
Part 2 ( DI BULLY TEMAN KECIL)
"Dina sedang apa? " Tanya mamah padaku. " tidak apa apa mah" jawabku. Senang sekali rasanya melihat anak ayam yang menggelepar dengan darah segar di sana sini karna ayam yang aku sembelih dengan pisau dapur punya mamah itu telah robek kulit leher nya.
" Ya ampun Dina ! " Mamah sangat kaget melihat aku yang dengan puas menyaksikan penderitaan ayam itu.
" Apa yang kamu lakukan nak? " suara mamah agak tersendat. " Ayam besar itu sudah mengganggu ayam kecil mah, dia ikut makan makanan yang sedang di makan ayam kecil " Aku menjelaskan " Tapi tidak boleh begitu, mereka cuma binatang yang tidak punya fikiran , jangan pernah menyakiti apalagi sampai membunuh itu tidak baik sayang ".
Pagi itu aku di tugas kan mamah untuk menjaga kedua adik aku yang berumur satu tahun dan tiga tahun, tak sengaja aku melihat sepupuku lewat depan rumahku, sepertinya dia hendak ke warung sebelah untuk beli sesuatu.
Aku berlari keluar memanggil dan mencegatnya, aku berdiri di depan Yuli sepupuku, dia adalah salah satu anggota dari kelompok teman teman yang suka membully aku, tapi aku tau Yuli tak pernah ikut membully ku, aku tau iya hanya diam dan tak ikut ikutan seperti teman teman yang lain. Hanya saja jika teman teman berlarian dia juga ikut berlari entah mengejar apa, atau menghindari apa.
Aku blok Yuli dari perjalanan nya sehingga dia tak bisa melewati jalan Karna terhalang badanku. Aku angkat tangan ku, ku sembunyikan ke empat jariku dan ku tunjukan jari kelingkingku jelas jelas " Yuli baikan yu? Aku ingin punya teman, kamu mau kan berteman dengan aku ? " Aku menatap Yuli penuh harap. Yuli terdiam sesaat, dia tak berkata apapun dia hanya mengangguk, aku tersenyum bahagia.
Aku membiarkan Yuli meneruskan perjalanan menuju warung, dan aku berlari bahagia ke arah rumah .
Sejak itu aku selalu menyisakan makanan untuk yuli, dua biji permen atau sebungkus kerupuk kecil, aku memberikannya secara diam diam, aku senang Yuli mau menerima pemberianku, meski secara diam diam karna kami takut dengan Isah, dia pasti akan marah besar jika tau Yuli berbaikan denganku, meski begitu aku tetap bahagia karna aku tau masih ada satu teman yang tidak membenciku.
__ADS_1
" Dina bisa tolong mamah bantu jual kue ini sayang ? " Pinta mamah padaku ketika aku sedang coret coret pensil di buku lusuhku.
" Boleh mah asal di kasih upah jigohan empat ya, Dina gak mau cepekan " sambutku dengan bersemangat.
Jigohan adalah uang pecahan dua puluh lima perak.
Aku pergi ke pasar dengan membawa nampan isi kue.
Aku duduk dengan mengahadap nampan tanpa menawarkan kue kue itu pada setiap orang yang lewat .
Beberapa meter dari tempat aku Jualan aku melihat anak remaja tersenyum padaku, aku diam saja entah siapa namanya tapi aku tau rumahnya masih sekampung denganku.
Aku masih ingat jika ada om om sekampung aku melihat aku, mereka selalu mencium pipiku.
Kue kue yang aku jual habis tak tersisa, tak sabar aku ingin segera pulang, ingin segera tagih janji mamah yang mau kasih aku jigohan empat, senang rasanya.
"Heh anak cengeng abis jualan ya ? " aku menoleh ke arah kiriku " Isah " gumamku seketika dadaku bergemuruh, entah kenapa jika melihat wajahnya ingin sekali aku mencakar nya, hingga ia akan terlihat buruk rupa.
__ADS_1
Tapi aku tak seberani hawa nafsuku, nyaliku ciut melihat perawakannya yang jauh lebih tinggi dari aku, aku diam dan meneruskan perjalanan untuk pulang.
Isah menarik napanku dengan cepat, dan aku tak mampu menghindar uang uang Logam yang aku simpan di atas nampan kosong itu berhamburan.
Aku memungutinya sambil tak kuasa membendung air mata, entahlah berapa jumlah uang semuanya, aku tak tahu apakah ada uang yang terlempar jauh dari tempat aku berdiri atau tidak.
Isah tertawa puas, dengan perasaan hancur aku pulang ke rumah, ku ceritakan semua pada mamah.
Kebetulan ayahku ada di rumah dia mendengar semua ceritaku tadi.
" Kurang ajar itu anak si Hartono, dia perlu di kasih pelajaran ! " wajah ayah memerah sedang mamah begitu kesulitan menarik narik tangan ayah agar tidak keluar rumah apalagi untuk melabrak mang Hartono.
Setiap kali aku kedapur entah kenapa tangan ini selalu ingin meraih pisau itu, iya pisau yang selalu di pakai mamah untuk mengiris bumbu dapur, jika ada kesempatan aku selalu pegang pisau itu, aku angkat perlahan, seketika terbayang wajah Isah.
Seperti biasa jika pagi sebelum sekolah mamah meminta aku menjaga ke dua adiku, adik aku yang umur satu tahun menangis, ternyata adik aku yang satunya telah mengambil empeng adiknya.
Aku cepat berdiri seketika aku lari kedapur aku cari cari pisau yang kemarin.
__ADS_1
Sementara mamah teriak teriak dari arah kamar mandi "Dinaaaa kamu apakan adik kamu sampai menangis begitu? "
Aku tidak menghiraukan teriakan mamah, mataku terus mencari pisau itu, dan akhirnya aku menemukan pisau itu, ya pisau yang setiap hari aku pandangi.