
Ratna berhasil memanas-manasi Marco yang saat itu memang sangat posesif terhadap pasangan nya jika ia benar-benar mencintai seseorang itu. Namun, jika dia tidak mencintai nya, ia bahkan sangat tidak peduli dengan orang tersebut bahkan bersikap dingin dan cuek terhadap orang itu.
"Marco kamu harus pikirkan lagi untuk menikah dengan gadis itu. Jangan sampai nanti nya kamu menyesal. Jelas mama tidak mau melihat putra mama terluka" Ujar Ratna berakting mengeluarkan air mata buaya nya seolah-olah ia yang terluka saat itu.
Marco sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun kepada mama nya. Ia memilih untuk pergi meninggalkan wanita paruh baya itu dengan mobil mewah nya.
Melihat Marco seperti itu, membuat Ratna tersenyum senang. Yah ia berhasil menyalakan api cemburu di hati Marco saat ini. Pasti akan terjadi pertengkaran besar-besaran nanti nya. Begitu lah yang di pikirkan oleh wanita paruh baya itu.
"Ma, kenapa dengan Marco? Seperti nya ia sangat marah" Ujar Nurdin kepada istri nya.
Yah saat keluar dari kamar nya ia melihat putra bungsu nya itu berlalu di hadapan nya dengan wajah yang tidak bersahabat.
"Ini lo pa, coba papa lihat ini. Foto Dea sama laki-laki lain Ternyata Dea selama ini berselingkuh dari Marco Karena itu Putra kita itu marah pa" Jelas Ratna sambil memperlihatkan foto yang ada di tangan nya tadi.
"Apa iya ini ma? Perasaan Dea gadis yang baik deh"
"Pa, papa ini apa-apaan sih? Masa iya masih tidak percaya dengan bukti yang ada. Masih saja membela gadis kampungan itu. Wajah polos seperti dia tidak menjamin lo pa hati nya itu juga baik" Ratna kini kembali memberikan hasutan kepada suami nya pula.
Nurdin tampak berpikir dengan apa yang di katakan oleh istri nya itu. Ia masih sulit mempercayai dengan kata-kata istri nya. Namun, bukti di tangan istri nya itu juga tidak bisa membuat nya menilai lebih jauh terhadap calon menantu nya itu.
"Apa benar Dea seperti itu?" Batin Nurdin masih bertanya-tanya.
***
"Hallo, Alicia, sekarang Marco sudah keluar dari rumah. Jalankan rencana selanjutnya" Ujar Ratna menghubungi Alicia di belakang rumah nya.
"Oke tante, semua nya sudah siap bersedia kok. Tante tenang aja" Ujar Alicia tersenyum penuh kemenangan dan menutup ponsel nya.
__ADS_1
"Toni, Marco sekarang sudah keluar dari rumah nya. Dia pasti pergi ke tempat Dea. Ayo kita ke sana dan jalan kan rencana selanjut nya" Ujar Alicia.
***
Marco menghentikan mobil nya saat tiba di depan kos Dea. Saat ini api kemarahan dan cemburu menutupi hati nya.
"Dea, Dea" Teriak nya.
"Seperti suara mas Marco? Kenapa dia berteriak seperti itu?" Batin Dea bertanya-tanya.
"Dea, keluar kamu" Ujar nya lagi mengetuk-ngetuk pintu kamar kos nya gadis itu.
Dea bergegas membuka pintu kamar kos nya. Terlihat napas Marco menderu menaham emosi di hati nya. Jika saja Dea itu laki-laki mungkin sudah ia daratkan sebongkah tinju di rahang nya. Tapi Dea gadis yang sangat ia cintai. Tentu saja dia tidak mau menyakiti fisik gadis itu.
"Mas, kenapa? Kok kamu....."
Dea mengerutkan kening nya menatap heran kepada laki-laki yang ada di hadapan nya itu. Ia benar-benar tidak mengerti mengapa Marco semarah itu kepada nya.
"Apa maksud kamu Dea? Kamu berselingkuh di belakang ku? Kamu menduakan cinta ku Dey, kenapa? Apa yang kurang dari ku. Aku sudah menyerahkan segala nya kepada mu. Bahkan nyawa pun sanggup aku korban kan untuk mu" Ujar Marco dengan mata yang memerah menahan rasa kecewa di hati nya. Yah ia juga berusaha menahan air mata yang mau mengalir di pipi nya saat itu. Laki-laki itu benar-benar rapuh bila Dea menduakan cinta nya.
"Mas, apa sih maksud kamu? Siapa yang selingkuh. Kamu jangan mengada-ngada" Bela Dea.
"Mengada bagaimana. Ini apa?" Ujar Marco memperlihatkan selembar foto Dea bersama Toni yang sempat ia ambil tadi sebelum pergi ke kos nya Dea.
"Ini apa Dey, kamu bermesraan dengan laki-laki ini pakai acara pegang-pegang pipi nya lagi. Kamu mempermainkan perasaanku selama ini?" Tanya Marco lagi masih dengan menahan emosi nya.
"Mas, dengar dulu. Ini tidak seperti yang..."
__ADS_1
"Halo Dey" Sapa Toni secara tiba-tiba muncul entah dari mana..
"Ini dia selingkuhan mu sudah datang" Ujar Marco langsung melayangkan satu bongkahan tinju di rahang bawah Toni membuat Toni tersungkur ke tanah.
"Ya Allah mas kamu apa-apaan sih?" Dea kaget melihat Marco tiba-tiba memukul Toni tanpa sebab seperti itu.
"Oh kamu marah jika aku pukul dia?" Marco tersenyum mengejek.
"Bukan begitu mas. Tapi dia ini tidak salah, apa sih salah dia sampai kamu memukul nya seperti itu tampa sebab"
"Jadi, siapa yang salah? Kamu? Berarti kamu yang mencoba merayu dia? Ternyata kamu sama saja seperti yang lain mur*han" Ujar Marco.
Plak....
Satu tamparan berhasil mendarat di pipi Marco. Yah Dea menampar tunangan nya itu. Ia tidak terima Marco memandang nya serendah itu.
"Kamu menampar ku Dey? Kamu berani menampar ku hanya untuk membela selingkuhan kamu?" Ujar Marco semakin emosi.
"Aku nyamper kamu bukan karena membela dia. Tapi aku tidak terima kamu menyebutku dengan sebutan mur*han. Kamu menuduh ku tampa mendengarkan penjelasan dari ku" Ujar Dea.
"Foto ini sudah jelas dan sikap kamu seperti ini semakin memperjelas perilaku mu yang asli Dey. Benar apa yang mama ku katakan. Aku telah salah memilih pasangan. Kamu bukan yang terbaik untuk ku. Aku harus memikirkan lagi untuk melanjutkan hubungan kita" Ujar Marco langsung meninggalkan Dea tampa memberikan Dea kesempatan untuk menjelaskan semua nya.
Rasa cemburu telah menutup pintu hati dan pikiran nya. Ia sama sekali tidak memberikan Dea kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Marco hanya percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Toni, kamu gak apa-apa?" Tanya Dea merasa bersalah karena Toni ikut di hantam tanpa sebab oleh Marco.
Toni memegang rahang bawah nya yang terasa sakit akibat hantaman dari Marco. Rasa sakit akibat di hantam preman bayaran nya tempo hari belum hilang, kini di tambah hantaman baru dari Marco. Tidak masalah bagi nya jika mendapat kan hantaman bertubi-tubi seperti itu. Yang jelas rencana nya bersama Alicia berjalan dengan lancar. Terbukti saat ini Dea dan Marco sedang bertengkar satu sama lain.
__ADS_1