Aksara Rasa ( Untuk Rasa Yang Tidak Akan Sempurna )

Aksara Rasa ( Untuk Rasa Yang Tidak Akan Sempurna )
BAB Delapan Belas


__ADS_3

Arfian melaju ke babak perdepalan final.


Aku hanya bisa tersenyum saat Arfian menelpon dan memberi kabar tentang hal itu. Masih kudengar deru nafasnya yang memburu. Semangatnya masih menggebu-gebu. Dia langsung menghubungiku sesaat setelah selesai pertandingan.


Bukan tanpa alasan mengapa Arfian berjuang mati-matian untuk meraih gelar juara di ajang itu. Tahun kemarin dia gagal, penampilannya dinilai buruk dan bahkan dicap berantakan. Dia angkat koper setelah gugur di babak penyisihan. Sampai-sampai pelatihnya mengeluarkan peringatan. Sebagai pemain unggulan, Arfian diharapkan terus bertahan. Setidaknya hingga babak semi final seperti yang telah ditargetkan.


Adanya kejuaraan dunia yang sebentar lagi akan digelar di Skotlandia, juga menuntut Arfian mengumpulkan kemenangan sebanyak-banyaknya. Mau tidak mau, dia harus meraih gelar di Dubai Open tahun ini. Karena jika gagal, maka poin yang dimilikinya sekarang tidak akan cukup menjadi tiket keberangkatan. Bahkan jika Arfian gagal melaju ke quarter final, dia tidak akan punya kesempatan untuk ikut kualifikasi pada babak penyisihan.


Dan malam ini, untuk kesekian kalinya, aku kembali membolak-balik medali emas pemberian Arfian. Meraba ukirannya perlahan. Ingatanku melayang pada ruang dan waktu di masa lalu, mengingat raut wajah Arfian saat memberikan benda itu padaku.


*****


“*Nih, ambil. Jangan dibuang, apalagi dijual.”


Aku menengadah untuk melihat sosok Arfian. Kutatap dia dengan dua alis terangkat tinggi; heran.


“Saya nggak beneran minta, kok, Fian.” sahutku tersenyum hangat.


Arfian menggeleng cepat. Dia berdecak kecil.


“Udah, simpan aja baik-baik.” ujarnya dengan ekspresi wajah tidak karuan. Senyumnya tidak bisa kuartikan. Gerakan bolamatanya juga tidak mampu kudefinisikan.


“Kamu keberatan, kan? Lagian saya cuman becanda aja.” tolakku halus.


“Saya nggak keberatan, kok. Cuman nggak enak aja.” balasnya, membuatku memicingkan mata.


Arfian tersenyum sumringah. “Masa ngasih kamu medali juara tingkat Asia. Harusnya itu saya kasih kamu medali emas tingkat dunia. Baru, deh, saya boleh bangga*.”


*****


Kusadari airmataku bergulir perlahan. Jatuh setelah sedari tadi kutahan. Aku mengutuk rasa yang selama ini kusimpan untuk Arfian. Rasa yang tidak pernah berubah meski kami telah berpisah. Rasa yang tidak punya nama, tapi selalu ada.


Aku ingin bertanya pada Tuhan, mengapa bersama Arfian aku bisa bahagia dan terluka dalam waktu bersamaan. Apa mungkin keegoisanku selama ini yang justru menjadi akar permasalahan kami? Apa sekarang sudah saatnya kami untuk kembali?


*****


Ada masalah kecil yang akan berubah menjadi bencana besar, bagi orang-orang yang tidak punya pengetahuan.


Begitu menutup panggilan dari Mbak Aina, tubuhku langsung tegang seketika. Baru saja tiba di pintu halaman belakang, mataku terbelelak, menolak untuk percaya bahwa kaktus-kaktus kesayangan kakak iparku itu sudah dalam keadaan tidak bernyawa.

