AKHIR HIDUP GADIS KECIL YANG SELALU DI BULLY

AKHIR HIDUP GADIS KECIL YANG SELALU DI BULLY
AKHIR HIDUP GADIS KECIL YANG SELALU DI BULLY


__ADS_3

AKHIR HIDUP GADIS KECIL YANG SELALU DI BULLY


Part 5 ( INDRA MENYELEMATKAN AKU)


Dua hari itu pun sudah berlalu, Ibu kepala sekolah dan ibu guru wali kelas tidak ketinggalan Lia, sudah menunggu aku di ruang guru.


Sebenarnya aku sudah berangkat sekolah lebih awal dari biasanya, sengaja karna aku ada janji dengan Indra untuk bertemu di sini, dimana pertama kali Indra mengatakan bahwa dia tau tentang uang Lia yang ada di tas aku.


Indra meminta agar aku masuk ruang guru bersamanya, dia berjanji akan berkata jujur tentang apa yang dia tahu.


Yah aku fikir tak ada salahnya aku datang bersama Indra, setidaknya aku ada sedikit kekuatan untuk bisa berjalan menuju ruang guru, dan berharap kemenangan memihak aku, dengan Tuhan utus Indra sebagai saksi bahwa aku tidak bersalah.


" Indra.... sudah kamu pergi sekolah sana, Ibu tidak apa apa naak, nanti kamu terlambat" ujar seorang wanita yang berumur seperempat abad itu dengan lirih.


" Iya buuu Indra tahu tapi Indra harus pergi jika ibu benar benar baik baik saja"


" Ibu baik baik saja nak, pergilah...kamu harus belajar agar nanti kamu bisa mencapai cita cita kamu"


" Iya buuu iya...tapi setelah Indra buat sarapan buat ibu ya ? " kata Indra sambil tangan mengiris bawang .


Laki laki tanggung yang berkulit coklat berhidung mancung berbibir tipis, jika tersenyum sangat terlihat manis.


Indra juga termasuk murid yang pintar di sekolah dia selalu mendapat ranking pertama, tapi sayang Indra tidak begitu aktif di sekolah entah kenapa, dia seperti merasa banyak anak murid yang lebih mampu dari dia untuk bisa menjadi yang terdepan.


Dia selalu menolak jika di tawari pertandingan olah raga di sekolah, karna dia tau banyak anak murid lain yang lebih antusias dari dia, dia selalu memberikan peluang dulu untuk orang lain, jika benar benar tidak ada yang mampu baru dia menawarkan diri.


Indra terlihat sangat buru buru mengerjakan semuanya, menggoreng nasi untuk sarapan ibu. Tangannya hampir tersiram air termos panas saat membuat teh manis untuk ibunya.


Tadi pagi Ibu Indra tiba tiba pinsan, mungkin ibu terlalu lelah semalam ibu mengerjakan banyak pesanan jahitan, Indra hanya tinggal ber dua dengan Ibunya sejak ayah nya pergi merantau tapi tak pernah pulang.


"Duduk Dina !" Ibu kepala sekolah seperti agak kesal.


" Kemana saja kamu dari tadi kita menunggu lama di sini, kemarin kan ibu sudah bilang kamu dan Lia hari ini pergi sekolah lebih awal, biar semua masalah cepat di bahas dan di selesaikan sampai jam pelajaran tiba "

__ADS_1


"Maaf bu..." Kataku sambil menunduk.


" Sekarang apa yang bisa kamu buktikan kepada ibu kalo kamu benar tidak mengambil uang Lia? " Tanya bu kepala sekolah padaku .


Aku hanya diam, aku lirik Lia yang sejak tadi ada di sebelahku,terlihat dia sedari tadi selalu senyum senyum.


" Dina ibu tau kamu anak baik, kamu juga tidak pernah membuat masalah di sekolah ini, tapi masalah nya uang itu jelas jelas ada di tas kamu Dina "


" Iya bu Dina mengerti " Ahhhhh kenapa air mata ini selalu sulit di bendung ? Di setiap ada masalah dalam hidup aku ending nya selalu menangis ? Kenapa tidak tersenyum ? Atau tertawa terbahak bahak hingga mampu merobek langit.


