Aksara Rasa ( Untuk Rasa Yang Tidak Akan Sempurna )

Aksara Rasa ( Untuk Rasa Yang Tidak Akan Sempurna )
BAB Satu


__ADS_3

Yogyakarta masih muram. Cahaya matahari yang gagal menembus awan-awan pekat membuat langitnya berhias warna abu-abu gelap. Tidak dirundung gerimis ringan, Yogya hanya diselimuti suasana sendu. Entah butuh waktu berapa lama lagi untuk uap-uap air itu bisa bertahan, sebelum akhirnya menyerah dan jatuh sebagai butiran hujan.


Aku kembali mengeratkan jaket tebal untuk kesekian kalinya. Angin yang berhembus kencang membuatku merinding berkali-kali. Kedua telingaku seolah tengah dibisikkan sesuatu, membuatku bergidik ngeri. Kuusapkan kedua telapak tanganku yang memucat, berharap ada sedikit hangat yang bisa kudapat. Namun, hanya ada kata dingin. Satu-satunya rasa yang bisa kuindera.


Masih tersisa tiga puluh tujuh menit sebelum kereta api tujuan Jakarta berangkat. Masih cukup lama, tapi tidak cukup mengobati rasa kantukku yang mulai mendera. Meski hampir ambruk di ruang tunggu, setidaknya Ristretto yang kubeli di mini market stasiun bisa sedikit membantu.


Ini satu-satunya hidangan dari keluarga kopi yang bisa kuminum. Ristretto sebenarnya hampir mirip dengan Espresso. Namun, ketika disajikan volumenya hanya separuh dari Espresso. Jadi, banyak yang mengenalnya dengan nama Half Espresso. Selain lebih pekat dan gurih, rasanya yang manis juga membuat Ristretto menjadi andalanku saat sedang gundah gulana.


Sibuk menyesap Ristretto, bolamataku bergerak mengikuti kerumunan orang-orang yang berlari ke arah pintu masuk kedatangan kereta. Tidak sedikit, tapi banyak dari mereka yang sedang berburu, seperti mengejar sesuatu. Diiringi teriakan histeris, aku nyaris berpikir sedang terjadi gempa. Aku menengadah, memastikan apakah atap stasiun akan runtuh. Lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Kulihat sebagian orang sibuk bermain gadget, kemudian ada yang sibuk membaca surat kabar, dan bahkan ada yang tertidur pulas di dekat pintu keberangkatan.


Merasa tidak ada hal buruk yang terjadi, aku pun kembali melempar pandangan ke arah kerumunan yang terlihat makin membludak. Karena dirundung penasaran, aku sempat mengamati meski dari kejauhan. Mencoba mencari jawaban, apa yang membuat mereka berkumpul dan berdesak-desakan di sana. Namun, nihil, aku tidak menemukan apa-apa selain tanda tanya.


Kursi disampingku seperti bertambah beban. Benar rupanya, seorang pemuda baru saja duduk di samping kananku. Napasnya terdengar ngos-ngosan, seperti habis berlari. Sebuah koper kecil dan dua kardus besar membuatnya nampak kewalahan. Dia menggumamkan sesuatu, terlihat kesal dengan barang bawaannya itu.


“Kereta ke Jakarta belum berangkat kan, ya?” tanyanya khawatir.


Aku menggeleng kecil. “Belum. Masih dua puluh menit-an lagi.”


“Ah, syukur, deh.” ucapnya terdengar lega. Dia menarik napas panjang. Lalu menghembuskannya perlahan.


Senyum lebarnya terpancar saat mengajakku bicara.


“Mau ke Jakarta juga?”


Aku mengangguk ringan. “Iya.”


“Oh, ya, saya Rayhan Darmawan. Panggil aja Ray atau Rayhan.” tuturnya sambil mengulurkan tangan kanan. Aku menyambutnya dengan tersenyum. “Alya. Alya Azkia.”


“Oh, iya, bentar, ya, Al.” Rayhan bangkit lalu berjalan ke arah mini market stasiun.


Tidak lama setelah itu, dia kembali dengan membawa sebuah paper cup di tangan kanan. Asapanya yang mengepul membuatku yakin dia baru saja membeli Espresso.


“Saya nggak beliin kamu, soalnya saya liat minuman kamu juga masih ada.” ujarnya tersenyum sumringah.


Aku mengangguk ringan dan mengulum senyum untuknya. “Iya nggak apa-apa. Saya juga nggak suka Macchiato.”

__ADS_1


“Namanya Macchiato? Saya, sih tadi asal pilih aja. Ikut-ikutan orang di depan.” balas Rayhan sambil memutar bolamatanya ke arah mini market stasiun.


Nama lengkapnya Espresso Macchiato. Aku kenal aromanya, bahkan aku juga tahu rasanya. Lembut dan pahit secara bersamaan. Dibuat dengan menambahkan sedikit susu ke dalam segelas Espresso.


"Menambahkan sedikit susu ke dalam segelas espresso". Itu inti dari Espresso Macchiato. Lain halnya jika menambahkan espresso ke dalam segelas susu, maka namanya bukan lagi Espresso Macchiato, melainkan Latte Macchiato.


Seseorang dengan kegemaran meminum Espresso Macchiato pernah menjelaskan perbedaan itu padaku. Dan aku pernah mencicipi rasanya. Rasa yang membuatku jera dalam sekali coba.


“Kalo minuman kamu apa? Kopi juga?” tanya Rayhan basa-basi.


