Aksara Rasa ( Untuk Rasa Yang Tidak Akan Sempurna )

Aksara Rasa ( Untuk Rasa Yang Tidak Akan Sempurna )
BAB DUA PULUH TIGA


__ADS_3

Sesuai dengan janji yang telah kami buat, Satya akan mengirimkan hasil tulisannya sebelum jam dua belas malam. Dari hasil kesepakatan dan diskusi kami sore tadi, dia bersedia menambahkan beberapa bagian untuk menyempurnakan naskah itu.


Sibuk menatap layar komputer, intuisi mengarahkan bola mataku ke sudut kamar. Mengamati kaktus mini yang jaraknya sedikit berjauhan dengan diorama milik Hanif dan Alif. Aku baru tahu ternyata kaktus bisa berbunga. Sejak dulu otakku telah punya presepsi, bahwa kaktus selalu identik dengan duri. Namun, praduga itu akhirnya terbantahkan. Terbukti dengan kaktus pemberian Satya yang sama sekali tidak punya duri di batangnya.


Pemuda itu memberi sebuah kaktus kecil sebagai hadiah kunjunganku ke rumahnya. Sebuah kaktus kecil dengan daun yang melengkung, bahkan sebagian ada yang meruncing. Bunganya yang berwarna merah muda memberi pertanda bahwa tanaman gurun itu punya kecantikan yang berbeda.


Ingatanku mencoba memutar kata untuk melafalkan nama kaktus itu dengan benar.


“Ario? Caprus? Arirus? Aricarus? Ariocarus?” aku bergumam tidak karuan. Menebak asal-asalan.


Hingga getaran handpone di atas ranjang membuat ingatanku buyar.


“Hallo? Udah selesai?” sapaku pada Satya.


“Cek dulu, deh. Udah bagus apa belum.”


Aku membuka inbox email, lalu mengunduh hasil tulisan Satya.


“Udah belum?” tanya pemuda itu tidak sabaran.


“Baru juga diunduh.” sahutku sedikit kesal.


“Ya udah, ntar bilang aja salahnya di mana. Biar nanti-“


“Satya! Satya!” selaku, membuat pemuda itu berhenti bicara.


“Kenapa?”


Aku menggigit bibir. Sedikit ragu untuk bertanya. “Anu, namanya? Na-”


“Namanya? Document Ardy.”


“B-bukan, bukan. Bukan itu. Tapi, yang tadi sore.”


“Petrichor.”


“Bukan juga. Itu kaktus yang kamu kasih saya, namanya apa? Saya lupa.”


“Ariocarpus.”


Aku memukul jidat. Tebakanku hampir saja benar.


“Ada lagi?” tanya Satya terdengar menuntut.


“Udah itu aja.” balasku singkat.


“Ya udah.”

__ADS_1


“Ya udah matiin aja telponnya.”


Kudengar pemuda itu berdecak. “Ngeselin banget, sih.”


“Idih, sewot lagi.”


“Kamu, tuh!”


“Kenapa?”


“Udah, ah nggak apa-apa.”


“Ya udah.”


“Ya udah.”


Aku memutus panggilan Satya. Pemuda itu memulai perdebatan yang berulang-ulang. Topiknya singkat, tidak begitu berat, tapi caranya bicara membuatku kesal setengah mati.


Saat memasang kacamata untuk mulai membaca kiriman Satya, handphoneku bergetar. Sebaris pesan singkat dari Satya membuatku memicingkan mata.


“Kenapa? Kamu suka?”


Aku berniat untuk tidak menghiraukan pertanyaannya. Namun, ternyata aku tidak bisa. Pada akhirnya aku membalas pesan itu juga.


“Sedikit.” tulisku seadanya.


Sekali lagi. Handphoneku kembali bergetar.


Aku tertawa tidak percaya. Ancaman macam apa yang baru saja diberikan Satya?


********************


From : satyaryaharianja@gmail.com


To : alyazkialya@gmail.com


Sebernarnya saya terpaksa nambahin bagian ini. Taroh di epilog, ya.


*Karena saya percaya, setiap dari kita akan pulang. Hanya saja saya sedikit terlambat menyadari, bahwa setiap dari kita bisa pulang kapan saja.


Maaf, karena telah membuat kamu menunggu terlalu lama.


Maaf, karena tidak bisa hadir pada kesempatan terakhir di mana kita bisa bertatap muka.


