
Tuhan memang bijaksana.
Meski tidak percaya saat melihat tumpukan naskah di atas meja, untungnya Rayhan bersedia membantu menyelesaikan tugasku itu. Jika tidak, mungkin aku akan benar-benar menderita. Apalagi Mas Zifran menargetkan semua naskah harus selesai besok lusa. Mendengarnya saja nyaris membuatku gila.
Aku menatap Abas dan Rayhan yang sibuk menyesap Cappucino. Mereka duduk berdampingan, menghadap pintu masuk di belakangku. Kami sengaja memilih spot dekat jendela kaca. Alasannya karena Abas harus segera pulang sebelum hujan. Jadi, untuk memastikan hal itu, aku dan Rayhan mengiyakan permintaanya.
Jika saja ada Arfian, mungkin aku tidak harus duduk sendirian. Paling tidak ada yang menemani di samping kanan.
“Harusnya saya yang traktir. Sebagai ucapan terimakasih atas bantuan naskah-naskah itu.” aku bergumam pelan.
Rayhan menggelengkan kepala. “Beruntung kamu pernah nyelamatin nyawa saya dari Mas Zifran. Anggap aja bantuan saya tadi sebagai bentuk ganti rugi.” ujarnya hangat.
“Oh,ya, Al, Arfian kapan ke Glasgow?” tanya Abas, membuka topik pembicaraan.
“Kata Fian, sih, tiga minggu lagi, Bas.”
Rayhan memandangku antusias. “Terus, kamu ikut nggak? Ambil cuti aja kali, Al. Kan, lumayan bisa ke Glasgow. Kalo kamu berangkat, saya ama Abas ikut!”
Abas menimpali. “Boleh juga, tuh! Kotanya bagus, tau, Al.”
Aku tersenyum seadanya menanggapi mereka berdua. “Saya udah izin nggak masuk hampir dua minggu, Ray. Lagian kalo kita semua Glasgow, takutnya Mas Zifran malah nyari pegawai baru.”
Perbincangan kami memang tidak pernah keluar dari topik Mas Zifran. Selain menghibur, berbicara tentang Mas Zifran juga membuat kami sadar bahwa tanpa dirinya, kami semua bukan siapa-siapa. Terlebih pimpinan kami itu punya hati selembut sutra. Hanya sikapnya terkadang sikapnya membuat kami tersiksa.
“Awalnya saya bete banget kerja di Jakarta. Tapi, pas dijalanin ternyata asyik juga. Nggak kerasa udah mau enam bulan aja. Tinggal nunggu lahiran tiga bulan lagi.” tutur Rayhan, berbagi cerita. Menyelipkan canda, membuat kami tertawa.
Sementara aku masih memasang wajah ceria, mendadak Abas terlihat salah tingkah dan Rayhan membisu tiba-tiba. Memaksa bolamataku menatap mereka bergantian. Heran. Apa yang membuat mereka bersikap demikian? Abas kemudian menjelaskan dengan isyarat matanya. Menandakan ada pengunjung yang baru saja tiba.
“Gimana? Udah ke makam Ardy?”
Mengetahui siapa yang dimaksud Abas tadi, aku buru-buru memilih diam.
“Eh, ada Satya. Duduk, yuk. Kita ngopi-ngopi bareng.” tawar Abas basa-basi.
Tapi, nampaknya Satya justru ingin memperkeruh keadaan. Dia langsung memesan Latte begitu duduk di sampingku. Di depan Rayhan.
“Oh, kamu doyan Latte. Kebetulan saya belum pernah nyobain itu. Gimana rasanya? Sama kayak Cappucino nggak? Atau kayak Americano?” Abas mencoba menghangatkan suasana dengan mengajak Satya bicara. Tapi, pemuda itu tidak begitu menghiraukannya.
“Makasih karena udah bikin Ardy dan Papa berdampingan.”
Aku menghela napas panjang mendengar apa yang Satya katakan. Rupanya dia mendapatkan Ariocarpus itu dari Jerman.
“Baru aja merasa kehilangan?” entah kenapa Rayhan justru membalas Satya dengan ungkapan seperti itu.
Satya tertawa kecil. “Saya nggak selemah kamu lagi, Ray. Suka berlarut-larut dalam kesedihan.”
“Kamu udah mati rasa? Atau jangan-jangan kamu bahagia Ardy udah nggak ada?”
“Harusnya saya yang nanya itu sama kamu. Kamu bahagia Ardy udah nggak ada?”
“Menangisi sahabat yang udah pergi jauh itu terlalu kekanak-kanakan.”
Satya terdiam sesaat. “Sifat kamu sama Ardy dari dulu, kan emang kekanak-kanakan? Ngerebutin mainan dan perempuan.” ujarnya sinis.
