
Aroma apa yang paling kamu suka?
Beruntung masih ada persediaan potpourri yang sudah kupacked dalam toples kaca. Lengkap dengan kain kasa sebagai penutup dan pita hias supaya terlihat berkelas. Baru saja kuletakkan di dekat kaca jendela, aroma khas kayu manis langsung menyebar. Memenuhi seisi kamar. Menggantikan parfume ruangan yang biasanya dipakai banyak orang.
Sewaktu belia, entah umur berapa, saat masih tinggal di Yogya, aku kedatangan tetangga baru. Paman Zainal dan Bi Hanum -begitu aku sering memanggil mereka- punya budidaya tanaman kayu manis yang tumbuh di sekitar pekarangan rumah.
Di setiap penghujung musim penghujan, ibu rutin mendapat satu toples besar berisi kayu manis yang masih basah. Belum sempat dikeringkan karena harus menunggu matahari bersinar cerah. Begitu musim kemarau tiba, ibu langsung menjemur kayu manis itu di pekarangan rumah. Ibu bilang supaya keringnya merata, kayu manis itu harus sering dibolak-balik.
Tidak jarang, selepas pulang sekolah aku membolak-balik kayu manis di bawah terik matahari. Selain tidak punya pekerjaan rumah, aku juga enggan tidur siang. Ingin membantu ibu di dapur juga tidak punya keahlian. Baru menghampiri bapak yang menyelesaikan kemeja pesanan pelanggan, aku justru disuruh main masak-masakan. Bapak bilang dia tidak tega mengacuhkanku selagi dia sedang bekerja.
Meski panas matahari membuat wajahku merah padam dengan keringat bercucuran, aku tidak pernah keberatan. Terlebih lagi aku juga tidak sendirian. Selalu ada Arfian. Kami membolak-balik kayu manis itu dalam waktu hampir bersamaan. Kendati milik ibu hanya setoples besar dan milik Arfian sekarung bawang, dia selalu selesai terlebih dulu. Tangannya yang cekatan membuat kerjanya tidak pernah berantakan.
Ingatanku ditarik ke belakang. Berhenti pada suatu masa di mana aku dan Arfian masih jadi bocah ingusan. Masa di mana kami hanya sebatas teman. Masa di mana kami menikmati awal musim kemarau di tanah pekarangan.
Andai waktu bisa berjalan mundur, tentu akan ada banyak rasa yang bisa kuatur.
***
“*Ngapain kamu di situ?!” teriak Arfian sambil berlari menghampiriku. Bocah itu masih mengenakan seragam. Lengkap dengan ransel sekolah dan sepatu hitam.
“Jemur kayu manis!” sahutku singkat. Panas membuatku malas berbasa-basi.
“Kenapa nggak pake topi?” tanyanya ramah begitu sudah tiba di depanku.
Aku ingin menengadah, ingin menatap ke arahnya. Tapi sedikit kesulitan untuk bisa menghadapi kilauan matahari.
“Nggak ada topi buat ukuran kepala saya di rumah. Semuanya kebesaran.” gumamku seadanya.
Aku menggerutu dalam hati saat Arfian hanya melihatku tanpa membantu. Bayang-bayang tubuhnya terpantul di depan mataku. Berdiri layaknya mandor yang sedang memonitor.
“Kalau cuman mau liatin saya, kamu mending pergi aja.” aku mendengus kesal.
Sedetik kemudian kudengar suara ranting-ranting patah. Sepatu sekolah Arfian turut menginjak daun-daun kering yang berguguran. Langkahnya berpindah-pindah, mengikuti irama pergerakan kakiku di atas tanah.
__ADS_1
Aku merasakan naung yang membuatku dapat menengadah. Kedua bolamataku menatapnya tanpa mengalami masalah. Tubuhnya yang tinggi menghalau sinar matahari. Menutupi pantulan cahaya yang menyebar ke mana-mana.
Dan saat itu aku menyadari, aku tidak pernah sendiri*.
***
Langit punya rahasianya sendiri.
Kendati hujan turun sepanjang malam, pagi ini ternyata matahari tidak ingin mengalah. Di antara hujan dan matahari sebenarnya tidak ada yang lemah. Tapi, alam selalu punya pilihan. Alam punya ketentuan. Ada siklus keteraturan. Dan itu adalah bentuk aturan Tuhan.
Di kursi kemudi Mas Zifran nampak gelisah. Berkali-kali dia mempertanyakan kebenaran arah dari panduan Google Maps padaku. Kami dibuat melongo tidak percaya saat melewati gang-gang sempit dan pemukiman padat penduduk. Aku sendiri bahkan ragu, apakah Mas Zifran tahu tempat apa yang ingin kami tuju. Atau jangan-jangan dia hanya bergerak asal-asalan?
Setelah didera kebingunan berkepanjangan, akhirnya sedan kantor menepi.
Alih-alih bergegas turun, aku justru memandang Mas Zifran yang saat itu menatapku bimbang.
“Al, bener, kan? Ini tempatnya?”
Aku menelan ludah berkali-kali. Mencoba meyakinkan diri bahwa pagar besar berwarna oranye di depan kami ini adalah pintu masuk gedung Pelatnas PBSI. Namun, aku tidak punya keputusan. Pandanganku tidak menemukan tanda-tanda kehidupan. Jadi, aku tidak bisa memberi jawaban atas pertanyaan Mas Zifran.
“Perasaan, Mas Zifran juga tinggal di Cipayung, deh.” balasku tersenyum palsu.
