Aksara Rasa ( Untuk Rasa Yang Tidak Akan Sempurna )

Aksara Rasa ( Untuk Rasa Yang Tidak Akan Sempurna )
BAB DUA PULUH DUA


__ADS_3

Pernah dengar istilah Petrichor?


Tempias hujan menghujam kakiku yang telanjang. Percikan airnya jatuh tidak beraturan. Memenuhi kubangan air di tepi jalan. Menahan langkahku untuk berlari. Niatku urung saat kilatan cahaya memecah kelabu di atas langit. Disusul bunyi guntur yang menggema di udara. Menyadarkanku bahwa musim hujan masih betah berlama-lama.


Perlahan pegawai kantor bergantian mengucapkan salam perpisahan. Mereka meninggalkanku mematung sendirian. Sementara aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Rayhan pulang duluan karena harus mengantar ibunya kembali ke Yogya. Sementara Mas Rudi masih menyelesaikan laporan keuangannya yang minggu lalu sempat tertunda.


Belum sempat aku merogoh handphone untuk menelpon taksi, sebuah Mercedes Benz keluaran tahun 60-an menepi di depanku. Dari kaca mobilnya yang sedikit berembun, kulihat seorang pemuda mengenakan kemeja putih sedang mengarahkan pandangannya kepadaku.


“Ngapain di situ? Cepetan masuk!” seru Satya.


Aku melongo tidak percaya. Pemuda itu rupanya.


“Mau Ristretto nggak? Kalo nggak mau saya tinggal, nih! Satu. Dua. Tiga. Empat.“


Kubiarkan Satya menghitung sesuka hatinya.


“Dua puluh satu. Dua puluh dua. Dua puluh tiga.”


Hingga sampai di hitungan tiga puluh tiga, pertahanakanku runtuh dan aku akhirnya menyerah juga. Dengan terpaksa aku membuka pintu masuk di samping kemudi. Begitu melemaskan punggung di sampingnya, Satya langsung memberikan satu paper cup Ristretto untukku. Asapnya masih mengepul, masih hangat.


“Tinggal masuk aja, pake mikir segala.” gerutunya saat menghidupkan mesin mobil.


Aku menyesap Ristretto itu sesaat. Merasakan manisnya yang pekat. Menikmati lelehannya yang begitu lekat. “Saya tadi mikir-mikir dulu. Takut kamunya nagih imbalan.”


“Kamu pikir gratisan?” aku nyaris memuntahkan Ristretto itu dalam paper cup.


Aku mendengus kesal. Kudapati senyum mengejek di balik bibirnya yang tipis.


“Saya nggak nerima rupiah lho, ya.” ujarnya bercanda.


Dan aku hanya bisa menghembuskan napas pasrah. Terlebih tawaran Ristretto itu ternyata berujung pada kesepakatan kami untuk mengerjakan naskah Ardy di rumah Satya.


Di sepanjang jalan yang masih diguyur hujan, Aku dan Satya didera kebisuan. Kami hanya sibuk pada keheningan yang masing-masing kami ciptakan. Pemuda itu fokus mengemudi. Sementara aku membuang muka ke arah kaca mobil yang berembun. Sesekali mengusapnya sesaat. Lalu kembali membiarkannya basah. Kemudian mengusapnya lagi. Dan aku mengulang kegiatan monoton itu berkali-kali.


“Kayak nggak pernah naik mobil antik aja.” kata Satya mengejek.


Aku tidak menghiraukan apa yang dia katakan. Pandanganku tetap mengarah pada embun-embun yang berhamburan. Menatap butiran hujan yang berjatuhan.

__ADS_1


“Kamu marah?” tanya Satya pelan. Terdengar hati-hati.


Dan aku sama sekali tidak menanggapi.


Detik berlalu sangat perlahan. Kupikir Relativitas Einstein sedang berlaku sekarang. Semua terasa lambat. Ruang terasa sesak. Seolah waktu ingin mendesak, tapi tidak punya tempat untuk meledak. Nyaris saja kebosanan membuat alam sadarku terlelap. Namun, jantungku berdegup tidak karuan saat tubuhku terdorong ke depan. Bersamaan dengan itu bunyi gesekan ban mobil dan aspal jalanan berdecit tidak tertahan.


Aku baru membuka mulut untuk mencerca tindakan Satya barusan. Tapi, dia terlebih dulu mengambil kesempatan itu.


“Harus kayak gini dulu supaya kamu bicara?” gerutu Satya seraya menatapku heran.


Aku balas menatapnya tajam. “Emang saya harus jawab semua pertanyaan kamu?”


Satya menghembuskan napas panjang seraya meneruskan perjalanan. Menyusuri jalan beraspal yang mengarah ke kompleks perumahan. Di kanan kiri jalan berjejer pohon-pohon rindang. Pagar-pagar besi menutupi bangunan bertingkat di dalamnya. Sepintas, kudapati cerobong asap di atas atap. Mengingatkanku pada ciri khas tempat tinggal masyarkat Eropa. Serupa. Tapi, tidak sepenuhnya sama dengan yang kini kulihat di depan mata.


