dikantung celananya.


Sambil duduk didepan rumah tua itu.


"Dulu di rumah ini kita ketawa bareng, main bareng, seneng seneng bareng."


"Kamu inget kan? Kamu gak lupa sama semua kenangan ini kan?"


"Masa masa indah ketika kamu tersenyum, kamu tertawa."


"Masa masa dimana kamu belum pergi."


"Masa masa dimana kita masih bermimpi."


"Masa masa dimana kalian semua belum meninggalkan aku sendiri."


"Kamu bilang, kamu ingin aku bisa menggunakan pistol kan? Sekarang aku sudah bisa! Aku mahir dalam bermain pistol!"


"Mimpi mu terwujud! Semoga kamu tenang disana ya, kakak."


Tanpa sadar ketika mengucapkan itu semua, air mata Genus mengalir membasahi pipinya. Air yang mengalir dari mata dan dikontrol dari hati.


**Note :


udah lama gak up wkwk


bikin penasaran aja dulu wkwk penasaran kan? Makannya baca sampe tamat ya nanti wkwk


See you next part ๐Ÿ™Œ


David : gak ada yang penasaran sih thor, gak ada yang baca juga karya lu wkwk

__ADS_1


Author : untung jauh, deket gw ludahin lu๐Ÿ˜†


David : off baperan**.


__ADS_2