
Part 6 ( INDRA MENYELEMATKAN AKU)
Perlahan pintu terbuka, seorang laki laki tanggung yang sejak pagi aku tunggu akhirnya muncul. Nampak merah lelah terlihat di wajahnya, nafasnya tersengal seragamnya lusuh tidak karuan. Rasa kesal dan benci sebelumnya pada Indra perlahan hilang dari hatiku melihat rupanya saat ini.
" Assalamu alaikum "
" Waalaikum sallam " sahut kami dari dalam bersamaan.
" Dina...maaf ya aku terlambat " Indra terlebih dahulu menghampiriku, terlihat wajah sesalnya.
Tuhan bukannya marah, malah ingin rasanya aku ambil saputangan di saku ku, ingin aku seka keringat yang bercucuran di wajah Indra. Hingga ketampanan nya terlihat sempurna kembali.
" Euuu nggak apa apa Ndra, udahlah semua sudah selesai, hari ini terakhir aku sekolah "
" Tidak Dina aku akan jelaskan semua bahwa kamu tidak bersalah, percayalah Dina kamu akan tetap sekolah di sini " Indra menatapku, ah tatapan apa ini? Aku haru Indra begitu perduli padaku.
" Bu, saya ingin memberitahu pada ibu bahwa Dina tidak bersalah. Saya tahu bagiamana kejadian sesungguh nya " Indra berkata tanpa pindah posisi ia tetap berdiri di depanku, hanya kepalanya saja yang mengarah kepada bu Irna.
Lia terlihat gelisah, lebih gelisah dari saat bu Irna memberi nasehat padaku tentang karma baik dan buruk.
" Cerita Indra apa yang kamu tahu " Bu Irna siap mendengarkan, aku penasaran dan Lia tetap dengan kegelisahannya.
" Pagi itu..." Indra mulai bercerita
" Dina keluar sepertinya dia ingin ke toilet, kebetulan bu Siska belum masuk, kelas masih gaduh anak anak masih bercanda dan ngobrol. Saya melihat Lia jalan ke arah bangku Dina, saya melihat Lia dengan cepat memasukan sesuatu ke tas Dina, mungkin uang itu. Setelah itu Lia segera kembali ke bangkunya, tak lama Dina datang dan di susul bu Siska " Indra menjelaskan dengan panjang lebar dan hati hati sekali.
Semua mata mengarah kepada Lia, tak ketinggalan mataku yang menatap tak mengerti mengapa Lia sejahat itu padaku.
" Lia ! Kenapa kamu melakukan itu pada Dina? " Bentak bu Irna.
" Saya eu..saya..." Lia nampak gugup dia tak bicara banyak, nampak sekali rasa bingungnya, dan ku harap Lia menyesal, tapi entahlah.
" Gara gara kamu Dina terancam keluar dari sekolah, Ingat Lia, jika kamu melakukan sekali lagi ibu akan bertindak tegas! " Bu Irna nampak marah.
" Sekarang kamu harus minta maaf sama Dina, cepat!"
Lia diam sejenak tanpak begitu enggan dia mendekati aku, dia diam menatapaku dengan tatapan yang tidak aku mengerti. Tiba tiba dia pergi keluar ruangan dengan cepat, tanpa bicara apapun, tanpa pamit sama bu Irna atau bu Siska.
__ADS_1
" Lia mau kemana kamu ? " teriak bu Irna tapi Lia tak menghiraukan.
" Anak tak tau sopan santun ! " Bu Irna menghela nafas berat sambil geleng geleng kepala "
Bu Irna mendekati aku sambil memegang pundakku beliau berkata " Dina ibu yakin kamu tidak bersalah, makanya ibu tetap memberimu kesempatan untuk membela diri, ibu tau posisi yang kamu alami sangat sulit.
" Iya bu, terima kasih atas dukungan nya " Aku mengucap terima kasih pada bu Irna.
" Tetaplah jadi anak baik Dina, meski sangat sulit percayalah Tuhan takan pernah tinggal diam untuk hambanya yg selalu menjalankan kebenaran, jika dalam hidup itu ada sakit dan pahit, itu adalah cobaan agar Kita belajar tentang kesabaran.
" Indra terima kasih kamu datang sebelum benar benar terlambat "
" Iya bu sama sama " ucap Indra sumigrah, terlihat ada kepuasan di matanya, dan seolah bisa mengobati rasa lelahnya sepanjang perjalanan menuju sekolah.
" Sekarang kalian boleh masuk kelas, sebentar lagi bel masuk berbunyi "
" Baik bu " jawabku bersamaan dengan Indra.
Aku dan Indra keluar bersama sama meninggal kan Bu Irna dan bu Siska berdua di ruang guru.
" Dina kita pulang bareng yu " Indra mengejarku
" Apaan sih rumah kita kan gak searah, ngaco deh kamu " jawab ku sambil membuang muka agar Indra tak melihat wajahku yang merah dan senyum termanis yang tiada seorangpun tahu, ya senyum seperti ini jarang sekali menghiasi bibirku.
