Aksara Rasa ( Untuk Rasa Yang Tidak Akan Sempurna )

Aksara Rasa ( Untuk Rasa Yang Tidak Akan Sempurna )
BAB Empat Belas


__ADS_3

Ada suasana berbeda saat melihat Rayhan menyesap Cappucino di depanku. Biasanya aku ke sini sendiri. Minum sendiri. Tidak punya teman bicara atau kawan diskusi. Tapi, nampaknya sekarang aku akan punya rekan baru dalam perihal menikmati kopi.


Sambil menunggu kedatang Cinnamon, aku menyimak cerita Rayhan tentang kejadian yang dia alami minggu lalu. Beserta dengan insiden yang terjadi padaku waktu itu.


“Hari itu Mas Zifran nyemprot saya habis-habisan. Marahin saya nggak karuan, bilang saya ini itu lah. Pokoknya pedas banget, Al. Beruntung hari itu juga kamu sakit dan bikin panik orang-orang di sini.” ujar Rayhan berkeluh kesah.


Aku sempat kepikiran, bagaimana bisa Algojo itu menjadi orang pertama yang tahu aku tidak sadarkan diri?


“Emang Mas Zifran tahu dari mana saya di sini waktu itu?” tanyaku penasaran.


“Nah, itu dia. Waktu Mas Zifran lagi di puncak emosi, handphone dia tiba-tiba bunyi. Saya, sih nggak denger apa yang diomongin. Cuman habis itu Mas Zifran langsung bilang, “Saya maafin kamu, Ray. Sekarang ambil mobil saya di parkiran dan jemput Alya di coffee shop. Nggak pake lama.”


Tutur Rayhan, mengikuti gaya bicara Mas Zifran yang datar tanpa nada.


“Berarti ada yang nelpon Mas Zifran dan ngasih tahu hal itu?” tanyaku menyakinkan.


Rayhan menggangguk ragu. “Kayaknya sih, gitu.”


Belum sempat aku membuka mulut untuk bertanya banyak hal pada Rayhan, pemuda itu terlebih dulu memotong niatku. Dia kembali melanjutkan ceritanya yang sempat tertunda.


“Nah, ini parah banget. Mas Rudi kamu itu, lho. Baru aja masuk mobil, saya udah dimarahin. Dikatain nggak bisa nyetir lah, nggak punya izin kemudi lah, nggak tahu orang darurat lah. Belum lagi Mas Zifran yang nyuruh saya nerobos lampu merah, nyuruh ngebut, nyuruh cepet-cepet pas jalanan lagi macet. Parah banget tuh mereka, serius, Al.”


Tawaku pecah mendengar penderitaan yang Rayhan rasakan. Membayangkan bagaimana gusarnya Mas Rudi saat itu membuatku tidak bisa berhenti tersenyum.


Bagaimanapun juga, Mas Rudi tetap punya hati semanis gula. Hanya saja aku jarang merasakannya.


“Janjiannya jam berapa, sih, Al?” tanya Rayhan sembari melirik arlojinya.


“Harusnya, sih, udah datang.” sahutku sedikit kecewa.


Pandanganku menyapu ke luar teras coffee shop mengamati seseorang yang tidak kutahu siapa. Aku hanya bilang aku menunggunya. Kukatakan padanya, aku mengenakan blous berwarna biru malam dengan rambut diikat sembarangan.


“Al, saya tinggal, nggak apa-apa, kan? Saya mau jemput ibu saya di bandara.” Rayhan menatapku dengan raut bersalah.


“Iya, nggak apa-apa, Ray. Udah, kamu berangkat aja. Nanti keburu ibu kamu lagi yang nunggu.” jawabku cepat, sedikit mendesak.


Rayhan bangkit dari poof. Meninggalkanku yang mulai dilanda kebosanan. Alunan Hidden Track milik Jason Mraz tidak lagi menyenangkan untuk kudengar.


Pandanganku mengarah ke layar handphone. Menunggu sesuatu dari Cinnamon. Semacam panggilan pemberitahuan atau pesan singkat. Paling tidak dia memberi kabar mengapa dirinya belum juga tiba. Merasa tidak akan ada sesuatu, aku nyaris meraih handphone dan berniat untuk menghubunginya terlebih dulu.


Namun, bolamataku berputar begitu menyadari ada seseorang yang duduk di seberangku. Seorang pemuda tiba-tiba melemaskan punggungnya di sandaran sofa. Dia melipat tangan di dada dan memamerkan sebaris senyum yang tidak kutahu maknanya apa.


Dia pemuda yang berdebat denganku tempo hari. Yang mau bunuh diri.

__ADS_1


“Jangan duduk di situ. Itu khusus buat tamu yang lagi saya tunggu.” ketusku arogan.


Namun yang diajak bicara justru tersenyum lebar.


“Saya, kan?” tanyanya dengan raut wajah yang tidak bisa kubaca.


Dany datang menghampiri meja kami. Menanyakan menu apa yang pemuda itu minta.


“Latte.” ujarnya hangat.


Mataku mengerjap. Mencoba mengenali pemuda itu lebih dekat.


