
Part 14 ( DINA DI SANDERA)
Sudah satu minggu aku di rumah Pak Bambang Wikasono, tinggal di rumah mewah serasa di penjara. Dan memang aku ini kan di sandera, tapi atas dasar apa? Kenapa aku ikut jadi korban? Bukankah Pak Bambang hanya ingin putranya pulang ? Kenapa aku harus hadir di sini juga ?
Aku harus berani bicara pada ayahnya Hardi agar dia mau memulangkan aku ke kampung, percuma aku bicara sama Hardi nyalinya tak seujung kuku jika sudah berhadapan dengan ayahnya.
Aku kangen mamah bapak dan adik adik di rumah, mungkin nanti malam aku akan mulai bicara. karna bosan aku turun ke bawah . Menuju ruangan paling ujung di mana di sana ada Bu Ani yang sedang sibuk mempersiapkan masak untuk makan malam.
Aku dekati Bu Ani tanpa suara, bahkan suara langkah kakikupun nyaris tak terdengar. Bu Ani terperanjat ketika tau tiba tiba aku berada di sampingnya.
" Si Neng datang gak kedengeran suaranya, bikin bibi kaget saja " Kata Bu Ani sambil mengusap dadanya.
" Ternyata Ibu masih punya rasa kaget ya, Dina fikir Ibu dah kebal, bahkan akan sangat jauh dari penyakit jantungan. Karna hampir setiap hari menyaksikan hal hal yang lebih kaget lagi, melihat pak Bambang hobbynya mukulin orang " Kataku dengan kalimat yang terakhir terdengar berbisik.
" Iya neng kalau masalah itu bibi dah kebal , bahkan melihat pembunuhan pun bibi sudah mengalaminya, darah yang bercereran. Pecahan kaca yang berserakan itu sudah menjadi pemandangan bibi sehari hari " Bu Ani bercerita dengan hati hati.
Bu Ani melakukan pekerjaan dapur dengan cepat, seperti koki yang pernah aku lihat di tv.
" Ibu sudah berapa lama bekerja di sini? Sepertinya Ibu sudah sangat hafal keadaan di rumah ini " Tanyaku.
" Sejak Hardi dalam kandungan bu Cindy ibu sudah bekerja di sini " Jawab Bu Ani.
" Oh iya bu, Bu Cindy itu mamanya Hardi ya ? Sepertinya kulit Hardi ngambil dari warna kulit mamanya ya, mamanya putih dan sipit "
" Bu Cindy itu gadis keturunan China, sedang pa Bambang pemuda jawa, sebenarnya pernikahan mereka tidak di restui oleh pihak keluarga keduanya. Tapi mereka tetep nekat menikah, Pak Bambang dan Bu Cindy berumah tangga mereka tidak permah komunikasi dengan pihak keluarga manapun " Jelas Bu Ani sangat detail.
__ADS_1
Aku manggut manggut, ku tuang air kedalam gelas, kerongkongan ini terasa kering.
" Sambil aku bantu bantu ya bu ? " kataku menawarkan jasa.
" Tidak usah neng duduk saja, bibi masih bisa mengerjakan semuanya kok " Bu Ani tersenyum.
" Lalu kenapa Hardi harus kembali ke rumah ini bu? Saya rasa dia lebih baik sekolah di kampung saja , oh iya Hardi kan tinggal bersama pamannya ya Bu, itu pasti adik nya pa Bambang " Aku masih banyak bertanya dan masih banyak lagi pertanyaan yang sudah tersimpan di otakku.
" Iya Pak Budi dan Pak Bambang adik kakak, tapi sifat mereka sangat berbeda. Pak Budi orangnya sabar dan selalu manut dengan orang tua, dia menikah dengan cara di jodohkan. Tapi rumah tangga dan kehidupannya selalu aman dan tentram karna di landasi ilmu agama yang kuat " Bu Ani bercerita sementara tangannya mengaduk aduk sayur.
" Kenapa Pak Bambang bersikeras agar Hardi tinggal di sini bu? Bukankah bersama Pak Budi itu lebih baik ?"
" Ayahnya Den Hardi sangat tidak menyukai adiknya, dari dulu mereka selalu berbeda pendapat dan jalan, apalagi Pak Budi pernah melaporkan Pak Bambang ke pihak yang berwajib. Kebencian Pak Bambang makin menjadi kepada adiknya " Bu Ani berhenti bercerita dia memberi isyarat kalau ada seseorang yang datang.
" Aku bosan di atas terus, ajak aku keluar dong Har aku kan baru pertama kali ke Jakarta masa ke Monas aja belum. Nanti kalau pulang aku gak ada bahan untuk bercerita, pasti deh Lia iri denger nya " kataku sambil tersenyum lebar.
" Apaan sih? Emang lo ke Jakarta travel? Lo tuh di culik di sandera, jangankan keluar pagar ke luar pintu aja lo gak akan boleh tau gak ? " Hardi menjelaskan dengan nada berat.
Aku kembali murung, penjelasan Hardi membuat kesedihanku terasa lagi. Rasa sesak di dada kembali menjalar.
" Nanti malam aku akan bicara pada papah kamu, aku minta supaya aku cepat di pulangkan ke kampung. Aku khawatir sama mamah " Setiap kali aku bicara soal mamah aku tak pernah sanggup untuk membendung air mata.
" Iya Dina gua akan coba ngomong sama papah, lo yang sabar ya ? " punggung tanggan Hardi menyeka air mata yang membasahi pipiku.
" Aden dan neng makan ya ? Semua masakannya sudah matang, biar bibi siapkan dulu.
__ADS_1
Aku menikmati makan malam bersama Hardi, Kami makan di meja dapur, dapur yang mewah menurutku. Di atas di mana aku duduk terdapat gelas gelas yang berjejeran, sangat rapih dan mempermudah mengambilnya. Tataan dapur ini seperti bar yang sering aku temukan gambarnya di majalah majalah.
" Tok tok tok " Suara sepatu itu seperti pernah aku mendengar nya.
" Hardi " Ada suara lembut dari arah belakang.
Kami menoleh Hardi tetap diam, Bu Ani bergegas menyambut.
" Ibu mau minum apa ? " Tanya Bu Ani sopan.
" Tidak usah Bi, saya tidak akan lama di sini " Tolak wanita itu.
" Hardi pernah kah sedikit saja kamu mau mendengar mama cerita ? Agar di hati kamu tidak lagi menyimpan kebencian pada mama " suara wanita itu lirih, sangat iba aku mendengarnya. Hardi kenapa dia diam saja ? Ada apa sebenarnya? Apakah wanita itu telah melakukan kesalahan yang membuat Hardi membenci ibu nya sendiri.
Hardi berdiri tetap diam dan berlalu dengan cuek, wanita itu tidak mengejar nya, mungkin percuma mengejar Hardi takan mudah berubah.
Aku ikut berdiri, aku dekati wanita itu aku salami dia ku cium tangannya. " Maaf tante mamanya Hardi kan ? Saya Dina teman Hardi "
Bu Cindy memegang bahuku " Kamu pasti gadis baik, jika kamu dekat dengan Hardi tolong beri dia pengertian, tak semua manusia selalu berbuat benar. Tapi bukan berarti tidak ada waktu untuk memperbaiki semuanya.
" Iya tante Dina akan coba " sambutku.
Tante pamit ya, tante tidak boleh lama lama di sini , papahnya Hardi tidak suka tante sering berkunjung ke sini.
Bu Cindy pergi ke arah pintu luar di antar Bu Ani, sedang mataku berusaha mencari ke arah mana Hardi pergi.
__ADS_1