Aksara Rasa ( Untuk Rasa Yang Tidak Akan Sempurna )

Aksara Rasa ( Untuk Rasa Yang Tidak Akan Sempurna )
BAB Lima


__ADS_3

Hubungan macam apa yang terjalin antara penulis dan seorang editor?


Salah seorang pengajar pernah berkata, “Tulisan itu bukan hanya sekedar dikatakan, bukan hanya dibacakan. Tetapi juga harus mampu diperlihatkan.”


Dan orang pertama yang akan melihat hasil tulisanmu adalah editormu.


Saat pertama kali mengedit sebuah naskah, aku seperti berada di ruangan sempit yang lembap. Tanpa jendela dan kedap suara. Ingin menyerah tapi aku takut kalah. Ingin kabur tapi tidak ada jalan keluar. Ingin berteriak tapi tidak ada medium penghantar.


Sebuah naskah yang ditulis oleh seorang penulis ternama mampir di meja editor. Aku tahu penulis itu, novel fiksi pertamanya sukses besar di pasaran bahkan menjadi bestseller di tengah ketatnya persaingan.


Perlu waktu empat bulan dan re-read sampai dua kali untuk memahami maksud dan isi tulisannya. Namun, aku tetap tidak menemukan kejelesan tentang apa yang ingin dia sampaikan. Meski aku telah menghubungi dan meminta penulis itu memperbaiki bagian naskahnya yang terkesan berantakan, namun hasilnya tetap tidak memuaskan.


Akhirnya dengan terpaksa aku menolak untuk menerbitkan. Aku bilang padanya bahwa naskah dengan judul Miami itu lebih baik dia simpan. Kukatakan padanya jika naskah itu sampai diterbitkan, maka karirnya bisa jadi berantakan. Tapi, aku justru mendapat penolakan. Saran yang kuberikan sengaja tidak dihiraukan. Dia ngotot untuk tetap minta diterbitkan dan berani menjamin kesuksesan Miami dengan reputasi yang dia miliki.


Karena bingung harus bagaimana lagi, akhirnya kuminta Mas Zifran turun tangan. Kami berdua berinisiatif untuk menghubungi dan menjelaskan kekurangan naskah Miami pada penulisnya lewat sambungan telepon kantor. Dan aku tidak tahu apa yang kemudian terjadi begitu Mas Zifran angkat bicara. Yang pasti naskah itu tidak kami kembalikan, tidak juga kami terbitkan. Naskah itu kami simpan. Kami jadikan arsip pembelajaran.


Sembari menunggu Mas Rudi menjemput di coffee shop seberang kantor, aku melanjutkan naskah Cinnamon yang sudah masuk bab tiga. Sambil menikmati secangkir Ristretto, aku hanyut dalam kisah Ardy yang hidup dengan rasa kehilangan berkepanjangan. Ayahnya yang juga menderita Otosklerosis menyerah di usia empat puluh tahun. Membuat ibunya menjadi sosok penyendiri dan sibuk menutup diri. Sementara kakak laki-lakinya meninggalkan Indonesia dan memilih tinggal di Amerika. Menyisakan Ardy sebagai satu-satunya anggota keluarga yang harus bertahan menghadapi kenyataan.


“Aku tidak tahu bahwa kehilangan akan begitu sangat menyakitkan. Meski indera pendengaranku hampir mati fungsi, kuharap Kak Arya dan Mama tidak meninggalkanku sendiri. Ayolah, life must go on with or without someone. Kehilangan tidak serta membuat hidup berakhir, bukan? Dia akan melahirkan ketegaran. Ketegaran akan melahirkan keikhlasan. Dan keikhlasan akan melahirkan kebahagiaan. Cobalah untuk sesekali mengintip akhir dari suatu permulaan, meski itu menyakitkan.”


Saat jemariku ingin meraih cangkir Ristretto, sepersekian detik sebelum itu getaran handphone di saku ransel mengalihkan konsentrasiku.


