Aksara Rasa ( Untuk Rasa Yang Tidak Akan Sempurna )

Aksara Rasa ( Untuk Rasa Yang Tidak Akan Sempurna )
BAB Dua Puluh


__ADS_3

Hidup itu selalu tentang tantangan yang berubah jadi masalah, jika kita tidak tahu bagaimana strategi melawan dan cara agar tetap bertahan.


Mungkin ini diluar dugaan banyak orang. Bahkan aku sendiri hampir tidak percaya. Nyaris kupikir ini bukan hasil yang sebenarnya. Media olahraga berlomba-lomba meliput berita kemenangan Arfian atas lawannya Xie Chen Yue pada ajang Dubai Open tahun ini. Indonesia berhasil membawa pulang satu medali emas atas kegilaan Arfian di babak final.


“Meski gagal merebut game pertama, Arfian Andriawan berhasil memaksa Xi Chen Yue untuk terus melanjutkan pertandingan hingga game ketiga. Sempat diminta mundur oleh tim medis dan panitia penyelenggara, namun Arfian tetap bertahan kendati terjadi masalah pada lutut kanannya. Pemuda kelahiran Yogyakarta itu bisa membuktikan bahwa pemain muda dengan jam terbang yang tidak terlalu besar ternyata mampu menaklukan legenda dunia yang punya sejuta pengalaman. Alhasil, Indonesia sukses menempatkan satu juaranya dengan score 21-23, 25-23, dan 22-20 atas kemenangan Arfian Rahardian.”


Layar handphoneku berubah tampilan. Nama Arfian menjadi satu-satunya rantaian huruf yang bisa kubaca.


“Al.”


Baru mengangkat panggilannya, belum sempat menyapa seperti biasa, suara Arfian terlebih dulu membuatku tersenyum bangga. Aku tahu, ada jutaan makna dari satu kata yang dia ucapkan.


“Mau hadiah?” tanyaku hangat. Sedetik kemudian kudengar tawa di seberang sana.


“Saya nggak minta apa-apa.”


“Tapi, saya harus kasih kamu sesuatu.”


“Kamu nggak perlu kasih saya apa-apa. Nanti juga saya bakal minta sesuatu dari kamu kalau saya mau.”


Aku tertawa singkat. Tidak ada yang berubah dari Arfian. Sedikit pun. Dia tetap hangat. Dan terlalu manis.


“Lagi ngapain, Al?” tanya Arfian santai.


“Nunggu Mas Rudi sama Mbak Aina pulang.” jawabku sambil melemaskan tubuh di sandaran sofa.


“Anak-anak udah tidur?”


Aku tersenyum malu mendengar pertanyaan Arfian. Apa setiap pasangan yang punya anak selalu bertanya hal itu di jam-jam larut seperti ini?


“Oh, iya, Fian. Lutut kamu gimana? baik-baik aja, kan?” aku sengaja bertanya tentang lutut kanan Arfian. Mengalihkan topik pembicaraan.


“Ya, gitulah. Biasa, kumat sesaat. Habis ini cuman perlu terapi dan istirahat. Tapi, nggak apa-apa, kok. Nggak parah-parah banget juga.”


Aku mengangguk-angguk kecil. “Lain kali jangan dipaksa, Fian.”


“Nggak maksa, kok, Al. Saya cuman bertahan aja. Eh, setelah dicoba ternyata bisa. Ya, saya terusin. Kan, tanggung.”


“Saya mau bilang kamu gila. Tapi, kamu hebat juga. Bisa ngalahin peringkat satu dunia. Dari China pula.” balasku dengan maksud memuji.


Kali ini Arfian tertawa gelak. “Saya malah nggak tau mau bilang apa.”


Aku mengernyitkan dahi. Mencoba memahami.


“Ada banyak hal yang mau saya bilang sama kamu. Tapi, saya nggak tahu mau bilang apa. Saya nggak tahu ngomongnya gimana. Mulainya pake apa. ”

__ADS_1


“K-kenapa?”


“Ya, takut aja. Takut kecewa.”


Kubiarkan kami terdiam. Tanpa ada pertanyaan atau jawaban. Kami hanya mendengarkan cerita tanpa suara.


