
Part 24 (Pertemuan Hardi Dan Dina)
"Hardi !" Aku terkejut ketika membuka pintu ku dapatkan seorang pria yang tidak asing bagiku, langkahku tertahan. Pria gagah yang duduk di hadapanku adalah dia, dia seseorang yang aku sendiri tak mengerti sebagai apa dia dalam hidupku.
Ada perasaan bahagia bercampur bingung, tak percaya dengan apa yang aku alami detik ini. Seperti ada satu kata yang tertahan dan tertanam dalam hati, tumbuh dan berkembang namun aku sendiri tak tahu kembang apakah itu.
Satu kata yang tidak mampu aku ucapkan pada lelaki manapun dan setampan apapun, kata yang aku raba raba dan masih bertanya, tapi belum bisa terucap di bibir. Karna aku merasa bukan pada laki laki yang tepat, hatiku akan berkata bukan dia Dina. Lalu siapa ? Di saat teman teman sebaya aku sedang ranum ranumnya memetik buah cinta, berseloroh kesana kemari tentang bahagia kecewa bahkan derita karna cinta. Tapi aku masih terbengong bengong tak mengerti.
Hardi berdiri dia berjalan pelan dan menghampiriku, aku yakin tatapan matanya takan jauh berbeda dengan aku. Rasa tak percaya dg apa yang kami lihat saat ini, pertemuan ini sangat mengejutkan.
"Dina !" Nada yang sama ketika baru saja aku sebut nama Hardi dengan spontan " Kamu Dina kan? Kenapa baru datang sekarang? Sudah lama aku menunggu kamu, atau mungkin aku yang terlalu sibuk dengan duniaku yang sekarang. Aku terlalu serius menangani pekerjaanku sekarang, hingga aku tak mendengarkan bisikan bisikan hati yang aku sendiri tak mengerti, aku merindukan seseorang sedang aku tak tau siapa. Sering kali aku bertemu dengan gadis gadis dan berusaha mencari tahu apakah mereka yang selama ini terpenjara dalam hatiku, tapi ternyata mereka bukanlah jawaban. Bagaimana dengan kamu Dina? Apa kabar? Kamu ,Mamah dan Bapak serta adik adik kamu? Lama sekali kita tak jumpa" .
Kata sambutan Hardi sangat panjang, tapi aku sangat hafal bahkan jika di pinta tuk mengulang. Aku yakin satu katapun takan pernah aku abaikan, aku haru ternyata perasaan kami sama. Cinta memang tak bisa di bohongi, dia takan terbuka untuk orang yang belum tepat.
__ADS_1
Cinta itu satu kata satu hati satu rasa, takan ada yang mampu memanipulasi dengan apapun. Cinta akan sama dalam pandangan, bahkan kedipan matapun akan bersamaan tanpa ada kode apapun.
Tak bisa di elakan, dorongan hati tak mampu di redam. Aku reflex memeluk Hardi, seolah aku ingin menghempaskan rasa rindu yang berton ton dan bertahun tahun menjadi beban.
Hardi menyambut pelukanku, dia malah lebih erat dari pelukanku. Jemarinya membelai rambutku air mataku tumpah, membanjiri pipiku menghapus bedak tipisku.
"I miss you honey, miss you so much, long time no see you" Kalimat itu terdengar merdu di telingaku. Suara Hardi sekarang menjadi berat, layaknya suara seorang lelaki dewasa. Suaranya begitu sexy tapi berwibawa. Semakin erat aku memeluk Hardi semakin deras air mata yang mengalir.
Perlahan kami melepaskan pelukan masing masing, Hardi memapahku untuk berjalan dan duduk di kursi sofa yang empuk.
"Ini perusahaan kamu Har? Kamu hebat, oh iya apa kabar pak Bambang? Aku harap beliau selalu sehat"
"Papah sudah lama di rawat di rumah sakit, papah punya penyakit kanker yang mengharuskan papah di rawat inap di Rumah Sakit, kamu tahu papah punya banyak simpanan uang dan banyak usaha papah di bidang property, dengan pengetahuan pendidikan yang aku dapatkan aku berusaha menjalani dan meneruskan usaha papah dengan sungguh sungguh"
__ADS_1
Aku tersenyum mendengar penuturan Hardi, Hardi membuka lembaran yang ada di map aku "Kamu hebat Dina, aku sudah menduga jika kuliah kamu akan menjalani dan mendapatkan prestasi yang bagus. Kamu itu pintar dan cerdas selain cantik".
Spontan aku cubit tangan Hardi, lalu kami tertawa bersamaan. Bahagia sekali rasanya saat ini mata kami selalu saling tatap tanpa rasa canggung, seperti sudah lama dan memang sudah lama kami saling mengenal. Seolah aku dan Hardi adalah pasangan yang sedang LDR an dan akhirnya bertemu.
Tiba tiba pintu terbuka tanpa ada yang mengetuk lebih dahulu, seorang wanita berambut panjang berkulit sawo matang datang dengan tanpa sungkan menghampiri Hardi dengan mesra. "Sayang kita makan siang di mana hari ini? " Tanya wanita itu sambil tangannya bergelayut di pundak Hardi.
"Deg" Jantungku seolah mau copot, siapa wanita ini? Apakah pacar Hardi? Ah mengapa ada yang perih di dada ini?.
"Melissa kenalkan ini Dina sekretaris baru aku" Kata Hardi secara tiba tiba tanpa menjawab pertanyaan wanita itu lebih dulu.
"Oh iya oke deh" Kata Melissa tanpa menyambut uluran tanganku. Aku tersenyum kecut, aku coba berdamai dengan keadaan, kucoba menenangkan perasaan tanpa harus terlihat aneh oleh wanita ini.
Melissa
__ADS_1