Aksara Rasa ( Untuk Rasa Yang Tidak Akan Sempurna )

Aksara Rasa ( Untuk Rasa Yang Tidak Akan Sempurna )
BAB Tujuh Belas


__ADS_3

Apa semua wanita memang suka bunga?


Puluhan bunga mawar menghiasi pemandangan di halaman belakang. Dengan berbagai warna dan corak yang berbeda; putih, merah, ungu, kuning, hingga merah muda. Beberapa marigold juga memenuhi lahan di dekatnya. Bergerumul, membentuk semak yang memadat. Di sampingnya, morning glory menjalar ke atas. Daun hatinya menutupi pagar pembatas. Anggrek hitam bergantungan bebas. Di dekatnya, terdapat rak kayu yang dipenuhi pot-pot kecil tanaman kaktus. Maklum, kaktus-kaktus itu memang punya tempat khusus.


Selagi aku mengairi tanah untuk bunga mawar merah, Hanif memungut daun-daun kering yang berjatuhan. Sementara Alif mengumpulkan ranting kering yang berhamburan.


“Semua tanaman harus disiram ya, Bi?” tanya Alif dengan wajah polosnya.


“Iya.” sahutku seadanya.


“Emang kalo nggak disiram kenapa?” tanya Alif untuk kali kedua.


“Kalo nggak disiram, tanamannya kehausan.” jelasku singkat.


“Tapi, ibu nggak pernah nyiram kaktus lho, Bi.” ujar Hanif seolah tidak terima dengan jawaban yang kuberikan.


“Masa?” gumamku, menolak untuk percaya.


“Harusnya kan, disiram semua.” gerutu Alif sambil mengambil selang air ditanganku. Dia kemudian berjalan beberapa langkah. Mengitari pohon trembesi dan berhenti di dekat rak tinggi. Bocah itu mengairi kaktus-kaktus kecil yang ditanam di dalam pot.


“Udah! Jangan banyak-banyak, Lif!” protes Hanif.


“Biarin aja! Biar kaktusnya tambah subur!” Alif menyiram kaktus itu tanpa henti. Membuat pot kecil itu terlihat kebanjiran.


Malas menghiraukan mereka berdua, aku kembali memungut daun-daun kering yang masih tersisa. Mengumpulkannya dalam tong besar yang biasanya digunakan Mas Rudi untuk membuat pupuk kompos.


“Hanif!” teriakan Alif sontak membuat mataku terbelalak. Bocah itu menatap saudara kembarnya dengan raut kesal. Wajahnya merah padam, hampir-hampir ingin menangis.


Aku berbalik untuk menatap Hanif yang saat itu berdiri di dekat kran air.


“Kamu itu dikasih tau nggak pernah mau dengerin! Kaktusnya nanti bisa mati kalo kamu gituin, tau!” ketusnya dingin lalu meninggalkan kami yang masih mematung di taman.


Aku menghela napas panjang begitu tangis Alif pecah di udara. Kuhampiri bocah itu, mendekatinya. Kutumpukan lutut kakiku pada rumput hijau. Kuusap airmatanya yang berjatuhan. Kuelus kepalanya penuh sayang.


“Bi-bi.” tangis Alif terisak-isak. Nafasnya sesak. Bocah itu mengadu haru padaku.


“Udah, udah.” ujarku seraya memeluknya. Menenangkannya. Mengatakan padanya bahwa Hanif tidak serius membentaknya.


*****


Seperti dugaanku sebelumnya, sulit untuk percaya pada janji yang dibuat Mas Rudi.

__ADS_1


Begitu mengangkat panggilannya kemarin malam, aku hanya bisa berpasrah diri. Dia masih akan tetap di bali sampa tiga hari lagi. Bahkan dia telah menyiapkan jawaban saat aku mempersoalkan masalah pekerjaan. Mas Rudi telah terlebih dulu minta izin cutiku pada Mas Zifran. Dan dia bilang Mas Zifran tidak keberatan.


“Kalian nggak mau? Nanti nyesel, lho.” ujarku membujuk.


Meskipun telah kusuguhkan Ice Cream Chocolate di atas meja, Hanif dan Alif masih tidak bicara. Keduanya sibuk dengan mobil-mobilan yang sengaja mereka bawa dari rumah.


“Ya udah, kalo gitu Bi Alya pesanin kalian pudding aja, ya.” kataku tersenyum lebar.


Kendati libur telah berakhir, Orion –Kedai Ice Cream– memang tidak pernah sepi pengunjung. Apalagi di jam sore seperti ini. Selain harganya yang bersahabat, suasana yang diciptakan juga membuat banyak orang ketagihan. Dindingnya dibalut batu bata berwarna putih cerah. Berhias pernak-pernik cantik ala vintage. Kursi dan meja besi berwarna hitam memadati sekeliling ruangan. Diberi sentuhan shabby chic lewat warna-warna pastel dari gorden bermotif bunga. Berbagai quotes dan motto terpampang dalam frame besar dan palet kayu di samping jendela. Memberi kesan kuno yang menawan.


Sementara menunggu giliran antre, handphone di dalam handbag-ku bergetar. Sebaris pesan singkat dari Arfian membuatku tersenyum.


“*Saya udah nyampe Dubai.”


“Syukur, deh. Udah liat apa aja?”


“Sepanjang jalan saya ketiduran*.”


“*Berarti nggak liat apa-apa, dong? Payah.”


