
Part 12 ( PENCULIKAN DINA DAN HARDI)
Perlahan aku membuka mata, terperanjat saat aku sadar aku di tempat yang sangat asing buatku. Ku sapu seluruh ruangan dengan mataku, semua serba bagus dan mewah tak pernah aku lihat sebelumnya barang barang semewah ini.
Aku mulai mengingat apa yang aku alami sebelum aku berada di ruangan ini, Hardi iya Hardi bukankah aku bersamanya ? Mengantar kue kue ? Dimana dia sekarang ? Kenapa aku di sini dan sendiri?
Aku mendengar suara pintu di buka, cepat ku alihkan pandanganku ke arah suara itu. Hardi masuk bersama seorang perempuan sekitar umur lima puluhan.
" Dina lo dah siuman? " Tanya Hardi.
" Kenapa aku ada di sini? Siapa kamu sebenarnya ? Apa yang sudah terjadi ? Antarkan aku pulang Hardi aku kangen mamah , aku takut mamah khawatir padaku " Mataku kembali berkaca dan mengalir airnya membasahi wajahku yang putih pucat.
" Iya nanti lo pasti pulang, sekarang lo makan dulu ya seharian perut lo belum di isi " Kata Hardi seraya mengapus air mataku lembut, aku lihat dari matanya ada tulus dan kesedihan.
" Ini bu Ani dia yang ngerawat gua sejak gua kecil, dia udah lama kerja di sini , kalo lo mau apa apa lo tinggal bilang sama dia. Nanti abis makan lo bisa mandi kamar mandinya sebelah sana, sementara lo pake baju bekas kakak gua dulu ya? Lo bisa milih di lemarinya "
Karna lapar aku menyantap makanan yang Bu Ani bawa , ayam goreng dan sayur sop. Setelah aku makan separuhnya, tiba tiba aku ingat mamah dan adik adik, jarang sekali kami makan goreng ayam. Andai ada kedua adik aku pasti mereka ikut makan dan merasa senang.
Selera makanku hilang, aku rindu keluargaku. Air matapun mengalir lagi.
Setelah mandi aku melangakah ke arah lemari pakaian yang di maksud Hardi tadi, aku geser pintu lemari ke arah samping. Seketika aku terbengong mataku tak berkedip menatap baju baju yang bagus dan mahal pastinya, Aku lihat satu persatu semua dress cantik.
Awalnya aku merasa sungkan, apa pantas aku pakai baju baju Ini? Aku melihat baju seperti ini hanya di tv saja . Siapa pemilik baju baju ini, Hardi bilang ini punya kakak nya lalu di mana kakak nya ? Dan kamar ini mungkin kamar kakak nya.
Aku masih belum berhenti memikirkan semua ini , kepalaku terasa pening.
Terdengar suara pintu terbuka aku lihat Hardi datang dan hendak masuk ke kamar. Aku panik baru saja aku mandi tubuhku masih di balut handuk hanya sebatas dada dan paha.
Pandangan Hardi menubruk padaku, dia menatapku tau berkedip menyapu habis dari ujung rambutku sampai ujung kaki.
__ADS_1
" Eh lo kok bengong sih ? Gak sopan banget masuk masuk gak pake ketuk pintu, sana keluar gua mau pake baju ?! "
" Lagian kenapa pintunya lo gak kunci? Lo tuh yang salah bukan nyalahin gua !" Hardi balik bentak tidak mau kalah.
" Udah sonoooooo keluaaaar ! " Aku berteriak panjang.
Cepat cepat Hardi keluar dia hanya butuh satu langkah setelah membalikkan badan lalu dengan cepat sudah ada di luar kamar.
Aku memakai salah satu dress tanpa memilih lagi, ku rapihkan rambutku yang ikal ku biarkan rambutku tergerai rumah ini terasa sejuk karna Air Conditioner yang selalu on. Tidak seperti di rumahku yang mau tak mau aku harus mengikat rambutku seperti ekor kuda.
