Aksara Rasa ( Untuk Rasa Yang Tidak Akan Sempurna )

Aksara Rasa ( Untuk Rasa Yang Tidak Akan Sempurna )
BAB Tujuh


__ADS_3

"*Kamu kalo lepas koplingnya itu jangan tiba-tiba.” kata Arfian mengingatkan.


Sementara nafasku masih naik turun. Bemo yang meloncat ke depan nyaris membuat jantungku berhenti berdetak selama beberapa saat.


Aku mengumpat dalam hati. Jika bukan karena permintaan bapak, aku tidak akan sudi melakukan hal ini. Ditambah lagi aku memang tidak bersahabat dengan bemo, bahkan sejak orok. Alasannya sama, karena dia sering mogok.


“Saya nggak bisa, Fian. Saya bakal nyewa mobil lain aja buat belajar!” cerocosku tidak sabaran sambil melepas safety belt yang menyilang di badan.


Aku ingin segera tiba di rumah, mengadu pada bapak bahwa bemo membuat jantungku hampir mati fungsi.


“Ngapain kamu nyewa mobil lain, Al? Bemo, kan nggak kenapa-napa. Cuman kamu aja yang nggak bisa-bisa.” tutur Arfian, mengejek. Tapi, aku tidak berniat meladeninya kali ini. Malas menccari kata-kata untuk membalas ucapannya.


Tidak ada tersisa secuil kesabaran lagi. Sudah hampir satu bulan aku belajar mengemudi. Dan sejauh ini tidak ada perkembangan yang berarti.


“Aduh, bemo!” teriakku frustasi dengan wajah menyerah.


Safety belt bemo masih menyilang di badan. Seolah diikat mati, tidak mau lepas meski sudah kubuka berkali-kali. Membuat dadaku sesak karena menahan kesal. Kurasa peluh sudah mengucur membasahi pelipis dan pipiku. Cuaca panas Yogya yang menyatu dengan udara dalam mobil membuatku semakin tersiksa dan menderita.


“Sini, sini, biar saya bantu.” ujar Alfian sembari memajukan tubuhnya ke arahku. Dengan jarak yang sangat dekat, dia mencoba membantu melepas safety belt bemo.


“Lepas koplingnya barengan sama kamu nginjak gas. Jangan buru-buru, musti perlahan. Nanti bukan cuman kamu aja yang jantungan, tapi penumpang di samping kamu ini juga.”


Aku tidak menanggapi apa yang Arfian katakan. Terlebih setelah itu pandangan kami bertemu. Dan mendadak membekukan seisi otakku.


Aku bisa mendengar deru nafasnya.


Bisa melihat warna hitam legam pada bolamatanya.


Bisa merasakan sesuatu yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.


Untuk waktu yang cukup lama, kami hanya berpandangan saja. Kulihat diriku di bolamatanya. Kutatap pandangan pemuda itu yang tertuju pada satu titik di wajahku.


Dia menatapku lekat. Kemudian dia semakin mendekat. Di telinga kananku dia bertahan dan berbisik ringan. “Saya baru tahu kamu punya tahi lalat di bawah bibir sebelah kiri. Manis juga ternyata, kayak Ristretto.”

__ADS_1


Nafasku hampir habis begitu mendengar apa yang Arfian ucapkan. Semua diksi yang kusimpan dalam otakku mendadak menguap ke udara begitu saja.


Entah seberapa dekat jarak di antara kami tadi hingga dia menyadari keberadaan tahi lalat berwarna coklat tipis itu di bawah bibir kiriku*.


***


Kenangan itu membuatku bertanya-tanya, bagaimana bisa aku jatuh cinta pada sosok Arfian yang kerjaannya sibuk latihan? Bahkan, aku menerima cintanya dan kami menjalin hubungan. Sungguh, tiga tahun saat itu adalah waktu terbaik yang akan selalu berkesan.


Lantas bagaimana bisa kami kembali ke masa-masa ketika kami dulu berteman, sementara masing-masing dari kami sekarang berstatus mantan? Bagaimana bisa aku masih menyimpan rasa untuk Arfian, padahal sebenarnya rasa itu ingin kutiadakan? Bagaimana bisa ada lelehan Ristretto pekat ketika aku menatap pemuda itu lekat? Bagaimana bisa ada rasa semanis gula ketika kulihat dia tertawa.


Bagaimana bisa saat itu kupikir aku sedang bahagia?


