
Lili terbangun dengan tiba-tiba, ia masih setengah sadar dengan perasaan yang pengar.
Dia diam beberapa saat di atas tempat tidurnya, mencerna apa yang sudah terjadi.
"Ttttiiiiiidaaaaaaakkkkkkk!"
"Kenapa aku mabuk saat itu, nampaknya aku sudah melakukan hal konyol di hadapan Andrew, bagaimana ini"
Sepertinya ia teringat sesuatu yg memalukan.
Ia masih mencoba mengingat namun hanya membuat kepalanya sakit.
Setelahnya ia mengecek ponselnya, ada beberapa pesan masuk di dalam ponselnya.
Pesan Hani muncul lebih dahulu, pesan ini dikirim kemarin
Hani: "Lil, aku gak bisa masuk hari ini izinin ke dosen yak"
Andrew: "Hei Nona muda, udah bangun?"
Andrew : "Oiiiii"
Andrew : "Masih tidur?"
Andrew : "Hufff ayo kemari aku ingin bicara perihal kejadian kemarin"
Seketika Lili membuang ponselnya dan mengacak-acak rambutnya.
"Gawat aku kemarin ngapain yahh? Aduh"
Seakan tidak memberi kesempatan, Andrew menelpon Lili sesaat kemudian. Lili berusaha menenangkan diri dan mengatur nafas.
"Hmmm yahh Halo ada apa?"
"Akhirnya kau jawab juga"
"Memangnya kenapa? Aku melakukan apa?"
"Sepertinya aku gak ngomong apa-apa kok" Andrew terlihat heran ekspresinya seakan ingin menertawai Lili
Lili terdiam, akhirnya ia salah kaprah juga.
"Ayok temani, aku akan mentraktir mu makan hari ini, nampaknya kamu terlalu mabuk untuk mengingat kejadian kemarin, aku jemput malam ini ok! Gak ada kata penolakan yah"
Andrew mematikan ponselnya. Lili terlihat khawatir dan merasa malu, tumben Andrew bisa sebaik ini padanya.
"Tttunggu tadi barusan Andrew manggil aku Nona Muda?"
"Sepertinya aku sudah melakukan sesuatu kepada Andrew kemarin, tiiidaaakk!"
Lili akan menghadapi sesuatu yang tak terduga hari ini.
Musik klasik terputar, gelas wine terisi dan terletak tidak jauh dari bak mandi si Tuan Muda Andrew.
Andrew sedang bersantai di rumah mewahnya, ia nampaknya senyum-senyum dari tadi.
Busa di bak mandi itu menutupi tubuh kekarnya, sesekali ia meneguk wine itu.
Tok.... tok...tok..
"Tuan saatnya makan malam bersama Nyonya"
Suara seorang pelayan memecah ketenangan Andrew, ia turun dari bak mandi dan membasahi tubuhnya dengan shower, kemudian mengenakan handuk keluar dari kamar mandi.
Ia memakai bajunya sekarang dan bersiap memenuhi panggilan nyonya Kim.
Dibawah sudah ada beberapa pelayan, makanan juga sudah disiapkan oleh juru masak.
Meja hanya di isi dua orang namun makanan cukup untuk mengenyangkan 5 orang.
Andrew dari tadi hanya bermain dengan makanannya, ia hanya sesekali memasukkan makanan ke mulutnya.
Nyonya Kim memperhatikan kelakuan anaknya dan bertanya
"Mengapa hanya makan sedikit? Tidak nafsu?"
"Tidak hanya saja aku kenyang"
"Selama beberapa bulan disini aku memperhatikanmu, mengapa kamu selalu saja menggunakan baju yang biasa (murah)"
"Aku tidak suka menarik perhatian"
"Memang ada apa dengan itu?"
__ADS_1
"Aku tidak mau saja"
Mereka melanjutkan makan malam namun Andrew tetap saja tak banyak makan. Ia sudah berjanji untuk bertemu Lili malam ini, ia menjaga perutnya tetap kosong sepanjang hari.
"Andrew! Heii! mengapa melamun saja dari tadi, ada yang mengusik pikiranmu?"
"Tidak apa-apa"
"Ibu akan kembali ke Korea bulan depan"
Sontak Andrew mulai fokus dengan ibunya
"Bulan depan? Kenapa begitu mendesak?"
"Bukan hanya aku tapi kamu pun harus ikut bersama Ibu"
"Apa? Mengapa begitu tiba-tiba?"
"Sekertaris Ibu sudah mengatur semuanya, Ibu mau kamu melanjutkan kuliah saja di Korea"
Ibu Andrew memberikan berkas kepindahan dan Pamflet Universitas Yonsei kepada Andrew
Andrew terlihat syok saat ini.
"Ibu, aku tidak akan bisa pindah aku sudah nyaman berada di Indonesia"
Kata-katanya sungguh tegas mengisyaratkan tidak untuk rencana kepindahannya.
Ia meninggalkan meja makan begitu saja dan keluar dari rumah.
\\*
Andrew sudah menunggu lama kedatangan Lili, dari tadi ia mengecek ponselnya bahkan sudah ada ratusan pesan teks yang ia kirimkan, namun batang hidung Lili masih belum muncul.
Ia menunggu beberapa menit dan akhirnya Lili datang.
Andrew melihat Lili dan seolah waktu di sekitar tempat itu berhenti bahkan ia mematung.
Tangan Lili menyentil jidat Andrew dan berhasil membuatnya sadar.