Sejenak aku tatap diriku di cermin, aku terpesona dengan diriku sendiri. Hampir hampir aku tak mengenali diri Ini, dress ini terasa pas di badanku.Terlihat kakiku yang lenjang dan putih sampai ke lutut. Bulu mataku yang lentik, mungkin karna rambut ku yang ikal sampai bulu matakupun keriting.
" Udah belum ? " Tanya Hardi dari luar.
" Apa sih tuh anak teriak teriak mulu gak pegel apa itu urat leher? " Aku menggerutu.
Hardi masuk kembali ke kamar, kali ini dia lebih terkejut dari sebelumnya. Bola matanya melotot tapi berbinar.
" Hei bengong lagi dah ! Udah kenapa sih jangan bengong mulu , bosen liatnya " Kataku marah tapi jujur malu, aku marah hanya menyembunyikan rasa maluku.
Hardi mendekatiku dia mebenarkan rambutku meletakan dan membiarkan tergerai di belakang.
" Lo cantik Dina, kecantikan lo selama ini lo sembunyiin " Kata Hardi yang membuat pipiku semakin memerah.
Tiba tiba aku mendongak, aku tatap tajam Hardi " Eh iya, kamu harus cerita kenapa kita sampai di sini? Siapa kamu ? Apa yang sebenarnya terjadi ? Satu lagi kapan aku pulang ? " Aku berondong Hardi dengan pertanyaan.
" Dina sabar satu satu ya ? Gua akan cerita semua apa yang lo mau tahu "
Tiba tiba ada yang mengetuk pintu dari luar, tanpa menunggu pertanyaan dari dalam siapa di luar . Pintu perlahan terbuka Bu Ani muncul dari baliknya.
__ADS_1
" Den... Juragan memanggil Aden dia menunggu di bawah " suara Bu Ani sangat ramah .
" Dina aku turun ke bawah dulu ya ? " Kata Hardi , aku mengangguk.
Beberapa saat setelah Hardi keluar terdengar keras seperti ada barang yang pecah, aku rasa barang itu pasti terbuat dari kaca atau beling .
" Kenapa kamu sangat keras kepala Hardi ?! " suara itu menggelegar mungkin mampu memecah gendang telinga semua manusia yang tinggal di rumah ini.
Aku melangakah mendekati daun pintu, ku dekatkan telingaku hingga benar benar rapat di daun pintu. Aku benar benar penasaran ada apa dengan rumah ini. Dan aku belum tau siapa sebenarnya Hardi, dia belum bercerita padaku tentang semua ini.
Aku semakin penasaran, aku buka sedikit pintu sampai aku bisa melihat dan mendengar dengan jelas kejadian di bawah.
" Plaakk " Seorang lelaki dewasa bertubuh tinggi, berpaiakan rapih. Dia mengenakan kemeja warna biru muda dengan celana bahan warna hitam. Dengan keras dia menampar wajah pemuda yang ada di hadapannya, iya itu Hardi.
Hardi diam dari tadi aku tidak mendengar suaranya, ada rasa kasihan padanya. Pipinya pasti terasa sakit akibat tamparan laki laki yang di depannya itu.
" Sudah pah ! " Jangan kamu pukul lagi dia ! "
Ada suara keras seorang perempuan dari arah pintu depan. siapa dia ? Aku belum bisa melihatnya, tubuh nya belum terlihat berbaur bersama orang orang di bawah.
" Tok Tok Tok " suara langkah kaki dengan sepatu hak tinggi . Wanita dengan memakai bloes warna mocca di padu rok selutut dengan warna yang sama.
Wanita itu mendekati laki laki yang dia panggil papah itu.
" Plaakk " Laki laki itu menampar wanita di depannya.
" Pah, papah boleh memukul Hardi tapi tolong jangan pukul mamah " Hardi mulai bersuara.
" Suhardi Bambang Wikasono, kamu masih membela perempuan ini hah ? "
__ADS_1