
Tiba di ruang editor, aku langsung melemaskan tubuh di sandaran kursi. Lari dari kejaran hujan ternyata membuatku kewalahan. Nafasku dibuat ngos-ngosan. Rambutku basah dan acak-acakan.
Aku mengeluh. Hujan-hujan begini aku justru berpeluh-peluh. Terus terang saja, beberapa hari terakhir tubuhku memang tidak terlalu fit. Kadang kepanasan, kadang kedinginan, kadang menggigil, kadang meriang. Dan di saat-saat seperti itu hatiku meronta ingin pulang ke Yogya. Merindukan masakan ibu dan juga pelukan bapak.
Apalagi sejak kepergian Rayhan dua minggu lalu, naskah di meja redaksi makin menumpuk. Memaksaku lembur dan berujung pada tidur malamku yang tidak teratur.
Rutinitasku dibuka dengan lanjutan kehidupan Ardyathama Harianja.
“*Sebab rindu adalah benalu yang malu-malu. Deritanya tidak akan pernah berlalu sebelum ada kata bertemu. Rindu memang selalu seperti itu, membelenggu. Sebab jika dia bebas begitu saja, petualangannya akan bernilai sia-sia. Karena rindu adalah percikan jarak yang tidak berbatas, maka rindu tidak pernah mengenal kata pantas. Rindu hadir karena dentingan waktu yang terus mengalir. Rindu adalah sajak-sajak tanpa suara dari seorang penyair. Rindu tidak akan berakhir sebelum mereka punya kekuatan untuk melawan takdir.”
“Kuharap telingaku mati fungsi saat itu juga. Hanya ada satu kata yang bisa telingaku tangkap dari kabar Salma, yaitu dunia. Mengetahui apa yang terjadi, membuatku mematung seorang diri. Menyadari bahwa aku sudah kehilangan sesuatu yang belum pernah kumiliki. Memaki hati yang selama ini memilih sembunyi. Mengutuk rasa ragu yang selama ini menghantuiku. Dan sekarang aku sedang mengalami pembalasan. Atas perasaan yang belum sempat kusampaikan*.”
Selma Sayzaira akhirnya meninggal dunia di usia yang masih amat muda. Dia menutup mata setelah menjalani terapinya yang ke duapuluh dua. Saraf pendengarannya mati fungsi sebelum dia berhalusinasi dengan mengatakan dia sudah tiba di tempat di mana dia harus berhenti. Wanita itu menggerakan kedua bolamatanya ke sana ke mari. Mencari sesuatu yang tidak akan pernah dia temui di dunia ini. Pandangannya perlahan samar-samar. Cahaya lampu yang terang benderang berubah jadi remang-remang. Kelopak matanya mengerjap tidak karuan. Nafas lemahnya tertahan di tenggorokan. Mulutnya bergumam pelan mengatakan, “Ayah, Selma pulang.”
Aku nyaris menangis begitu Ardy harus kehilangan Selma untuk selamanya.
Pertemuan rutin sebelum dan sesudah terapi, menumbuhkan benih-benih cinta di antara mereka berdua. Selma memang tidak secantik saat pertama kali Ardy melihatnya. Wanita itu semakin kurus. Terkadang saat panggilan terapinya tiba, Selma harus berjalan terputus-putus. Langkahnya kian hari kian lemah, semakin hari semakin goyah. Tapi, hal itu justru membuat Ardy semakin jatuh cinta padanya. Pemuda itu pun selalu punya cara sendiri untuk mendekati Selma tanpa harus berkata-kata. Dia sering menyuguhkan berbagai kopi dengan varian rasa. Memberi Selma beberapa buku-buku fiksi terjemahan. Menawarkan bacaan dari surat kabar dan majalah kesehatan. Sesekali Ardy juga menyelipkan sebuah pesan. Sebuah titipan perasaan.
Bab lima akhirnya menutup kehidupan Ardy. Setelah kepergian Selma, dia menjadi tuli seutuhnya. Ardy tahu, tidak ada yang mampu membuat rindunya berakhir. Bahkan takdir sekali pun. Jadi, tidak ada jalan lain untuk berontak walau jutaan kali memutar otak. Yang harus dia lakukan hanyalah tunduk menerima kenyataan tanpa pengampunan. Sebab takdir tidak akan terkalahkan walaupun bisa dilawan.
Kendati mengangkat tema sederhana, Cinnamon punya gaya tulisan yang berbeda. Dia mengutarkan situasi dengan narasi yang tepat. Dia juga menggambarkan semua suasana yang dialami Ardy tanpa ada kendala. Alur yang dibuatnya tidak berantakan. Isi ceritanya juga berkesan. Setiap lembarnya selalu membuat penasaran dan ketagihan.
