ABANG PSIKOPAT [END]

ABANG PSIKOPAT [END]
Chapter Nineteen.


__ADS_3

Saat diperjalanan, mobil Maurent diberhentikan oleh mobil lain.


Turunlah 4 orang berbaju serba hitam dan berbadan kekar.


David dan Maurent keluar dari mobil untuk melihat keadaan.


"Kalian siapa?" Tanya David.


Tidak ada jawaban dari 4 orang itu.


"Wer seid ihr?" (Siapa kalian?) Tanya Maurent.


"Astaga David kok lo **** banget sih? Malah ngomong pake bahasa Indonesia." Batin David.


"Ich bin Rai, Miss." (Saya Rai, nona.) Jawab salah satu dari 4 orang tadi. Rai adalah tangan kanan John Winata yang ditugaskan menjaga Maurent.


"Hah? Nona? Oh iya dia kan anaknya Jhon Winata! Astaga gue lupa! Kenapa malah gue ajak ke apartemen?" Batin David gelisah.


"Rai?  Wieso bist du hier?" (Rai? Kenapa kamu ada disini?) tanya Maurent.


"Ich wurde vom Meister beauftragt, mich um Miss zu kümmern." (Saya ditugaskan oleh tuan untuk menjaga nona.) Jawab Rai.


"verprügel ihn!" (Hajar dia!) Ucap Rai sambil menunjuk David.


Ketiga pria tadi menghajar David, namun David dapat menghindari pukulan yang dilempar oleh salah satu dari mereka.


"Es reicht!  Rai, was zum Teufel macht ihr zwei?" (Sudah cukup! Rai, apa apaan kalian ini?) ucap Maurent sambil memisahkan anak buah Rai dengan David yang sedang berkelahi.


Rai tidak menjawab pertanyaan Maurent. Rai lansung menarik Maurent secara paksa dan memasukkan nya kedalam mobil milik Maurent, lalu membawanya pulang kerumah.


Apa kabar dengan Jello dan Mischa? Mereka berdua ketakutan sehingga tidak berani berbicara sedikit pun.


David menahan semua serangan yang diberikan. Namun, 3 lawan 1 David tidak mampu menghadapi mereka sendirian.


David tergeletak lemas di tanah, lalu ditinggalkan begitu saja oleh pria pria itu.


David mengambil handphone miliknya dan memencet beberapa digit nomor telepon.


"Ha.. Loo.. " Ucap David dengan nafas terengah.


"David? Lo kenapa? Kok lo lama banget sih?" Tanya Alan di Hotel yang mereka pesan.


"Too.. Long.. Gue.." Ucap David dan akhirnya tak sadarkan diri.


"Hallo? Dav? Woiii lo dengerin gue gak? Hallo??"


Alan memutuskan sambungan telepon dan bergegas bersama Zhi dan Leon untuk mencari David.


Alan mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. 15 menit mereka mencari David dan akhirnya Zhi melihat David sedang terkapar lemas.

__ADS_1


Alan menghampiri David yang sudah tak berdaya dan mengakat David masuk ke dalam mobil.


David dirawat di apartemen, tidak dirumah sakit.


2 hari kemudian.


"Dav? Lo udah sadar?" Tanya Alan.


David membuka matanya perlahan, menetralkan cahaya lampu yang menembus matanya.


"Gue dimana?" Tanya David.


"Lo di apartemen." Jawab Leon.


"Kok lo bisa pingsan gitu? Dua hari lagi." Tanya Alan.


"Gue dipukulin sama anak buahnya Jhon biadab itu. Terus seinget gue dia kayak kasih gue racun atau apa gitu, intinya serbuk." Jawab David.


"Kayak nya rencana kita gagal deh bang." Ucap Zhi.


"Kakak juga mikir gitu." Timpal Leon.


"Gimana kalau besok malam kita ke rumah Jhon Winata? Langsung kita habisin aja!" Saran Alan.


"Itu terlalu ambil resiko lan." Ucap David.


"Iya lan, gue setuju apa kata David." Ucap Leon.


"Gini aja, gue telfon Maurent buat dia ketemuan sama gue di cafe secara diem diem. Nanti gue kasih obat tidur terus gue bawa ke apartemen." Ucap David.


"Hmmm, oke." Ucap Alan setuju.


Mereka menyusun rencana untuk hari esok. Dan akhirnya mereka semua bisa tidur tenang.


***


Sinar matahari, pada pagi ini begitu memanjakan semua insan yang hidup dibumi.


David yang sudah bersiap untuk bertemu dengan Maurent kini sedang mengeluarkan mobilnya.


Tak lupa Alan, Zhi dan Leon yang selalu standby untuk mengawasi gerak geriknya.


David menggunakan earphone yang tersambung dengan Alan.


"Haii... Udah nunggu lama?" Tanya David saat melihat Maurent.


"Oh? Haii!! Enggak kok baru aja sampe." Jawab Maurent.


"Ohh yaudah kamu udah pesen belum? Aku pesenin ya?" Tanya David.

__ADS_1


"Belum nih, iya boleh." Jawab Maurent.


David memesan minuman untuk nya dan Maurent. Saat minumannya sudah siap David menambahkan obat tidur diminuman Maurent. Lalu kembali ke meja mereka.


"Ini punya kamu." Ucap David sambil memeberikan minuman milik Maurent.


"Terimakasih." Ucap Maurent lalu meminumnya.


Tak lama setelah meminum minumannya Maurent merasakan rasa kantuk yang teramat. Dan tanpa sadar Maurent pun tertidur.


David dengan sangat hati hati membawa Maurent yang tertidur. David memasukkan Maurent kedalam mobil dan tak lupa dia mengikat tangan, kaki sertan menutup mata dan mulutnya Maurent menggunakan kain.


David menancapkan gas menuju apartemen miliknya.


Saat sampai di apartemen, David langsung membawa masuk Maurent.


"Ini diapain?" Tanya David sambil menggendong Maurent.


"Kita bawa dia ke indo." Ucapan Alan.


"Hah? Gila lo lan? Gak segampang itu kali." Kata David.


"Gak bisa seenak jidat lo kali lan." Timpal Leon.


"Sttt kalian tenang, aku udah beli rumah kosong didaerah terpencil. Jadi kita bawa dia kesana aja." Ucap Zhi.


"Baguss, emang adek gue paling pinter." Puji Alan.


Merekan pun membawa Maurent ke tempat terpencil itu.


Baru setengah perjalanan, tiba tiba Maurent terbangun dari tidur nya.


"Ekhhm... Emmm.... Aarkkk... Eeehmmm.." Suara Maurent.


"Diam lo!" Ucap Zhi dan memukul kepala Maurent dengan palu kecil, namun keras.


Akhirnya Maurent pingsan lagi.


Author: jahat banget sihhh baru juga sadarrr:"


Alan : diam anda.


Saat sampai di rumah kecil milik Zhi, mereka langsung memasukan Maurent kedalam kamar dan dikunci rapat.


Persiapan Zhi memang selalu matang, Zhi bahkan sudah membuat ruang itu menjadi kedap suara dan tidak ada jendela satupun dirumah itu.


Note :


Apa kabar nih? Karantina di rumah ngapain aja? Rebahan doang ya? Wkwk sama sih...

__ADS_1


See you next part guys 🙌🔥


__ADS_2