ABANG PSIKOPAT [END]

ABANG PSIKOPAT [END]
Chapter nine


__ADS_3

Genus arora psyila.


Nama yang cantik, secantik orang dan hatinya. Genus adalah seorang wanita yang sangat cantik, pintar, baik dan sangat sopan. Namun, genus mempuyai prinsip tersendiri dalam hidup nya.


Kalian ingat kemarin Alan bertemu dengan seorang wanita? Yap! Itu genus.


Kini langit mulai menggelap, bukan hari ingin menjadi malam, namun awan hitam menyelimuti dunia.


Rintik hujan turun membasahi bumi, memberikan aroma ketenangan dan kenyamanan.


Disatu sisi kakak beradik ini sedang asik menonton film yang bergenre horror, mereka tampak biasa saja tidak ada kaget atau takut sedikit pun. Saya sebagai author kesian sama setannya.


"Bosen banget dah, jalan jalan yu bang." Ajak Zhi.


"Gak liat langit nangis noh?" Tanya Alan.


"Diem in kasih permen." Jawab Zhi asal.


"Yehh, nanti aja nunggu ujan reda." Ucap Alan sambil menyeruput susu kotak miliknya.


"Yaudah." Jawab Zhi dan mengambil susu kotak miliknya lalu meminum nya hingga tak tersisa.


"Aus bu?" Tanya Alan.


"G." Jawab Zhi.


"Idih singkat bener, yaudah ayoo ganti baju dulu sana." Ucap Alan.


"Serius?" Tanya Zhi berbinar.


"Iya buruan, bawa jaket kita naik motor." Ucap Alan dan dibalas anggukan cepat oleh Zhi lalu meluncur ke kamarnya.


Alan dan Zhi mengelilingi danau didekat rumah nya menggunakan motor alan.


"Turun." Ucap Alan menyuruh Zhi turun dari motor dan berhenti di sebuah taman pinggir danau.


"Kita ngapain disini bang?" Tanya Zhi setelah turun dari motor.


"Katanya mau jalan jalan." Jawab Alan.


"Oalahh."


Alan dan Zhi duduk dikursi taman disamping danau, tanpa sengaja Alan melihat seorang wanita yang waktu itu ia temui di supermarket.


Rambut terikat, baju berwarna biru mudah dengan celana pendek yang senada membuat nya terlihat cantik.


Alan dengan segera menarik Zhi hingga Zhi dibuat terheran heran.


"Adduuh paansi bang?" Tanya Zhi.


"Kita ke mall aja abang jajanin kamu, terserah mau beli apa aja." Jawab Alan dan langsung menarik Zhi ke motor nya.


Zhi yang merasa heran dengan kelakuan abang nya pun bertanya tanya dalam hati.


Zhi melihat sekeliling dan


"Ohh ini yang bikin abang jadi baik secuil." Batin Zhi.


"Kakak cantik yang pake baju biruuuu!!!!!" Teriak Zhi dan yang merasa dipanggil pun melihat nya.

__ADS_1


"Kamu apaan sih dek." Ucap Alan.


"Kenapa? Orang aku cuma manggil kakak cantik doang." Ucap Zhi.


Genus melangkahkan kakinya kearah Zhi dan Alan.


"Haii." Sapa Zhi.


"Hai juga, oh iya ini uang abang kamu." Ucapnya sambil memberi Zhi lima lembar uang seratusan.


"Gak usah abang mah banyak duit." Ucap Zhi menolak.


"Gak ini uangnya." Ucap genus.


"Gini aja gimana kalo kita ke mall aja? Kita makan makan." Ajak Zhi.


"Gak boleh!" Ucap Alan tegas.


"Udah kak ayo gapapa abang mah emang gitu." Ucap Zhi.


"Gak usah aku ada urusan." Ucap genus berbohong.


"Ayoo lah temenin aku." Rengek Zhi.


"Yaudah ayo sebagai tanda terimakasih." Jawab genus setuju.


"Asikkk, abang pulang ambil mobil sana." Suruh Zhi.


"Abang gak mau." Tolak Alan.


"Yaudah aku aja yang bawa motor nya, abang pulang jalan kaki aja." Ucap Zhi.


Inilah kelemahan Alan, Zhi.


Alan pulang dan mengambil mobilnya lalu kembali ke taman untuk menjemput zhi dan genus.


"Ayo kak naik." Ajak zhi dan genus mengangguk setuju lalu naik kedalam mobil.


Alan hanya diam didalam mobil tidak keluar dari mobil dan masih setia pada stirnya.


"Kok kamu dibelakang dek?" Tanya Alan.


"Aku kan nemenin kakak cantik." Jawab zhi.


"Abang gak ada yang nemenin?" Tanya Alan.


"Jomblo bisa apa?" Cetus zhi.


Alan hanya diam tidak menanggapi.


"Oh iya kak, aku zhi." Ucap zhi memperkenalkan diri.


"Genus, genus arora psyila." Ucap genus.


"Aku zhi winata, kalo abang Alan John winata." Ucap zhi menyebut nama panjangnya.


Alan membawa mobil dengan kecepatan tinggi dengan alasan agar tidak lama lama didalam mobil yang sama dengan genus.


Alan tidak suka jika ada orang asing, ingat dengan Laurent? Awalnya dia sangat mengaguminya tapi akhirnya? Wassalam.

__ADS_1


"Abang pelan pelan dong." Teriak zhi.


"Udah sampe." Ucap Alan.


Mereka bertiga turun dari mobil dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam mall.


"Kak udah makan belum?" Tanya zhi.


"Belum." Jawab genus.


"Kebetulan ayo kita makan dulu ya." Ucap zhi lalu menarik genus, dan meninggalkan Alan sendiri.


Zhi duduk disamping genus dan Alan duduk sendiri dipojokan mengamati mereka berdua.


Zhi dan genus makan, namun Alan masih saja mengamati mereka. Selesai makan, zhi dan genus pergi ke tempat bermain.


"Ayo kak kita main game." Ajak zhi.


"Ayo." Jawab genus lalu mereka berdua berjalan menuju tempat permainan dan lagi lagi meninggalkan Alan.


Waktu terus berjalan, kini zhi, genus dan Alan sedang berada dijalan pulang.


Alan mengantarkan genus terlebih dahulu setelah ada pertempuran sengit yang tidak menumpahkan darah akhirnya Alan mengalah.


"Hati hati kakak cantik." Ucap zhi.


"Iya kamu juga hati hati ya."


"Iya kak." Jawab zhi.


Alan melajukan mobil nya ke arah rumah mereka.


"Mau kemana bang?" Tanya zhi.


"Pulang lah, abang mau mandi gatel." Jawab alan sinis.


"Yehh, bunuh orang dulu yuk 1 atau 2 gitu." Ajak zhi.


"Oke." Jawab alan setuju.


Alan dan zhi mengelilingi taman yang sebelumnya mereka datang kan dengan perlahan.


Sepi.


Satu kata itu yang menggambarkan suasana malam ini.


"Bang sepi bener." Ucap zhi.


"Sabar." Kata Alan sambil menunggu mangsanya datang.


"Nah itu tu ada orang tarik sana dek." Ucap alan.


"Ko aku?" Tanya zhi.


"Itu mangsa nya cowok ya kali abang yang deketin." Ucap alan dan zhi mengerti lalu menghampiri mangsa nya itu.


Note :


Sampe sini dulu okee

__ADS_1


__ADS_2