Pemuda itu menyesap Espresso Macchiato-nya perlahan, sedikit ragu-ragu. Sedetik kemudian dia menatapku dengan senyum masam dan wajah tidak karuan.


“Kamu kenapa nggak bilang sama saya? Pahit banget, Al.”


Aku menyembunyikan tawa melihat ekspresi Rayhan. Dia langsung menyapu bibirnya dengan telapak tangan. Mencoba menghilangkan sisa-sisa rasa pahit yang masih melekat. Pemuda itu menggerutu, menyesali minuman yang dipilihnya itu.


Setelahnya, aku dan Rayhan kembali berbincang. Saling berbagi cerita seputar tujuan ke Jakarta. Hingga kami tiba pada topik di mana kami membahas dunia kerja.


“Kamu kerja di Jakarta? Di mananya?” tanya Rayhan penasaran.


“Cipayung, di Jaya Redaksi.” jawabku santai.


“Zifran Rafadhan!” serunya lantang.


Baru mendengar namanya saja, mendadak pikiranku melayang pada sosok Chiep Editor sekelas algojo berat dunia. Dialah yang membuatku berada di sini dengan keadaan seperti ini. Dia menugaskanku ikut bersamanya ke Yogya untuk meliput Pekan Olahraga Daerah. Setelah event itu selesai dia meninggalkanku dan kembali ke Jakarta menggunakan pesawat. Sialnya lagi, dia justru menyuruhku menghemat pengeluaran redaksi dan memintaku pulang naik kereta api.


Aku nyaris tidak percaya bahwa Rayhan berkerja di tempat yang sama denganku. Bahkan kami juga duduk di kursi yang sama, Copyeditor. Kupastikan dia akan menjadi rekan kerjaku; menggantikan Mbak Cynthia yang bulan lalu dipindahtugaskan ke Bengkulu.


***


Kami tiba di stasiun Jatinegara tepat pukul empat sore. Saat itu langit Jakarta sedang bahagia. Rona-rona jingga kekuningan berbalut semilir angin menyambut kedatanganku yang akhirnya kembali setelah angkat kaki selama satu minggu.


Bersama Rayhan, aku bergegas menuju pintu keluar stasiun. Sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri, pandanganku berpencar berusaha menemukan sosok Mas Rudi.


“Al, saya duluan, ya.” pamit Rayhan saat sebuah taksi berhenti di seberang kami.

__ADS_1


Aku mengangguk dan membiarkannya pulang terlebih dulu. Rayhan bilang dia harus segera melapor ke kantor redaksi jika sudah tiba di Jakarta.


Tenggorokanku mulai kering dan kakiku terasa penat. Entah berapa lama aku sudah berdiri di depan stasiun. Bahkan ada puluhan taksi dan ojek yang menyinggahiku untuk menawarkan jasa antar. Beruntung, sebelum berniat memanggil salah satu dari mereka, Mas Rudi terlebih dulu tiba. Dia membunyikan klakson mobil sambil meneriakkan namaku berulang-ulang dari seberang jalan.


Kaca jendela mobil diturunkan saat langkahku semakin dekat. Senyum lebar dari Hanif dan Alif membuat rasa penatku terobati seketika.


Ah, dua keponakan kembarku yang teramat lucu.


“Lama ya, Al? Maaf, ya, tadi si bemo mampir ke pom bensin dulu.” ujar Mbak Aina menatapku prihatin. Dia memberikan sebotol air mineral dan aku langsung meneguknya saat itu juga.


Bemo, mobil kijang keluaran tahun 90-an yang sekarang ini kami tumpangi. Definisi lainnya adalah transportasi utama untukku dan Mas Rudi pergi ke kantor. Sekaligus benda kesayangan bapak yang ikut hijrah bersamaku ketika pindah ke Jakarta dua tahun lalu.


“Udah, nggak apa-apa. Lagian Alya, kan juga udah biasa nunggu, Bu. Santai aja.” kata Mas Rudi mengejek.


“Mbak Aina boleh nggak suaminya ditaruh di bagasi aja?” olokanku sukses membuat Mbak Aina tertawa lepas.


“Giliran ngejek Mas-nya aja, bisa banget.” ungkap Mas Rudi kesal.


Aku berdecak berkali-kali sambil berupaya membela diri.


“Yang mulai duluan siapa, yang disalahin siapa.”


Mbak Aina mengehentikan pertikaianku dan Mas Rudi dengan mengalihkan topik pembicaraan.


“Udah, udah. Kalian ini baru aja ketemu, masa langsung berantem. Al, Gimana kabar Yogya? Kamu sempat mampir ke rumah?”


Sambil memasang wajah kecewa, kulirik Mas Rudi yang duduk di kursi kemudi. “Nggak sempat, Mbak. Tapi saya udah nelpon bapak sama ibu dan bilang kalo saya nggak bisa mampir.”


“Apa kata bapak?” tanya Mas Rudi seraya melirikku dari kaca depan.


“Bapak bilang supaya deputi keuangan redaksinya dituntut karena melanggar hak dan kesejahteraan pegawai.” gerutuku kesal, membuat Mas Rudi menatapku tidak terima.


“Alya kita turunin di sini nggak apa-apa, kan?”


Mendengar pertanyaan Mas Rudi, aku langsung mengajak kedua keponakanku bermain mobil-mobilan. Mengacuhkan tawarannya untuk menurunkanku di jalan.

__ADS_1


“Kalian kapan damainya kalo kayak gini terus?” tanya Mbak Aina seraya menggelengkan kepala.


Membuatku dan Mas Rudi tersenyum lebar mendengarnya.


__ADS_2