“Saya liat kamu.”


“Di mana? Ngawur.”


“**Idih, gombal***.”


Aku bisa memastikan, Arfian pasti tertawa begitu membacanya.


“*Ya udah, nggak usah bahas itu. Kamu mau titip sesuatu?”


“**Pangeran Arab***.” balasku tanpa ragu.


"Saya sudah lebih dari sekedar cukup buat kamu. Syukuri itu.”


Aku tertawa malu. Niatku urung untuk memintanya agar tidak cedera, sebab Arfian terlebih dulu membuatku merasa bahagia.


“Tenang aja, saya nggak bakal cedera. Kamu tunggu aja saya pulang, saya akan bawa apa yang kamu mau.”


*****


Pernah dengar istilah Freezing of Gait?

__ADS_1


Seorang penderita Parkinson berbagi cerita padaku. Pernah suatu ketika langkah kakinya tidak dapat bergerak secara tiba-tiba. Telapak kakinya seperti punya daya feromagnetik dengan lantai yang dia injak. Membuat otaknya berontak. Tubuhnya seakan didorong ke depan dan ditarik ke belakang dalam waktu bersamaan. Akal pikirannya kacau, berantakan tidak karuan. Analoginya seperti kita ingin melakukan sesuatu, tetapi otak dan alat gerak kita menolak untuk mengiyakan. Kendati telah berupaya susah payah, kita hanya bisa membeku layaknya patung yang tidak pernah dijamah.


Meski tidak menderita Parkinson, kupikir aku tengah mengalami gejala itu sekarang. Tungkai kakiku seolah mati fungsi. Langkahku tiba-tiba berhenti saat mendapati sosok Satya yang duduk di depan dua keponakanku. Pemuda itu menikmati Ice Cream Chocolate yang tadi sempat kutinggalkan. Sementara Hanif dan Alif bermain kejar-kejaran di sekitarnya. Memperebutkan secarik photo yang tidak kutahu datangnya dari mana.


“Tolong ini. Ponakan kamu, nih!” seru Satya membuat otot kakiku kembali bekerja.


Aku segera menghampiri mereka bertiga. Menghentikan pertikaian Hanif dan Alif dengan merebut photo itu secara paksa.


Begitu melihat photo macam apa yang diperebutkan Hanif dan Alif, detik itu juga aku melongo tidak percaya. Wajahku saat tersenyum lebar terekam dalam jejak-jejak warnanya.


“Bibi, itu photo siapa? Alif liat dong, Bi.” Alif menarik-narik cardiganku.


Aku melirik Hanif dengan tatapan menyelidik, tapi bocah itu memasang wajah tidak berdosa. Kutatap Satya yang saat itu menahan tawa. Dan baru kusadari, pemuda itulah biang masalahnya.


Buru-buru kubuang photo itu ke tempat sampah.


“Harusnya saya biarin kamu bunuh diri waktu itu.” ketusku kesal sembari menatap kamera polaroid yang tergantung bebas di leher Satya.


Pemuda itu seolah tidak merasa bersalah. Bahkan dia menatapku sambil tersenyum cerah. “Oh, ya?”


“Bi, pudding coklat, kan?” Hanif memecah suasana. Aku nyaris lupa pada pudding yang sengaja kubawa untuk mereka. Mereka, terkecuali Satya.


Aku mengangguk kecil. Kuletakkan pudding coklat yang telah berbalut vla vanilla di atas meja. Masing-masing untuk Hanif dan Alif. Melihat itu, mereka berdua bergegas duduk. Lalu segera menyantap potongan strawberry dan menikmati pudding coklat itu dengan lahap.


“Ngapain berdiri di situ?” ujar Satya sambil menepuk kursi di sampingnya.


Bukan karena mengiyakan apa yang dia minta, hanya saja aku malas berdiri terlalu lama. Dengan berat hati, terpaksa aku duduk di samping Satya.


“Om Satya, Hanif boleh liat photonya nggak?” tanya Hanif terdengar ragu.


“Om, kalo Alif minjam kameranya boleh?” giliran Alif yang mengajukan permintaan.


“Boleh dong. Nih! Nih!” sahut Satya antusias. Pemuda itu memberikan beberapa lembar photo ke tangan Satya dan kamera polaroidnya kepada Alif.


Kulirik Hanif yang tertawa melihat hasil jepretan Satya. Sesekali bocah itu menunjukkan apa yang dia lihat pada Alif. Membuat saudara kembarnya juga tertawa karena alasan yang sama.


Sementara aku memilih membuang muka. Bolamataku memperhatikan pengunjung yang berlalu-lalang. Mengamati antrean panjang di depan meja pesanan. Samar-samar mendengarkan pembicaraan orang-orang yang duduk di sekitarku. Larut dalam kesibukan yang kuciptakan, aku sampai tidak menyadari apa yang sudah Alif lakukan.


“Hah?” Alif terdengar bingung. Secarik photo keluar dari kamera yang dipegangnya.


Aku menoleh sesaat untuk melihat hasil jepretan Alif. Namun, sepersekian detik sebelum itu, Satya terlebih dulu meraih kertas fotonya. Membuatku tidak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan pemuda itu menyimpannya dalam saku kemeja.

__ADS_1


Setelah itu pandangan kami bertemu. Dan dalam satu kedipan mata, aku kembali membuang muka.


__ADS_2