
Ceklek!
Pintu kelas itu terkunci, Lili dan Andrew berbalik ke arah pintu.
"Tidaaaakk... bagaimana ini pintunya sudah dikunci dari luar" Lili sedikit khawatir.
"Tunggu aku akan menghubungi teman-teman yang lain untuk membuka pintu"
Momen itu terlewat begitu saja.
___________________________________
Hani bersama suaminya mengelilingi stand-stand yang ada di festival itu, mereka memakai topeng sehingga tak ada yang mencurigai mereka.
Baru kali ini mereka sangat bebas bergandeng tangan di keramaian, bahkan tak segan-segan untuk selfie. Tak ada yang menyadari di balik topeng itu adalah Dito dan Hani.
"Aku kira kita tak akan pernah hangout berdua" kata Hani
"Iya, sudah lama sekali... aku bersyukur karena adanya festival ini" jawab sang suami.
Setelah puas menikmati jajanan, mereka berdua duduk di bangku taman kampus, sama seperti seorang remaja yang baru saja kasmaran mereka sungguh kelihatan bahagia saat ini.
Suaminya kini memegang tangan istrinya, di balik topeng si istri tersenyum gemas, ia menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya sambil sang suami mengelus lembut rambut si istri.
"Mas.... kamu masih ingat saat kita pertama kali bertemu? Saat-saat yang memalukan"
"Aku bersyukur saat itu kamu menyumpahi ku kopi tau! Jika saja saat itu kamu gak numpahin kopi di kemeja ku, aku gak bakalan bergelut kata-kata dengan mu"
"Hahaha terkadang perkelahian bisa membuat dua insan menyatu seperti kita"
Hani tertawa mengingat kejadian dimasa lalu yang membuatnya dekat suaminya. Nampaknya pertemuan mereka di awali dengan perkelahian yang akhirnya mendekatkan mereka berdua.
"Aku lebih-lebih bersyukur karena sekarang tidak terlalu sering kamu marah-marahin hahah"
Dito kembali mengusik istrinya itu. Orang-orang yang lalu lalang di tempat itu sangat baper melihat kelakuan suami istri itu. Mereka terlihat seperti seorang muda-mudi yang baru saja terkena asmara cinta.
Sungguh pasangan yang bahagia.
_______________________________
Di Ruang yang Terkunci
Atmospher di ruangan itu sangat canggung, terlebih Andrew sudah ingin mengungkapkan perasaannya namun gagal karena sesuatu yang tidak di duga-duga terjadi.
Lili hanya terduduk di atas meja sambil mengayunkan kakinya seperti seorang anak kecil. Andrew hanya mengecek jam tangannya sesekali serta menghembuskan nafas penyesalan karena rencananya terganggu total. Ia sesekali melirik Lili yang duduk tak jauh darinya sambil memegang belakang lehernya karena gugup.
Akhirnya Lili mulai berbicara, ia bangkit dari meja itu serta menatap Andrew dengan tatapan kesal.
"Isss dasar bayi manja, ini hari tersial kita terkunci sekarang. Teman-teman pasti sangat sibuk sekarang mana mungkin mereka sempat mengecek Ponsel mereka" ketusnya
__ADS_1
"Mmaa maafkan aku, aku juga gak tau kalau akan terkunci. Kamu gak usah marah-marah gitu dong"
"Marah? Aku hanya kesal karena harus terjebak disini"
"Oh... aku rasa karena kamu terjebak bersamaku, nampaknya kamu benar-benar punya dendam kepadaku" balas Andrew.
Mereka akhirnya terbakar amarah yang membuat perasaan cinta mereka tersendat. Mereka sungguh tak tau bagaimana caranya mengalah dan berterus terang dengan perasaan mereka, mungkin karena di ikat dengan persahabatan membuat Andrew dan Lili ragu untuk mengungkap kebenaran.
Hal ini berlangsung beberapa saat hingga akhirnya pintu itu terbuka, dengan cepat Lili keluar dari ruangan itu dengan wajah yang kesal. Andrew juga keluar dengan wajah yang datar.