__ADS_1


Bergegas aku mengamati kesalahan apa yang sudah kuperbuat. Tunas-tunas yang tempo hari berwarna hijau, kini musnah tanpa jejak. Hanya tersisa batangnya yang nampak busuk dan kisut. Bahkan dari sebelas pot kaktus yang berjejer di atas rak, tidak ada satu pun yang punya ciri-ciri kehidupan. Semua dari mereka sudah kehilangan harapan. Begitu pula denganku yang menyadari bahwa sebentar lagi nasibku akan dipertaruhkan, antara jurang atau kandang macan.


“Bi, Ada Om Satya di depan!” teriakan Hanif membuat ubun-ubunku nyaris meledak.


Aku berbalik arah. Sedikit berdecak kesal. “Ngapain dia ke sini?”


Hanif baru membuka mulut untuk menjawab pertanyaanku, namun tertahan saat Alif dan Satya sudah berdiri di sampingnya.


“Bi Alya, rumah kita mau dicat warna apa? Tadi bapak nelpon lho, Bi. Terus kata bapak terserah Bi Alya maunya warna apa. Cuman Ibu bilang warna putih aja. Bibi suka, nggak?” Alif berlari menghampiriku sambil menceritakan isi pembicaraannya dengan Mas Rudi tadi. Tapi, aku tidak punya jawaban apa pun karena konsentrasiku terbagi-bagi.


“Alif tau nggak biasanya ibu beli tanaman kaktus di mana?” tanyaku menatap bocah itu penuh harapan.


“Uhm, di mana, ya. Alif nggak tau, Bi.” sahut Alif sembari menggeleng pelan.


“Hanif, ibu beli kaktus di toko mana?!” tanpa mendengar apa yang hendak kukatakan, Alif justru berteriak lantang. Menyeru saudara kembarnya yang masih berdiri di teras halaman. Membuat Hanif menghampiri kami dengan langkah lebar. Terkesan terburu-buru.


Begitu tiba di depanku, Hanif menatap kaktus-kaktus itu tanpa suara. Mulutnya menganga dan detik itu juga dia memandang saudara kembarnya dengan tatapan tajam.


“Tuh, kan! Gara-gara kamu, semua kaktus ibu jadi mati.” ujar Hanif menyalahkan.


“Kok, gara-gara aku? Kamu suka banget nyalahin orang ya, Hanif.”


“Ya udah! Salahin aja aku! Bilang aja sama ibu kalo semua ini gara-gara aku!”


Aku melerai perdebatan yang dibuat oleh mereka berdua. Mencoba menenangkan Alif yang saat itu hampir menangis. Menasehati Hanif yang dibalut rasa kesal berkepanjangan.


“Udah, udah. Sekarang kita cari toko yang jual tanaman kaktus, ya. Hm?”


“Tapi, Ibu nggak pernah beli kaktus, Bi. Semua itu kiriman dari Bi Hana.”


Detik itu juga aku mengerjap tidak percaya. Bi Hana? Sahabat karib Mbak Aina yang tinggal di Amerika? Semua kaktus mati di depanku ini berasal dari sana? Bagaimana bisa?


Menyadari bahwa kaktus-kaktus itu bukan dibeli toko tanaman, membuatku dihantui rasa bersalah. Aku hanya bisa menatap Hanif bingung, memandang Alif bimbang. Mereka balas memandangku, menunggu jawaban dan langkah apa yang kemudian akan kulakukan.


Karena panik dan tidak tahu harus berbuat apa, aku sampai tidak menyadari bahwa Satya juga berdiri di sekitar pohon trembesi. Entah sejak kapan pemuda itu juga ada di sini.


“Kaktusnya nggak mati, kok. Cuman lagi sakit aja.” katanya sambil mengamati batang kaktus di sampingku dengan seksama.


Satya memberi perlawanan ketika aku menatapnya penuh curiga. “Serius. Mereka cuman meriang. Tanahnya, kan tergenang air, jadi batangnya busuk dan berlendir.”

