
AKHIR HIDUP GADIS KECIL YANG SELALU DI BULLY
Part 17 (Aku Pulang Ke Kampung)
Tak terasa aku dan Hardi sudah menempuh perjalanan yang cukup jauh, hanya menunggu tiga jam an kami akan segera sampai.
Tak kuasa rasanya menahan rindu pada keluargaku, ribut kecil dan suara tangis adikku adalah hal yang jauh lebih menyenangkan di banding suara suara gaduh baku hantam di rumah Pak Bambang.
Akhirnya sampailah kami di rumah mamah, berlinangan air mata aku dan mamah saat kami bertemu, betapa beban rindu ini sangat berat. Meski mamah adalah sosok ibu yang sangat banyak bicara, namun aku tau itu demi kebaikan aku juga.
"Kamu baik baik saja Dina ? Kamu tak kurang apapun kan? Dari mana saja kamu ? Mamah khawatir sama kamu" Kata mamah dengan air mata yang masih berlinangan.
" Dina gak apa apa mah , Dina sehat Dina kangen mamah" jawabku yang juga tak bisa menahan deraian air mata.
"Hardi kenapa kamu bawa jauh anak gadis saya?Apa maksud kamu?" Tanya mamah ke Hardi.
Hardi memilih diam tak berkata apa apa,aku memaklumi mamah. Dan aku mengerti akan Hardi.
"Mah mamah tenang dulu ya,yang penting Dina sudah pulang dan dalam keadaan baik baik saja, nanti Dina akan cerita semuanya ke mamah ya ?" Aku berusaha menenangkan mamah.
Aku alihkan pandangan pada Hardi "Apakah kamu akan kembali sekolah di sini ? Tinggal lagi di sini?" Tanyaku pada Hardi.
" Aku belum tahu, tapi sepertinya aku akan kembali ke rumah papah, aku harus menyelasikan dulu masalahku dengan papah dan mamah. Karna dimanapun aku tinggal jika masih tetap belum menyelesaikan masalah dengannya aku tidak akan tenang" ungkap Hardi terasa berat.
Ada sesak di rongga dadaku, itu berarti aku sama Hardi akan berjauhan, berat rasanya jika harus berpisah dengan Hardi. Aku masih ingin bersama sama, tapi aku sadar itu tidak mungkin.
Hardi kembali kerumah Pak Budi setelah meminta maaf dan berpamitan pada mamah.
__ADS_1
" Besok aku jemput kamu ya, kita jalan sebentar" Kata Hardi sebelum pergi.
" Kamu mau ajak kemana lagi Dina ?" Mamah melotot.
"Mah sudah sudah jangan terlalu kahwatir, sekarang biarkan Hardi pergi dan istirahat, Dina juga ingin istirahat mah. Nanti Dina ceritakan semuanya ya biar mamah tau dan mengerti" Ucapku seraya senyum.
💞💞💞
Besoknya Hardi datang menjemput aku, susah payah aku memberi pengertian pada mamah agar dia mau mengerti dan mengijinkan aku pergi bersama Hardi. Akhirnya mamah luluh juga.
" Kalian hati hati, awas nanti di culik lagi. Jangan bikin mamah kahwatir lagi" Pesan mamah sebelum kami pergi.
Hardi membawaku ke pusat perbelanjaan di kota dekat kampungku, kami makan baso, jalan jalan ke pertokoan. Kami berusaha untuk ceria dan bahagia melupakan segala kejadian kemarin kemarin di rumah besar Pak Bambang.
"Dina lihat baju ini cocok buat kamu, warna grey yang elegan pasti kamu akan sangat cantik memakai ini. Kamu Coba ya?" Pinta Hardi.
"Iya kata Hardi" Sambil tersenyum.
Aku keluar dari ruang pas,di sambut senyuman oleh Hardi "Jangan di buka lagi tetep kamu pake ya?aku ingin kamu memakai ini hari ini" Kata Hardi.
Hardi membayar juga beberapa potong kaos kaos dan jeans untukku, tentunya aku sangat senang.
