ABANG PSIKOPAT [END]

ABANG PSIKOPAT [END]
Chapter Ternty Three


__ADS_3

Flashback on


"Kakak, liat di rumah baru kita ada ayunan!" Ucap Genus yang masih sangat kecil, berumur 5 tahun ketika turun dari mobil.


"Iya, nanti setiap hari kita bisa main di sana." Ucap Gibran sang kakak, yang berumur 15 tahun.


"Genus, Gibran sini nak." Panggil Aura, ibu Genus.


"Iya Mah."


Genus berlarian menghampiri ibunya dengan hati yang sangat senang.


"Sana liat kamar kamu dulu." Ucap Aura.


"Oke mah."


Genus mencari kamar miliknya. Terdapat satu tempat tidur, lemari, meja belajar dan jendela.


"Gen." Panggil Gibran sambil membuka pintu kamar Genus.


"Iya?"


"Ayo makan dulu."


"Oke."


Gibran menggendong Genus dibelakang.


"Ayo sini siapa yang mau makan paha ayam?" Tanya Aura.


"Akuuu." Saut Genus semangat.


Genus, Gibran dan Aura duduk di meja makan menunggu kedatangan Keno, ayahnya Genus.


"Nah itu papah udah dateng, ayo dimakan." -Aura.


"Iya mah."


Aura menyendokan sepiring nasi dan lauk untuk kedua anaknya dan Keno.


"Gibran." Panggil Keno.


"Iya pah?" Tanya Gibran.


"Habis makan kamu latihan menembak sama papah ya."


"Iya pah."


Mereka makan dengan nikmat. Namun, tidak dengan Keno. Dia masih memikirkan kehidupan yang akan terjadi kedepannya.


Selesai makan Keno mengajak Gibran kebelakang rumah untuk latihan menembak.


Genus yang masih kecil hanya melihat dari jauh.


"Dorr... Dorr.. "


Suara tembakan, satu per satu peluru di lepaskan. Kemampuan Gibran memang tak jauh dari ayahnya.


"Kamu mahir juga main pistol itu." Puji Keno sambil tersenyum manis.


"Iya pah, tapi kenapa papah melatih ku bermain pistol?" Tanya Gibran.


"Dengar sini, papah dan mamah sudah tua. Papah juga seorang pembunuh bayaran, kemarin papah telah membunuh seseorang yang sangat penting bagi teman papah, Jhon winata." Ucap Keno.


"Jhon Winata? Dia orang yang terkenal dengan dark market itu?" Tanya Gibran.

__ADS_1


"Iya." Jawab Keno.


"Papah sudah membunuh sahabat nya, sekarang keluarga kita dalam incaran. Papah ingin kamu menyembunyikan identitas Genus ketika dia sudah besar, papah ingin kamu bisa menjaga adikmu."


"Tapi pah?"


"Gak ada kata tapi! Kamu sebagai seorang kakak harus melindungi adik kamu. Kamu anak laki laki bukan?" Tanya Keno.


"Iya." Jawab Gibran.


"Kalau kamu anak laki-laki, kamu pasti akan menjaga adikmu, karena pada hakikatnya laki laki itu menjaga dan melindungi bukan mencelakai." Ucap Keno.


"Emmm... Siap! Aku akan jagain Genus seumur hidup ku!" Ucap Gibran dengan penuh semangat.


"Papah, kakak lanjut dong main tembakannya!" Teriak Genus dari belakang mereka.


"Iyaaa." Teriak Gibran menjawab.


Keno melatih Gibran setiap hari.


"Kakak main ayunan yu?" Ajak Genus ketika Gibran selesai latihan.


"Iya ayo." Jawab Gibran.


Genus menduduki ayunan itu dan Gibran mengayunkan nya dari belakang.


Tawa canda mengiringi keluarga kecil mereka.


Namun, ketika Genus dan Gibran sedang bermain datang mala petaka.


"Dorrr... Dorr..." Terdengar suara tembakan dari halaman belakang rumah.


Genus dan Gibran mengira bahwa ayahnya sedang mengasah keahliannya. Tapi saat seseorang membawa ibunya yang sudah penuh luka dan darah Genus dan Gibran langsung mengumpat disamping rumah.


"Kamu lari kemana aja tapi jangan sampe ketangkep sama orang orang itu." Perintah Gibran.


Genus lari secepatnya untuk keluar dari hutan itu dan Gibran mengambil pistol yang sehabis ia pakai untuk latihan.


