
Apa kamu punya rumah impian?
Entah karena alasan apa, Satya menolak ajakanku untuk makan siang bersama. Secara logika, aku tidak serta merta memberi jatah makan siang karena dia sudah menyelematkan kaktus-kaktus Mbak Aina. Tapi, lebih dari sekedar itu. Kupikir akan lebih baik, jika aku bisa memperbaiki hubungan kami yang terkesan berantakan. Ya, meskipun Satya memang sedikit menyebalkan. Tapi, bukan berarti aku bisa melupakan kebaikan yang telah dia berikan.
“Kamu bisa makan kari ayam, kan?” tanyaku saat pemuda itu tiba di dapur. Sedari tadi dia sibuk memindahkan beberapa properti di ruang tamu. Kendati Mas Rudi baru pulang lusa nanti, renovasi rumah kami tetap akan dimulai esok hari.
“Nggak usah. Saya ntar nyari makan di luar aja.” tolak Satya sambil mengamati sekeliling dapur.
“Atau kamu mau makan lalapan ayam? Mau makan pudding?” tawarku kesekian kalinya sambil mengaduk kuah kari ayam di atas wajan.
“Kamu jago masak juga ternyata.” sahut Satya. Terdengar memuji.
“Tau dari mana?” balasku seraya menambahkan sedikit garam. Lalu kembali mengaduk kuahnya yang hampir matang.
Pemuda itu tertawa renyah. Kulirik dia yang masih sibuk menggoreskan karbon pensil dengan guratan-guratan tipis dalam buku sketsa miliknya.
“Jangan suka menyimpulkan sesuatu. Karena tidak semua yang dapat kita indera itu benar.” ujarku mengingatkan Satya. Berskiap seperti orang bijak pada umumnya.
“Saya nggak punya jawaban untuk nasehat kamu itu.”
Kini giliranku yang tertawa renyah. “Jangan-jangan kamu ahli masak juga?”
Satya mengangkat kepalanya, menatapku yang terlebih dulu memandangnya. “Saya nggak bisa masak. Serius.” tutur Satya menekankan kata terakhirnya.
“Bisanya ya, cuman bikin desain rumah. Bikin desain ruangan. Bikin mereka hidup.” sambung Satya. Terdengar tulus dan jujur.
“Kamu pengen punya rumah kayak gimana?” tanya Satya tanpa mengalihkan pandangannya dari buku sketsa.
“Saya, nggak punya rumah impian atau rumah masa depan. Karena buat saya, rumah itu bukan cuman sekedar bangunan, bukan cuman sekedar tempat tinggal. Mungkin kalo kita tua nanti, kita bakal lupa jalan pulang. Tapi, kita nggak bakal pernah lupa tujuan kita pulang.”
Kulihat senyum tipis terukir di bibir Satya saat aku menjawab pertanyaannya. Pemuda itu menatapku sambil menyandarkan tubuhnya di dinding lemari kayu.
“Kenapa?” tanyaku heran.
Tidak ingin begitu menanggapi maksud pandangan Satya, aku sibuk menghidangkan kari ayam di meja makan.
“Kayaknya saya lagi mau makan gado-gado, deh.” detik itu juga aku tertawa malu. Sedikit tidak percaya saat mendengar apa yang pemuda itu katakan.
Apa celemek masak memang identik dengan tukang gado-gado?
Jari-jemariku bergegas membuka ikatan tali celemek dipunggung belakang. Baru saja menarik ikatan pitanya, gerakanku terhenti seketika begitu Satya kembali buka suara.
“Tapi, kamu cantik banget kayak gitu.”
Dengan susah payah aku menelan ludah. Aku nyaris kehabisan suara untuk berkata-kata. Bukan karena tersanjung. Hanya saja kupikir penampilanku saat ini terlalu berantakan. Entah apa yang Satya pikirkan. Nyaris serupa dengan apa yang sering bapak ucapkan.
“Bibi, ada tamu di depan.” ujar Alif saat tiba di meja makan.
“Tamu?” tanyaku heran.
“Katanya teman kantor Bi Alya.” sahut Hanif.
“Ya, udah. Kalian duduk dulu. Biar Bi Alya ke depan.” pintaku pada Hanif dan Alif.
