
Rasa apa yang paling kamu suka?
Aku tidak tahu ada berapa banyak rasa di dunia ini. Ada yang bilang rasa itu terdiri atas empat macam; manis, asam, asin, dan pahit. Ada juga yang bilang rasa itu hanya dua, yaitu rasa senang dan rasa sedih.
Lantas bagaimana dengan rasa gurih? Rasa bahagia? Rasa kecewa? Dan rasa-rasa lainnya yang selama ini kita tahu. Entahlah, yang pasti akan selalu ada rasa yang tidak bisa diterjemahkan dalam bentuk kata. Sebuah rasa yang tidak punya nama.
Tapi, jika seseorang bertanya rasa apa yang paling kusuka, maka tanpa ragu aku akan menjawab, “Rasa Manis.”
Ya, aku suka rasa manis. Terserah semanis apa. Entah semanis gula, semanis sirup, atau semanis gulali yang berwarna-warni. Bagiku rasa manis itu identik dengan bahagia, dengan segala sesuatu yang bisa membuat kita tersenyum.
Sama halnya dengan surat yang baru saja kubaca. Rasanya tetap manis kendati sudah kubaca ulang untuk kali ketiga. Surat sederhana yang membuatku betah duduk berlama-lama untuk mengulang setiap katanya.
“Yogya akan membawa saya kembali pada kamu. Dan Yogya juga akan membuat kamu kembali pada saya. Saya tidak tahu mengapa saya selalu ingin pulang ke Yogya setelah saya didera kelelahan yang begitu memuakkan. Saya tidak mengerti mengapa ketika saya sudah tiba di negera-negara yang menjadi destinasi banyak orang, saya justru merindukan Yogya. Saya merindukkan kesibukannya, malam ramainya, makanan khasnya, dan seseorang di sana. Seseorang yang sempat saya rindukan begitu dalam, yang akan selalu saya kenang, dan tidak akan pernah hilang dari ingatan. Seseorang yang membuat saya ingin pulang. Merengkuh pelukan hangat seorang yang tercipta dari debu-debu bintang di alam semesta. Dia yang menawan dan membuat saya jatuh cinta.”
Surat tanpa pengirim dan tujuan itu masuk ke inbox email siaran APIC. Mas Zifran memintaku memilih tiga surat terbaik dari dua puluh dua surat yang masuk untuk diperdengerkan melalui siaran radio sore hari nanti. Sebenarnya ini tugas Mbak Cynthia yang rutin dikerjakannya setiap bulan. Namun, aku tidak keberatan untuk menggantikan. Kuharap Mas Zifran juga berkenan untuk memberiku tugas tambahan seperti ini. Selain mudah dilakukan, tugasnya juga sangat menyenangkan. Membuatku terhubung dengan orang-orang luar meski hanya melalui media pesan.
Setelah menimbang-nimbang dengan matang, akhirnya aku memilih surat itu dan dua surat lainnya atas nama Fira dan Sandi. Teruntuk surat tanpa nama dan alamat pengirim itu sangat disayangkan, memang. Padahal pengirim yang suratnya dibacakan oleh APIC akan menerima mug cantik sebagai bentuk terimakasih dari redaksi. Tapi, mau bagaimana lagi? Jika kejadiannya seperti ini, maka redaksi hanya bisa menyimpan mug-mug cantik itu di lemari kaca ruang siaran.
“Udah, Al?” tanya Abas, penyiar radio andalan redaksi. Salah satu aset berharga milik APIC yang punya sejuta talenta dibidang jurnalistik dan penyiaran radio.
“Ini.” kataku seraya menyerahkan surat-surat yang telah kucetak itu padanya.
“Makasih, ya, Al.” Abas menerimanya lalu beranjak pergi ke ruang siaran.
__ADS_1
Aku kembali melanjutkan naskah yang tadi sempat kusampingkan, berjudul Kupu-Kupu Kesayangan Ibu. Ditulis oleh seorang anak sekolah dasar bernama Fathia, gadis kecil yang menjadi primadona di meja redaksi.
“Al, kalo mau cuti, izinnya ke mana, ya?” tanya Rayhan sambil menikmati langit Jakarta lewat kaca jendela.
“Siap-siap dihabisin Mas Zifran kalo ngambil cuti sekarang.” balasku sedikit tertawa.
“Kok, gitu?” Rayhan menghampiriku seraya menggerakan office chair-nya.
“Ini bukan musim mudik, Ray. Lagian redaksi lagi ngejar banyak target tahun ini.”
