
Pelayan di Restoran itu mulai memerhatikan meja Dito dan Jessica, si pelayan mendatangi meja dan bertanya
"Maaf mbak ada apa ini?"
"Oh! dia sedikit mabuk bisa tolong bantu bawa kami ke parkiran depan?"
Jessica sangat lihai memainkan perannya ia kini diantar oleh beberapa pelayan dan staff restoran menuju parkiran.
Tak ada yang curiga dengan kejadian di restoran, mereka bahkan meninggalkan restoran tanpa ada yang mencurigai.
Jessica mengendarai mobil Dito ia menuju basemen parkiran apartemennya, ia memarkirkan mobil Dito tak jauh dengan mobil miliknya setelahnya Jessica keluar melihat situasi dan kondisi.
Lalu mengambil kursi roda yang telah ia sembunyikan di bagasi mobilnya. Nampaknya ia sudah merencanakan ini dengan matang-matang.
Kini Jessica menurunkan tubuh Dito, butuh waktu yang lama untuk mengangkat tubuh kekar Dito dan pada akhirnya berhasil.
Ia mendudukkan Dito di kursi roda tak lupa juga ia memakaikan selimut serta masker ke Pak Dito sehingga terlihat seperti seseorang yang sakit.
Jessica mulai mendorong kursi roda itu menuju lift menuju lantai tempat tinggalnya.
Suasana apartemen tersebut memang sepi di jam segini, ia sangat santai membawa Dito menuju kamarnya.
Dibukanya pintu apartemen tempat tinggalnya lalu ia membawa Dito ke ruang rahasianya. Tak lupa juga ia baringkan Pria itu di sebuah sofa, lalu Jessica memulai hobi anehnya dengan memfoto tubuh Dito sedang tak sadarkan diri
"Ini lebih indah daripada yang di foto-foto"
Jessica menyekap Dito dengan seutas tali lalu meninggalkan Dito sejenak. Ia mempersiapkan makanan untuk Dito, ketika dia bangun nanti akan diberikan kepadanya.
SEMENTARA ITU
Hani mondar mandir depan rumah menunggu kepulangan suaminya dengan cemas. Baru kali ini suaminya pulang larut tanpa memberitahu terlebih dahulu. Karena sudah terlalu lama ia memutuskan menutup pintu lalu tidur terlebih dahulu, ini adalah kali pertamanya Mas Dito tak pulang dan tak memberi kabar.
Jessica kembali membawa makanan untuk Dito, tapi Dito belum lagi sadar dari tidurnya.
"Padahal aku gak ngasih dosis yang tinggi"
Dia memandangi wajah dan tubuh Dito yang begitu menggiurkan, semakin lama ia menatapnya membuat pikirannya memanas.
Kini Jessica mulai mendekatkan wajahnya ke Dito, ia mulai menciumi kening Dito lalu berpindah menggigit telinga Dito, ia berbisik
"Malam ini kau adalah milikku Mas!!"
Jessica mulai liar ia mencoba menciumi bibir Dito namun terhenti karena suara dering Hp Dito berbunyi.
"Sialan kenapa sih.. selalu saja ada gangguan"
Ia merenungkan niatnya lalu melihat Hp Dito, panggilan tak terjawab dari Istri. Jessica lalu terpaku melihat tulisan itu, ia mulai mengotak atik Hp Dito.
__ADS_1
Sialnya ia tak tau password-nya, kemudian ia mencoba dengan pemindai wajah namun tak berhasil lalu ia mencoba dengan sidik jari akhirnya berhasil.
Hal paling pertama yang ia cek adalah daftar kontak Dito, ia menemukan nomor Istrinya kemudian ia cocokkan nomor tersebut dengan nomor di kontaknya dan benar saja itu adalah Hani.
"Sekarang masuk akal mengapa Hani melontarkan wajah yang aneh waktu di cafe"
"hahahahahhahahahah"
Jessica tertawa dengan gelinya, ia membuka galeri foto dan di sana terdapat foto mesra Hani dan Dito.
"Oh berani-beraninya kalian hidup bahagia sementara aku hidup seperti sampah"
Jessica mengeluarkan air mata kesedihan dan amarahnya meluap-luap.
"Kau sendiri yang mengatakan hidupmu sampah lalu mengapa tetap kau jalani, Yuri"
Dito terbangun dari tidurnya dan mulai berbicara.
Karena terkejut ia lalu menyeka air matanya lalu berbalik.
"Wah... wah... wah.. lihatlah bintang utama kita sudah terbangun"
Ia langsung menaiki tubuh Dito, menahan badan kekar itu lalu mengintimidasi dengan tatapan tajamnya.