“Hallo, Mas?” sapaku saat mengangkat panggilan.


“Al, Mas di depan kantor. Kamu di coffee shop, kan?”


Aku menoleh ke kaca jendela untuk mencari sosok Mas Rudi. Benar saja, dia berdiri di seberang jalan sambil melambaikan tangan kanan.


“Mas ngapain di sana?” tanyaku heran.


“Kok, kamu nanya Mas ngapain di sini. Kamu tuh yang ngapain di sana? Ayo nyebrang. Buruan, Mas tungguin.” celotehnya panjang lebar.


“Kok, gitu? Mas muter dong.” tuntutku kesal.


“Muternya jauh, Al. Pokoknya kamu yang ke sini atau nggak Mas tinggal kamu pergi.” jelasnya dalam satu tarikan napas lalu mengakhiri panggilan.


Dari kaca jendela, aku melihatnya berdiri dengan melipat tangan di dada. Senyumnya melebar saat aku menatapnya tajam. Membuat kekesalanku perlahan naik dan memuncak di ubun-ubun. Demi kesetiaan janjiku pada permintaan bapak, aku rela menuruti keinginan gila Mas Rudi kali ini. Dengan terpaksa aku menutup naskah Cinnamon dan melangkah malas ke luar coffee shop.


Di samping kananku berdiri seorang pemuda yang nampaknya juga ingin menyeberang. Dia bersiap meski lampu merah untuk pejalan kaki masih menyala selama dua puluh tujuh detik lagi. Mobil, kendaraan bermotor, bajaj, dan bus berlalu di depan kami dengan kecepatan tinggi.


Dua belas detik lagi. Aku berdiri di tengah trotoar

__ADS_1


Sepuluh detik lagi. Langkahku membawaku ke bibir trotoar.Mobil dan bus melaju dari kejauhan tiga ratus meter.


Tujuh detik lagi. Pemuda di samping kananku mulai melangkahkan kaki kanannya, menuruni bibir trotoar.


Lima detik lagi.


“Hei! Awas!” seruku saat melihat mobil dan bus itu melaju semakin cepat.


Empat detik lagi.


“Hei!!” teriakku, menghentikan kaki kirinya yang bersiap mengambil langkah.


Tiga detik lagi.


“Kamu budek atau mau bunuh diri?!!” bentakku setelah menarik lengan pemuda itu.


Kurasakan tangannya bergetar dan wajahnya dilanda kebingungan. Bolamatanya menari ke sana ke mari. Dia menatapku dan kendaraan yang melaju di depan kami bergantian. Dia seperti tengah mengatakan sesuatu, namun tidak ada satupun kata yang bisa kudengar dari mulutnya.


“Kalo mau bunuh diri jangan di depan saya! Saya nggak mau punya urusan sama polisi!” ketusku lalu menghempaskan lengan pemuda itu.


Begitu lampu hijau untuk pejalan kaki menyala, aku segera meninggalkannya pergi. Menyeberang jalan dengan perasaan tidak karuan karena harus menyaksikan kejadian tadi.


Tanpa menghiraukan pertanyaannya, aku langsung masuk mobil dan melemaskan tubuh di sandaran kursi penumpang.


***


Pernah dengar istilah senasib-sepenanggungan?


Dulu, saat belajar ilmu sejarah di bangku sekolah, guruku mengatakan bahwa perasaan senasib dan sepenanggungan itu jadi satu dari banyak alasan mengapa rakyat kita bersatu, berjuang mati-matian demi merebut kemerdekaan.


Hidup dengan nasib yang sama serta menanggung beban yang serupa membuat orang-orang punya ikatan. Empati dan tenggang rasa menjadi tali penyambungnya.


Kupikir aku dan Rayhan juga demikian. Kendati dia memang teledor dan suka mengulur-ulur waktu dalam menyelesaikan pekerjaan, aku turut merasa bersalah karena membiarkannya bertindak seperti itu.


