
Sibuk memperbaiki diksi dan beberapa tanda baca pada naskah Cinnamon, mendadak suara Mas Zifran langsung membekukan konsentrasiku. Sosoknya berjalan ke sana ke mari, mengontrol kinerja anak buahnya yang memang diburu waktu. Sembari memberi arahan pada beberapa pekerja magang, langkah Mas Zifran berakhir di depan meja kerjaku.
“Alya, Rayhan mana?” tanya Mas Zifran sambil melipat tangan di dada.
Otakku masih berusaha menemukan jawaban yang masuk akal Mas Zifran.
“Jangan bilang-“
“Tadi dia keluar, Mas. Katanya mau ke deputi percetakan.” sahutku cepat.
Algojo itu memandangku dengan tatapan menyelidik. Membuatku bergidik.
“O-oh, iya. Tadi, Rayhan nitip naskah, Mas.”
Mas Zifran menyambut dua naskah Rayhan yang kuberikan. Dia membuka lembaran naskah itu sembarangan. Bolamatanya bergerak ke arah yang sama, menelusuri isi naskah itu dalam satu kali baca. Memperhatikan perbaikan yang sudah Rayhan lakukan di sana.
“Naskah Cinnamon udah nyampe mana, Al?”
Aku mengulum senyum. Dengan mengalihkan topik pembicaraan, setidaknya Mas Zifran menerima hasil kerja Rayhan.
“Ini baru mau bab lima, Mas.”
“Naskah dia tunda dulu. Kamu koreksi kalo misal emang ada waktu luang. Langsung kerjain buat rubrik minggu ini aja. Ntar kasihin ke saya, secepatnya, hari ini juga, lho, ya. Nah, satu lagi, sebelum pulang kamu temuin Abas. Tanya dia kapan siaran APIC. Kalo nggak salah sih, besok. Kamu aja yang cari surat buat dia nanti. Saya malas nyari pengganti Cynthia. Lagian Abas bilang, surat pilihan kamu bulan kemarin banyak yang suka.”
Aku mengangguk menanggapi arahan panjang lebar yang diberikan Mas Zifran. Sambil bergumam dalam hati, kuucapkan terima kasih pada tiga pengirim surat APIC bulan lalu. Terutama surat tanpa identitas pengirim itu.
“Oh, ya, Al, besok kamu bawa kamera, ya.”
“Buat apaan, Mas?”
“Kita ada liputan buat edisi olahrga.”
Aku mengangguk tanpa mengetahui apa tujuan Mas Zifran turut mengajakku liputan. Kuharap dia tidak mengulang kejadian yang serupa ketika kami liputan ke Yogya waktu itu.
****
Mas Rudi lembur.
Itu berita terakhir yang kudengar sebelum handphoneku mati. Beruntung aku punya pekerjaan tambahan. Masih ada surat-surat redaksi yang harus kupilih untuk siaran APIC. Jika bisa dikerjakan sekarang, maka aku tidak perlu begadang hingga larut malam, bukan?
__ADS_1
Bunyi dentingan bel dan Details In the Fabric milik Jason Mraz menyambutku saat membuka pintu masuk coffee shop. Semerbak bau muffin dan choco cake yang baru keluar dari oven menyerbu saraf penciumanku. Fragrance dalam gelas-gelas besar serta Aroma espresso mengiringku duduk di sudut ruangan. Aku sengaja memilihi spot itu karena ada stop kontak di dekat mejanya. Aku butuh aliran listrik untuk jaga-jaga sebelum laptopku kehabisan energinya.
Aku tidak memesan. Sandy, barista di coffee shop ini sudah tahu apa yang kumau. Hanya satu. Yaitu Ristretto.
Sore ini coffee shop bisa dibilang sepi. Tidak lama setelah aku duduk, tiga orang pengunjung pergi. Perhatian mereka sejak tadi memang tertuju pada langit yang sudah gerimis ringan. Menumpahkan butiran-butiran hujan.
Tepat di depanku, hanya berjarak dua meja, seorang pemuda sibuk menyesap minumannya. Aku memperhatikan lengan kanannya yang berbalut perban. Kondisinya yang demikian membuat tangan kanan pemuda itu sedikit sulit digerakkan. Memaksanya untuk mengangkat demitasse dengan tangan kiri. Namun, sepertinya dia tidak terbiasa. Terbukti demitasse itu bergetar ringan saat diangkat oleh tangan kirinya.
Ah, benar-benar membuatku iba.
Mendadak, tanpa kuduga, pemuda itu mengangkat wajahnya. Memergokiku yang sejak tadi memang sibuk memperhatikannya. Dia langsung meletakkan demitasse-nya. Memandangku dengan tatapan tidak suka.
Aku buru-buru membuang pandangan. Canggung karena baru saja ketahuan. Sambil menunggu loading di email redaksi, aku memperbaiki tatanan rambutku dan mengikatnya sembarangan. Kubiarkan beberapa helainya jatuh dan anak-anaknya berterbangan.
Begitu Ristretto tiba, aku langsung menyesapnya dalam waktu yang lama. Setelah memperbaiki letak kacamata, aku mulai membaca surat-surat masuk di email APIC.
Surat pertama berisi pertanyaan, tanpa identitas pengirim yang jelas.
“Jelasin dong gimana caranya biar bisa punya anak kembar tanpa harus ikut program.”