Maaf, karena tidak bisa ada di samping kamu saat kamu membutuhkan saya.


Maaf, karena saya gagal menjadi sahabat dan saudara terbaik kamu di dunia.

__ADS_1


Maaf, karena selama ini hanya maaf yang bisa saya ucapkan.


Terlebih saat kamu membutuhkan bantuan.


Dari saya, yang selalu berdo’a agar kamu senantiasa bahagia*.


******************


Bahagia itu pilihan atau ketetapan?


Percaya atau tidak, hidup itu akan selalu tentang pilihan. Tapi, kita tidak boleh jadi orang pemilih, jangan suka pilih-pilih. Karena setiap pilihan yang diberikan Tuhan akan berubah jadi ketetapan saat kita sudah mengambil keputusan. Jalani saja semuanya. Toh, bahagia juga tidak didapat dengan cara ditemukan, melainkan diciptakan. Tidak ada kebahagiaan yang hakiki di muka bumi ini. Tapi, setidaknya kita boleh mencicipi, bagaimana rasa bahagia ketika menjalani hidup bersama makhluk ciptaan Tuhan yang bernama manusia.


Pagi buta sebelum berangkat kerja, aku diharuskan membantu Mas Rudi untuk mengurus keberangkatannya ke Yogya. Aku nyaris tidak percaya bahwa dia benar-benar akan menyusul istri dan anak-anaknya ke sana.


Terdengar gila ketika Mas Rudi bisa cuti selama seminggu padahal dia baru saja izin bulan madu. Mungkin Mas Zifran punya kesepakatan berbeda dengannya jika menyangkut masalah itu.


“Harus banget ke Yogya, Mas?” tanyaku sambil menyuguhkan secangkir teh hangat untuknya.


Mas Rudi tertawa lebar. “Nah, ini. Kalo belum berumah tangga nggak bakal tahu alasannya.”


Selalu saja dikaitkan dengan rumah tangga. Itu jawaban paling mematikan yang tidak ingin kudengar.


“Tapi, kan kemarin baru aja bulan madu. Di bali pula.” sahutku sambil merapikan gelas-gelas tangkai di lemari kaca.


“Idih, ada yang ngiri.” ejek Mas Rudi sambil menatapku kemenangan.


Aku membela diri. “Bukannya ngiri, Mas. Cuman, nggak biasa aja sendiri. Nanti rumah pasti sepi.”


“Kalo bosan, kan, gampang. Tinggal ngopi-ngopi aja ama Arfian. Jalan-jalan, deh, kalian. Siapa tau nanti ujung-ujungnya balikan.”


Mendengar jawaban Mas Rudi aku hanya berdiam diri. Tidak berniat menanggapi.


“Bahagia itu kayak rezeki, Al. harus dijemput. Percaya nggak percaya, nih, Mas ngejar Aina sampai ke Belanda cuman buat ngajakin dia nikah aja. Bayangin? Tabungan S2 rela Mas pakai beli tiket berangkat ke Belanda. Buat siapa? Buat Aina. Biar apa? Biar dia percaya, Mas ini serius, nggak main-main.”


Aku tidak kaget mendengar hal itu. Mbak Aina telah terlebih dulu menceritakannya padaku.


Selesai menyantap bubur ayam buatanku, Mas Rudi bangkit. “Mau titip apa?”


Aku menggelengkan kepala. Menolak tawarannya.


“Nggak mau sesuatu? Apa aja deh. Biar Mas bawaian nanti.” ujarnya kali kedua. Dan aku tetap memberi jawaban yang sama.


“Selalu aja, gitu. Ditawarin apa aja pasti nggak mau.” gerutunya kesal.


Sesaat setelah menghembuskan napas berat, deru mesin mobil terdengar dari luar pekarangan. Nampaknya, taksi pesanan Mas Rudi sudah tiba.


“Mas berangkat dulu, Al. Hati-hati di rumah. Jangan lupa nanti kirimin photo teras, pekarangan sama taman belakang.”

__ADS_1


“Iya, Mas. Iya.” sahutku seadanya.


Begitu taksi bandara berlalu, aku segera berdo’a. Semoga naskah di atas meja kerja tidak membuatku menderita. Semoga Rayhan bermurah hati membantuku menyelesaikan sebagian dari mereka hari ini juga. Karena besok aku harus merampungkan naskah Rentang Rasa milik Satya dan saudaranya.


__ADS_2