
Part 3 ( DI BULLY TEMAN KECIL)
"Dina lagi apa nak? " suara mamah membuat aku kaget, cepat cepat pisau tadi aku sembunyikan di balik punggungku.
" Tidak apa apa mah " jawabku seraya gugup. " Perlihatkan Dina, apa yang kamu sembunyikan dari mamah ? "
Suara tangis adik bungsuku semakin keras, sebelum berhasil membujuk aku untuk memperlihatkan apa yang aku sembunyikan, mamah segera pergi dengan sedikit berlari menuju ke arah tangisan adikku.
Itu adalah kesempatan aku untuk segera mengembalikan pisau dapur yang sejak tadi aku pegang, pisau itu aku simpan di sembarang tempat dengan cepat karna aku takut mamah tau.
Karna berulang ulang mamah berpesan agar aku jangan menyentuh pisau itu kembali.
" Dina boleh ibu pinjam baju seragam kamu ? " Tanya bu guru di sekolah. " Buat apa bu? " Aku malah balik bertanya. " Buat di pakai oleh Andini untuk tampil membacakan puisi, baju kamu lebih putih dan bersih di banding baju Andini " tanpa fikir panjang aku segera melepaskan bajuku, sesaat aku hanya memakai kaos dalam karna Andini belum selesai melepas bajunya.
Sebenarnya aku tidak suka memakai baju orang lain, apalagi baju Andini terlihat kuning dan kehitam hitaman, tapi tidak apa apa, entah kenapa aku merasa sangat senang jika ada orang lain minta bantuanku, serasa aku adalah orang yang berguna.
Pembacaan puisi yang di bawakan Andini dalam rangka perpisahan bapak kepala sekolah sudah selesai, Andini turun dari panggung yang hanya terbuat dari jajaran meja anak murid kelas enam, dan berada di dalam kelas.
Tanpa harus ada bu guru sebagai perantara untuk pertukaran baju aku dan Andini, aku dan Andini sudah tau Apa yang harus Kami lakukan, iya kami memakai baju kami masing masing.
Andini terlihat sangat senang karna sudah membawakan puisi untuk bapak kepala sekolah.
" Dina apa kamu bisa bawa puisi seperti aku? Kamu mana bisa, bisa kamu kan cuma nangis, uuweeee " tiba tiba Andini bertanya dan berkata seperti itu padaku.
" Tuh kaaaan mau nangis lagi, dasar anak cengeng !"
" Nggak aku gak nangis kok" aku bicara dengan mata berkaca kaca. " Kenapa kamu langsung bilang aku mana bisa baca puisi seperti kamu ? Aku juga bisa kalo bu guru suruh aku pasti mau "
" Bu guru itu sukanya liat aku baca puisi bukan kamu baca puisi "
Aku berusaha membendung air mata yang dari tadi Mau jebol dari pelupuk ku. Kenapa semua orang seolah tak percaya padaku kalau akupun bisa seperti mereka, kenapa aku tak pernah di beri kesempatan untuk memperlihatkan apa yang aku mampu?
Andini berlalu dari hadapanku, aku terhuyung dan hampir jatuh saat Andini menyenggol tubuhku dengan kasar.
__ADS_1
💞💞💞💞
Aku sudah masuk SMP, sedang Isah dia lebih dulu lulus SD dan tidak melanjutkan sekolah ke SMP.
Entah keinginan dia atau keinginan orang tuanya.
" Siapa Presiden pertama Indonesia? " Bu guru bertanya pada seluruh murid di kelas " Presiden Sukarno bu " jawabku mendahului siapapun untuk menjawab.
" Iya betul Dina " sambut bu guru.
Sejak masuk Sekolah Menengah Pertama aku berusaha untuk menunjukan siapa dan bagaimana aku sebenarnya, ya aku juga bisa seperti mereka bahkan lebih.