“Al.”


“Hm?”


Perlu banyak detik berlalu untukku menunggu.“Saya rindu kita yang dulu.”


Aku membisu. Lidahku kelu.


“Saya udah berusaha buat lupain semuanya. Lupain kamu. Lupain kita. Tapi, saya nggak bisa. Saya nggak tahu kenapa.”


Aku menggigit bibir berkali-kali. Berusaha menemukan jawaban untuk menanggapi apa yang Arfian katakan.


“Saya pikir habis kita pisah, semuanya bakal berjalan kayak biasa. Semua bakal baik-baik aja. Tapi, saya lupa, tanpa kamu, saya bukan apa-apa.”


Kudengar suaranya bergetar. “Semua yang dari saya buat kamu, sejak dulu nggak pernah berubah. Semuanya tetap ada. Tetap sama.”


Aku memutus panggilan Arfian. Menolak untuk mendengarkan apa yang akan dia katakan. Menghindar dengan apa yang kemudian akan dia lanjutkan. Setelahnya tidak ada yang bisa kulakukan selain larut dalam isak tangisku sendiri. Mengutuk hati yang terus menginginkan Arfian kembali.


Aryasatya Harianja.


Musim kemarau masih harus menunggu. Lagi. Kembali harus bersabar menanti. Kendati BMKG33 sudah menulis pernyataan resmi tentang keadaan cuaca hari ini, namun ternyata itu hanya sebuah prediksi. Buktinya rintik-rintik hujan tetap berjatuhan. Angin kencang masih bisa berlalu lalang. Bertiup bebas tanpa tujuan. Menimbulkan keributan para pejalan kaki yang sempat kebasahan, didera butiran hujan yang tiba-tiba datang.


Dari dalam coffe shop, aku hanya bisa menonton. Sambil mendengar bunyi hujan yang monoton. Lawan bicaraku belum buka suara, masih sibuk membaca naskah di depannya. Naskah Rentang Rasa milik seseorang tanpa nama. Naskah yang bisa menjelaskan tentang apa yang terjadi antara dirinya dan Satya.


“Dia orang yang sama.” gumam Rayhan pelan.


Aku menatapnya tanpa berkedip, menuntut penjelasan.


“Penulis buku ini adalah Ardy, sahabat saya yang meninggal di Jerman waktu itu.”


Aku melongo tidak percaya. Berarti apa yang dalam naskah itu benar adanya. Semua cerita kehidupan Ardy adalah bagian dari dunia nyata, termasuk sosok wanita bernama Selma. Mereka bukan tokoh fiksi yang sekedar hidup dalam rangkaian tulisan semata.


Masih butuh jawaban dan penjelasan dari Rayhan, aku kembali mengajukan pertanyaan. “L-lalu apa hubungannya sama Satya?”


Rayhan sempat memalingkan muka. Lalu menatapku dalam. “Aryasatya Harianja.”


Jawaban gila macam apa yang baru saja kudengar?


Kupikir ada ratusan juta orang dengan nama Satya di dunia. Aku tidak menyangka bahwa sosok Satya dalam cerita Rentang Rasa adalah pemuda yang selama ini kukenal. Perlu beberapa detik lamanya untuk menyadari bahwa Ardy dan Satya adalah satu keluarga. Dan mereka itu memang benar bersaudara.

__ADS_1


Setelah menghela napas panjang, Rayhan mulai membuka teka-teki. Pemuda itu berbagi cerita soal hubungan mereka bertiga. Dia menjelaskan alasan yang membuatnya bertengkar tempo hari dengan Satya.


“Saya, Ardy dan Satya udah temenan sejak masih ingusan. Kita bertiga sepakat buat sahabatan. Tiap hari main bareng, ngejahilin orang bareng, makan bareng, jalan bareng, semuanya bareng. Sampai akhirnya keluarga Harianja berantakan. Ayah mereka meninggal dunia, dan Ibu mereka nikah lagi sama orang Amerika. Sejak saat itu, hubungan kita renggang. Saya sibuk nggak karuan, Ardy sibuk di Jerman, dan Satya sibuk sendirian. Meskipun saya dan Satya sama-sama tinggal di Yogya, kami nggak pernah ketemuan. Nggak tahu karena apa. Semuanya beda aja.”


