
"Assalamualaikum Dey" Ujar Sumi menghubungi putri nya.
"Waalaikumsalam buk"
"Dey, sepertinya Ibu tidak bisa berangkat hari ini ke Jakarta. Tiket pesawat sudah habis terjual Dey. Ibu mendapatkan tiket keberangkatan nya lusa" Jelas Sumi kepada putri sulung nya.
"Oh gitu, yah deh buk gak apa-apa. Yang penting besok ibu kabari aja ya jika mau berangkat" Ujar Dea.
Dea mengakhiri percakapan mereka di telepon. Perut gadis itu terasa keroncongan. Yah waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Tentu saja ini waktu nya makan siang. Gadis berlesung pipi itu pun keluar untuk mencari makanan agar cacing di dalam perut nya tidak demo lagi.
"Duh, panas banget ya" Ujar Dea saat berada di luar kos nya. Gadis itu berjalan kaki menuju warung makan yang tidak jauh dari kos nya itu untuk membeli makanan.
"Tuh kalian lihat kan gadis yang berjalan kaki di sana" Ujar seseorang menunjuk ke arah Dea kepada dua orang preman bayaran nya.
"Lihat bos" Jawab kedua preman itu serentak.
"Bagus, sekarang kalian ke sana gangguin dia nanti aku akan datang ke sana untuk menolong nya. Aku harus membuat dia terkesan dengan ku" Jelas orang tadi lagi yang tak lain adalah Toni.
"Baik bos" Kedua preman tadi pun langsung mengerjakan tugas nya tampa di perintah untuk yang ke dua kali nya.
Dea menghentikan langkah nya saat melihat kedua preman tadi mencoba mengganggu nya.
"Hai cantik, sendirian aja nih. Mau di temenin" Ujar salah satu preman yang bertubuh gempal dan bertato di lengan nya. Preman tadi itu mencoba untuk mencolek dagu Dea. Namun Dea menepis nya dengan kasar.
"Ih, kasar banget sih cantik. Jangan kasar-kasar gitu ah nanti gak ada yang suka lo" Ujar preman satu nya pula.
"Gak apa-apa bro jika dia ini kasar. Justru itu semakin membuat kita tertantang" Ujar preman bertubuh gempal tadi sambil tertawa lepas.
__ADS_1
"Ayo cantik ikut kita" Ujar nya mencoba meraih tangan Dea. Dea ketakutan dan terus saja menghindar.
"Jangan macam-macam ya kalian. Atau gak aku teriak ni" Ancam Dea.
"Aduh cantik, percuma saja jika kamu berteriak. Kamu lihat sendiri kan di sini keadaannya sepi. Mending ikut aja dan jangan membuang tenagamu untuk berteriak" Ujar preman itu lagi menangkap Dea. Dea meronta-ronta ingin melepaskan diri.
"Lepas kan aku" Ujar nya.
"Tolong...." Teriak Dea.
"Hei kalian, lepas kan dia. Jangan kalian ganggu dia" Ujar Toni datang sebagai pahlawan sesuai dengan rencana nya.
"Waduh, ternyata ada pengganggu nih. Ayo serang" Ujar preman bertubuh gempal. Mereka pun saling berkelahi. Awal nya Toni bisa menyerang preman itu dan membuat nya jatuh tersungkur ke jalan. Namun preman yang bertubuh gempal tadi membalas serangan nya hingga membuat ujung bibir nya keluar darah.
"Kurang ajar" Ujar Toni kembali menyerang kedua preman tadi hingga membuat kedua preman tadi pun kabur. Bukan kabur karena menang, namun kabur karena di suruh sama Toni seolah-olah dia yang kuat di sana.
"Iya aku gak apa-apa kok. Tapi itu lo pak bibir bapak berdarah. Ayo ke kos ku agar aku bisa mengobati nya" Ajak Dea. Yah tentu saja gadis itu merasa bersalah karena Toni terluka akibat menolong nya. Jadi ia harus bertanggung jawab untuk mengobati luka Toni itu. Karena itu lah ia mengajak Toni ke kos nya.
Toni pun setuju secara ini memang rencana nya. Alicia memperhatikan dari jauh. Gadis itu mengambil kesempatan untuk mengabadikan moment-moment Toni bersama Dea. Di mana foto tersebut akan ia kirim ke Marco untuk membuat laki-laki itu salah paham dengan Dea dan pada akhir nya Dea dan Marco akan bertengkar hebat.
"Pak tunggu di sini sebentar ya. Aku ambilkan obat nya dulu" Ujar Dea mempersilahkan Toni untuk duduk di kursi yang berada di teras kos nya.
Toni duduk di sana dan melihat kepergian Dea ke dalam kos nya dengan senyuman penuh kemenangan. Karena gadis itu sudah masuk ke dalam perangkap nya.
Seperkian menit kemudian Dea keluar dengan obat-obatan di tangan nya.
"Maaf ya pak gara-gara aku bapak jadi seperti ini. Dan makasih ya sudah mau membantu ku tadi" Ujar Dea menuangkan alkohol ke kapas untuk membersihkan luka pada bibir Toni.
__ADS_1
"Gak apa-apa kok Dey, aku malah senang bisa membantu mu. Ngomong-ngomong jangan panggil aku bapak dong. Kesan nya terlalu tua panggil Toni saja" Pinta Toni kepada Dea.
"Iya maaf" Ujar gadis berlesung pipi itu. Ia pun langsung membersihkan luka Toni dan mengobati nya dengan obat merah.
"Sudah selesai" Ujar Dea menyimpan kembali obat yang ia bawa tadi ke tempat nya.
"Terima kasih ya Dey kamu sudah mengobati luka ku. Emang nya kamu mau kemana?"
"Tadi aku mau ke depan, mau beli makanan"
"Oh gitu, ya sudah ayo ke depan biar aku temenin kamu. Takut nya preman tadi akan datang lagi gangguin kamu"
"Gak perlu, gak apa-apa kok nanti malah merepotin"
"Gak kok Dey, aku sama sekali tidak merasa di repotin kok. Malahan aku senang bisa membantu kamu" Ujar Toni dengan tersenyum manis.
"Gak perlu pak. Beneran"
"Gak apa-apa kok Dey. Lagian tidak baik jika menolak niat baik orang"
Dea menghela napas berat nya. Karena Toni memaksa nya dan ia masih merasa bersalah atas apa yang di alami Toni barusan, ia pun mengangguk setuju untuk di temani oleh Toni.
"Ya sudah kalau begitu. Sebentar ya aku simpan obat ini dulu ke dalam" Ujar Dea masuk ke dalam kos nya untuk menyimpan obat nya tadi.
"Ayo kita pergi" Ujar Dea mengajak Toni setelah menyimpan obat tadi ke dalam kos nya.
Lagi-lagi Toni tersenyum senang karena Dea kembali jatuh ke dalam perangkap nya. Alicia sedari tadi tiada henti memotret Toni dan Dea. Dan kini, ia beralih mengambil vidio nya pula. Gadis itu yakin dengan bukti-bukti ini akan membuat Marco kebakaran jenggot. Secara Marco orang nya posesif terhadap Dea. Dia pasti akan marah besar dan menganggap Dea telah menghianati nya. Ini lah yang di harapkan Toni dan Alicia. Mereka akan memanfaat kan situasi ini untuk mengambil hati Dea dan Marco agar kedua orang itu semakin saling salah paham dan bertengkar terus.
__ADS_1
Terlebih ada Ratna mama nya Marco yang nanti menjadi kompor untuk membuat Marco semakin kepanasan.