" ssst lihat itu" bisik Lia pada beberapa teman yang sedang berkumpul. Serempak mata mereka mengekor ke arahku .
Teman teman aku sangat modis, dengan baju putih yang ketat dan rok yang di atas lutut, mereka terlihat sangat elegan, di padu sepatu putih kets yang keren.
Mereka selalu berjalan bergerombol, dengan model rambut yang pecis artis penyanyi Ninik Karlina dengan ciri khas poni yang menutupi jidat.
" Itu aspal mah "
" Apa? Aspal? Sejak kapan kamu jadi tukang ngaspal jalan? Kamu ikut bekerja sama bapak bapak di jalan sana yang sedang memperbaiki jalan ? " Kebetulan di kampung aku sedang ada perbaikan jalan, dan jadi tontonan warga kampung.
" Bukan mah...itu tadi di sekolah Lia dan teman temannya taruhin aspal di senderan bangku sekolah mah, terus nempel deh di baju Dina "
Besoknya Lia seperti menunggu kedatangan aku di sekolah, dia dan teman teman jegat aku di depan pintu kelas.
"Dina baju kamu kotor banget, sudah gombrong terus itu lihat rok kamu norak banget tau, rok apaan itu kebawah takut cacing, ke atas takut geledek, hahahahaha "
Lia dan teman temannya tertawa mengejek.
Rok aku memang sebatas betis, terlihat cingkrang.
Dan baju aku sangat longgar mungkin dua kali lipat besarnya di banding baju Lia dan teman teman.
__ADS_1
Sepatu aku juga warna hitam dengan merk apa entahlah akupun tak tahu, aku masih ingat mamah membeli baju dan sepatu sekolah aku dengan uang yang sangat pas pasan.
Bel istirahat berbunyi, semua murid berhamburan keluar kelas, Tujuan mereka adalah kantin, di sana bisa mendapatkan makanan apapun yang di mau, ada baso, mie ayam, bubur, gorengan dan snack lainnya.
Aku tetap berdiam di kelas, mamah sudah memberi aku bekal, iya setiap hari mamah membuat makanan untuk aku, kadang Mie goreng tanpa lauk apapun, iya hanya mie yang di beri kecap dan mungkin garam dan mecin. Kadang nasi dengan telor ceplok yg di bubuhi kecap, mamah bilang lebih kenyang dan gak boros.
Aku makan habis semua bekel aku tanpa sisa, aku selalu merasa senang dengan makanan apapun yang mamah berikan untukku.
Bel tanda masuk kelas berbunyi, semua teman teman masuk satu persatu, sebelum guru datang seperti biasa mereka masih bercanda canda, bahkan masih mengobrol seolah pembahasan yang tadi di luar belum selesai.
" Uang aku hilang ! " Teriak Lia, sontak semua mata melihat ke arah Lia.
" Ah yang bener ? " Tanya Puji teman sebangku Lia.
" Iya bener aku gak bohong " Lia meyakinkan Puji
" Tadi siapa duluan yang masuk ke kelas setelah istirahat?" Tanya Puji
" Dina !" Jawab Lia dengan sangat cepat
" Pasti kamu yang ambil uang aku kan Dina?" Itu uang buat bayar SPP aku tau, jahat banget kamu udah ambil uang aku, dasar orang miskin, dasar pencuri !"
" Tidak bukan aku, sejak istirahat aku cuma duduk di bangku aku, dan aku gak jalan jalan apalagi ke tempat duduk kamu "
" Bohong ! " teriak Lia dengan sangat keras.
Tanpa meminta saran pada siapapun, Lia dengan cepat mengambil tas aku dan menumpahkan semua isinya ke lantai.
" Ini apa ???" Tanya Lia dengan mata puas
Aku kaget bagaimana uang Lia bisa ada di tas aku?
Sepontan semua teman teman bersorak menghakimiku " huuuuuuuu dasar pencuri !
__ADS_1