Sebelum keluar dari dapur, aku sempat melirik Satya sekilas. “Saya nggak suka maksa orang buat makan. Tapi, kalo kamu nggak keberatan, silahkan duduk untuk menikmati hidangan yang sudah saya siapkan.” kataku pelan.
Mendengar itu Satya kembali tertawa. Ditutup dengan seulas senyum manis di balik bibirnya yang tipis. Langkahnya berlalu meninggalkanku. Berhenti di dekat meja makan. Menemani Hanif dan Alif yang asyik bermain mobil-mobilan.
*****
Setiap rahasia selalu punya cara sendiri untuk membuka diri.
__ADS_1
Kupikir akan ada sambutan hangat dari Abas dan Rayhan begitu aku membuka daun pintu. Namun, mereka seolah ingin menghabisiku detik itu juga saat kami berjumpa.
“Kamu mau bunuh saya perlahan, Al?” ujar Rayhan datar. Wajahnya uring-uringan. Rambutnya acak-acakan. Dia nampak tidak karuan.
Aku tidak punya jawaban selain mempersilahkan mereka masuk ke dalam.
“Kalo kamu nikah, terus hamil. Saya nggak bakal rela kamu izin cuti melahirkan.” sahut Abas sambil melemaskan tubuhnya di sandaran sofa.
Tidak perlu bertanya apa yang terjadi. Memang siapa lagi yang bisa membuat Abas dan Rayhan frustasi seperti ini selain pimpinan kami?
“Mas Zifran kenapa lagi?” tanyaku hati-hati.
Rayhan menghembuskan napas berat. “Saya disuruh kerja rodi.”
Abas menimpali. “Saya disuruh jadi bawahan orang yang kerja rodi.”
“Kamu harus liat berapa banyak naskah yang numpuk di meja redaksi.” ujar Rayhan, nada suaranya terdengar pasrah.
Abas menambah kegundahan pemuda itu. “Bayangin aja, nih, Al, seumur-umur saya nggak pernah nanganin naskah berkilan-kilan gitu, pula. Mana habis dikerjain, saya dimarahin lagi. Kalau nggak demi Rayhan, saya nggak bakal sudi, deh. ”
Rayhan tertawa lucu. “Thanks, ya, Bas.”
Abas tersenyum setuju. “Hutang banyak kamu sama saya Ray. Lagian saya bingung, Mas Zifran ngapain pake acara ngasih Alya izin cuti segala, coba?”
Aku melirik sekilas ke arah mereka berdua. “Kalian cerita habis ini. Sekarang kita makan siang dulu, yuk?” tawarku, mencoba mencairkan suasana.
Aku mengerti, Abas dan Rayhan sedang suntuk berat. Terlebih lagi sudah hampir seminggu aku tidak masuk kerja. Secara tidak langsung, beban pekerjaan mereka bertambah banyak. Tapi, mau bagaimana lagi. Aku juga tidak menginginkan kondisi seperti ini.
Abas dan Rayhan bangkit dari sofa ruang tamu. Langkah mereka berat saat mengikutiku ke meja makan. Seperti orang tidak punya harapan.
“Kita nggak usah pulang aja, Ray. Biarin Mas Zifran nyariin kita ampe ke ujung dunia.” guyonan Abas membuatku menahan tawa.
“Ray? Kenapa? Nggak kesurupan, kan?” suara Abas membuat langkahku terhenti.
“Sejak kapan ada orang berengsek itu di sini, Al?” pertanyaan Rayhan sontak membuatku menatapnya tajam. Tanpa mengetahui apa yang terjadi, aku segera menghampiri Hanif dan Alif. Bergegas menyiapkan dua piring nasi beserta kari ayam untuk mereka.
“Kalian makan di kamar kalian, ya.” ujarku pelan.
Syukur Hanif dan Alif tidak banyak bertanya. Mereka langsung masuk kamar begitu kuminta.
Selama beberapa saat, hanya ada keheningan yang tercipta. Wajah Rayhan yang awalnya suntuk, kini berubah seperti orang yang siap mengamuk.
Satya berdeham, lalu tersenyum palsu. “Gimana, Ray? Udah bisa lupain Selma?”
Aku menatap Abas. Berharap pemuda itu bisa menjelaskan sesuatu padaku. Tapi, nampaknya tidak ada satu pun yang dia tahu.