Malas berdebat, akhirnya Mas Zifran mengalah turun. Dia menghampiri pos jaga dan berbincang dengan petugas di sana. Tidak perlu waktu lama, pintu gerbang akhirnya dibuka. Sebuah shuttlecock raksasa menyambut kedatangan kami. Di halaman pintu masuknya berseling pohon-pohon trembesi. Taman bunga anggrek di sekitarnya terlihat rapi dan asri. Aku nyaris tidak percaya Arfian tinggal di sini. Di tepat, di mana setiap orang harus berjuang seorang diri. Hanya ada tekad kuat dan keyakinan besar untuk mewujudkan semua mimpi yang mereka miliki.
***
Panji Sunardi.
Sahabat karib Mas Rudi menyambut kedatangan kami dengan seulas senyum lebar. Aku nyaris tidak mengenalinya yang saat itu mengenakan pakaian olahraga. Meski ini pertama kalinya kami bertemu setelah lima tahun berlalu, Mas Panji masih bisa menyebutkan nama lengkapku. Ternyata ingatan fisioterapis itu tidak pernah hilang dimakan waktu.
Bersama Mas Zifran, aku diajak keliling kompleks gedung Pelatnas PBSI. Mas Panji memandu kami sambil berbagi informasi. Tentang profil singkat PBSI, detail ruangan yang kami lewati, prestasi yang sudah dimiliki, serta rencana turnamen bulan depan nanti. Dia juga memperlihatkan fasilitas yang ada di Pelatnas seperti ruang fitness, ruang terapi, kolam renang, klinik, dan alat-alat band. Kata Mas Panji atlet-atlet di sini tidak boleh bosan. Mereka diberi waktu dan kesempatan untuk melakukan beberapa kegiatan di luar jam latihan.
Selesai berkeliling, Mas Panji menggiring kami melewati koridor di belakang pintu kaca.
__ADS_1
“Ini tempat paling sakral di Pelatnas.” ujar Mas Panji di ambang pintu.
Aku berani bertaruh tempat ini adalah aula latihan para atlet yang sering diceritakan Arfian sewaktu kami masih pacaran dulu.
Seperti kata Arfian, hall bulutangkis itu bukan tempat biasa. Tidak semua orang sanggup berada di dalamnya. Atap yang tinggi menjulang dengan ventilasi udara yang seadanya membuat banyak orang tidak terbiasa. Hanya ada panas dan pengap yang memenuhi isi kepala. Dan itulah yang kini kurasakan. Warna hijau dari dinding aula dan lapangan yang kupandang juga tidak bisa membuatku bertahan.
Seolah berada dalam sauna, peluh dan keringat membuatku tidak banyak bicara. Kakiku goyah untuk melangkah. Bahkan indera penciumanku mulai tidak berdaya. Otakku ngotot minta angkat kaki dari aula.
“Ini aroma kejayaan, Al.” terang Mas Panji saat melihatku kewalahan bernapas.
Aku mengangguk ringan. Sedikit merasa tidak nyaman. “Iya, Mas.” balasku sambil tersenyum masam.
Kulihat Mas Zifran menatapku heran. Dia bertanya tanpa suara, hanya lewat mulutnya yang membentuk rangkaian kata, “Kenapa?”
“Gitu doang lemah. Gimana sih, Al.” bisik Mas Zifran dengan nada menyebalkan.
Aku menggeleng lucu. Sedikit malu. “Lagian saya nggak tahu kalo bakal separah ini.”
“Pacar kamu, kan tinggal di sini. Harusnya kamu tahu gimana kondisi-“
Sebelum Mas Zifran meneruskan apa yang ingin dia ucapkan, aku melotot ke arahnya terlebih dulu. Kutatap matanya dengan amarah yang memburu.
“Bukan kata saya. Tapi, kata yang di depan, nih.” Mas Zifran menggerakkan bolamatanya ke arah Mas Panji yang berjalan di depan kami.
“Hoooaaahhh!” aku dan Mas Zifran tersentak. Kami mengerjapkan mata seraya membasahi tenggorokan berkali-kali. Tidak mengerti situasi macam apa yang sedang terjadi.
“Itu teriakan para calon juara kalo ngasih smash.” jelas Mas Panji sambil tertawa ringan. Membuat Mas Zifran sedikit kikuk. “I-iya, nih, Alya. Kasian dia sempat kaget, gitu.”
Malas meladeni guyonan Mas Zifran, aku mengikuti langkah Mas Panji keluar aula. Sambil membidik lensa kamera, aku memperhatikan salah seorang pemain tunggal putra di depanku. Footwork-nya membuat shuttlecock melambung sempurna. Dia mengejar bola ke sana ke mari. Ke depan, ke belakang, ke kanan, ke kiri, seperi sedang menari.
Ingatanku menembus ruang dan waktu, berhenti pada apa yang pernah dikatakan Arfian dulu. “Masuk Pelatnas PBSI bukan perkara mudah. Jika salah langkah mimpi-mimpi yang sudah dibangun bisa langsung jadi sampah. Kita tidak boleh lengah. Jangan sampai putus asa dan jangan mudah menyerah. Karena kita hanya punya dua pilihan, harus menang atau tidak boleh kalah.”
“Fian! Kok dibiarin? Kan, nggak out?!” seorang pemain protes karena lawannya membiarkan shuttlecock jatuh begitu saja.
__ADS_1
Bolamataku bergerak mengikuti perintah hati. Begitu membalikkan badan ke lapangan belakang, kudapati sosok Arfian tengah menatapku bisu. Kulihat peluh membuat wajahnya basah. Kaos biru malamnya nampak berat karena keringat. Rambut hitamnya berantakan tidak karuan. Kaki kokohnya diam di tempat. Sementara hanya ada senyum manis di balik bibirnya yang tipis.