Apa dia Cinnamon? Penulis Rentang Rasa yang kuselamatkan dari niatan bunuh diri waktu itu? Yang sudah membantu menyelamatkan nyawaku? Yang benar saja?


“K-kamu nyelamatin nyawa saya?” tanyaku setengah tidak percaya.


Pemuda itu berdecak kecil. “Orang baik nggak perlu mengumbar kebaikannya.”


Aku menangkap senyuman dari sorot mata pemuda itu. Dia adalah orang yang berniat bunuh diri di trotoar jalan, yang berdebat denganku tentang masalah AC hingga berujung listrik padam. Dia adalah penulis buku yang naskahnya tengah kutangani. Dia juga yang mengabarkan Mas Zifran mengenai keadaanku yang tidak sadarkan diri saat itu.


Dari sekian milyar jumlah penduduk dunia, mengapa aku harus berhadapan dengan orang yang sama? Mengapa aku harus berhadapan dengannya?


“Oh, ya, jujur saya nggak tahu banyak soal naskah itu.” ujarnya santai.


“Kamu hubungin saya duluan. Ingat itu.”


“Saya hubungin nomor handphone penulis naskah itu. Kalo kamu bukan orang yang saya maksud, harusnya kamu bilang dari awal kalo kamu bukan-“


“Penulisnya udah meninggal dunia.”


Dengan susah payah aku menelan ludah. Pikiranku melayang ke mana-mana. Rasanya ini kenyataan paling mustahil yang pernah kuterima.


“K-kamu bunuh dia?” tanyaku gelagapan.


Pemuda di depanku terbelalak. “Kamu pikir tampang saya ini tampang pembunuh?”


“Nggak semua mutiara itu berharga. Banyak yang palsu juga.” balasku menyelidik.


“Jadi, menurut kamu, saya bunuh penulis itu cuman buat naskah yang bahkan saya nggak tahu isinya kayak gimana?” sanggahnya tajam.


“Motifnya, kan, beragam. Kamu bisa aja bunuh penulis itu karena alasan tertentu.”


Kulihat pemuda di depanku mengurut keningnya. Dia berusaha menyusun kata-kata.

__ADS_1


“Kalo saya bunuh penulis itu, lalu buat apa sekarang saya nemuin kamu? Toh, andai kata saya memang pembunuh, mungkin sekarang saya udah jadi buronan. Nggak bisa keliaran ke mana-mana.” ujarnya menjelaskan.


Aku memikirkan apa yang dia ucapkan. Mengaitkan dengan kenyataan yang ada. Memang, apa yang dikatakan pemuda itu ada benarnya juga.


“Jadi gimana? Diterbitin nggak?” tanyanya mendadak.


Aku meneguk air liur berkali-kali. Mencoba memahami situasi ganjil seperti ini.


“Kalo ada masalah sama naskahnya serahin aja ke saya. Saya, kan kolega penulis buku itu. Jadi, nanti saya yang bakal nambahin bagian-bagian yang kamu mau.”


Dia menatapku singkat lalu menyesap Latte-nya yang baru saja tiba.


“Kamu-“


“Satya. Nama saya Satya”


Aku terdiam dalam waktu yang lama, menimbang-nimbang keputusanku sebelumnya. Jika memang benar Cinnamon sudah meninggal dunia, maka Satya adalah satu-satunya orang yang bisa kuajak bekerja sama hingga naskah ini selesai dengan sempurna.


Setelah menghela napas panjang, aku melanjutkan pembicaraan.


“Oke. Kalau gitu kamu harus-“


“Saya nggak bisa sendiri.” sela Satya dengan nadanya yang terdengar menolak.


“Lho? Kamu, kan tadi bilang. Kamu sendiri yang bakal-“


“Tapi, saya bukan penulis.”


“Emang kamu pikir saya penulis? Saya cuman copyeditor yang-“


“Setidaknya kamu ngajarin saya gimana cara nulis yang bener. Kalo naskah yang udah direvisi nanti bermasalah, ujung-ujungnya kamu juga bakal repot, kan? Jadi, kamu ajarin saya dulu. Baru habis itu saya bisa tulis sesuatu.”


“Ya, kamu sesuain aja sama alur naskahnya yang udah ada. Nggak ada cara nulis-“


“Kamu aja yang ceritain sama saya gimana isi naskahnya. Selebihnya saya yang nambahin. Tapi, kamu yang bimbing.”


Nyaris saja mulutku mengeluarkan kata-kata kotor untuk mengurangi beban berat yang membuat dadaku sesak. Tapi, lidahku menolak untuk menjejalkan perkataan sembarangan semacam umpatan sialan.


“Kamu suka banget, ya, motong-motong pembicaraan orang?”


Aku tidak tahu apa arti tatapan Satya sesaat setelah aku bertanya padanya. Dia menatapku dengan senyum yang tersembunyi. Kedua bolamatanya memandangku lekat. Bahkan aku bisa melihat dengan jelas bola matanya yang berwarna coklat pekat. Nyaris membuatku terpikat.


“Cuman sama orang cerewet kayak kamu.”

__ADS_1


__ADS_2