AKHIR HIDUP GADIS KECIL YANG SELALU DI BULLY

AKHIR HIDUP GADIS KECIL YANG SELALU DI BULLY
AKHIR HIDUP GADIS KECIL YANG SELALU DI BULLY


__ADS_3

Part 16 ( DINA DAN HARDI LARI DARI RUMAH)


" Siapa yang berani beringsut sejengkal saja dari posisi kalian, aku tak sungkan menembak kaki kalian bahkan jantung kalian ! " Teriak Pak Bambang.


" Bram bawa mereka masuk, biar aku kasih pelajaran tikus tikus tak tahu diri ini ! " Pak Bambang belum puas berteriak.


Para anak buah pak Bambang mendorong paksa beberapa lelaki bertopeng itu.


" Brukk bruukk " mereka jatuh beriringan.


Pak Bambang membuka satu persatu topeng yang menutupi wajah mereka .


" Ha ha ha ha ha, ada nyali kalian datang kesini? Jangan tutup wajah jika berani ******* ! Suara pak Bambang menggelegar memekakkan telinga.


" Bilang sama si Benny pengecut itu suruh datang sendiri dia kesini, jangan hanya memerintah anak buah yang tidak berguna seperti kalian, cuih ! " Pak Bambang membuang ludah sembarangan, entah seberapa jijik Pak Bambang pada yang bersama Benny itu.


Aku sudah bangun dari pinsan, Hardi tetap menjagaku dia melarang aku untuk pergi walau hanya untuk turun ke bawah.


" Har cukup sudah aku tinggal di sini aku sudah tau tahan, aku benar benar ingin pulang " Pintaku pada Hardi.


" Iya Din nanti malam kita akan Mencoba keluar dari sini aku akan mencari cara, kamu tenang saja ya ? "


Mendengar pernyataan Hardi aku langsung terperanjat dan dengan cepat duduk agar lebih jelas apa yang dia katakan.


" Benar kah kita akan pergi? Bagaimana caranya ? Do halaman rumahmu begitu banyak anak buah ayahmu berjaga jaga " Tanyaku.


" Sudah lah kamu jangan terlalu banyak berfikir bagaimana caranya " Jemari Hardi membelai lembut pipiku, ada nyaman di sini di dada ini.


" Hardi panggil aku kamu bukan lo, hemmmm sudah aku kamu apa maksudnya ? Ah sudah lah apapun itu yang penting aku harus keluar dari tempat ini"

__ADS_1


Waktu menunjukan pukul nol dua dini hari, Hardi masuk kedalam kamarku secara mengendap. Dia membelai pipiku dengan lembut " Dina bangun ayo kita pergi dari sini sekarang " Aku sempat kaget tapi rasa itu cepat pergi saat aku dengar suara yang cukup aku kenal.


" Dina sebaiknya kamu ganti baju ya, ada banyak kaos jaket dan jeans punya kakak, kamu bisa memakainya dan kamu boleh pake sepatu kets kakak agar perjalan kita bisa lebih leluasa " Aku mengangguk, entah Hardi melihat anggukanku atau tidak karna suasana kamar begitu samar.


Setelah selesai aku mengganti pakaian kami mulai keluar dengan sangat hati hati, satu persatu menuruni anak tangga. Dengan langakah yang sangat pelan kami menuju arah pintu depan.


Terlihat beberapa penjaga di halaman depan mereka tanpak Mondar mandir tidak jelas, Hardi menuntun tanganku, genggamannya begitu erat pada jemariku.


Kami menyusuri tembok menuju arah belakang, karna para penjaga itu mengarahkan pandangan mereka ke depan pintu gerbang.


Sesekali mengendap, ada yang bergerak dari arah bawah di atas tanah tepat di depanku, Hardi langsung menutup mulutku berharap aku tetap tenang.


" U uu ularrr " bisikku, Hardi mengangguk.