Pulangnya kami mampir di tepi sungai yang sebelumnya tidak pernah kami datangi, tapi sering aku datang ke sini jika sedang ingin menyendiri.
"Dina jika aku kembali ke Jakarta dan tidak tinggal di sini lagi apakah kamu akan melupakkan aku?" Tanya Hardi memulai percakapan setelah suasana entah kenapa menjadi terasa kaku.
" Har dimanapun kamu dan bagiamanpun keadaan kita, aku takkan pernah melupakan apa yang sudah kita alami bersama . Terutama kejadian kejadian selama tinggal di rumah Kamu" Aku menjawab pertanyaan Hardi panjang.
__ADS_1
Hardi menggenggam tanganku dan mengecup punggungnya, sesekali mebenarkan letak rambutku yang kesana kemari tertiup angin. Hardi menatapku lembut kedua tangannya memegangi pipi kanan kiriku, membimbing kepalaku agar sedikit tertunduk. Hardi mendaratkan satu kecupan lembut di keningku.
Mataku terpejam aku hanyut terbawa suasana, rasanya aku masih ingin berlama lama berada di sini.
"Hardi boleh aku katakan sesuatu?" Tanyaku.
" Apa itu katakanlah" jawab Hardi.
"Berhentilah membenci mamamu Hardi, mungkin dia pernah melakukan kesalahan di masa lalu, setiap orang tidak akan pernah selalu melakukan kesalahan dan juga tidak selalu melakukan kebenaran. Bukalah pintu maaf mu untuk mama, bagaimanapun dia adalah seorang wanita yang punya jasa sangat besar dalam hidupmu. Dia yang telah melahirkan kamu ke dunia Ini, mamamu sangat merindukan kamu, sama seperti mamahku yang merindukkan aku ketika aku sedang jauh" Kataku panjang lebar.
Hardi memeluk aku erat sangat erat, aku membiarkannya biarkan dia berbagi beban yang di pikulnya. Betapa sangat berat perjalanan hidup Hardi, Harta yang berlimpah tidak menjamin kebahagiaan untuknya.
" Dina semoga suatu saat nanti di masa depan, Tuhan mempertemukan kita kembali ya? Di saat kita sama sama sudah dewasa, aku akan selalu mengenang Kamu Dina" Hardi berkata kata dengan masih menggenggam jemariku.
" Aamiin semoga Tuhan mempertemukan kita kembali, sekarang kita persiapkan segala sesuatu agar kehidupan kita kelak di masa depan bisa lebih mudah, ya ?" Kataku dengan senyum penuh harapan.
Hari sudah senja, aku dan Hardi kembali kerumah. Hardi mengantarkan aku pulang dengan selamat, Hardi membelikan banyak oleh oleh untuk adik adik dan mamahku. Sekalian dia pamit untuk kembali lagi ke Jakarta.
Mamah mencoba menasehati Hardi seperti seorang ibu, juga mendoakan agar masalah hidup Hardi cepat selesai dan bisa menjalani kehidupan ini dengan bahagia sebagimana layaknya anak seusia dia.
Malampun telah tiba, aku mencoba memejamkan mata. Namun entah kenapa sangat sulit sekali. Kenangan bersama Hardi masih selalu terbayang, dalam hati aku selalu berdoa agar kelak aku bisa bertemu kembali dengan Hardi.
Untuk sekarang tentunya aku harus focus dengan kewajibanku sebagai seorang anak dan seorang generasi muda yang sangat di butuhkan oleh nusa dan bangsa, aku ingin kelak aku jadi orang yang berguna. Membangun Negara ini agar lebih maju lagi.
Aku tidak ingin seperti ayahnya Hardi menjadi manusia bobrok perusak anak negri, bandar Narkoba yang jelas jelas sangat salah di mata hukum dan Negara serta agama.
Akhirnya aku terlelap juga, rasa kantuk dan lelah bersamaan menyerangku. Sebelum mataku terpejam aku sisipkan doa untuk Hardi, semoga dia di beri kemudahan dalam hidupnya aamiin.
__ADS_1