
Sementara itu mamah di kampung sangat cemas, dia berusaha mencari informasi tentang aku yang tiba tiba hilang . Mamah mendatangi rumah Pak Budi , menceritakan bagaimana awalnya aku bisa hilang.
" Saya hanya mendapatkan kotak kotak kue yang sudah koyak dengan kue kue yang hancur pak, saya yakin Dina tidak baik baik saja " Mata mamah berkaca kaca.
" Dina tak pernah tidak ijin jika hendak bepergian, apalagi pergi yang sangat lama. Dia anak yang baik pak, tolong anak saya. Secepatnya bapak Harus bisa membatu saya.
" Bu Nina tenang ya ? Saya harap ibu tenang dulu, saya berani jamin Dina baik baik saja. Saya tahu Dina di mana, Dina aman bu . Hanya saja ada kejadian yang mungkin akan sulit di terima, Dina sekarang ada di Jakarta di rumah kakak saya ayah dari Hardi. Saya yakin itu, Hardi memang tidak pamit pada ayahnya untuk tinggal dan sekolah di sini. Ayahnya pasti sangat marah hingga membawa paksa Hardi, dan Dina pasti di duga sangat berpengaruh dalam kehidupan Hardi. Makannya Dina di ajak juga " Pak Budi menebak nebak dengan mimik wajah yang seolah sangat yakin .
" Lalu mengapa tidak ijin dulu kepada saya Pak? Kenapa Dina di ajak begitu saja ? Saya sangat khawatir. Bagaimana saya bisa tenang ? " Mata mamah berkaca, betapa mamah sangat merasa takut akan diriku. Anak gadis nya yang dulu sangat cengeng dan selalu mendapat bullyan dari teman teman. Mamah tetap menganggap aku itu lemah.
" Begini saja nanti saya akan Mencoba pergi ke Jakarta , saya akan memastikan kalau Dina baik baik saja , jika bisa nanti Dina akan saya ajak pulang " Hibur Pak Budi menjanjikan.
" Sekarang ibu tenangkan dulu hati dan fikiran bu Nina ya, nanti secepatnya saya akan beri kabar" Lanjut Pak Budi.
Akhirnya mamah pulang dengan menggendong adik bungsuku, mamah pulang dengan perasaan yang sama . Cemas dan takut aku tidak baik baik saja.
__ADS_1
💞💞💞
Aku menemukan Hardi di balkon samping kamarku, di situ memang udaranya sejuk, angin bisa datang dari segala arah. Datang dan pergi membawa kepenatan di hati.
Aku berdiri di samping Hardi, masih menatap wajahnya yg mengahadap lurus ke arah pohon besar yang letaknya di halaman depan. Pandangannya seperti kosong, namun hati dan fikirannya penuh sesak berhimpitan, tumpang tindih dengan masa lalu dan harapan yang tipis akan masa depan.
" Mama pernah berselingkuh, dan aku menyaksikan sendiri perselingkuhan mama. Bagaimana aku bisa mudah memaafkan mama, mama meninggal kan aku bersama kak Hanum di rumah . Bertiga dengan Bu Ani, itulah mengapa aku panggil Bu Ani Ibu, bukan bibi karna dia lebih dari sekedar seorang pengasuh "
Aku masih diam, menanti kelanjutan Hardi bercerita.
" Tinggal di rumah yang mewah seperti neraka saja buatku dan kakak, kami tak sanggup menjalani hidup seperti ini " ucap Hardi terdengar sangat berat .
" Pada usia ke dua puluh tahun kakak membawa seorang pemuda ke sini, memperkenalkan pada papah dan bilang kalau mereka serius . Tapi papah menentang habis habisan, setelah itu kakak pergi dan tak pernah kembali lagi. Aku harap saat ini kakak sedang bahagia, dimanapun dia berada.
" Aamiin " Aku mengamini. Aku tau belum saatnya memberi pengertian pada Hardi sesuai apa yang di pinta tante Cindy, saat ini perkataan siapapun takan masuk kedalam otaknya. Jadi biarlah dia tenggelam dengan perasaannya dulu.
__ADS_1
Aku pegang tangan Hardi, aku genggam jemarinya. Aku harap aku mampu menguatkannya.
Hardi larut dalam pelukan nyamanku, aku memeluk nya seperti memeluk boneka Panda yang besar . Boneka yang tiada pernah aku mampu memilikinya.
Tiba tiba Kami di kejutkan dengan suara keributan di bawah di halaman sana, ada sekitar delapan orang wajah mereka di bungkus topeng. Memaksa masuk ke dalam rumah , namun para penjaga berusaha mencegah agar mereka tidak berbuat lebih jauh.
Beberapa lama terjadi perkelahian sengit, aku melihat satu diantara anak buah pa Bambang roboh, tangannya memegang paha kirinya, terlihat samar darah mengalir dari genggamannya.
Entah kenapa ulu hatiku terasa sakit, kepala berkunang dan seketika terasa gelap.
" Bruuuukkkk" Aku ambruk tak sadarkan diri, Hardi membopong aku, meletakan tubuhku di atas ranjang. Seperti ada firasat Bu Ani datang tergopoh .
" Kelompok siapa yang datang itu Bu? " Hardi bertanya pada Bu Ani .
" Bibi tidak tahu Den, wajahnya semua di tutup topeng"
__ADS_1
" Dor Dor Dor " terdengar seseorang melepaskan tembakan ke udara.