Aksara Rasa ( Untuk Rasa Yang Tidak Akan Sempurna )

Aksara Rasa ( Untuk Rasa Yang Tidak Akan Sempurna )
BAB Tiga Belas


__ADS_3

Pernah dengar istilah Rustic?


Selang beberapa hari setelah dokter membolehkanku kembali bekerja, kesibukan dan rutinitasku kembali dimulai.


Dengan mengikuti saran dan aturan yang dibuat Mbak Aina, pola makanku diatur sedemikian rupa. Yang biasanya hanya minum secangkir teh dan sepotong roti tawar, sekarang diganti jadi segelas susu dan sepiring nasi kebuli. Mbak Aina sengaja membuatnya atas permintaan Mas Rudi.


“Ngantuk itu bukan karena kekenyangan, kamunya aja yang pengen tidur.” gerutu Mas Rudi tidak setuju. Dia menolak asumsiku yang bilang bahwa makan satu piring di saat sarapan pagi bisa membuat mengantuk.


Aku melahap nasi kebuli buatan Mbak Aina dengan kesal. Bukan karena nasi kebulinya, tapi karena mendengar ceramah Mas Rudi di saat-saat seperti ini. Dia berlagak jadi dokter digestive yang membicarakan masalah kesehatan dan gangguan pencernaan. Lalu menyudutkanku sebagai tersangka utama yang suka menunda-nunda waktu makan.


“Oh, ya, rumah kita bakal direnovasi.”


Aku tersedak saat mendengar perkataan Mas Rudi.


Mbak Aina yang sedari tadi berdiri, langsung duduk menghampiri kami. Hanif dan Alif yang sibuk sarapan, langsung saling berpandangan.


“Dalam perihal?” tanya Mbak Aina heran.


Terus terang saja, rumah kami yang sekarang sudah terasa nyaman dan menyenangkan. Aku sudah terbiasa menikmati suasana seperti ini. Mau diubah apa lagi?


“Ya, nggak dalam perihal apa-apa.” jawab Mas Rudi santai.


Membuat Mbak Aina melirik ke arahku, memintaku angkat bicara.


“Emang yang sekarang kenapa? Perasaan baik-baik aja, deh, Mas.” sahutku gamblang.


Mas Rudi meneguk air putihnya, bergumam singkat. “Biar ada suasana baru aja, Al.”


“Kemarin Mas habis ketemu sama Panji. Dia bilang, dia punya kenalan desainer interior yang hasil karyanya dipakai sama pejabat negara di Istana Merdeka. Keren, kan?” senyum sumringah Mas Rudi diiringi satu alisnya yang terangkat tinggi.


Mbak Aina menatapnya ragu. “Suasana baru, sih, nggak apa-apa. Tapi, kalo desainer interiornya dipakai sama pejabat negara, bayarannya pasti nggak nanggung-nanggung.”


“Tenang. Urusan itu serahin sama bapak. Biar bapak yang nge-handle. Kalian cukup kasih ide aja, rumah kita mau diapain. Mau pake gaya apa gitu?” balas Mas Rudi sambil menepuk tangan di dada. Meyakinkanku dan Mbak Aina agar setuju dengan idenya kali ini.

__ADS_1


“Rustic?” ujar Alif tepat setelah Mas Rudi mengajukan penawarannya.


Aku, Mbak Aina, dan Mas Rudi tertegun diam, saling berpandangan.


“Itu jurus di mobil apa, nak? Namanya, kok keren banget.” tanya Mas Rudi sambil tertawa palsu. Dia terkejut saat mendengar kata Rustic terucap dari mulut anaknya yang gila mainan transportasi.


“Itu bukan jurus, Pak. Tapi, gaya kayak di desa gitu.” sambung Hanif setelah menghabiskan susu cokelatnya dalam satu kali tegukan.


Sejak kapan keponakan kembarku tahu istilah seperti itu?