***


Hari ini giliran sinar matahari yang memberi ucapan selamat pagi. Rasa hangatnya menjalar. Perlahan menjabar. Tersebar. Mengaliri tubuhku yang sepekan terakhir hibernasi ringan. Mengiring oksigen untuk organ-organku yang sebagian besar masih banyak perlu asupan.


Aku menarik napas dalam-dalam. Menikmati setiap detik waktu yang kuhabiskan. Membiarkan Mas Rudi menunggu sambil mengomel tidak karuan. Aku tidak ingin membuang-buang kesempatan. Kapan lagi ada hari cerah seperti ini di musim hujan?


“Kalo mau semedi itu di gunung, jangan di teras rumah. Payah.” gerutu Mas Rudi begitu aku baru saja masuk mobil.


Aku menatapnya kesal, mencari di mana dia meletakkan kewarasannya selama ini.


“Mas nih, ya, baru nungguin segitu doang udah ngedumel.” balasku membela diri.


Selagi aku menyilangkan safety belt, Mas Rudi segera melajukan Bemo menuju kantor redaksi. “Teman kamu, tuh. Nelpon dari tadi. Mas angkat, malah nggak ngomong.”


Bergegas kurogoh handphone di saku ransel. Mendadak aku menyadari, pasti ada sesuatu yang terjadi sampai Rayhan menelponku berkali-kali. Tanpa pikir panjang lagi, kuhubungi pemuda itu kembali.


“Al, kamu di mana?”


Rayhan langsung menyerang sebelum aku sempat mengucapkan salam.


“Kenapa, Ray? Saya lagi di jalan mau-“

__ADS_1


“Pokoknya saya tunggu kamu di lobi redaksi.”


Perasaanku tidak karuan, seperti ada hal buruk yang tengah terjadi pada Rayhan.


***


Aku memandang sekeliling lobi. Memastikan bahwa pemuda itu masih menungguku di sini. Sambil memutar pandangan ke berbagai sudut ruangan. Aku mencoba menemukan sosok Rayhan yang mungkin tersembunyi di balik kerumunan.


“Alya!” teriak seseorang dari arah pintu masuk. Membuat beberapa orang di lobi memandang ke arahnya.


Rayhan berlari dengan langkah lebar. Wajahnya seperti diburu hantu. Napasnya tidak teratur begitu dia tiba di depanku.


“Ini, sudah saya selesain semua. Tolong kamu kasihin ke Mas Zifran. Saya nggak bisa masuk hari ini.” katanya seryaa menyerahkan tumpukan naskah ke tanganku.


Aku melongo saat menatap tumpukan yang tingginya hampir satu kilan itu.


“Kamu begadang?” tanyaku, menyadari lingkaran hitam di bawah kelopak matanya.


“Kalo Mas Zifran nyariin saya, kamu cari alasan aja. Terserah apa. Yang pasti selama lima hari ke depan saya nggak bisa masuk.” Rayhan memasang wajah minta belas kasihan.


“Kamu cuti? Ray!” aku mencoba menyadarkannya. Berharap dia tidak sakit jiwa.


Setumpuk pekerjaan dan ratusan naskah sudah menanti di meja redaksi. Bagimana mungkin Rayhan mengambil jatah cuti sementara kegiatan kantor sedang sepadat ini?


Rayhan mengacak-acak kepalanya, frustasi. “Teman saya operasi besok lusa, Al. Saya nggak bisa ninggalin dia.”


Aku menatapnya serba salah. “Tapi, kamu, kan bisa nemenin dia sehabis kamu kerja, Ray. Atau kamu presensi dulu ke kantor. Paling nggak Mas Zifran liat kamu di ruang editor.”


“Operasinya di Jerman, Al.” ucap Rayhan terdengar putus asa.


Aku menghembuskan napas berat. Bingung, memikirkan bagaimana jadinya jika Mas Zifran tahu hal ini. Tapi, aku juga tidak bisa memaksa Rayhan untuk mengikuti saranku. Lagipula dia rela mati demi sahabatnya itu.


Rayhan menunggu jawaban. Mata panda-nya membuatku tidak tega. Hatiku kecilku dipenuhi rasa iba. Dengan keputusan seadanya aku mengangguk ringan. Membuat Rayhan bergegas meninggalkan lobi redaksi. Menaiki taksi yang sudah menantinya sejak tadi.

__ADS_1


__ADS_2