AKHIR HIDUP GADIS KECIL YANG SELALU DI BULLY

AKHIR HIDUP GADIS KECIL YANG SELALU DI BULLY
AKHIRHIDUP GADIS KECIL YANG SELALU DI BULLY


__ADS_3

Part 21 ( Dina Mulai Jatuh Cinta pada Benny)


"Hai Dina" suara seseorang memanggilku sangat dekat, "ups dia lagi" Batin ku, aku diam dengan wajah ketus, tidak lagi aku memperlihatkan wajah ramah seperti pertemuan yang ke tiga dengan Benny.


"Nanti malam temenin aku jalan yu?" Ajak Benny.


"Memang nya nanti malam malam minggu apa pake ngajak jalan segala?" Aku balik bertanya masih dengan wajah ketus.


"Memangnya kamu mau kalo aku ajak jalan malam minggu?" Goda Benny sambil mengerlingkan mata.


"Ups apa aku ini? Duhh aku salah ngomong lagi" Batinku merasa bodoh sendiri.


"Ya jelas enggak lah, emang nya aku pacar kamu pake jalan malam minggu segala?" Aku harap kali ini pertahanan aku berhasil.


"Kalo aku jadiin pacar bagaimana?" Tanya Benny semakin gencar tapi santai, membuat aku tambah kelimpungan.


"Udah ah kamu ngaco" Aku hampir tak menemukan kata kata lagi, ku tinggalkan Benny tanpa pamit. Aku bergegas ke kelas. Untung nya aku sama Benny beda kelas dan jurusan, setidaknya waktu bersama dan melihat dia tidak terlalu panjang. Sehingga aku merasa ruang gerakku tidak terlalu sempit.


Seperti biasa pulang kuliah aku selalu menunggu angkot. "Pulangnya aku antar yu?"

__ADS_1


"Tuhan dia lagi kemana gadisnya mengapa dia tak menjaga laki laki ini agar tidak selalu berusaha mendekati wanita lain?" Batinku makin gusar.


Benny mendekatiku,aku menatapnya "Deg" jantungku hampir mau copot. Tak sanggup juga aku menghindari tatapannya,sebagai seorang gadis umur duapuluh tahunan adalah wajar jika darah mudaku berdesir ketika ada pemuda tanpan selalu berusaha mendekati. Tidak perduli dia punya pacar atau tidak, ini masalah rasa yang tiba tiba, bukan bicara tentang hak dan posisi.


Aku luluh, pertahananku selama beberapa hari ini ambruk hanya dengan satu tatapan lembut namun mampu menghujam hati. Saat itu yang aku lihat Benny seperti Dewa Asmara dengan kedua sayapnya yang mengembang, kedua tangannya yang siap memanah gambar hati.


Seperti terhipnotis aku mau begitu saja duduk di bonceng Benny bahkan aku tak tahu kearah mana Benny membawaku melajukan motornya.


Akhirnya aku dan Benny sampai pada suatu tempat yang aku sendiri tak tahu di mana. "Ini di mana?" Tanyaku.


"Kita masuk yu kita makan" Ajak Benny tanpa menghiraukan pertanyaanku. Aku di ajak ke sebuah restaurant sederhana oleh Benny kita duduk berhadapan, "Kamu mau makan apa? Nanti aku pesenin" Tanyanya tetap lembut.


Benny memesan Lemmon tea dua gelas nasi 2 porsi dan satu ayam bakar "Ayo Din temani aku makan ya?" Pinta Benny.


Akhirnya mau tak mau aku makan juga, dan ini memang waktunya aku makan malam, aku lupakan sejenak perasaan yang tadi aku sendiri tidak mengerti. Perasaan itu hilang perlahan. Sesekali aku tatap Benny yang lahap makan di depanku. Rambutnya yang ikal hidungnya yang mancung, mulutnya yang sedang sibuk melahap ayam bakar tak merusak ketampanannya.


"Ayo makan lagi, kok berhenti" kata Benny seketika membuyarkan lamunanku tentangnya "iya kamu makan aja aku udah cukup kok" kataku sedikit kikuk karna aku tertangkap sedang memperhatikannya.


Setelah makan Benny membawaku pergi dari restaurant itu, aku masih tidak tahu kemana Benny akan membawaku. Entah lah ada perasaan masih ingin berlama lama dengannya,perasaan apa Ini? Sebumnya aku tidak seperti ini kepada Benny.

__ADS_1


Sampailah kami pada sebuah taman, lampu taman tidak begitu terang. Bahkan untuk memastikan wajahku berwarna apa orang di hadapanku takan bisa melihat jelas.


Benny membimbingku duduk di sebuah kursi taman, dan anehnya aku diam saja. Seperti kerbau di cucuk hidung.


"Dina kamu keturunan cina ya ?" Tanya Benny memulai pembicaraan.


"Bukan" kataku spontan.


"Tapi kulit kamu sangat putih, wajah kamu juga aku yakin warna putih kulit kamu adalah alami" Lanjut Benny.


"Ah itu karna mamah aku kulit nya putih, mungkin gen aku ngambil dari Mamah" kataku menjelaskan.


"Bibir kamu sexy Dina,merah merekah meski tak di poles lipstik. Itu mungkin masih ada hubungannya dengan kulit kamu yang putih, wanita berkulit putih pasti akan selalu berbibir merah. Seperti kamu" Benny masih memujiku.


Aku diam saja, sebagai seorang gadis pasti akan senang dan bangga di puji seperti itu oleh lelaki, tanpan lagi.


"Sejak pertama kali kita bertemu sebenarnya diam diam aku juga memperhatikan kamu, entah mengapa aku begitu sangat menyukai bibir kamu. Dan sebagai lelaki aku normal, bila menyukai hal yang indah dari wanita seperti kamu" Perlahan Benny memegang tanganku mempermainkan jemariku,anehnya aku diam saja,jantungku berdegup tak karuan darahku mengalir dengan deras. Ada perasaan hangat dari dalam tubuh ini.


Benny semakin merapatkan duduknya tangan kami bergenggaman seolah tak ingin terlepas. Tiba tiba nafas kami memburu entah siapa yang memulai bibir kami bertemu saling berpagutan, aku tak tahu perasaan apa ini, mengapa nikmat itu terasa sangat ? Nikmat yang tak bisa di ungkapkan dengan kata kata.

__ADS_1


Masih ingin dan selalu ingin berpagutan, Benny seperti mengajakku berdiri dan aku nurut, dia mendekap aku sehingga tubuh kami sangat rapat, Benny melingkarkan tangannya di pinggulku. Aku lingkarkan tangan ku di lehernya, tangan Benny perlahan naik dia memegang kedua pipiku, lidahnya menjulur ke leherku. Aku diam bibirku sedikit terbuka aku mendesah, perlahan tangannya mencoba membuka kancing kemejaku satu persatu.


__ADS_2