
Sepanjang jalan menuju kantor redaksi, aku sibuk mengedarkan pandangan ke langit Jakarta. Tidak terlalu menanggapi cerita dan isi pembicaraan Mas Rudi di kursi kemudi. Aku hanya ingin memastikan bahwa apa yang dikatakan penyiar BMKG itu memang benar. Bahwa musim kemarau telah tiba. Bahwa tidak akan lagi berita banjir di Kota Jakarta maupun tanah longsor di berbagai daerah di Pulau Jawa.
Meskipun sebenarnya Tuhan bisa saja punya rencana yang berbeda.
Baru saja tiba di depan meja kerja, seruan Rayhan langsung membuatku penasaran.
“Kamu ke sini, deh, Al. Buruan.” perintah Rayhan tergesa-gesa.
Pemuda itu menggumamkan sesuatu, seperti membaca tulisan yang hanya bisa ditafsirkan oleh otaknya saja. Bolamatanya bergerak bersamaan. Ke kanan, ke kiri, bergantian.
Aku pun bergegas menghampiri meja kerjanya. Mengikuti pandangan pemuda itu yang tertuju pada layar komputer di depan kami. Sebuah artikel dari situs ternama memaparkan buku Rentang Rasa yang sudah kosong di pasaran. Habis terjual dalam kurun waktu kurang dari satu bulan.
“Gila. Serius. Ini duet mereka berdua. Beneran. Al.” gumam Rayhan tidak karuan.
Aku tersenyum lebar. Mendadak teringat pada janji yang dulu pernah Satya umbar.
“Saya bakal kasih kamu sesuatu kalo sampai buku itu laku.”
***************
Tidak kusangka, warna putih bisa memberi kesan Rustic yang sangat dalam untuk dekorasi ruangan. Satya sengaja mencat ulang dinding kamarku yang sebelumnya berwarna biru dengan warna putih cerah. Dia juga menambahkan rak-rak kayu untuk menempatkan buku-buku zaman kuliahku dulu. Frame-frame kuno yang awalnya menurutku biasa-biasa saja, sekarang membuatku tidak bisa mengedipkan mata.
Frame-frame itu berisi kutipan bijak dari para penulis terkenal dunia. Salah satunya kutipan dari Mark Twain yang ditulis dalam bahasa Indonesia.
Cara terbaik untuk menghibur dan membahagiakan diri adalah dengan mencoba untuk menghibur dan membahagiakan orang lain.
“Wow!” aku berdecak kagum. Kulirik Satya yang saat itu tersenyum menatapku. Pemuda itu berdiri di dekat lukisan mercusuar sembari menyimpan tangannya di saku celana.
“Saya nggak tahu mau ngomong apa.” ujarku tanpa mengalihkan mata dari frame-frame yang berisi kutipan bijak lainnya.
“Kamu suka?” tanya Satya sambil melangkahkan kakinya, menghampiriku.
Aku menatap pemuda itu sambil mengangguk setuju. Terus terang saja, aku sangat suka. Ini benar-benar di luar dugaan. Setiap sudut yang dipandang benar-benar menyejukkan hati. Tidak salah, mengapa Mas Rudi memilih Satya untuk mendesain rumah kami.
“Oh, ya, ada satu lagi. Tunggu bentar.” ujar Satya lalu bergegas keluar kamar.
Selang beberapa menit kemudian pemuda itu kembali. Dan aku langsung terpana begitu meihat apa yang dibawanya. Sebuah diorama Ariocarpus yang diselingi tunas cocor bebek berhias batu-batu kecil berwarna putih saling berjejalan. Dilengkapi sebuah rumah kecil dan action figure sepasang kekasih di antara rumput-rumput hijau pekarangan. Sebatang pohon trembesi membuat pemandangannya semakin asri.
Satya menempatkan diorama itu di dekat jendela kaca. Tepat di samping Ariocarpus yang dulu diberikannya padaku.
“Itu hadiah saya buat kamu.” ujarnya sambil tersenyum.
Aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Nyaris tidak percaya bahwa sekarang kamarku dipenuhi tanaman gurun itu.
“Saya nggak tahu kenapa kamu suka banget sama kaktus.” gumamku sambil menatap diorama buatan Satya. Memaknai isi ceritanya.
“Itu tanaman paling tangguh di dunia.” ujarnya ringan.
__ADS_1
Kutatap pemuda itu penasaran. “Tangguh?” tanyaku heran.
“Kaktus itu sabar. Nggak ngeluh sekalipun nunggu hujan bertahun-tahun.”
Aku mengerutkan kening. Menanggapi jawaban yang Satya berikan.
“Kamu ingat, waktu kaktus Mbak Aina sakit? Saya bilang tanahnya tergenang air, terus batangnya jadi busuk dan berlendir?”
Aku mengangguk ringan.
“Kaktus nggak butuh banyak air buat bisa hidup bahagia sama koloninya. Dia cuman minta sedikit kemurahan hati Tuhan untuk terus bisa bertahan.”
“Seistimewa itu?” tanyaku diringi senyum.
Satya mengiyakan. “Kalo kamu siram dia tiap hari, kamu pupuk tiap hari, nggak nyampe seminggu dia bakal mati.”
Itu rupanya fakta kaktus yang selama ini belum kuketahui.
“Pantes. Saya jarang banget liat Mbak Aina nyiram kaktus. Padahal dia sayang banget sama tanaman itu.”