" Nanti di perempatan itu kita pisah menuju ke arah rumah masing masing, kalo bisa ya lurus aja menuju ke arah rumah kamu , eeeh "
Aku diam saja sambil terus buang muka ke samping, entahlah rasanya begitu malu jika lama lama menghadap ke arah muka Indra.
Aku kendalikan perasaanku " Nrda...makasih ya kamu dah bantuin aku, dan maaf sebelumnya aku dah berprasangka buruk sama kamu "
" Nggak apa apa kok Din, aku yang harus minta maaf karna aku gak tepat janji, tadi pagi Ibu pinsan dan aku harus merawat ibu dulu, tambah tambah sepeda aku bannya bocor "
" Ibu kenapa Ndra? " seketika aku balikan wajah ke arah Indra, dia hampir kaget dan gelagapan, mata kami beradu, deg ! ah wajahku yang putih memerah lagi, malu maluuu sekali di tatap Indra seperti itu.
Aku cepat lari meninggal kan Indra, aku tak mau berlama lama bersamanya.
" Dina! Tunggu Din " Indra meneriakiku dan aku tetap berlari, aku tau Indra takan sanggup mengejarku beban nya terlalu berat sepedanya yang bocor butuh bantuan tangannya untuk selalu memapah.
__ADS_1
💞💞💞
Lia berjalan menuju kantin, ia di temani Puji sahabat dia yang sangat setia. Rambutnya terurai panjang tak ada satupun aksesoris yang di pake nya, jadi tanpak seperti lebih dewasa dari umurnya, bajunya yang ketat dan rok nya yang hampir mini terlihat seperti seorang sekretaris perusahaan.
" Aku sebel banget tuh sama si Indra, berani beraninya dia belain si norak Dina!" Gerutu Lia yang di iringi sendok makan berisi bubur yang masuk ke mulut mungilnya.
" tenang Lia, masih banyak cara dan Ide untuk bisa menyingkirkan Dina dari sekolah ini, dia itu emang gak level jadi temen kita, bajunya norak rambutnya kriting, ih gak ada maju maju nya" Puji menyemangati.
"Eh lihat itu si norak tumben masuk kantin ? Bareng Indra lagi, sayang ya si Indra ngapain sih deket deket Dina , gak malu apa punya temen yang dandannya norak begitu " Bisik Puji ke arah Lia
Aku ingin duduk agak jauh dari tempat duduk Lia dan Puji, tapi Indra melarang dia minta aku duduk di tempat biasa saja dan tidak perlu menghindari mereka .
" Udah di sini aja cuek aja ngapain juga takut ? Emang kamu abis ngapain mereka? "
" Tapi Ndra " bantahku
" sssttt udah di sini aja " Indra menekan pundak aku hingga aku terduduk kembali .
" Ih dasar anak norak, mau makan aja ribet ribut, norak ya norak , makanya sekali kali piknik dong biar gak kikuk kalo ketemu orang banyak !" Lia berkata datar samar tapi tetap terdengar .
" Heh ! Apa urusan kamu? Mak Amih aja yang punya kantin biasa aja, kenapa kamu yang rese? " Indra menimpali omongan Lia sambil mengaduk aduk bubur yang sudah di campur bakwan yang di sobek sobek, sedang aku tetap duduk mematung.
" Dina udah cepet makan buburnya mumpung anget " Pinta Indra
" Eh Dra kok kamu mau sih temenan sama dia, emang gak malu punya temen norak kaya gitu ? " Tanya Lia kalimatnya tetap menyudutkanku padahal dari tadi Indra yang menimpali bicaranya.
" Malu kenapa? Aku lebih malu punya teman kaya kamu, liat itu paha kemana mana, mending mulus item gitu " jawab Indra santai sambil sesekali minum air teh hangat yang dia bawa bersamaan dengan mangkuk bubur.
Lia nampak kesal buru buru dia bangun hendak berjalan menuju ke arah luar, sayang karna tidak konsen dg mangkuk bubur yang dia makan hampir setengah, tangan Lia tak sengaja menyenggol mangkuk bubur itu yang letaknya hampir di bibir meja.
" Bluppp glombraaaang " alhasil bubur yang tinggal setengah mangkuk itu tumpah di atas roknya dan langsung jatuh ke lantai.
" Arrrgggghhhhh Pujiiiiiiii " teriak Lia
Puji gelagapan dia seperti bingung apa yang harus dia lakukan untuk menolong teman baik hatinya itu, iya Lia selalu mentraktir Puji kala jam istirahat tiba, karna dia terlalu buru buru kakinya kepeleset percikan bubur Lia yang tumpah , seketika Puji pun jatuh terlentang.
Rok nya yang hampir mini semakin naik ke atas, semua yang kebetulan ada di kantin semua tertawa menyaksikan kejadian itu, aku menekap mulut menahan tawa, sedang Indra meletakan kelima jarinya di muka, iya jari yang renggang.
__ADS_1