Mbak Aina dan Mas Rudi tersenyum lembar sembari bangkit dari kursi. Menghampiri kedua anak mereka sambil memeluknya bangga.


Setelah ini aku percaya, tidak lama lagi rumah kami akan berubah gaya. Sesuai dengan apa yang Hanif dan Alif minta.


*****


Langit tengah berkabung. Mendungnya pekat mendekati gelap. Awan-awannya berjalan cepat. Mengikuti irama angin yang berhembus. Bergerak terus-menerus. Menggiring mereka agar tumpah. Menjatuhkan butiran air yang gugur dengan pasrah. Menjadi hujan yang menyapa lewat gerimisnya yang ringan. Dan perlahan menderas. Menutupi langit hingga tidak berbekas.


“Makasih, ya, Ray. Saya lama banget nggak minum Ristretto.” ujarku dengan senyum lebar.


Aku berlalu. Bersiap menghadapi tumpukan naskah yang sudah menanti. Namun, begitu duduk di office car, kulihat hanya ada dua naskah di atas meja. Milik Cinnamon yang kutinggalkan satu minggu lalu dan milik Fathia yang nampaknya baru saja tiba.


“Fathia, kan, punya kamu. Saya nggak berani sentuh tulisan anak itu.”


Aku tersenyum lebar mendengar suara Rayhan. Dari kejauhan, kulihat setumpuk naskah sudah berbenah di atas meja kerjanya.


Itulah teman. Terkadang membawa kita pada masalah yang tidak sengaja dia buat. Tapi, tidak jarang, teman juga membebaskan kita dari masalah yang sudah ada di depan mata.


“Saya bakal traktir kamu sesuatu habis ini.” ujarku hangat.


“Beneran nih?” tanya Rayhan dengan senyum sumringah.


“Iya, beneran.”

__ADS_1


“Saya mau Cappucino di coffee shop seberang!”


Aku tersentak. Rayhan adalah manusia penggila teh hangat tanpa gula. Aku tahu itu.


“Sejak kapan kamu suka minum kopi, Ray?” tanyaku penasaran.


“Sejak saya sama Mas Zifran jenguk kamu karena sakit waktu itu. Temen kamu yang namanya Arfian yang recommended saya buat minum Cappucino.”


Rayhan memulai kisahnya dengan wajah berbinar. “Ingat nggak, Al, waktu di stasiun, kan ada yang ribut-ribut di depan pintu kedatangan?”


Aku mengangguk, mengiyakan.


“Kamu tau nggak mereka liatin siapa?”


Aku menggeleng cepat. “Siapa?”


“Arfian!”


Andai kata aku juga ikut berdiri di sana, entah apa jadinya. Mungkin pertemuanku dengan Arfian akan punya cerita yang berbeda.


“Ngapain? M-maksud saya kenapa mereka jadi liatin Arfian di sana?”


“Ya, kan waktu itu Arfian ikut PBSI jadi panitia seleksi atlet badminton di Yogya. Masa kamu nggak nyadar, sih? Orang ganteng gitu juga. Mana prestasinya banyak pula.”


Ah, pemuda itu. Dia memang punya banyak penggemar.


“Nah, terus, waktu itu saya juga nyobain maco-maco apalah itu namanya. Saya bilang saya nyobain karena ikut-ikutan. Eh, taunya orang yang saya ikut-ikutin itu, ya si Arfian.”


Aku tersenyum lucu. Dunia memang sempit, rupanya.


Memang, tekadang kita terhubung dengan orang-orang yang tidak kita sadari keberadaannya. Ruang mempertemukan orang-orang yang saling punya peluang untuk berteman. Untuk menjalin hubungan.


“Ya udah, sore ini saya juga ada janji di coffee shop seberang. Kita ngopi di sana bareng-bareng, oke?” tawarku yang langsung disambut dengan dua jempol setuju Rayhan.

__ADS_1


__ADS_2