" jika benar benar kamu tidak bisa membuktikan bahwa kamu tidak mencuri, terpaksa mulai hari ini kamu ibu skors dalam beberapa hari, atau mungkin kamu bisa keluar dan tidak bersekolah di sini lagi"


" Ibu tidak ingin nama sekolah kita jadi buruk karna salah satu murid nya menjadi pencuri, dan ini bisa di jadikan sebagai pelajaran bagi semua siswa di sekolah ini"


" Iya bu...Dina mengerti " ucapku dengan nada serak, air mataku mengalir berlinangan , saling mendahului antara mata kanan dan kiri, seolah ingin segera cepat membasahi leherku yang putih "


Bel tanda masuk tinggal beberapa menit lagi, kenapa Indra belum juga datang ? Bukankah dia sendiri yang berjanji pukul 6.30 kami akan bertemu , dan pukul 6.45 sama sama masuk ke ruang guru untuk membahas ini.


Apakah Indra mempermainkan aku? Kenapa dia sama jahatnya dengan yang lain ? Air mataku semakin deras, aku menangis tanpa suara, hanya sesekali aku usap hidungku dengan punggung tangan.


Setelah memastikan ibunya lebih baik lagi, Indra buru2 meraih tas sekolah.


" Indra berangkat dulu bu, assalamualaikum "


" Waalaikum sallam, hati hati ya nak " jawab ibu, Indra mengangguk.


Bergegas Indra ke halaman meraih sepeda dengan kecepatan setinggi tingginya.


Hampir separuh jarak perjalanan antara rumah Indra dan sekolah, tiba tiba ada yang aneh bagi Indra ketika mengayuh pedal sepeda, terasa berat dan tidak seimbang .


" Sial sial sial, Ini bukan kempes tapi bocor !"


Karna buru buru Indra tidak mengecek sepedah terlebih dahulu, biasanya sebelum berangkat Indra terlebih dahulu memompa ban sepeda.

__ADS_1


Terpaksa Indra menuntun sepeda sepanjang separuh jalan yang belum di tempuh untuk sampai kesekolah.


Bulir bulir peluh bercucuran dari dahi Indra, rambutnya yang lurus dan tebal ikut basah, terlihat dadanya tercetak dari balik seragamnya yang basah oleh keringat.


" Dina hari ini kamu boleh pulang lebih awal " Bu Irna membuyarkan lamunanku setelah beberapa saat ruangan terasa hening.


" Ini semua demi kebaikan kamu Dina, agar kamu lebih tau lagi dan lebih mengerti bahwa mencuri itu tidak baik, jangan pernah merugikan orang lain, mengambil dan merampas milik orang lain


" Merugikan orang lain baik dalam segi moril ataupun materil akan berdampak buruk pada kehidupan kita, jika kita menanam padi makan akan tumbuh padi "


" Karma itu ada Dina, baik karma buruk maupun karma baik, jika kita berbuat jahat suatu saat akan ada orang lain yang berbuat jahat kepada kita, sebaliknya begitu juga "


Ah bu Irna saat ini dia terlihat tidak jauh seperti para penceramah yang sering di undang di acara maulid nabi, atau Isra mi'raj yang sering di adakan di kampung aku .


Sangat menyejukan meski jujur hatiku masih tersayat dengan kejadian ini, betapa tidak sepanjang kakiku melangakah setiap mata teman teman memandangku sinis, meski mulut mereka tak berkata namun aku tau hatinya bicara " dasar pencuri ! "


Setelah bu Irna bicara sekilas aku melihat Lia yang gelisah, kenapa dia yang gelisah ? Apakah kata kata bu Irna tadi menghujam ulu hatinya? Membawa fikirannya terbang ke langit penyesalan? Aku tidak percaya, tapi mudah mudahan saja .


" Dina pamit ya bu ? Dina minta maaf telah banyak menyusahkan ibu dan guru guru di sini , Dina janji akan menjadi anak yang lebih baik lagi, terima kasih atas semua kebaikan ibu "


Ah lagi lagi air mata ini susah di tahan tapi biarlah dia mengalir dengan alami, betapa sakit rasanya dan sulit meninggal kan sekolah ini, hampir satu tahun setengah aku di sini , banyak suka duka yang aku lalui di sini.


Terima kasih ibu dan bapak guru, saya sangat mencintai kalian.


Aku mencium tangan bu Irna dan bu Siska wali kelas aku, " Dina pamit ya bu ? " ucapku pada bu Siska


" Iya Dina, jadi anak baik ya ? " Terlihat bu Siska menahan air matanya yang menggenang di pelupuk matanya yang indah, bu Siska adalah guru yg paling muda dan cantik di sekolahku, Dia nampak galak hanya di kelas, jika di luar dia sangat lembut dan ramah .


" Maafkan aku ya Lia ? " kataku pada Lia


Lia menyambut tanganku dengan enggan, namun terlihat wajahnya sangat senang.


" Tok tok tok " terdengar suara seseorang mengetuk pintu.

__ADS_1


__ADS_2