Akan Kah Kita Berpisah?

Akan Kah Kita Berpisah?
Kesendirian


__ADS_3

Alicia tertawa lepas karena rencana nya berjalan sesuai yang ia harapkan. Tidak masalah bagi nya jika ia harus bertempur tadi malam bersama Marco. Toh itu lah satu-satu nya cara membuat Marco menjadi bersalah dan pasti akan bertanggung jawab terhadap nya.


"Bagaimana? Apa Marco percaya dengan semua ini? Dia tidak curiga kan?" Tanya Alicia kepada Susi yang baru saja masuk ke kamar nya.


"Beres, ia sama sekali tidak curiga bahkan ia percaya semua nya. Marco juga bilang akan memberi tahu kepada orang tua nya tentang masalah ini. Dia pasti akan bertanggung jawab" Jelas Susi ikut tersenyum penuh kemenangan.


"Jika dalam satu minggu Marco belum juga ada kasih kabar tentang kelanjutan masalah ini, aku menemui orang tua nya untuk mengatakan semua yang terjadi" Jelas Susi membuat Alicia semakin senang.


"Bagus, bagus. Kerja mu memang bagus. Tidak sia-sia aku membayar mu mahal dalam hal ini"


"Tentu dong. Aku tidak mungkin mengecewakan mu" Jawab Susi tersenyum bangga. Meski di hati nya merasa heran dengan tingkah bos nya itu. Di mana Alicia rela menyerahkan harga diri nya untuk mendapatkan apa yang ia mau. Ya mending kalau Marco mau bertanggung jawab. Kalau gak mau bagaimana? Yah Alicia hanya bisa menggigit jari nya menghadapi kenyataan yang pahit ini. Siapa suruh dia melakukan hal ini tampa berpikir panjang terlebih dahulu. Begitu lah yang di pikirkan oleh asisten pribadi Alicia saat itu.


***


Dea sedang menikmati kesendirian di taman yang berada tak jauh di kos nya. Ia memikirkan tentang apa yang di katakan oleh Marco tadi. Yah entah lah ia tidak tahu harus bagaimana saat ini. Secara besok ibu dan adik nya akan datang ke ibu kota untuk pernikahan nya yang hanya tinggal menghitung hari saja lagi.


"Dey" Tegur Toni kepada gadis yang memiliki lesung pipi itu.


"Eh Toni" Jawab Dea tidak bersemangat.


"Masih memikirkan masalah kamu yang kemarin?" Tebak Toni yang memang apa ada nya.


Dea mengangguk pelan. Tampak gadis itu pun menghela napa berat nya.

__ADS_1


"Aku tidak tahu harus bagaiman lagi Ton. Secara besok ibu dan adik ku akan datang ke sini untuk menghadiri pernikahan ku. Tapi, Marco masih belum ada kabar nya sama sekali. Apa benar dia mau membatalkan pernikahan ini?" Jelas Dea dengan nada memalas.


"Sudah menghubunginya?"


Dea mengangguk pelan lagi.


"Tapi ponsel nya sama sekali tidak aktif. Entah di mana dia saat ini"


"Apa mau aku temenin ke rumah nya?"


Kini Dea menggelengkan kepala nya.


"Gak perlu, aku gak mau ke sana. Pasti nanti akan banyak pertanyaan yang muncul. Dan masalah baru akan bertambah" Ujar Dea.


Yah memang begitu lah karena ia yakin Ratna mama nya Marco pasti akan semakin memanasi Marco jika mengetahui masalah ini. Secara wanita paruh baya itu memang tidak menyukai nya dari awal.


Dea sama sekali tidak menjawab saran dari Toni. Ia kembali melamun menatap kosong ke depan. Saat ini ia benar-benar bingung harus bagaimana. Apa yang harus ia katakan kepada ibu dan adik nya nanti setelah mereka tiba di kota ini.


"Sudah lah Toni, jangan di pikirkan lagi masalah ini" Ujar Dea bangkit dari duduk nya meninggalkan Toni.


"Kamu mau kemana Dey?" Toni mengikuti Dea melangkah meninggalkan tempat itu.


"Pulang"

__ADS_1


"Aku antar kamu pulang ya?"


"Lebih baik kamu pulang saja Toni. Aku ingin sendiri dulu saat ini" Ujar Dea dengan nada yang lemah.


"Tapi Dey, kamu sedang dalam masalah seperti ini, aku harus berada di samping mu. Aku ingin meng...."


"Terima kasih karena peduli kepada ku" Potong Dea cepat membuat Toni tidak melanjutkan perkataan nya.


"Tapi benar deh, saat ini aku hanya ingin sendiri. Aku mohon kamu pulang saja biarkan aku sendiri" Ujar Dea lagi memohon.


"Baik lah" Ujar Toni pada akhir nya mengalah. Yah saat ini Dea sedang tidak memiliki mood sama sekali. Jika ia masih memaksakan diri untuk menemani gadis yang memiliki lesung pipi itu maka ia takut nanti Dea malas semakin risih kepada nya. Karena itu lah dia mengalah untuk saat ini.


"Baik lah Dey jika itu mau mu. Tapi ingat lah, Jika kamu membutuhkan bantuan atau membutuhkan apapun lah itu, kamu bisa menghubungi aku. Aku akan siap dua puluh empat jam untuk membantumu" Yakin Toni. Dea hanya tersenyum tipis kepada laki-laki yang ada di hadapannya saat ini. Yah ia sengaja menghindar dari Toni agar jika Marco datang nanti, tidak akan membuat masalah ini semakin besar bila melihat Toni bersama gadis itu.


Dea melangkah pulang ke kos nya. Ia menghempaskan tubuh nya di atas kasur. Ia benar-benar lelah saat ini. Benar apa yang di katakan orang-orang. Jika ingin menikah itu pasti ada saja cobaan dan rintangan nya. Dan inilah cobaan yang harus Dea dan Marco hadapi.


"Ya Allah, bantu lah aku dalam menghadapi masalah ini. Aku benar-benar terpuruk saat ini ya Allah. Peluk lah hati ku yang sedang rapuh ini" Doa Dea. Tak terasa beberapa air bening meleleh di pipi nya. Ia menangis dalam kesendirian.


***


Di tempat lain Marco berkali-kali memukul setir mobil nya. Ia merasa bodoh saat ini karena telah merusak Alicia. Ia benar-benar bingung harus berbuat apa. Pasti papa nya akan sangat kecewa dan marah besar nanti setelah tahu apa yang terjadi. Secara ia dan Dea akan menikah sebentar lagi.


"Kenapa aku bisa kebablasan seperti ini sih? Kenapa aku bisa melakukan semua ini kepada Alicia? Bagaimana cara ku menjelaskan semua ini kepada mama dan papa terutama kepada Dea?" Batin Marco memaki diri nya sendiri.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan. Dea pasti dangat kecewa kepada ku. Dea pasti akan marah besar kepada ku. Aku tidak mau kehilangan Dea" Tambah nya lagi. Yah meski ia merasa kecewa kepada Dea karena kesalahpahaman itu, namun tetap saja rasa cinta dan sayang nya untuk gadis itu masih besar. Yah ia hanya mengatakan kata-kata kasar itu karena emosi sesaat bukan sebenar nya.


"Pernikahan ku sudah di depan mata. Tidak mungkin aku membatalkan nya" Marco benar-benar frustasi saat itu. Ia tidak tahu harus bagaimana.


__ADS_2