Hujan sudah reda. Bersamaan dengan itu kami tiba di depan sebuah rumah berwarna putih cerah. Jendela kaca berbentuk simetris menghiasi sekeliling dinding berwarna cream. Terasnya kecil, tapi penuh sesak oleh pot-pot bunga. Sebagian lagi ada yang menjalar bebas di sekitar batu bata. Dua kursi santai ditempatkan di dekat pintu masuk. Jalan setapak dari tanah pekarangan menuju rumah, diselingi rosemary dan bunga matahari. Bukan hanya sekedar memuji, tapi rumah ini benar-benar asri.


Aku membiarkan Satya keluar terlebih dulu. Kulihat pemuda itu menarik napas panjang. Dia menghirup udara dalam-dalam. Seperti menikmati sesuatu yang jarang terjadi.


“Satya.” ujarku saat berdiri di depan mobil. Aku heran melihat apa yang dia lakukan.


Satya memejamkan mata sambil berkata, “Kamu nggak ngerasain sesuatu?”


“Satya!” seruku untuk kali kedua. Memaksa pemuda itu membuka mata.


Dia berdecak kesal. “Kamu nggak nyium aroma apa, gitu?”


“Apa?” tanyaku tidak mengerti.


Satya mendekat. Langkahnya berhenti tepat di depanku. Sambil menyembunyikan tangan di saku celana, dia berkata, “Petrichor.”


**************


Sambil menunggu Mas Rudi pulang, aku merapikan ruang makan yang nampak berantakan karena renovasi hari ini. Awalnya kupikir rumah kami akan dirombak, baru kemudian dibangun ulang. Tapi, ternyata rencana Satya tidak demikian. Kata Mbak Gita, Satya hanya akan menambahkan sentuhan klasik tanpa harus menghancurkan desain sebelumnya. Jadi, bisa dibilang renovasi yang dilakukan hanya renovasi kecil-kecilan saja.


Mbak Gita bilang, mungkin hanya butuh sepuluh atau paling lambat dua minggu lagi untuk merampungkannya. Hanya sisa teras, pekarangan, taman belakang, dan kamarku saja yang belum diselesaikan. Selebihnya tinggal menempatkan beberapa properti tambahan untuk menambahkan kesan Rustic agar semakin terlihat elegan.


Sibuk membersihkan pantry dapur, handphoneku di atas meja makan bergetar.

__ADS_1


“Hallo.” sapaku hangat begitu menjawab panggilan dari Arfian.


Sedetik kemudian telingaku menangkap gelombang suaranya. “Lagi ngapain?”


“Beres-beres abis renovasi.” ujarku sambil melemaskan punggung di sandaran kursi.


“Al, kayaknya saya nggak bisa ikut ngopi-ngopi bareng kalian, deh. Maaf, ya.”


Aku menelan ludah berkali-kali. Tanpa harus dijelaskan sekalipun, aku sudah tahu alasannya. Arfian tentu tahu bahwa aku mengerti hal itu.


“Iya, iya, nggak apa-apa, Fian. Lagian, kan, kamu juga harus latihan buat-“


“Maaf, ya, saya ngecewain kamu.”


“Idih, nggak lagi. Santai aja, Fian. Saya ngerti, kok. Lagian kan, PBSI punya harapan besar sama kamu.”


“Tapi, saya nggak bisa janjiin apa-apa buat mereka.”


“Kenapa harus janji? Buktiin aja. Saya yakin kamu pasti bisa.” ujarku sambil melempar pandangan ke arah langit malam yang kesepian.


“Saya udah tahu kamu pasti bakal bilang kayak gitu.” balas Arfian ringan.


Aku berani jamin, dia sedang tersenyum lebar sekarang.


“Harusnya kamu tulis ucapan saya itu di dinding kamar asrama kamu.”


“Buat ngingetin saya biar terus juara?”


“Saya, kan nggak bisa selalu nonton pertandingan kamu. Jadi, ingat aja kata-kata itu.”


“Kayaknya saya harus jual medali saya buat beliin kamu tiket penerbangan.”


“Idih jangan dijual, Fian. Lagian kalo kamu juara, medalinya, kan buat saya.” candaku menanggapi ide gilanya.


Kutangkap tawa di seberang sana.“Karena itu emas semua, jadiin aja buat mas kawin kita. Gimana?”


Aku tertawa sambil menggelengkan kepala. Lama sekali rasanya aku tidak mendengar guyonan seperti itu dari Arfian.

__ADS_1


“Al, saya tutup dulu, ya. Pelatih udah nyuruh ngumpul di lapangan. Titip salam buat Abas dan Rayhan. Bilang saya bakal traktir mereka kapan-kapan.”


Aku hanya bisa membisu saat Arfian mengakhiri pembicaraan kami. Dia bahkan menutup panggilan sebelum aku sempat memberi jawaban. Dan aku tidak ingin berdusta bahwa kabarnya barusan benar-benar membuatku kecewa. Ditambah lagi aku sudah terlanjur menyetujui permintaan Rayhan dan Abas untuk mengajak Arfian minum kopi bersama.


__ADS_2