Ada Apa Dengan Dosen Itu?

Ada Apa Dengan Dosen Itu?
Wedding Dress


__ADS_3

WEDDING DRESS


Bersama persetujuan keluarga Lili akhirnya setelah melamar kekasihnya mereka memutuskan melangsungkan pernikahan di Korea. Persiapan pernikahan sudah di ancang-ancang jauh sebelum hari H, undangan telah disebarkan alumni Univ. Cokro tempat Lili kuliah dulu tak luput untuk di undang.


Sudah hampir lima bulan Lili ada di Korea, bersama calon suaminya ia membiasakan diri untuk tinggal bersama Ibu dan Ayah mertuanya. Ibu mertua Lili telah mengenalnya sebelum Lili dilamar, namun Ayah mertua masih agak canggung dengan kehadiran Lili. Baru pertamakali dalam sejarah keluarga itu anak termuda mereka membawa seorang wanita yang akan di jadikan pendamping hidupnya kelak. Seorang Ayah hanya berusaha berwibawa di hadapan anaknya dan calon keluarga barunya, ia tak begitu pandai berkata manis karena selama ia membesarkan anak-anaknya ia juga tak begitu akrab dengan mereka.


Hidup dalam keluarga bergelimang harta tapi kurang kehangatan dalam hubungan.


Suatu waktu Lili yang terbangun di pagi hari, sudah menatap sarapan di meja kecil samping kamarnya. Nampaknya pelayan telah menyediakan sarapan seperti biasa, Andrew mengetuk pintu dan memperhatikan calon istrinya sambil tersenyum. Mereka berbincang sebentar sebelum pergi mencoba kembali baju pengantin yang telah mereka pesan dari satu bulan yang lalu.


"Andrew aku merasa sedikit khawatir, apakah ini wajar? "


"Tenanglah, dilema sebelum pernikahan memang sering terjadi"


"Ayah tampak belum membukakan pintu hatinya untukku" dengan wajah yang murung


"Aku dibesarkan oleh bibi sejak kecil, tapi aku tak akan ada jika Ayah tak ada. Kau tau seorang Ayah biasanya tak pandai menunjukkan kehangatan tapi jauh di lubuk hatinya ia juga bisa merasa sedih, kehilangan ataupun kebahagiaan. Perasaan seperti itu biasa hanya nampak pada saat-saat tertentu"


"Ayahku waktu mendengar kau melamar ku dia langsung menangis seperti anak kecil, terlebih saat di Bandara. Sangat berbeda dengan Ibuku dia tak menangis dan hanya melambai sambil tertawa" sahut Lili


"Orang tua kita memang limited edition kalau begitu hahah"

__ADS_1


"Hentikan, dasar kamu" sambil memegang pipi suaminya seperti anak kecil


Tiba-tiba kepala pelayan Andrew menghentikan kemesraan pasangan muda-mudi itu.


"Hem... hem.. Tuan saatnya anda bersiap untuk pergi"


"Kapan kamu menikah? " dengan nada mengejek Andrew melewati pelayan setianya itu yang sedari kecil selalu bersamanya bahkan saat di Indonesia.


Mendengar itu ia langsung menundukkan kepala seperti anak kecil yang permennya di ambil orang.


\*\*\*


Ibu Andrew melihat Lili di ruang ganti baju pengantin, ia langsung teringat masa mudanya dulu bersama sang suami. Masa-masa yang mendebarkan walaupun pernikahannya bersama sang suami hanya sebatas perjodohan namun lama-kelamaan mereka akrab satu sama lain.


"Ibu kenapa berkata seperti itu kepadaku? "


"Andrew tipe orang yang susah untuk membuka diri, aku selalu khawatir padanya. Tapi lihatlah anakku sekarang bertemu gadis yang baik hati aku sangat berharap kalian bisa bahagia sampai maut memisah" sambil memeluk Lili


"Jangan bersedih Bu, nanti aku akan sering berkunjung ke rumah. Tak ada yang menculik putra kesayangan Ibu jadi jangan menangis"


"Dahulu Ayah Andrew sangat tampan, ketampanannya di turunkan kepada anak-anaknya kalian sangat serasi"

__ADS_1


"Tampan dan baik hati dan aku rasa hatinya di turunkan oleh Ibu"


"Mengapa berpikir seperti itu? " sambil merapikan baju pengantin calon istri anaknya


"Karena selama tinggal di sini, aku lihat Ayah tak terlalu hangat"


"Kau tahu dulu sewaktu muda, ia adalah Ayah dan suami yang penyayang. Namun tak mau memamerkan perbuatannya"


"Oh! aku baru tahu aku jadi penasaran dengan kisah semasa muda Ibu dan Ayah"


\*\*\*


Sebuah tirai perlahan dibuka dari celah bawah nampak gaun putih berkilau semakin di tarik semakin jelas seorang calon pengantin muncul di hadapan mereka. Andrew, Ibu dan kepala pelayan yang ada di ruang itu memandang dengan penuh kagum kepada Lili. Kepala pelayan mengeluarkan sapu tangan, bukannya memberikan kepada Ibu Andrew yang sedang terharu ia malah menggunakannya sendiri untuk menyeka air mata harunya. Orang-orang di ruang itu tertawa tak terkecuali Lili yang melihat kepala pelayan yang sedang menangis.


"Anda kenapa? " tanya Ibu Andrew


"Nona Lili kau tampak cantik tolong rawat Andrew ku dengan baik kedepannya" jawaban yang serius namun nampak lucu karena di ucapkan seperti seorang anak kecil yang menangis kehilangan mainan kesayangannya.


"Aku tak akan pergi jauh, kamu bisa ikut denganku paman atau menikah juga"


"Jangan bercanda denganku tuan"

__ADS_1


Seisi ruang saat itu penuh rasa syukur dan haru, akhirnya mereka mengabadikan momen itu untuk berfoto. Tapi Ayah mertua nampaknya tak datang hari itu, pekerjaan di kantor pusat membuatnya tak sempat untuk datang.



__ADS_2