"Ada apa dengan mereka berdua? Dasar yahh gak berterimakasih udah di bukain pintu. Seharusnya aku gak datang aja" ketus teman kelas mereka yang baru saja membukakan pintu
Asmara Andrew dan Lili nampaknya tak berjalan mulus malam ini. Lili yang kesal mendatangi stand kelas-kelas lain untuk menghindari bertemu Andrew. Sementara berjalan ia di tarik oleh seorang wanita dari stand budaya France, nampaknya stand mereka mengadakan "Dating Shoot".
Lili duduk di sebuah meja panjang yang di barisannya sudah di isi beberapa wanita dan di setiap wanita itu sudah ada laki-laki di hadapan mereka. Lili tak mengerti namun si penjaga stand mengajaknya duduk saja dan bermain untuk mencukup kan pemain.
"Ok guys karena pemainnya sudah cukup maka langsung saja kita mulai permainannya"
Lili nampak bingung dengan situasi ini.
"Jadi di hadapan kalian sudah ada sumpit yang diandaikan sebagai panah cupid, kalian boleh mengarahkan panah tersebut ke orang yang kalian sukai, apabila panah kalian bertemu satu sama lain maka kalian adalah pasangan"
1....2...3...
Semua orang di meja itu saling mengarahkan panah cinta, Lili hanya mengarahkan panahnya secara random dan panah itu saling bertemu dengan seorang pria.
"Hi! Namaku Chen. Nama kamu siapa?"
"Oh hi namaku Lili, dari jurusan bahasa inggris"
"Wah aku dari Teknik, aku baru tau ada anak bahasa inggris secantik kamu hehhee"
Lili tersenyum dengan ragu, ia tak nyaman dengan situasi seperti ini. Chan mengajak Lili untuk makan berdua ia meraih tangan Lili namun tiba-tiba Andrew muncul memanggil Lili.
"Sayang... aku mencari mu dari tadi ternyata kamu disini ayo kita ke stand kita"
Andrew menggapai tangan Lili dan meninggalkan keramaian itu.
"Maaf.. maaf.. aku harus pergi" Lili meninggalkan Chen dengan segera.
Diperjalanan.....
"Lepaskan!!!"
Lili menghempaskan tangannya dan berhenti, lalu Andrew berbalik.
"Aku hanya berusaha mengeluarkan mu dari masalah tadi" sahut Andrew
"Masalah apa? Aku tadi bertemu cowok ganteng"
__ADS_1
"Masalah yang ku maksud adalah ketika kau sampai berkenalan dengan orang itu lalu menjalin hubungan maka aku bisa saja menggila"
"Maksud mu?"
"Bukankah sudah jelas, aku bisa saja gila karena kau"
Suasana hening disertai perasaan Lili yang menggebu-gebu. Tak tau lagi apa yang akan dikatakannya sekarang kepada Andrew.
"Kau dengar aku? Aku cinta padamu sudah sejak dulu aku tak ingin kita hanya sebatas sahabat"
"Hhmmm... ini sungguh tiba-tiba"
"Aku sudah banyak kali ingi mengungkapnya tapi keadaan selalu tak tepat diantara kita"
Lili sungguh tak bisa mengucapkan apa-apa sekarang, karena sangat lama akhirnya Andrew pergi meninggalkan Lili.
"Kediaman mu ku anggap penolakan, tak apa-apa biarkan aku saja yang menanggung perasaan ini"
Ia perlahan berbalik meninggalkan Lili...
Sesudah itu Lili dengan sigap menahan kepergian Andrew dengan menarik lengan bajunya.
"Andrew... aku... aku juga suka padamu"
.
.
.
.
.
.
-Bersambung-
Hy sahabat nuna, masih ingat kemarin Nuna ngajuin kontrak?
.
Alhamdulillah pengajuannya sudah terkirim dan sudah ada balasan baru saja.
Berita sedihnya Novel ini gak di terima hahahahah
Tenang tenang gak apa-apa kok Nuna bakal tetap lanjutin novel ini.
Nuna sedih tapi bukan berarti harus berhenti berkarya, Nuna sudah cukup senang jika kalian sudah sempatin mampir baca novel ini.
Nuna juga paling suka jika kalian komen-komen penyemangat dan like novel ini, pokoknya Nuna tetap ngelanjutin Novel ini dan terimakasih kepada Sahabat Nuna yang sudah sampai titik ini mendukung Nuna
__ADS_1