__ADS_1
Sedetik kemudian Rayhan bangkit dari kursi duduknya. Aku langsung mengangkat wajah, memandangnya khawatir. Takut jika pemuda itu melayangkan pukulan ke arah Satya dan membuat keributan di tempat ini. Mengulang kejadian tempo hari di rumah Mas Rudi.
“Kita ngopi-ngopi lagi lain kali.” ujar Rayhan bergegas pergi. Melihat itu Abas pun pamit undur diri. “Sampai ketemu lain waktu. Saya duluan, ya.”
Tersisa aku dan Satya yang diam tanpa suara. Kami biarkan gerimis hujan menjadi instrumen alam yang mengisi kesunyian. Angin berhembus damai. Tidak begitu ramai. Hanya saja para pejalan kaki sibuk berlari. Menghindari rintik-rintik hujan yang berjatuhan.
Merasa tidak ada yang harus diperbincangkan dengan Satya, otakku memerintahkan untuk segera pulang. Lagipula aku bosan jika harus duduk berduaan bersama seseorang yang tidak punya topik pembicaraan.
“Kamu nggak berniat buat nemenin saya minum kopi, gitu?” tanya Satya tidak terima.
Aku menatapnya heran. “Kamu, kan datang ke sini sendirian?”
“Tapi, bukan berarti saya juga harus minum kopi sendiri sementara ada kamu di sini.”
Tanpa menghiraukan apa yang dia katakan, aku tetap melangkah. Menyetujui kehendak hati untuk segera pergi. Dengan telapak tangan, kututupi kepala dari rintik-rintik hujan. Sambil berlari kecil, aku menuju parkiran mobil. Menghampiri bemo yang berdampingan dengan mobil Satya di sebelah kanannya.
Begitu sudah mengencangkan sabuk pengaman dan menghidupkan mesin, mendadak penyakit bemo datang tiba-tiba. Membuatku kehilangan akal sehat saat itu juga. Padahal sebelumnya dia baik-baik saja. Lantas, kenapa sekarang tidak mau menyala? Apa gerimis hujan membuat mesinnya kedinginan? Atau mungkin Mas Rudi sengaja menyerahkan bemo padaku karena dia sudah tahu bahwa masalah seperti ini akan terjadi?
“Udah, deh turun aja. nggak bisa nyala, tuh! Jangan dipaksa!” seruan itu membuatku menoleh ke samping kanan. Kudapati Satya tengah mendekatkan wajahnya ke kaca jendela.
Aku bergegas turun. Memberi pemuda itu kesempatan secara cuma-cuma untuk mengumpulkan pahala. Semoga dia bisa kuandalkan. Setidaknya aku masih punya seseorang yang bisa kuharapkan. Namun, semuanya di luar dugaan. Aku salah sangka. Ternyata Satya justru menyuruhku masuk ke dalam mobilnya dan memintaku menunggu di sana.
“Kamu nyuruh saya turun buat apa?”
“Kamu pikir saya bakal dorong mobil kamu ini sampai bisa nyala? Yang bener aja.”
Rintik hujan berpacu. Mulai melaju. Gerimisnya perlahan memudar. Gemuruhnya membuatku percaya bahwa sebenar lagi hujan yang sebenarnya akan segera tiba.
“Kamu mau berdiri di situ sampai kapan? Ini bentar lagi mau hujan!” teriak Satya seraya memasang sabuk pengaman di kursi kemudi.
Aku menoleh ke kiri dan kanan. Menyapu pandangan ke sekitar jalan. Berharap menemukan taksi yang bisa mengantarku pulang. Namun, tidak ada satupun yang tampak, tidak ada yang terlihat.
“Yakin nggak mau saya antar pulang? Satu. Dua. Tiga.”
Detik berlalu. Dan aku masih mempertimbangkan tawarannya itu.
“Tiga belas. Empat belas. Li-”
“Saya nggak mau kalo kamu ngibulin kayak kemarin.” potongku tiba-tiba.
Satya menatapku diiringi senyum manis di balik bibirnya yang tipis. “Kali ini ikhlas, tanpa pamrih. Beneran.”
*******************
Apa yang membuatmu merasa istimewa?
Ketika kita sudah jadi bagian penting dalam kehidupan seseorang, kemudian menjadi alasan untuk semua hal baik yang terus dia lakukan, maka saat itu kita harus percaya bahwa kita adalah orang yang berharga. Meski hanya untuk satu orang di dunia. Meskipun hanya untuknya. Saja.
Ubun-ubunku nyaris meledak saat Satya mengatakan aku adalah manusia paling menyebalkan di dunia. Pemuda itu terus-terusan menceramahiku tentang pentingnya sebuah kepercayaan. Pentingnya sebuah pertolongan dan arti keikhlasan. Dia bahkan bilang bahwa aku masih harus banyak belajar agar mengerti arti kehidupan.