"Apa yang merasuki mu, tumben mau traktir makan, dan mana Hani?"
Suasana mulai canggung di antara mereka, alih-alih diam akhirnya Lili memanggil pelayan dan memesan menu.
Seorang pelayan pria mendatangi meja mereka dan mencatat pesanan.
Lili berusaha menyinggung kejadian kemarin
"Maafkan aku perihal kemarin"
"Sekarang aku tau bagaimana style kalau kamu mabuk hahaha"
Lili mulai terpancing dan panik
"Yahhh emang kemarin aku ngapain?"
"Masa kamu gak ingat? Kamu kemarin bahkan memeluk ku dan mengatakan hal-hal ngawur"
Wajah Lili merona, ia cemas dan panik
"Aku mengatakan apa? Kamu bohong masa aku meluk kamu? Jangan-jangan kamu ngambil kesempatan dalam kesempitan"
"Ingatlah kembali" Kata Andrew.
Lili berusaha mengingat dan ia melihat dirinya berada di atas mobil sambil berbaring di bahu Andrew.
"Ohhh itu aku berada di atas mobil, maafkan aku karena menyusahkan, tapi by the way kamu kan gak punya mobil, kemarin kamu ngantar aku naik motor kan?"
Sontak Andrew tersendak air
"Ohh itu karena kamu mabuk aku memanggil Taxi hehehe"
Andrew berbohong lagi.
"Ohh Taxi, aku juga gak ingat pokoknya maafkan aku, tapi ngapain ngajak makan enak di tempat mahal pula"
"Aku mau memastikan sesuatu"
Pelayan itu datang membawakan pesanan, setelah menaruh makanan di meja akhirnya sang pelayan pria meninggalkan catatan kecil kepada Lili yang berisi nomor telponnya.
Lili yang masih trauma dengan kejadian kemarin langsung memanggil pelayan tadi.
"Maaf aku gak bisa nerima ini" sambil menyodorkan nomor yang telah diberikan.
__ADS_1
Seketika Andrew menggandeng tangan Lili
"Maaf kamu gak liat kami sedang kencan? Dia sudah punya pacar"
Lili hanya terkaget mendengar kalimat itu keluar dari mulut Andrew.
Si pelayan pun pergi dan meminta maaf.
"Apa yang kau lakukan tadi.... itu.."
"Aku hanya menolong mu jangan mudah goyah dengan ketampanan pria"
"Ihh emangnya aku cuma melihat ketampanan saja?"
Setelah selesai makan mereka pergi ke tempat bermain Arcade dan menghabiskan banyak waktu bermain di sana, bahkan sangking serunya mereka lupa waktu.
Akhirnya mereka pulang, karena mobil Lili masih dalam proses perbaikan jadi Andrew membonceng Lili. Tak lupa ia memasangkan Helm kepada Lili.
Ketika sudah di depan kos Lili, Andrew membukakan gerbang kos untuk Lili
"Kenapa kau sangat aneh hari ini" tanya Lili
"Aku gak merasa seperti itu kok"
"Kalau begitu terimakasih atas makanannya, aku masuk duluan"
Lili dengan akwardnya berbalik mencoba melangkah masuk ke dalam pekarangan Kos.
Sebelum sempat masuk dia tersandung untunglah refleks Andrew menahan tubuh Lili, Lili langsung lari dan masuk kedalam kosnya.
\\*
Hal yang memalukan berujung pengakuan
Kemarin ketika mabuk Andrew mengantar Lili, di dalam mobil Lili menangis dan bersandar pada bahu Andrew.
"Aku sangat sial dalam percintaan, apakah aku ini pantas di jahatin, sungguh gak adil"
Andrew hanya menepuk punggung Lili yang sedang menangis.
Lili tiba-tiba duduk dan memegang wajah Andrew dengan kedua tangannya dan berkata
"Apakah dimata mu aku seorang wanita? Kamu gak bisa lihat aku? Aku ada di hadapanmu sekarang"
Andrew tak bisa bergerak dan menelan air liurnya karena gugup, baru kali ini dia sedekat ini dengan seorang wanita.
"Dasar bodoh, aku menyukai mu sejak pertama kita bertemu!"
Lili mencium pipi Andrew,
Jantung Andrew serasa dipompa deras oleh perasaan cinta saat itu, detak jantungnya sangat kencang.
"Apa gunanya, aku berbicara pada batu" lalu tangan Lili memukul-mukul pipi Andrew
"Ahkk... hentikan hentikan, kau sangat mabuk"
.
Aku harus memastikan sesuatu
Hati Andrew bingung, serasa kejadian kemarin hanya sebatas mimpi, namun ketika mencubit pipinya ia merasakan sakit.
Akhirnya ia menghubungi Lili dan mengajaknya bertemu untuk memastikan hatinya.
Ketika kedatangan Lili seolah waktu telah terhenti
ia hanya fokus melihat Lili datang menemuinya di restoran itu.
Ketika melihat si pelayan pria menggoda Lili, perasaannya seolah terusik dan membuatnya melontarkan kata "Kami sedang berkencan".
Sungguh ia sudah kehilangan kewarasannya.
Dan pada saat mengantarkan Lili pulang, Lili tak sengaja tersandung refleksnya menahan Lili untuk tak terjatuh dan berujung detakan kencang keduanya seirama.
"Apakah aku jatuh Cinta pada sahabat ku sendiri?"
.
.
.
Bersambung
__ADS_1