Sebagai teman, ada saat di mana kita tidak boleh mengiyakan semua yang ingin teman kita lakaukan. Sekalipun apa yang ingin dilakukannya itu tidak merugikan banyak orang.


Naskah Opini Hati yang harusnya dicetak hari ini ternyata masih harus diperbaiki. Membuat Mas Zifran naik darah tepat jam delapan pagi. Omelan panjang lebarnya menjadi satu di antara banyak suara yang tidak kusuka. Seisi ruangan diam tanpa kata saat Mas Zifran menyerang Rayhan begitu pemuda itu tiba di meja kerja.


Entah sudah berapa lama ceramah Mas Zifran menggema. Yang pasti tidak ada satu pun hal yang bisa kulakukan. Naskah opini rubrik, naskah liputan, dan naskah Cinnamon hanya membisu di atas meja. Aku sudah ingin memulai, tapi konsentrasiku buyar karena melihat rekan seperjuanganku sedang dalam masalah besar.


“Saya minta kamu pindah ke Jakarta karena saya tahu kapasitas kamu. Tolong, Ray, jangan bikin saya kecewa.” ujar Mas Zifran, memohon dengan ekspresi kesalnya.

__ADS_1


Setelah itu dia beranjak ke luar ruangan, membiarkan Rayhan membisu sendirian.


“Udah nggak apa-apa.” kataku saat menghampiri Rayhan. Kusuguhkan dia secangkir teh hangat yang sengaja kubuat. Aku tahu, itu minuman setianya saat sedang menderita.


“Emang salah saya, sih, Al. Tapi, saya nggak nyangka Mas Zifran bakal semarah itu.” balasnya sambil berusaha tersenyum.


“Saya nyari teman saya semalaman.” ujarnya setelah menyesap teh hangat buatanku.


Aku tahu, padaku dia ingin menjelaskan alasan yang tidak bisa dia sampaikan pada Mas Zifran. Aku pun menarik office chair-ku dan duduk di sampingnya. Memasang telinga, menyimak ceritanya dengan seksama.


“Dia kabur dari rumah sakit.” sambung Rayhan.


“Teman yang saya jenguk waktu itu.” dia memperjelas ceritanya.


“Saya nggak bisa biarin dia sendirian, Al.” suaranya benar-benar terdengar miris.


“Perempuan yang beruntung.” gumamku singkat. Mencoba menghiburnya, membuat Rayhan sedikit tertawa.


“Bukan, Al. Kalo perempuan, sih, saya nggak bakal ambil pusing kayak gini. Biar kata Mas Zifran marahin saya ratusan kali, saya nggak bakal perduli.”


Aku mengangkat alis, menunggu lanjutan kisahnya.


“Sahabat karib saya. Lagi sakit tapi nggak mau dirawat.”


“Kamu ngebujuk dia biar dia mau dirawat?” tanyaku ringan, dijawab Rayhan dengan anggukan.


“Berarti tugas kamu udah selesai.” kataku santai.


“Nggak ada tugas saya yang selesai selama dia masih jadi sahabat saya.”


Aku menghela napas panjang. “Tapi, kan, kamu udah lakuin apa yang emang harus kamu lakuin. Sisanya ya, tinggal gimana kemauan sahabat kamu.”


“Kita hanya bisa membantu seseorang yang memang membutuhkan bantuan, Ray.”


Rayhan seperti tidak berniat untuk memikirkan saranku.


“Udah, ah. Saya mau lanjutin naskah saya dulu.” ujarku seraya menepuk pundak kanannya.


Pemuda itu tersenyum lebar. “Makasih untuk teh manisnya. Lain kali kalo masukin gula kira-kira.”


Kan, sudah kubilang. Manis itu identik dengan bahagia.

__ADS_1


__ADS_2