"Yuri mengapa kau seperti ini?" tanya Dito
"Karena aku sampah kan? Ini semua gara-gara kau dan teman ja*ang mu itu, andai saja kau membalas surat ku atau tidak membuangnya, mungkin aku dan kau tak akan begini sekarang"
"Bukan aku yang membuang semua surat itu, ketika aku tau perbuatan temanku, aku sungguh mencari mu hari itu" jelas Dito
"Yuri, aku tau kau masih ada, aku tau kau masih baik seperti dulu"
Kata-kata itu membuat hati Jessica bergetar, ia lalu menyingkir dari tubuh Dito.
"Aku benci kalian bahagia, Oh Hani ternyata istri mu! ayo kita lihat bagaimana reaksinya tak dikabari dan tak bertemu dengan suaminya"
"Semua yang ada di masa lalu adalah sebuah kesalahpahaman, ku mohon jangan seperti ini"
Jessica yang sangat emosi mengabaikan Dito lalu keluar dari ruangan rahasia itu dan mengunci pintu rapat-rapat.
Mas Dito yang sedang terkurung mengamati ruangan itu dengan serius, sungguh mencengangkan ia melihat ada begitu banyak foto dirinya, bahkan foto rumah dan denahnya lengkap.
Dito sedang berfikir keras untuk dapat lolos dari genggaman Jessica. Ia mencoba meraih benda-benda apa saja yang dapat ia jadikan kunci melepas ikatan tali di pergelangan tangannya.
Di lain sisi Jessica nampak sedih dengan perkataan Dito yang membuatnya tersinggung. Kali ini ia mengingat masa lalunya yang masih jauh dari kata buruk. Ia mulai mencerna kembali kejadian-kejadian di masa itu.
KEESOKANNYA DI KAMPUS
"Pak anda melihat Pak Dito?" tanya Hani kepada staff LPM tempat kantor Dito bekerja.
"Maaf Dek sudah dua hari ini dia tak ada kabar, mungkin dia cuti atau apalah...."
__ADS_1
"Waktu terakhir bertemu Pak Dito tidak memberitahukan mau kemana pak?" tanya Hani kembali.
"Oh waktu itu dia tak memberitahu apapun tapi dia terlihat tergesa-gesah mungkin ada urusan keluarga"
"Kalau begitu terimakasih untuk infonya"
Karena sangat khawatir Hani menelpon Ibu mertuanya, ia menanyakan apakah Dito berkunjung ketempat mereka namun hasilnya nihil.
Ia bahkan sudah menelpon keluarganya namun tak menghasilkan apa-apa juga.
Sudah beberapa kali ia menelpon ponsel suaminya tapi tak ada respon terakhir kali ia aktif 2 hari lalu, sekarang ia sungguh tak tau harus berbuat apa selanjutnya.
Dari kejauhan Jessica mengamati Hani yang cemas dengan tersenyum. Ia kemudian mendatangi Hani
"Ehh Hani... sedang apa?"
"Oh Hi Bu saya tidak ngapa-ngapain kok Bu"
"Kalau begitu aku duan yah, oh iya semoga harinya lancar"
Jessica yang puas dengan ekspresi kebingungan Hani membuatnya tambah bersemangat dan percaya diri.
Karena waktu belajar telah tiba Hani memasuki kelas dengan langkahnya yang tertatih. Andrew lalu menangkap tubuh Hani yang hampir saja terjatuh. Sontak Lili mendatangi Hani dengan cemasnya.
"Han kamu kenapa akhir-akhir ini"
"Iya nih kok loyo amat sih"
"Aku hanya kecapean gara-gara tugas"
Mereka bertiga akhirnya duduk di bangku, namun Andrew masih penasaran dengan ekspresi cemas Hani yang sangat kontras terlihat.
Lili sangat asyik membuka sosmed nya, lalu ia menemukan suatu foto seseorang yang sedang ber-selfie di IG ia memerhatikan gambar tersebut dan benar saja ada Pak Dito di latar belakang orang itu.
"Ihh dasar Pak Dito dimana-mana selalu saja muncul, bikin jantung degdegan terus deh"
Mendengar pernyataan Lili membuat Hani terkejut.
"Dimana dimana lili?"
"Oh ini bukannya restoran milikku"
Andrew bergumam restoran itu adalah miliknya.
"Bisa lacak di mana lokasinya!" Hani langsung to the poin
"Aku tau ini dimana, emangnya di sana mau ngapain?" tanya Andrew.
"Ayo ke sana aku akan traktir kalian"
Hani langsung menjawab spontan.
__ADS_1
Tak akan ada yang bisa menghalangi langkahnya untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya. Ia bersama ketiga temannya pergi ke restoran itu.
HI para reader terimakasih buat kalian yang sudah setia membaca novel Nuna sampai saat ini.