__ADS_1


Kupikir aku sedang mendengarkan penjelasan dari seorang crew National Geographic yang meliput kehidupan kaktus gurun di tengah ibu kota.


“Kamu nggak percaya?” pemuda itu memandang ke arahku sambil tersenyum hangat.


Menyaingi sinar mentari pagi yang datang kembali setelah beberapa hari sibuk berhibernasi.


*****


Pernah dengar istilah diorama?


Terus terang, aku iri setengah mati saat mengetahui Satya punya keahlian khusus dalam hal merawat tanaman kaktus. Apalagi dia terlihat sangat cekatan dan telaten. Tangannya nampak terlatih. Dia tidak kesulitan saat harus menangani kaktus itu seorang diri. Bahkan aku, Hanif, dan Alif hanya duduk-duduk santai di teras halaman belakang. Pemuda itu bilang, dia akan menyelesaikan masalah ini tanpa campur tangan dari kami.


Begitu mendengar kaktus Mbak Aina bisa diselamatkan, Hanif dan Alif bergegas ikut Satya ke toko tanaman. Mereka sengaja membeli media tanam yang bersifat pororous. Entah apa itu pororous. Aku ingin tahu, tapi tidak ingin bertanya pada Satya. Enggan saja.


“Hanif! Alif!” seruan Satya sontak membuat dua keponakanku bangkit. Mereka bergegas menghampiri pemuda itu. Berlari ke arahnya dengan rona bahagia.


Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Tapi, dari kejauhan kulihat Hanif dan Alif mengangguk setuju mendengar apa yang Satya ucapkan. Dua keponakanku seolah tunduk pada apa yang pemuda itu sampaikan.


Apa Satya memang punya keahlian lain selain mengurus tanaman kaktus? Seperti bisa memperbaiki hubungan sepasang saudara kembar, misalnya?


“Bibi!” kali ini seruan Alif membuatku bangkit. Bocah itu memanggil namaku sambil berjingkrak-jingkrak kegirangan.


“Kenapa?” tanyaku datar.


“Bi, lihat, deh.” ujar Hanif seraya memandang Satya yang duduk santai di bawah pohon trembesi.


Kulihat tangan pemuda itu masih berbungkus sarung kebun. Lengan kemejanya disisihkan. Peluh menjalar membasahi pelipisnya. Membuat dia nampak berantakan. Tapi, aku tidak bohong untuk mengatakan bahwa saat itu juga Satya terlihat sangat bersahabat. Pemuda itu menatapku sambil tersenyum hangat.


Detik berikutnya aku dibuat tercengang. Ada pemandangan menawan di atas pot bunga besar yang tadi sengaja dibeli Satya. Seperti ada suatu cerita, meski sebenarnya begitu sederhana. Anak-anak kaktus yang masih bisa bertahan kini punya kehidupan baru. Mereka berkumpul dalam satu pot besar. Dikelilingi tanah gembur dan beberapa kerikil kecil. Ditemani dua bibit cocor bebek dan sepucuk sansevierial. Dihiasi miniatur delman kepunyaan Hanif serta beberapa action figure penunggang kuda milik Alif.


“Dioramanya nggak dibawa pulang, kan, Om?” tanya Hanif terdengar ragu.


Satya menggeleng. Pemuda itu sedikit menunduk. Menyamakan tinggi tubuhnya dengan postur seorang bocah. “Dioramanya, kan buat kalian. Rawat baik-baik, ya.”


“Diorama?” gumamku tidak mengerti.


“Itu namanya diorama.” sahut Satya diiringi pandangannya yang mengarah pada pot besar di tangan Alif.


“Ohhh.” sahutku sambil mengangguk-angguk.

__ADS_1


“Kenapa? Kamu mau juga?” tanya Satya ramah dengan senyum sumringah.


__ADS_2