AKHIR HIDUP GADIS KECIL YANG SELALU DI BULLY

AKHIR HIDUP GADIS KECIL YANG SELALU DI BULLY
AKHIR HIDUP GADIS KECIL YANG SELALU DI BULLY


__ADS_3

Part 8 ( DINA KECEWA)


" Dina malam minggu kita ke pasar malam yu ? " Ajak Indra sepulang sekolah.


" Ini kan hari jumat " sahutku sambil nyengir


" Iya aku tahu kan ngajaknya malam minggu, bukan malam ini " kata Indra agak kesal.


" Tapi pulangnya jangan malam malam ya Ndra, kata mamah gak baik anak perawan pulang malam takut nanti tek dung he he " kataku kembali sambil bingung sendiri.


" Apa tuh tek dung ? " Tanya Indra keheranan.


" Aku aja gak tau hahahahaha " Kami tertawa lepas.


Malam minggu itupun tiba, aku pake kaos dan jeans bukan baru, aku gak punya baju baru, pake sendal seadanya. Rambutku tetap kuncir buntut kuda.


" Dina aku traktir makan baso ya ? " Sesampainya di sana Indra menawarkan.


" Gak usah Ndra aku cukup lihat lihat aja, liat kemedi puter itu seru ya " kataku sambil memonyongkan mulut mengarah ke kemedi putar.


" Kamu mau naik ? "


" Apaan? Enggak ah emang nya aku anak kecil ? Enggak enggak !" Aku bicara agak sedikit mundur aku takut Indra menarik paksa tangan ku.


" Ya udah kita makan baso ya laper nih " kata Indra sambil mengelus perut.


Ternyata Indra jauh lebih tanpan ketika memakai kaos dan jeans , jadi kaya Primus Yustisio yang jadi cover majalah HAI terus naik daun jadi pemain sinetron.


Ketika kami sedang melahap baso bang Udin sambil sesekali bicara dan tertawa, Tiba tiba Lia datang dan langsung menghampiri Indra.

__ADS_1


Indra terbengong begitu juga aku, cantik sekali Lia malam ini, dengan kaos Mahal merk CF dan jeans entah merk apa, sangat serasi dengan wajah Lia yang oval dan cantik.


Anehnya kenapa Lia selalu sendiri ? Kenapa tidak lagi selalu bersama sama Puji sahabat setianya pada waktu SMP.


" Indra anter aku yu ke toko bu wendah, aku mau beli obat sakit kepala, aku takut bawa motor sendirian. Kamu anter ya ? Nanti kalo aku jatuh gimana ? " Pinta Lia dengan manja.


Seketika baso yang aku makan terasa hambar, entahlah perasaan apa ini, hatiku selalu merasa sakit jika melihat Lia begitu akrab dengan Indra.


Sepertinya Indra sudah mulai mau berteman dengan Lia, iya karna Lia berubah lebih baik lagi.


" Dina gimana? " Indra malah bertanya padaku.


" Gak apa apa aku bisa pulang sendiri kok, lagian banyak orang yang berlalu lalang jadi aku tidak merasa takut "


" Ya udah aku pergi dulu ya ? " kata Indra sementara tangan Lia udah gak sabar menarik Indra.


Aku melihat mereka berboncengan, sangat jelas Lia duduk sangat rapat tak sungkan malah kedua lengan nya melingkar di pinggang Indra.


" Indra, kamu mau aku ceritain novel Fredy yang selalu aku baca ? " Lia duduk semakin rapat.


Jantung Indra berdetak keras, darah nya mengalir dia hampir gugup menjawab pertanyaan Lia, bahkan sepertinya dia tidak konsen bawa motor, kadang meliuk hilang keseimbangan.


" I Iya boleh kapan kapan ya ? " kata Indra masih gugup.


Di tengah jalan tepatnya di persimpangan ada sebuah tugu yang sengaja di buat untuk perbatasan antar kampung, tugu itu juga sering di duduki oleh pejalan kaki.


Lia minta Indra berhenti di situ, Indra menurut saja.


Duduklah Indra dan Lia di tugu itu di bawah terang nya rembulan.

__ADS_1


" Dra " kata Lia masih manja


" I Iya " Indra belum sadar sepenuhnya, entah apa yang dia fikirkan sejak awal bonceng Lia. Apakah Indra sudah balegh? Sudah layak menyukai lawan jenis?


Tidak bisa di bohongi Lia begitu mempesona, dia sangat cantik dengan rambut yang tergerai dan bahasanya yang menggoda mampu membuat darah Indra hilir mudik tak karuan.


Aku akhirnya pulang dengan perasaan campur aduk, sejujurnya aku menyukai Indra, selain tanpan dan pintar Indra juga seorang anak yang berbakti, dia sangat menyayangi ibunya.


Apakah Lia juga menyukai Indra ? Dan apakah Indra akan lebih menyukai Lia? Lalu aku ? Ah siapalah aku ini, hanya seorang gadis miskin yang tak punya apa apa. Jangan kan baju baju bagus bedak saja aku tidak punya, sungkan rasanya minta sama mamah dan bapa. Buat makan dan jajan adik adik aku saja aku tau betul mereka kewalahan.


" Ah sudah lah Dina, jangan berharap terlalu banyak. Bercerminlah " Aku memaki diriku sendiri.


Aku tidak punya kepercayaan diri untuk terus bersama Indra , sainganku terlalu berat. Biarlah lupakan Indra toh sekarang aku sudah gede, sudah bisa mnghadapi masalah yang aku hadapi.


Aku pulang ke rumah sebelum isya , terdengar dari luar mamah dan bapa sedikit cek cok.


" Mana cukup pa uang segini, kebutuhan kita banyak"


" Kamu kan jualan kue masa kamu gak punya tambahan ? " bapak malah balik bertanya.


" Iya tapi sering kali kue yang aku simpan di warung tidak semua habis terjual, sisanya di bawa kembali ke rumah dan di makan anak anak"


Aku sandar kan kepalaku di bilik rumah, sakit sekali melihat ekonomi keluargaku seperti ini, sering aku berfikir untuk berhenti sekolah dan kerja saja. Tapi mamah selalu melarang .


" Kamu harus sekolah Dina, kamu jangan kaya mamah. Perempuan kalo pendidikannya tinggi akan di hargai semua orang, juga di hargai suami " itulah yang selalu mamah katakan jika aku sedang mengeluh.


Sementara di bawah remang remang rembulan, Indra dan Lia masih duduk di atas tugu di perempatan itu. Mereka tak banyak bicara, perlahan Lia mulai berani memegang tangan Indra. Jantung Indra semakin tak karuan.


Tangan kanan Lia memegang tangan Indra sementara tangan kirinya mengusap pipi Indra, wajah mereka sangat dekat, terasa nafas Indra mulai memburu begitu juga dengan Lia.

__ADS_1


__ADS_2