Aku mendengarkan dengan seksama. Meski suara Rayhan nyaris tenggelam oleh bunyi hujan, aku masih bisa menangkap setiap katanya yang terucap.


“Terlebih waktu Ardy divonis Otosklerosis akut. Satya makin berantakan. Dia ngejalanin hidup asal-asalan. Parahnya lagi adalah saya jatuh cinta sama wanita yang Ardy suka. Mulai dari situ, Satya benci saya. Satya minta saya buat menghilang dari kehidupan dia dan Ardy. Tapi, saya nggak bisa, Al. Apalagi lihat kondisi Ardy yang makin hari makin memburuk sejak kepergian Selma. Sementara Satya sendiri nggak punya waktu buat ngerawat Ardy. Bahkan sampai Ardy meninggal dunia, Satya nggak ada di sana.”


Aku hanya bisa menepuk pundak kanan Rayhan, sedikit memberinya kekuatan. Tanpa ada sepatah kata yang mampu kuucapkan. Tapi, aku tahu apa yang pemuda itu rasakan. Sakit hatinya pasti sudah sangat keterlaluan. Kehilangan tentu membawa pergi orang-orang yang dia cintai. Sampai-sampai isak tangisnya tertahan. Hingga membuatnya menutup wajah dengan telapak tangan. Menyembunyikan airmatanya yang berjatuhan.


“Setiap yang ditinggalkan pasti akan hidup dalam kehilangan. Satya cuman nggak pernah nunjukin betapa menderitanya dia saat kehilangan Ardy. Siapa sih, Ray, yang suka ditinggal sendiri? Nggak ada yang mau kesepian di dunia ini.” ujarku mengingatkan Rayhan.


“Kalian bicarain salah paham ini dengan kepala dingin. Saya yakin, kalian pasti bakal baikan asal kalian nggak bersikap kekanak-kanakan. Nggak usah pake acara pukul-pukulan.”


Rayhan mengangkat wajahnya. Memandangku seraya mengangguk setuju.


“Nih, Cappucino-nya. Saya yang traktir kali ini.” sahutku tersenyum lebar.


Rayhan tertawa ringan. “Kapan-kapan saya pasti bayar traktiran kamu. Oh, iya, nanti sekalian ajak Arfian juga. Saya sama Abas udah lama nggak ketemu dia.”


Aku menatapnya heran. “Lama nggak ketemu? Kalian sering ketemuan?”


“Arfian nggak pernah cerita? Sejak kamu pulih dari sakit waktu itu, saya sering ketemu dia di sini. Katanya dia mau ngopi-ngopi sama kamu. Taunya kamu belum selesai ngantor. Ya, akhirnya dia pulang. Keburu ama jadwal latihan.”


“Terus Abas?” tanyaku penasaran.


Rayhan balas menatapku tidak percaya. “Masa kamu nggak tahu juga?”


Aku menggeleng cepat. Faktanya aku memang tidak mengetahui hubungan apa yang terjalin antara mereka bertiga. Kupikir hanya Rayhan; satu-satunya rekan kerjaku yang berteman dengan Arfian.


“Arfian itu ghost writer favorit Abas.” jelas Rayhan dalam satu tarikan napas.


Kini giliranku yang menatapnya tidak percaya. “Arfian?”


Rayhan menodongku dengan tatapan menyelidik. “Jangan bilang kamu nggak tahu kalo pacar kamu itu pengirim setia surat suara siaran APIC?”


Aku hanya bisa terdiam. Kenyataannya memang demikian.


“Ampun, deh, Al.” Rayhan menggelengkan kepala sambil menggerutu ringan.


Pemuda itu kemudian menyesap Cappucino favoritnya. Sementara aku sibuk mengingat surat-surat siaran APIC yang pernah kubaca.


Apa mungkin surat-surat suara yang diperdengarkan setiap bulan, satu di antaranya adalah kiriman dari Arfian? Tapi, aku tidak pernah menemukan nama pemuda itu.


Lagi pula sejak kapan Arfian punya waktu luang untuk mendengarkan siaran radio?

__ADS_1


__ADS_2