
"Dina makan yang banyak ya, abis itu kamu minum obat dan kita lanjutkan ke rumah aku, rumah papah maksudku, kamu masih ingat kan?" Pinta Hardi.
Rumah Pak Bambang, iya aku ingat rumah besar dan mewah itu telah memberikan kenangan yang dalam padaku, bagaimana mungkin aku bisa melupakannya begitu saja.
Aku masih ingat kejadian demi kejadian di rumah itu, dan masih terasa dimana moment pertama kali aku jatuh sayang pada Hardi.
"Oh iya tentu aku masih mengingatnya, apakah di rumah itu sudah ada perubahan? Oh iya, bagaimana kabar Bu Ani wanita yang selama ini menjaga kamu? Ahhh betapa aku rindu sekali" Ucapku mataku mulai berkaca, aku masih ingat kebaikan bu Ani.
Aku mulai bersemangat makan, entah kenapa dorongan untuk berkunjung ke rumah Hardi menjadi kuat, semoga suasana rumah itu sekarang sudah berubah, tidak lagi jadi rumah yang setiap hari selalu saja ada perkelahian bahkan pertumpahan darah.
"Sayang kenapa kamu makan bersama wanita ini? Dari tadi aku hubungi Handphone kamu tapi gak aktif, rupanya kamu makan siang sama dia, Hardi apa sih kelebihan wanita ini? Kenapa kamu nampak akrab sekali sama dia?" Tiba tiba Melisa datang dari arah belakang Hardi, mukanya merah padam.
__ADS_1
"Lisa aku bebas mau makan dengan siapa saja, dan kamu tidak perlu mengatur aku, faham ?" Jawab Hardi seraya berdiri.
"Tapi sebentar lagi kita akan tunangan Har, gak bisa dong kamu seenaknya bikin peraturan sendiri" Melissa membela diri.
"Tapi aku nggak mau kamu terlalu mengatur kehidupan aku! " Kata Hardi tegas.
"Dina ayo kita pergi sekarang" Hardi dengan cepat menyambar tanganku dan menarikku agak kasar.
Kami melangakah keluar menuju parkiran, dengan cepat Hardi membukakan pintu untukku aku masuk dan duduk, lalu kemudian diapun masuk dan duduk di belakang stir starter mobil dan langsung pergi dari area restoran.
Mercedes hitam melaju membelah jalan, aku masih diam, tak berani memulai pembicaraan, aku lihat wajah Hardi masih tanpak tegang.
__ADS_1
"Kok diem aja? " Hardi membuyarkan keheningan.
"Ah emmm aku harus mulai dari mana? Aku sangat bingung" Kataku polos gugup.
"Kamu kok gak tanya sih siapa Melissa dan apa maksudnya? " Hardi menyudutkanku.
"Loh tadi kan dia sudah bilang kalo kalian mau tunangan, jadi semua sudah jelas kan? " Kalimatku terbata, lidahku seolah tak mampu membicarakan dan menanyakan apa yang sebenarnya ingin sekali aku utarakan, tapi tidak ada keberanian.
"Papahnya menanam saham di perusahaan aku, tapi tidak banyak hanya 1/4 saja,sebagian milik aku milik Papahku. Melissa menyukaiku, sebenarnya aku hanya sebatas menghormati Papahnya, karna fikirku Papahnya adalah teman baik Papahku. Dia sempat menolong Papah dan aku merasa berhutang budi pada beliau" Kata Hardi, matanya tetetap focus kedepan.
Aku tetap diam, aku merasa belum punya hak untuk membicarakan hal yang privacy dengan Hardi, cemburu itu pasti ada sakit sudah tentu. Tapi sekarang aku sudah dewasa, aku bukan lagi remaja yang dengan cepat mengumbar perasaan, memberi dan menerima pernyataan.
__ADS_1
Semua harus di fikir lebih jauh, lebih jernih lebih dalam, ah sudahlah aku tak ingin fikiranku kacau dan membuat aku gegabah dalam memberi dan menerima apapun itu.