Setelah menimbang-nimbang dengan matang, akhirny aku yakin untuk memutuskan. Sekalipun Cinnamon belum punya nama di pasaran –tidak ada buku dengan nama penulis seperti itu sebelumnya, setahuku– setidaknya dia akan punya tempat di hati para pembaca.
__ADS_1
Digit angka yang tertera di biodata naskah menggiringku untuk menghubunginya. Kami butuh sedikit diskusi dan juga ada beberapa bagian yang harus dia tambahkan.
Panggilanku tersambung. Aku menunggu jawaban sambil memandang rintik-rintik hujan. Menghitung tetesnya yang bergulir. Mengamati embunnya yang menguap di kaca jendela. Menanti Cinnamon menyapa.
Nyaris memutuskan panggilan sebelum telinga kananku akhirnya menangkap gelombang suara. Samar-samar terdengar, “Hallo?”
Cinnamon ternyata seorang laki-laki. Suaranya berat, tapi terdengar hangat.
“Hallo, selamat siang. Saya Alya Azkia, editor dari-“
Tut-tut-tut-tut-tut-tut-tut
Aku menghembuskan napas panjang saat menyadari panggilanku telah diputuskan. Namun, niatku urung untuk menelponnya kembali. Jadi, kupilih pesan singkat saja sebagai medianya.
Selang beberapa detik setelah pesanku terkirim, handphoneku kembali bergetar. Mataku mengerjap begitu mendapati nama Mas Zifran di layar panggilan.
Mengapa apa dia menghubungiku sementara kami sama-sama sudah ada di kantor?
Aku baru mendekatkan handphone ke telinga kanan. Belum sempat menyapa sepatah kata pun, Mas Zifran terlebih dulu menyerbu dengan buru-buru.
“Samperin saya di lobi redaksi. Sekarang juga. Nggak pake lama.”
*****
__ADS_1
Guntur bergemuruh riuh. Suaranya menggelar, memecah keheningan penduduk bumi. Kilatan cahaya menyebar di penjuru langit. Menghadirkan pertunjukan alam yang menawan sekaligus menakutkan. Awan-Awan kelabu sepakat berpadu pekat, tidak ingin bersahabat. Angin kencang menyapu jalanan. Mengibas kubangan air dan menyisakan korban kecelakaan. Meninggalkan kericuhan yang memadati pemandangan di seberang jalan.
Langkahku membeku saat melihat Mas Zifran melipat tangan di dada. Sementara di depannya ada Rayhan yang diam tanpa suara. Kendati sedikit ragu, aku tetap berjalan menghampiri mereka. Berniat menanyakan apa yang terjadi hingga aku dipanggil ke sini.
Namun, belum sempat aku bicara, Mas Zifran terlebih dulu membuka suara. “Saya tahu, Al. Kamu nggak bakal cerita tentang Rayhan meski saya minta ataupun saya paksa.”
Perlu waktu sedikit lebih lama untuk menjawab apa yang Mas Zifran tuduhkan.
“Mulai hari ini, kalian berdua nggak usah masuk ruang editor. Jangan pernah nginjakkin kaki di sana sebelum Rayhan jelasin semuanya sama saya.” ketus Mas Zifran datar. Suaranya lebih menakutkan daripada guntur yang menggelegar. Algojo itu kemudian berlalu, meninggalkanku dan Rayhan yang saling berpandangan.
“Saya nggak tahu harus ngomong apa.” ujarku susah payah.
Rayhan mengangkat wajahnya. “Saya ngehadirin pemakaman dia, Al.”
Aku mencoba memaklumi situasi seperti ini. Rayhan memang punya alasan masuk akal untuk bertindak demikian. Lagipula siapa yang sudi ditinggal pergi sahabat sejati?
“Saya turut berduka cita, Ray.” kataku prihatin.
Meskipun aku tidak bisa mengira seberapa besar kehilangan Rayhan pada sahabatnya itu, tapi aku tahu dia masih sangat berduka. Bolamatanya menjelaskan hal itu padaku. Tatapannya masih berkabung. Nyaris seperti awan mendung.
“Maaf ya, Al. Kamu jadi kena semprot gara-gara saya.” ujar Rayhan terkekeh pelan.
Aku tertawa ringan. “Kamu punya hutang besar sama saya, Ray.”
__ADS_1
“Iya, iya, saya tahu. Nggak usah khawatir, besok kita juga udah masuk ruang editor. Habis ini saya bakal jelasin semuanya. Sekalian ngasih dia sesuatu dari Jerman. Biar cepet dimaafin.” balas Rayhan tersenyum lebar.