Aku tertawa. Bagaimana Abas bisa menjawab pertanyaan ini? Dia saja belum menikah. Bahkan setelah menikah pun Abas hanya akan punya satu anak dalam rencana hidupnya. Tapi, aku suka pertanyaannya. Meski tidak punya keturunan kembar dalam silsilah keluarga, ada banyak orang yang sering mengajukan pertanyaan seperti ini.
“Mas Abas, kasih saran dong buat temen saya yang lagi punya special relation sama atlet sepak bola. Gimana biar hubungan mereka tetap baik-baik aja meskipun mereka jarang ketemuan?”
Aku tidak yakin apakah Abas bisa memberi saran untuk perihal ini. Dia bahkan bukan penggila olahraga sepak bola.
Sebelum meneruskan surat ketiga, jemari-jemari kakiku mulai menderita. Mereka dibuai dinginnya hujan di luar dan derasnya AC di dalam coffee shop.
“Dan, saya matiin AC-nya, ya.” pintaku saat Dany beres-beres di seberang meja.
Tanpa perlu pertimbangan, Dany langsung mengangguk ringan. Dia bergegas mengambil remote AC dan memberikannya padaku.
Tepat sepersekian detik sebelum aku sempat menekan tombol power, pemuda di depanku tadi angkat bicara.
“Eh, Eh, Eh, saya juga pengunjung di sini. Saya nggak setuju AC-nya dimatiin.” protesnya dengan raut tidak terima.
Aku mencoba mencairkan suasana yang membuat Dany mematung seketika.
“Ini, kan cuacanya lagi hujan dan di dalam juga udah dingin. Jadi, saya rasa kita nggak perlu hidupin AC. Lagipula bukan cuman saya aja, kok yang nggak tahan.” ujarku berusaha minta keringanan hatinya.
__ADS_1
Kulirik Sandy dan Dany. Mereka juga merasakan apa yang kurasakan.
“Kamu nyari orang lain buat nutupin kelemahan kamu? Mereka emang menggigil. Tapi, mereka ngormatin saya sebagai pengunjung di sini. Jadi, tolong, jangan bersikap sok jadi penguasa sementang kamu udah kenal sama mereka.”
Aku melongo tidak percaya mendengar apa yang dikatakannya. Dengan susah payah aku berupaya menelan ludah. Berusaha untuk menahan emosi di tengah situasi seperti ini.
Kurasa pemuda itu tersinggung dengan sikapku tadi. Hingga akhirnya dia balas dendam dengan cara seperti ini.
“Maaf, ya. Saya juga pengunjung di sini. Jadi, jangan gila hormat dari orang yang nggak bisa kamu hormati. Dan satu lagi, sebelum kamu bicara soal kelemahan orang lain, lihat tangan kanan kamu yang nggak bisa digerakin itu.” ujarku ketus. Kutatap sembarangan perban putih yang menutupi tangan kanan pemuda itu.
Hilang sudah rasa ibaku.
Selama beberapa saat berlalu, pemuda itu hanya membisu.
Detik berikutnya, kudengar suara gesekan kaki kursi dengan lantai ubin coffe shop. Rupanya pemuda itu bangkit dan berjalan beberapa langkah hingga tiba di depan mejaku. Dia menatapku tajam sambil berdeham.
“Saya nggak mau bikin ribut sama perempuan. Tapi, kalo kamu nantangin saya, saya nggak bakal mundur gitu aja.” ujarnya lalu merebut remote AC di tangan kananku dengan kecepatan cahaya. Menyisakan aku dan otakku yang kehilangan kata-kata, kehabisan suara.
Aku memandangnya lekat. Menelusuri sesuatu yang ada di wajah pemuda itu. Mencoba menarik ingatanku pada kejadian beberapa minggu lalu. Meski sedikit ragu, aku yakin ingatanku tidak pernah keliru.
“Kamu orang budek yang mau bunuh diri waktu itu, kan?”
Tepat sebelum pemuda itu buka suara, Details In the Fabric yang sejak tadi melantunkan harmoninya mendadak berhenti. Lampu-lampu yang sebelumnya menghiasi ruangan tiba-tiba kehilangan energi. AC yang berhembus sedari tadi tiba-tiba langsung mati.
“S-saya panggil tukang ginset dulu.” Dany gelagapan seraya berjalan ke meja pesanan. Menyisakan perang dingin antara aku dan pemuda yang tidak kutahu namanya itu.
“Ohhh, jadi, tangan kanan kamu itu korban niat bunuh diri?” tanyaku mengejak.
“Kamu ngomong nggak pake mikir dulu, gitu?” sanggahnya membela diri.
Malas berdebat lebih panjang lagi, kufokuskan pandanganku kembali ke layar laptop. Melanjutkan apa yang sebelumnya tadi kukerjakan. Namun, tiba-tiba peringatan baterai lemah membuatku gegabah.
Bergegas aku mengeluarkan charger laptop dari ransel, tapi segera menyimpannya kembali saat pemuda di depanku tadi tertawa berkali-kali.
“Listriknya padam, lho, ya. Kamu mau nyolok di mana?”
Aku benar-benar ingin segera mengenyahkan diri dari hadapan pemuda itu. Ingin secepatnya kabur. Tapi, hujan diluar masih sangat deras. Bahkan anginnya turut menggiring tempias. Membasahi jendela kaca. Membuat pandangan ke seberang jalan tidak bisa terbaca.
Mengurung niatku untuk beranjak pergi. Sekalipun pemuda itu terus menatapku tanpa henti, aku tidak punya tempat lain untuk menunggu Mas Rudi, selain di sini.
__ADS_1