Kami tetap diam tidak beranjak barang selangkahpun, akhirnya ular itupun pergi dengan sendirinya.


Sampailah aku dan Hardi di depan pintu belakang, Hardi mulai menarik besi panjang yang mengunci pintu itu. Pintu terbuka perlahan namun ketika pintu itu melebar " Ngiiiiiiikkkkk" suara berisik itu hadir juga .


" Kejaaarrrr " salah satu dari para penjaga berteriak.


Beberapa orang dari mereka berhamburan lari keluar " Ke arah sana ayo cepat kejarrr "


Aku dan Hardi tetap berlari dan berlari, mereka tak putus asa tetap bersemangat mengejar Kami. Hardi menarik tanganku aku terduduk lemas, Hardi memelukku tetap berharap aku tenang. Suasana sesaat hening , tanpak dengan samar para lelaki itu menoleh ke kanan dan kiri. Wajah mereka seperti binatang buas yang haus darah.


" Bram apa mereka sudah jauh pergi ? Tidak ada jejak yang mereka tinggal kan " Tanya salah seorang dari mereka.


" Tidak aku yakin mereka masih di area sini, kita harus mencarinya lagi " kata lelaki yang di panggil Bram itu.


Aku sangat takut, badanku hampir menggigil, salah satu dari mereka tepat di atas kami, kami bersembunyi di balik pohon besar yang sudah di tebang, hanya saja ada tumpukan dedaunan yang mampu sedikit melindungi kami dari pandangan .

__ADS_1


" Ya sudah kita kembali ke rumah, mungkin mereka sudah jauh pergi "


Merekapun melangakah pergi kembali kerumah, tiba tiba kerongkonganku terasa gatal, aku sudah berusaha untuk tidak mengeluarkan suara, tapi dorongan untuk batuk itu sangat kuat " Uhuk " batuk itupun tak terkendalikan.


" Hei siapa di situ? " teriak Bram.


" Meeooong " entah ide dari mana aku menirukan suara binatang itu.


" Sialan ! " umpat Bram akhirnya mereka pun pergi. Kamipun menghela nafas lega.


Setelah merasa aman, Hardi mulai membuka suara " Din kita lanjutkan perjalanan atau bagaimana?" Tanyanya lembut.


" Bentar Har aku masih capek " pintaku.


Aku masih berada di pelukan Hardi, karna rasa lelah yang sangat , tak terasa aku tertidur di dada anak muda itu. Begitu pula Hardi dengan melingkarkan tangannya di pangkuanku dia pun sama tertidur bahkan sangat pulas.


Cahaya matahari membangunkanku,ku buka mataku perlahan. Aku lihat Hardi masih terlelap, sesaat aku pandangi wajah tanpan itu. Pangalaman yang tidak akan pernah aku lupakan sepanjang sejarah hidupku.


Aku pernah di sekap di rumah besar dan mewah, setiap hari aku melihat kekerasan di sana, darah dan penyiksaan menjadi tontonan.


Meski keseharianku di sana sangat enak, memakai baju Mba Hanum yang bagus dan mahal, makan makanan yang jarang sekali aku dapatkan di kampung. Pelayanan Bu Ani yang ramah. Bak seorang putri raja aku tinggal di sana.


Tapi tidak, tinggal bersama mamah dan kedua adikku adalah yang paling indah. Tak pernah ada beban dan maslah besar, setiap hari aku mengantar kue kue ke warung.


" Dina kamu sudah bangun? " Tiba tiba Hardi membuyarkan lamunanku.


" Iya ayo kita teruskan perjalanan, aku sudah tidak sabar bertemu keluarga ku "


" Iya Din kita akan segera pergi " kata Hardi sambil tersenyum.

__ADS_1


Kamipun berjalan menyusuri trotoar, mampir sebentar ke warung untuk mengisi perut .


Hardi sudah menyiapkan semuanya, dia juga membawa uang yang cukup untuk bekal di jalan.


__ADS_2