“Nggak semua yang disayang itu harus diperlakukan dengan cara yang sama. Kalo kaktus itu kamu siram barengan sama bunga mawar, mawarnya pasti bakal bahagia. Tapi, apa yang kamu lakuin itu justru bikin kaktusnya menderita.”
Aku tidak mengerti ke arah mana Satya membawa pembicaraan ini. Pemuda itu menatapku lekat. Meski jarak kami tidak begitu dekat.
Dia meneruskan, “Sama kayak kaktus yang nggak butuh banyak air, kita juga nggak butuh banyak kebahagiaan yang ada di dunia. Kita cuman harus cari satu sumber kebahagiaan untuk membuat hidup yang kita punya jadi bahagia.”
Selama beberapa saat setelah itu, Satya menatapku. Dengan pandangan yang tidak biasa. Berbeda dari pandangan yang pernah dia berikan padaku sebelumnya.
“O-oh, ya, kamu mau minum sesuatu?” tawarku berupaya memecah suasana.
Pemuda itu tersentak. Lalu membuang pandangannya dari mataku detik itu juga.
Dia mengangguk setuju. “Boleh.”
“Tapi, di rumah saya nggak ada Latte.” ujarku seraya sambil berlalu.
“Tenang aja. Saya masih tahu diri, kali.” jawabnya dengan nada bercanda.
“Suka strawberry?” tawarku dari belakang daun pintu.
Satya mengangguk.
“Mau Yoghurt?”
Satya mengangguk sekali lagi. Membuatku bergegas menuruni anak tangga menuju pantry dapur. Menyiapkan dua hidangan istimewa untuk kami berdua.
Begitu membuka pintu kamar, kudapati Satya tengah melemaskan punggungnya di sandaran kursi. Dia mengamati langit sore lewat jendela kaca yang sengaja dia buka.
__ADS_1
Kami asyik menikmati strawberry yoghurt, sambil menikmati terpaan angin yang bergerak perlahan. Diiringi alunan Yesterday milik The Beatles yang sengaja kuputar dari piringan hitam. Menjadi satu lagu berulang yang terus kunyanyikan.
“Ternyata kamu norak juga.” ujar Satya dengan senyum mengejek.
Sudut bibirku terangkat. “Dari tadi kamu yang nyanyinya paling kenceng.”
“Tapi, bukan berarti saya suka lagu itu, kan?” balasnya tidak mau kalah.
Aku menatap Satya tidak sabaran. Heran mendengar apa yang dia katakan. “Terus ngapain kamu ikut nyanyi juga kalau nggak suka?”
Pemuda itu mengunyah strawberry terakhirnya, lalu menatapku sekilas. “Nemenin kamu biar nggak nyanyi sendirian. Supaya ada temennya.” sahut Satya, membuatku tertawa.
Bersama pemuda itu, aku memandang warna jingga yang membentang di atas langit. Matahari mulai bergerak menyeberangi lintasan. Bergegas pulang ke pelukan Tuhan. Kawanan burung yang membentuk formasi V menjadi titik-titik cantik di cakrawala. Kepakan sayap mereka bebas mengudara. Membelah siluet langit yang mulai berubah warna.
“Oh, ya, ini buat kamu.”
Mendadak aku langsung menoleh ke samping kanan. Kudapati sebuah kotak besar berwarna biru malam. Berhias pita putih di sudut kanannya.
“Ini apa?” tanyaku penasaran.
Satya mengangkat kedua bahunya sembarang. “Terima aja.”
Aku pun menuruti permintaannya. Kuamati kotak biru malam itu dengan seksama.
“Boleh dibuka sekarang?” tanyaku, meminta izin pada pemuda itu.
Kulihat Satya menelan ludah dengan susah payah.
“Nggak boleh, ya?” tanyaku ragu.
Dia terdiam sesaat. “Jangan buka hadiah itu di depan saya.”
Aku menatapnya heran. “Kenapa?”
“Buka aja nanti kalo saya udah pergi.”
Jawaban itu membuatku semakin penasaran. Sebenarnya hadiah macam apa yang dia berikan?
Dengan terburu-buru aku nekat membuka kotak kecil itu. Dan aku tidak bisa mengatakan apapun begitu melihat diriku sendiri. Aku kehilangan kata-kata saat mendapati sosokku terekam dalam jejak-jejak foto montase yang tersusun rapi.
Bingkai kecilnya menjadi fragmen tentang diriku. Aku yang mengikat rambut di dalam coffe shop. Aku yang memandang hujan lewat jendela kaca. Aku yang mengenakan celemek masak. Aku yang menatap ke sembarang arah di kedai Ice Cream Orion. Aku yang kebingungan di taman belakang. Dan aku lainnya yang tidak bisa kuhitung jumlahnya.
Aku mengangkat wajah, bergumam susah payah. “A-apa maksud semua ini, Satya?”
Satya terdiam mendengar apa yang kutanyakan. Wajahnya mendadak tidak bisa kuartikan. Dia memutar matanya, menatapku seakan mencari sesuatu. Bolamatanya menghujam pusat retinaku. Membuatku bisu. Membekukan akal sehatku saat pemuda itu menarik wajahku dengan kecepatan cahaya. Menempelkan bibirnya sebelum aku sempat memalingkan muka.
Untuk sekian detik lamanya kubiarkan Satya menekan bibirku. Pemuda itu mengecupnya berkali-kali. Menyisakan jejak-jejak strawberry. Menyapunya dengan sangat lembut, sama sekali tidak menuntut. Detik berlalu, hingga aku menyudahi ciuman pemuda itu. Melepas bibir tipisnya yang sempat membuatku terpaku.
__ADS_1