“Al, Mbak pulang dulu, ya. Itu halaman belakang keramiknya jangan diinjak dulu. Masih licin soalnya.” Mbak Gita memecah pertikaian ringanku dengan Satya. Bersama dua pekerjanya, dia nampak terkejut saat melihat pemuda itu duduk di sampingku.
“Oh, ada Satya juga ternyata. Mbak duluan, ya.” salam hangat Mbak Gita membuat Satya mengangguk singkat.
__ADS_1
“Mbak, nanti kamar Alya biar saya aja.” ucapan pemuda itu menarik perhatianku.
Apa dia sedang merencanakan sesuatu?
“Terserah, deh. Mbak ngikut aja.” sahut Mbak Gita. Kemudian meninggalkanku dan Satya yang sibuk menikmati minuman bersoda.
Sekilas kulirik Satya yang tengah melemaskan punggung di sandaran sofa. “Harusnya saya biarin kamu bunuh diri waktu itu.” ujarku kesal.
Kudengar pemuda itu tertawa renyah. Barisan giginya diperlihatkan lewat senyumnya yang cerah. “Kamu udah bahas masalah bunuh diri ini berapa kali?”
Aku menatap Satya acuh. “Kenapa? Tersinggung?”
Mendadak dia membenahi posisi duduknya. Menatapku dengan raut tidak percaya. “Jadi, kamu masih mikir itu saya?”
Aku membuka kaleng soda untuk kali ketiga. Meneguknya singkat. Memejamkan mata sejenak. Menikmati sensasinya yang menyegarkan dahaga.
“Oke, sekarang biar saya tanya. Menurut kamu, kapan pertama kali kita ketemu?”
“Di trotoar jalan depan coffe shop.” jawabku seadanya.
Pemuda itu menatapku sambil menggeleng-gelengkan kepala. Terselip tawanya yang nyaris pecah di udara.
“Kenapa?” hanya itu kalimat tanya yang bisa kuajukan padanya.
Satya berdeham singkat, kemudian menatapku lekat. “Kamu ingat insiden mati lampu di coffe shop sore itu?”
“Iya, ingat. Kenapa?”
Pemuda itu menatapku sungguh-sungguh. “Itu pertama kalinya saat liat kamu.”
Perlu banyak detik berlalu untuk menyadarkanku akan hal itu. Bahwa Tuhan punya kuasa untuk menciptakan banyak orang kembar di dunia. Dan Satya adalah salah satu ciptaanNya. Bersama Ardy, mereka sudah hidup bersama di rahim yang sama.
Aku menghabiskan minuman bersoda itu dalam satu kali tegukan. Otakku perlu banyak sesuatu yang menyegarkan supaya akal sehatku bisa terselamatkan.
“Jadi, yang niat mau bunuh diri itu Ardy? Kembaran kamu?” tanyaku memastikan.
“Kayaknya, sih Ardy nggak niat mau bunuh diri. Cuman dia nggak denger aja. Maklum lah, penderita Otosklerosis emang sering kayak gitu.”
Aku mendengus tidak percaya. Ini realita paling sulit yang pernah kuterima.
“Kenapa? Kayak nggak pernah liat orang kembar aja.” ujar Satya sambil tertawa.
“B-bukannya gitu. Tapi, selama ini saya pikir kalian cuman saudaran. Rayhan juga nggak pernah bilang kalau kalian kembaran.” jawabku susah payah.
“Rayhan nggak bakal cerita soal itu kalau nggak kamu tanya.”
Aku mengangguk ringan, mengiyakan sifat Rayhan yang demikian. Lagipula mengapa aku tidak menyadari hal ini dari dulu? Bukankah, selama ini aku punya keponakan kembar? Sekalipun memang tidak ada tanda-tanda bahwa Ardy adalah saudara kembar Satya, paling tidak aku harus punya firasat atau dugaan semacam itu.
“Beberapa hari yang lalu saya ke sana. Jenguk dia.” ujar Satya sambil tersenyum tipis.
Pemuda itu menimbang kaleng kosong di sela ibu jari dan telunjuknya. “Tapi, kedatangan saya mungkin nggak cukup berharga.”
Aku tahu Satya butuh teman. Dia butuh tempat berkeluh kesah dan berbagi kisah.
__ADS_1
“Nggak ada yang nggak berharga di dunia ini. Kamu harus percaya, sekalipun kamu pikir kamu itu bukan siapa-siapa, pasti ada bagian dari dunia yang nganggap kamu itu berharga. Nganggap kamu istimewa.” ujarku menghibur Satya. Membuat pemuda itu tersenyum seketika.