“Seminggu doang masa nggak bisa?” desak Rayhan, seakan tidak terima.
Aku melepas kacamata dan menghela napas panjang. “Nggak bakal bisa, Ray.”
Rayhan terlihat kecewa. Wajahnya ditekuk dan mulutnya menggumamkan sesuatu saat kembali ke meja kerja. Aku mengerti apa yang dia rasakan. Tapi, mau bagaimana lagi. Meminta izin cuti pada Mas Zifran bukan sesuatu yang mudah dilakukan.
Matahari bersinar cerah, cahayanya masuk sembarangan melalui ventilasi yang bercelah-celah. Menikam tubuhku yang masih meringkuk malas di atas tempat tidur. Menikmati kehadirannya sebagai satu dari semua karunia Tuhan di dunia. Aku suka hangat matahari. Seolah terjadi transfer energi saat cahaya matahari mengenai tubuhku. Membuat kesadaranku perlahan menyatu dan saraf gerakku bergerak tanpa harus dikomando.
Aku menuruni anak tangga dengan senyum sumringah. Akhir pekan memang jadi hari balas dendam. Ada banyak kegiatan menyenangkan di akhir pekan, bukan? Mandi sekali dalam sehari, nonton TV sesuka hati, tidur siang, banyak makan, mendengarkan siaran radio, atau hanya sekedar menemani dua keponakan kembarku bermain mobil-mobilan.
Hanif Mahendra dan Alif Mahendra. Dua cucu kesayangan bapak dan ibu yang teramat lucu. Di usia yang sebentar lagi akan menginjak lima tahun, masih ada banyak orang yang sering tertukar mengenali mereka. Sulit memang untuk membedakan Hanif dan Alif dikarenkan perbedaan mereka yang tidak begitu mencolok.
Hanif dan Alif juga punya postur tubuh yang sama dan potongan rambut yang serupa. Mereka sama-sama suka minuman dingin dan gemar olahraga. Sangat fanatik pada mainan yang menyerupai alat transportasi, seperti mobil, motor, bus, truck, pesawat terbang, kapal laut, sepeda dan entah ada berapa banyak lagi yang tersimpan dalam kardus di bawah tangga.
__ADS_1
Tidak ada yang tahu secara pasti, dari mana asal muasal gen kembar pada Hanif dan Alif didapatkan. Dalam keluargaku sendiri, tidak ada silsilah atau keturunan kembar. Tidak dari bapak, tidak juga dari Ibu. Dari Mbak Aina sendiri pun juga demikian. Tidak ada garis keturunan kembar dan kelahiran berpasang-pasangan.
Kata Mbak Aina, ini yang dinamakan takdir Tuhan. Dimana segala sesuatu dapat terjadi meski tidak ada alasan pasti.
“Alya!”
Aku menoleh saat mendengar teriakan Mas Rudi dari pekarangan rumah.
Mbak Aina menghampiriku yang sibuk merapikan taplak meja makan. “Bemo kayaknya ngambek lagi tuh, Al.”
Aku menghela napas panjang, memasang senyum masam.
“Saya nggak harus dorong bemo ke bengkel Mas Surya pagi ini juga, kan, Mbak?” tanyaku pasrah. Disambut senyum prihatian Mbak yang membuatku menyerah.
Sebenarnya aku setuju dengan usul Mas Rudi untuk mengganti mobil baru tanpa harus menjual bemo. Tapi, bapak akan sangat kecewa jika tahu hal itu. Bapak bilang, bagaimanapun juga kami harus tetap menggunakan bemo selama masih bisa digunakan. Dan sialnya lagi, Mas Surya selalu bisa memperbaiki mobil itu dalam kurun waktu tiga sampai lima jam. Jadi, tidak ada alasan untuk menggantinya dengan yang lain.
“Kenapa lagi, Mas?” tanyaku sambil melangkah malas ke luar teras.
Sebenarnya aku sudah tahu kenapa, hanya basa basi saja.
“Nggak mau nyala, Al.” kata Mas Rudi sambil mencoba menghidupkan mesinnya.
Aku diam di tempat, mencoba menerima keadaan dan menyiapkan diri untuk mendorong mobil itu ke bengkel Mas Surya. Pagi ini juga.
__ADS_1
“Kita dorong habis sarapan.” ujar Mas Rudi sambil berlalu di depanku.
Kulirik sekilas kap mesin bemo yang terbuka, asap hitamnya mengepul di udara.