AKHIR HIDUP GADIS KECIL YANG SELALU DI BULLY

AKHIR HIDUP GADIS KECIL YANG SELALU DI BULLY
Hari Pertama Dina Bekerja


__ADS_3

Dina sudah resmi bekerja di perusahaan yang di pimpin Hardi, dia harus professional, dia tidak boleh menggabungkan perasaan pribadinya dengan tugas dan pekerjaan di kantor. Meski tak mampu berbohong hatinya terasa perih menerima kenyataan cintanya yang pahit.


Gawai Dina berdering ada gambar Hardi di wall nya, sungkan rasanya dia mengangkat panggilan itu, tapi dia sadar Hardi adalah atasannya.


"Iya hallo" Sambut Dina.


"Din besok hari pertama kamu berkerja kalo kamu datang kamu segera masuk ke ruangan aku ya? " Pinta Hardi.


"Baik Pak akan saya laksanakan" Jawab Dina, terasa asing dalam pendengaran Hardi, dan terasa berat dalam ucapan Dina.


"Dina kok kamu panggil aku Bapak sih? Jujur aku gak suka, kamu bisa panggil aku Bapak cukup di kantor saja tapi jika sedang begini kamu cukup panggil aku dengan sebutan nama seperti biasa, ya ?" Pinta Hardi.


Ingin rasanya Dina menanyakan prihal Melissa siapakah dia? mengapa sikapnya begitu mesra terhadap Hardi, tapi Dina tidak ada keberanian untuk itu.


"Tuhan haruskah cinta ini kandas? Lalu bagaimana aku bisa mengendalikan perasaan aku? Di saat seperti inilah kerinduan terhadap mamah itu semakin dalam, betapa aku lemah dengan masalah yang satu ini.


"Hardi sudah malam sepertinya kita harus segera istirahat, bukankah besok hari pertama kali aku bekerja, dan aku harus banyak istirahat agar besok aku bisa bangun pagi dan fit" Kata Dina dengan nada lirih.

__ADS_1


"Sebenernya aku masih kangen sama kamu Din, tapi baiklah lain kali kita keluar ya kita ngobrol banyak buat melepas rindu" Pinta Hardi.


"Iya lain kali ya? " Jawab Dina.


"Ya sudah kamu istirahat ya, good night honey" Hardi mengakhiri.


"Night" Jawab Dina.


"Ah Hardi kenapa kamu bicara seperti itu? Seolah memberi harapan untuk aku? Tuhan apa yang harus aku lakukan? Apakah aku menyerah begitu saja? Atau aku perjuangakan cinta lamaku? cinta lama yang selalu membekas dan tak pernah tergantikan" Malam itu mata Dina sulit sekali terpejam, fikirannya benar benar menerawang mencari kedamaian.


"Iya masuk" Terdengar suara Hardi dari dalam, Dina membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan.


Mata Hardi seolah menabrak bola bening coklat mata Dina, sesaat Dina salah tingkah betapa rindu dia akan tatapan mata itu, tatapan mata yang tajam yang seolah mampu melindungi dari tatapan mata jahat siapa pun.


Dina berusaha mengendalikan perasaan, dia sudah berjanji tidak akan tenggelam atas semua apa yang dia rasa, dia bertekad untuk bisa mengenyampingkan segala urusan selain pekerjaan, termasuk urusan hati.


Hardi memberikan beberapa lembar kertas pada Dina "Ini tolong kamu data ulang ya Din,nanti hasilnya kamu segera serah kan ke aku ya?" Kata Hardi seraya menyerahkan kertas itu pada Dina.

__ADS_1


"Nanti siang kita makan siang bareng ya" Tambah Hardi.


"Iya baik Pak eh maaf Har" Jawab Dina canggung.


"Dina kamu ada apa? Ada masalah? kenapa sepertinya kamu tidak bersemangat? " Tanya Hardi.


"Ah tidak apa apa, mungkin kepala saya agak pusing" Jawab Dina.


"Ya udah nanti selesai makan siang kamu boleh pulang istirahat, nanti aku antar kamu ke rumah aku ya? " Kata Hardi.


"Ke rumah kamu ngapain? Tanya Dina terheran.


"Ada yang ingin aku tunjukan padamu" Jawab Hardi.


"Pokoknya kamu harus nurut aja ya ?"


Dina terdiam, dia hanya mengangguk, Dina kembali ke ruangan dengan segala kebingungan.

__ADS_1


__ADS_2