
Part 13 ( AYAHNYA HARDI GEMBONG NARKOBA)
" Papah gua Bambang Wikasono, dia punya perusahaan banyak. Ada Showroom mobil, perusahaan furniture dan beberapa hotel " Hardi mulai bercerita
" Harta papah gua sangat banyak, rumah pun bukan hanya ini masih banyak di beberapa kota selain Jakarta "
" Usaha usaha papah itu hanya kedok untuk menutupi pekerjaan dia yang sebenarnya, papah adalah seorang bandar Narkoba, dia sering kali pergi keluar negri dengan alasan bisnis usaha nya yang kelihatan oleh publik. Padahal sebenarnya dia pergi untuk urusan bisnis Shabu dan sejenisnya "
Aku menelan ludah, ku remas ujung sisi samping kiri dan kanan dress yang aku pakai. Meski anak kampung sedikitnya aku mengerti dengan apa yang namanya narkoba, meski aku tak pernah tahu bagaimana bentuknya.
" Gua muak dengan segala apa yang papah lakukan , mama gua juga pergi, mama minta cerai dari papah . Mama dah gak kuat dengan sifat papah yang temepramen. Papah suka mukul egois dan suka main perempuan, gua gak boleh ikut mama. Papah pasti bunuh mama kalo nekat bawa gua pegi " Panjang lebar Hardi bercerita.
Aku beringsrut mendekati Hardi yang duduk di tapi ranjang, aku usap pipinya ku pandangi bola matanya. Ada beban yang sangat berat di sana, ada perasaan ingin membantunya setidaknya membuat hatinya tenang.
" Kamu bilang kamu punya kakak perempuan, dress ini punya dia kan ? Dan kamar ini kamar dia kan? Dimana dia sekarang? " Tanyaku dengan rasa penasaran yang penuh.
" Kakak gua namanya Hanum, saking gak kuatnya dia ngeliat papah akhir nya dia pergi entah kemana . Sampai sekarang belum tahu bagaimana kabarnya " Mata Hardi nampak berkaca.
" Sssstttt udah nanti lagi lanjutkan ceritanya ya, kamu sudah keliatan sangat lelah. Kamu pergi istirahat gih sana " Pintaku dengan lembut.
Hardi mencium punggung tangganku, aku membiarkan. Jika itu membuat dia nyaman aku rela.
__ADS_1
" Gua tidur di sini ya Din? " canda nya
" Apa ? Enak aja bisa bisa kamu di mutilasi sama bapakku tau ?! " Ancamku.
Hardi tertawa mengekeh, aku pukul lembut punggung nya sampai dia mengaduh bohong.
Hardi keluar, entah dimana kamarnya. Aku malah belum pernah keluar sejak ada di rumah ini. Matakupun terasa berat , rasanya lelah kemarin belum sempurna terobati. Aku tertidur pulas di ranjang mba Hanum.
Matahari yang menerobos jendela kaca kamar, membangunkan aku dari tidur nyenyak. Badanku tak mau tau seberat apa fikiranku, tuntutan untuk cukup beristirahat tak dapat aku elakkan.
Aku buka gorden cantik yang menutupi jendela, di luar ku lihat beberapa laki laki bertubuh sama kekar sedang berjaga jaga, seperti istana raja saja dengan penjagaan yang ketat.
Tiba tiba pintu terbuka, semalam aku memang lupa untuk mengunci pintu kamar, Bu Ani masuk dia menghampiri aku yang sedang berdiri di depan jendela kaca.
Aku diam, kenapa aku harus sarapan sama sama dengan mereka ? Apakah itu penting ? Sepertinya aku memang harus turun dan bergabung ke sana. Bulu kuduk ku merinding mengingat tanparan yang mendarat di pipi Hardi dan mamanya.
" Iya bu saya segera ke sana ya " Kataku pada bu Ani, dia mengangguk.
Setelah merapihkan diri aku segera keluar , Mataku menjelajahi seluruh ruangan bawah dari atas . Ingin memastikan dimana mereka berada.
Ku turuni anak tangga satu demi satu, langkah ku mulai pelan saat mendekati meja makan dimana Hardi dan papah nya siap untuk sarapan. Sementara empat orang lelaki kekar berdiri di belakang Pak Bambang.
__ADS_1
" Duduklah gadis manis kita sarapan bersama " papahnya Hardi mempersilahakan aku duduk, aku duduk di bangku kosong dekat Hardi, sengaja aku pilih disitu agar sikapku tidak begitu kaku.
Sambil memoles lembaran roti dengan selai, Pak Bambang mulai bertanya padaku.
" Kamu teman Hardi ? " Tanya laki laki itu.
" Iya pak " jawabku.
" Ayo sarapannya di makan, jangan malu anggap saja rumah sendiri " Kata pa Bambang dengan ramah. Dan aku mengangguk sungkan.
" Braakkk " Pintu depan terbuka dengan lebar. Seorang laki laki berwajah bringas dengan susah payah menyeret paksa seseorang yang sepertinya sudah lemah, hidung dan mulutnya mengeluarkan darah.
" Bos dia mulai membangkang " Ucap laki laki berwajah sangar itu.
" Dia berani beraninya ingin keluar dari geng kita " jelas laki laki itu pula.
Pak Bambang berdiri dengan santai, dia menganggkat dagu laki laki lemah itu dengan kasar.
" Berani kamu ya ? Sudah kaya kamu ? Tidak takut mati hah ?! "
" Bos ijin kan saya keluar, saya kasihan sama anak istri saya bos, maafkan saya " pinta laki laki lemah itu tak berdaya.
__ADS_1
" Buuukkk " Pa Bambang menendangnya dengan keras.
Aku yang menyaksikan memejamkan mata, naruni wanitaku keluar . Aku tak bisa melihat kekerasan. Hardi memegang tanganku, seolah ingin memberi kekuatan padaku.