
"Mas kamu sudah pulang?" Dea menyambut kepulangan suami nya dari kantor dan mencium punggung tangan suami nya itu.
"Iya, Aku sudah pulang sayang." Jawab Marco mengecup puncak kepala istri nya.
"Apa-apaan sih kamu Marco. Kamu gak mencium kening istri kedua mu? Alicia juga istri mu yang sah lo, dan dia senang mengandung anak mu. Harus nya kamu lebih perhatian sama dia." Protes Ratna yang tiba-tiba saja muncul entah dari mana.
"Eh Dea, harus nya kamu itu bisa mengalah sedikit dong sama Alicia. Rakus banget sih jadi orang." Tambah nya lagi dengan menatap sinis ke arah menantu nya itu.
"Ada apa sih ribut-ribut?" Tegur Nurdin yang baru pulang dari kantor nya.
"Ini lo pa si Marco, masa gak peduli sih sama Alicia. Padahal dia tahu bahwa Alicia sedang hamil anak nya."
"Ya ma, nanti aku ke sana kok untuk melihat keadaan Alicia. Tapi sekarang aku mau bersih-bersih dulu biar segar." Ujar Marco mencoba memberi alasan.
"Ya sudah, kamu bersih-bersih sana, terus lihat istri kedua mu itu. Bukan nya apa-apa ya Marco, hanya saja dia saat ini sedang hamil. Mau tidak mau kamu harus memberikan perhatian lebih kepada nya." Ujar Nurdin terdengar membela Alicia. Hal itu di karena kan Alicia sedang hamil saja. Ia juga tidak mau terjadi sesuatu kepada cucu nya yang tidak bersalah itu.
"Ya pa," Marco langsung pergi ke kamar nya untuk bersih-bersih.
"Eh Dea," Bentak Ratna saat melihat Nurdin dan Marco menjauh dari nya.
"Iya ma,"
"Sekarang kamu ke dapur! Masakin sate ayam untuk Alicia!" Perintah Ratna kepada menantu nya.
"Tapi ma, hari ini aku sedang tidak enak badan. Seperti nya aku mau demam deh." Ucap Dea dengan lemah.
"Oh, berani ya kamu menolak perintah ku? Mau jadi menantu durhaka kamu? Sudah tahu Alicia mau di masakin sate sama kamu malah menolak." Cerutu Ratna.
Dea menghela napas berat nya. Mau menolak tapi wanita paruh baya itu tetap memaksa. Malah pakai mengancam jadi menantu durhaka lagi.
"Iya ma, aku buatin sate nya untuk Alicia." Ucap Dea mengalah.
__ADS_1
"Gitu dong. Jadi menantu itu harus siap mengikuti segala perintah mertua nya."
***
"Alicia, ini sate ayam yang kamu minta. Semoga sesuai ya dengan selera mu." Ucap Dea mencoba untuk tersenyum ramah kepada madu nya itu.
"Kamu kenapa buatin sate nya lama banget sih? Aku jadi gak selera mau makan sate. Sekarang aku mau nya bubur ayam buatan kamu." Pinta Alicia lagi.
"Tapi Alicia, tadi bukan nya mama bilang kamu mau sate ayam, kenapa sekarang malah mau nya bubur sih?" Tanya Dea.
"Iya itu tadi, tapi sekarang aku mau nya bubur ayam. Kamu turuti saja lah kemauan ku jangan banyak protes. Nama nya juga orang hamil, selera nya selalu berubah-ubah." Ucap Alicia berlaga seperti nyonya besar.
"Sekarang ngapain masih di situ? Cepat buatin bubur ayam nya!" Bentak Ratna lagi.
Dea langsung pergi ke dapur untuk membuat bubur ayam yang Alicia mau.
"Ya Allah sabarkan lah aku dalam menghadapi segala cobaan ini. Buka kan lah pintu hati mama dan Alicia agar tidak menindas ku seperti ini. Semoga saja dengan aku melayani Alicia dengan baik bisa membuat mama dan Alicia luluh." Ucap Dea dengan penuh harapan.
***
"Ini lagi buatin bubur ayam untuk Alicia."
"Wah, ternyata istri ku ini memang sangat perhatian. Tidak sia-sia aku memiliki istri yang cantik dan pengertian seperti mu." Puji Marco memeluk istri nya dari belakang.
"Sudah ah jangan menggoda ku seperti itu. Ntar aku terbang melayang lo." Dea terkekeh pelan mendengar pujian dari suami nya itu.
"Nanti melayang nya di hati ku saja ya, jangan di orang lain."
Dea berbalik menatap suami nya dengan tatapan cinta. Kedua tangan nya merangkul leher Marco.
"Ya jelas dong ma boy, hati dan jiwa ku untuk mu. hanya untuk mu." Ujar Dea mencolek hidung mancung suami nya itu.
__ADS_1
Dea dan Marco tersenyum saling menatap satu sama lain penuh dengan cinta.
"Eh, maaf, maaf non, mas. Saya gak tahu jika ada kalian di sini." Ucap Bi Inem mencoba menutup mata nya merasa malu dengan adegan kedua suami istri itu.
Marco dan Dea saling tersenyum malu dan melepaskan pelukan mereka.
"Iya Bi gak apa-apa. Kami yang salah kok, gak tahu tempat untuk romantisan." Ujar Marco.
"Ya sudah aku mau lanjutin buat bubur nya dulu." Dea kembali mengaduk bubur ayam yang sedang mendidih itu.
"Sweety, ini sate ayam nya untuk siapa?" Tanya Marco melihat sepiring sate ayam terhidang di meja makan.
"Oh itu, untuk Alicia mas. Tadi kata nya mau sate ayam buatan ku. Sudah ku buatin malah berubah menu nya. Malah mau di buatin bubur ayam." Jelas Dea terus saja mengaduk bubur nya.
"Kok gitu sih Alicia, benar-benar ya itu anak. Mau di tegur ini." Ujar Marco.
"Eh mas, ngapain di tegur? Biarin aja lah mas. Lagian biasa dong dia bersikap seperti itu. Namanya juga sedang hamil. Bawaan nya macam-macam. Jadi kita maklumi aja ya." Jawab Dea mencoba untuk menenangkan Marco agar tidak menegur Alicia. Yah jika hal itu terjadi bisa, biasa Dea kena semprot lagi sama Ratna.
"Ya sudah, dari pada membazir, mending sate nya aku makan ya. Terlihat sangat menggugah selera ini." Ujar Marco mulai ngiler dengan sate buatan Dea.
"Iya mas, makan saja."
Tampa di suruh untuk yang kedua kali, Marco langsung menyantap sate tersebut ke dalam mulut nya.
"Wah, benar-benar enak sate buatan kamu sweety. Bagaimana kita tambahkan menu baru di cafe kita. Yaitu sate buatan kamu ini. Aku yakin seratus persen pasti sate nya laris manis." Ujar Marco penuh keyakinan.
"Ide yang bagus juga itu mas. Aku setuju."
"Ya sudah, besok kamu ikut aku ke cafe ya. Kamu harus ajarin chef di sana untuk memasak sate ini dengan bumbu khas kamu. Ini cita rasa nya unik banget."
"Iya mas, lagian aku juga bosa di rumah terus. Aku juga sudah lama gak ke cafe untuk bertemu dengan Ros di sana." Ujar Dea setuju dengan ide dari suami nya itu. Yah hitung-hitung ada alasan diri nya untuk terhindar dari kedua wanita yang berbeda usia itu yang selalu menindas nya.
__ADS_1