Rayhan tertawa sinis. “Kamu sendiri gimana? Udah ke makam Ardy?”
Sepersekian detik setelah itu, Satya melepaskan pukulan ke arah Rayhan. Menonjok wajahnya habis-habisan. Membuatnya tersungkur, sudut bibirnya memar berdarah.
Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Rayhan bangkit dan membalas pukulan Satya. Semuanya seakan berlangsung dengan kecepatan cahaya. Baku hantam antara Rayhan dan Satya benar-benar lepas kendali.
Abas mencoba turun tangan. Berusaha menghentikan pertikaian mereka. Aku berupaya menahan Satya. Menahan pundak pemuda itu. Menggenggam tangannya yang terkepal kuat. Dia sudah siap untuk menjatuhkan pukulan lainnya ke wajah Rayhan.
“Satya!” seruku memperingatkan Satya. Mencoba meredam emosinya.
“Ray, udah, Ray. Ray!” Abas menahan Rayhan yang sudah babak belur.
Memarnya benar-benar sudah terlalu parah.
“Satya!!!” aku membentak pemuda itu. Kesal karena dia juga tidak mendengarkan.
__ADS_1
Aku tidak ingin perkelahian Rayhan dan Satya jadi tontonan untuk Hanif dan Alif. Terlebih lagi aku juga tidak ingin ada keributan di rumah ini.
“Kita bicara setelah ini. Setelah kamu sadar apa yang udah kamu lakuin sama Ardy!” ketus Rayhan lalu melangkah pasrah saat Abas membawanya pulang.
Perlu beberapa saat lamanya untuk memahami situasi yang baru saja terjadi. Kelopak mataku berkedip berkali-kali. Kupikir aku sedang berdiri dalam ikatan tokoh-tokoh fiksi. Sempat kupikir semua ini hanya ilusi, hanya sebuah kebetulan semata.
Tapi, ada apa dengan Selma? Ada apa dengan Ardy? Bukankah mereka berdua belum kusempurnakan dalam dunia tulisan?
Lantas mengapa nama mereka tiba-tiba hadir dalam kehidupan nyata? Bahkan jadi topik permasalahan antara Rayhan dan Satya.
“Saya minta maaf karena udah bikin keributan di rumah kamu.” ujar Satya. Terdengar penyesalan dari nada ucapannya.
Aku memutar mataku, menatapnya yang saat itu meringis pelan. Wajahnya juga tidak kalah dengan Rayhan. Babak belur habis-habisan. Darah segar mengaliri pelipisnya, namun dia abaikan. Jemarinya sibuk meraba lengan kanannya yang memar. Mungkin luka dari niatnya bunuh diri waktu itu belum sembuh sepenuhnya. Dan harus tambah parah karena perkelahian tadi.
“Obatin dulu luka kamu.” ujarku mengingatkan.
Namun, pemuda itu tidak menghiraukan apa yang kukatakan. Dia bahkan langsung berjalan, memungut lembaran sketsanya yang berjatuhan. Membereskan peralatan tulis dan katalog desain yang sempat berhamburan.
Tanpa ada sepatah kata yang Satya ucapkan, dia langsung pulang. Meninggalkanku yang masih mematung sendirian.
Sibuk memikirkan sesuatu yang bahkan tidak bisa kumengerti. Apa sebenarnya hubungan Satya, Ardy, Selma, Rayhan dan Cinnamon?
*Sajak Semesta
Semesta punya banyak rahasia.
Punya jutaan cerita yang tidak pernah kamu baca,
Maupun kamu dengar dari orang-orang di dunia.
Semesta gelap.
Tanpa cahaya.
Senyap.
Tanpa Suara.
Pengap.
Tanpa udara.
Semesta senantiasa berhias awan-awan raksasa.
Bebas, tidak pernah terjamah siapa pun di angkasa.
Semesta adalah misteri.
Penuh praduga tidak pasti.
Tanpa ada jejak-jejak jawaban.
Maupun sisa-sisa pengharapan.
Hanya saja akan selalu ada pertanyaan.
Pada siapa jua semesta akan berbagi rahasia?
Akankah selamanya semesta sendirian?
Meski dia sudah terbiasa.
__ADS_1
Tapi, percayalah semesta enggan kesepian*.