"Itu ada anak kecil lari ya?" Tanya seseorang yang membunuh Keno.


"Gak ada! Keno itu cuma punya satu anak dan anak nya laki laki remaja. Ngawur saja kamu!" Jawab Rai.


Hanya Rai dan salah satu anak buahnya yang bisa menggunakan bahasa Indonesia.


Gibran yang mendengar nya langsung menodong Rai dengan Pistol.


"Heii kalian!" Teriak Gibran untuk mengalihkan perhatian.


"Welche Sprache spricht er?" (Dia bicara bahasa apa?) tanya salah satu anak buah Jhon winata.


"Er spricht Indonesisch." (Dia bicara bahasa Indonesia) jawab Rai.


Gibran melepaskan peluru yang ada di pistolnya. Satu persatu anak buah Rai mati terkenal peluru Gibran.


Dengan gesit Rai menebas kepala Gibran menggunakan katana yang tajam. Sekali tebas dan gelinding lah kepala Gibran.


Genus yang sudah tidak kuat berlari kini mengumpat dibalik phon besar dan menyaksikan pembantaian keluarga nya itu.


Dia melihat bagaimana Gibran ditebas menggunakan katana.


Dia melihat ibu nya yang nangis dan menjerit melihat Gibran.


Dia melihat ibunya disiksa oleh Rai sampai mati.


Dikumpulkan bagian mayat dari ayah, ibu dan kakaknya Genus.

__ADS_1


Lalu Genus meliha bagaimana mereka Menghancurkan kepala mereka satu persatu.


Memutilasi bagian bagian tubuh mereka.


Genus hanya dapat menangis. Dengan sorot mata penuh dendam.


"Aku akan membunuh kamu Rai." Batin Genus.


Hanya Rai yang dia ketahui, dia tidak tahu bahwa Jhon Winata lah yang membunuh keluarga nya.


Genus masih berdiam diri dibalik pohon itu, menunggu kepergian para brengsek itu.


Mayat mayat mereka dibiarkan begitu saja, lalu Rai dan anak buahnya pergi meninggalkan hutan itu.


Genus menghampiri Mayat ayah, ibu dan kakaknya.


Dengan air mata yang berlinang Genus lari mendekati keluarga nya.


Air mata yang tercampur darah, hanya potongan tubuh yang tersisa. Memeluk untuk yang terakhir kalinya saja Genus tidak bisa.


Genus berlari keluar hutan dengan air mata yang masih membasahi pipinya, sorotan mata penuh dendam dan tekad untuk membunuh.


Saat berada diluar hutan, Genus hampir saja tertabrak oleh mobil. Untung saja mobil itu berhenti.


Genus berjongkok didepan mobil itu, membuat sangat pemilik keluar untuk melihat keadaan Genus.


"Astaga, bun cepat kesini." Panggil Willy.


"Kenapa yah?" Tanya Jodie.


Jodie yang melihat Genus meringkuk sambil menangis pun menghampiri nya.


"Tolong." Ucap Genus lirih.


Jodie membulatkan matanya kaget.


"Kamu bisa bahasa Indonesia?" Tanya Jodie.


"Tolong." Ucap Genus.


"Iya iya kita akan menolong kamu, kamu butuh bantuan apa?" Tanya Jodie.


Genus melirik Willy dan menarik tangan Willy masuk kedalam hutan.


"Eh tunggu." Ucap Willy sambil berlari.


Jodie yang melihat itu juga ikut berlari menghampiri mereka. Tak lupa membawa galang yang sedang menunggu dimobil.


Willy kaget terheran heran saat melihat potongan-potongan tubuh mayat didalam hutan.


Dengan kepala yang sudah hancur parah, Jodie yang melihat nya langsung menutup mulut nya.


Genus menangis dengan keras, Jodie pun memeluk Genus.


Galang hanya diam menyaksikan kejadian itu, ini pertama kalinya dia melihat potongan tubuh mayat dan darah yang sangat banyak di umurnya yang ke 10 tahun.


Willy langsung menelfon pihak kepolisian. Saat kepolisian darang Jodie membawa Genus kerumah mereka untuk mengurus nya sedangkan Willy mengurus mayat mayat itu terlebih dahulu.


Hingga saat ini Genus masih diurus oleh Willy dan Jodie. Galang sudah seperti saudara nya sendiri.


Note :


Nulisnya kok rada nyesek ya?


See you next partai guys 🔥🙌

__ADS_1


__ADS_2