Aksara Rasa ( Untuk Rasa Yang Tidak Akan Sempurna )

Aksara Rasa ( Untuk Rasa Yang Tidak Akan Sempurna )
BAB Dua Belas


__ADS_3

Sakit.


Ristretto-ku membisu. Sama sekali belum kusentuh. Isinya masih tetap utuh. Mengindahkan asapnya yang lenyap tidak berbekas. Tenggorokanku haus. Lidahku kering. Tapi, kepalaku terasa berat meski hanya sekedar diangkat. Otakku punya instruksi berbeda, dia minta bolamataku agar tidak usah dibuka.


Aku tidak tahu bagaimana suasana di dalam coffee shop. Hanya bunyi monoton hujan yang bisa kudengar. Selebihnya samar-samar. Sayup-sayup terdengar keributan, kericuhan. Membuat pikiranku berputar ke sana ke mari. Warna-warni benang kusut terbayang di dalam mataku seperti sedang menari. Bergelut tidak teratur. Berkecamuk maju mundur. Menjalar ke bagian ototku yang mulai terasa lemah.


Aku mengangkat kepala. Berusaha membuka mata. Mengusap layar handphone dengan tangan bergetar; baru kusadari ada dingin yang memburu. Kudengar aku merintih. Suaraku lirih. Belum sempat aku menekan digit nomor Mas Rudi, punggungku menyentuh lantai coffee shop yang membeku. Setelahnya tidak ada yang bisa kulihat selain gelap.


*****


“*Kalo menurut bapak, kamu itu paling cantik pas lagi pake celemek masak.” ujar bapak saat melihatku mengenakan kebaya di hari pernikahan Mas Rudi dan Mbak Aina. Beliau memergokiku yang sibuk berdandan di depan kaca.


Aku tersenyum lebar. Bapak selalu bilang seperti itu saat melihatku mengenakan pakaian baru. Bukannya tidak suka dengan apa yang kukenakan, bapak bilang begitu agar aku segera belajar masak dari ibu.


“Iya, Alya tahu. Ntar Alya bakal berguru sama ibu sebelum Alya nikah.”


Bapak tertawa hangat. Senyumnya lebar. Wajahnya dihiasi rona bahagia. Tapi, kudapati pula tangis yang hampir tumpah dari kedua bolamatanya.


“Kalo Mas kamu itu paling ganteng pas lagi benerin atap genteng. Keliatan banget lakinya.” bapak tertawa palsu sembari membuang muka ke arah foto keluarga yang terpajang di dinding kamarnya.


“Rumah bakal sepi nggak, ya, Al?” tanya bapak diiringi airmata yang bergulir membasahi pipi kanan beliau.


“Habis ini kamu nggak bakal lagi berantem sama Rudi.”


“Nggak bakal ada lagi yang suka nyanyi-nyanyi di kamar mandi.”


“Nggak bakal ada yang selalu bikin repot kalo mau sarapan pagi.”


Aku meraih kedua tangan bapak. Kuusap jemari dan telapak tangan beliau yang kasar. Penuh luka goresan karena jarum mesin jahit. Bahkan di hari pernikahan Mas Rudi pun, jari bapak masih berbalut handsaplast. Aku menahan tangis mendapati kenyataan itu. Kuangkat kedua tanganku dan menghapus air mata yang membasahi pipi bapak. Kutatap beliau sambil tersenyum getir. “Mas Rudi bakal tetap jadi anak bapak sama ibu. Sampai kapanpun*.”


*****


Aroma kayu manis perlahan mengusik saraf-saraf penciumanku. Mengalir ringan, menjalar perlahan, mengingatkanku pada sosok Arfian. Memaksa otakku memutar rekaman pada mesin waktu. Memintanya sejenak kembali ke masa lalu.


*Di awal musim kemarau saat itu, selepas pulang sekolah Arfian langsung mampir ke rumah. Masih dengan mengenakan seragam merah putih, dia bergegas membantuku menjemur kayu manis yang basah. Meski hari itu matahari bersinar cerah, membuat lelahku semakin bertambah, tapi aku menolak perintah bapak dan ibu untuk istirahat di rumah. Aku tidak suka sendiri. Tidak suka sunyi. Aku ingin mencari kesibukan. Ingin punya kegiatan.


Kami menggelar tikar rotan sebagai alas di atas pekarangan. Satu toples besar kuhamburkan sembarangan. Membuat Arfian menatapku kesal.

__ADS_1


“Kamu ngamburinnya jangan asal-asalan dong, Al.”


Aku tidak menghiraukan apa yang dia katakan. Tanganku tetap menghambur kepingan kayu manis ke sembarang arah. Sementara Arfian terpaksa memungut sebagian dari mereka yang jatuh di atas tanah. Dia menggerutu tidak jelas. Mengomel tidak karuan.


Perlahan kurasa pandanganku memudar. Samar-samar kulihat Arfian berlari ke arahku. Selang beberapa detik setelah itu, kurasa punggungku menikam batu-batu pekarangan dan jatuh di atas kepingan kayu manis yang tadi kuhamburkan. Dengan sisa kesadaran yang masih bisa bertahan, saraf pendengaranku menangkap suara panik Arfian.


“Alya, bangun, Al! Alya! Bangun*!”


*****


Kelopak mataku terbuka lebar. Pandanganku menyebar ke atas langit-langit. Selama beberapa detik lamanya aku dihantui tanda tanya. Di mana aku berada? Apa aku sedang ditawan? Atau jangan-jangan aku disandera? Apa aku ada di gudang bawah tanah dan jadi seorang tahanan? Apa aku tidak akan bisa lagi merasakan hangatnya sinar matahari? Mengapa tubuhku berkeringat dingin? Apa aku tertidur karena berada di atas puncak gunung? Apa aku akan mati jika aku memejamkan mata kembali?


“Hei.” aku menoleh saat menyadari ada seseorang di samping kananku. Nafasku yang sebelumnya tertahan, kini dapat kuhembuskan perlahan.


Aku memejamkan mata selama beberapa detik saat Arfian bangkit dari duduknya. Pemuda itu mengecup kepalaku untuk waktu yang lama.


Dia menatapku sangat dekat, sangat lekat. Kedua tangannya menggenggam tangan kananku. Menjalarkan rasa hangat yang lagi-lagi terlampau sulit untuk kutolak.


Melihat Arfian seperti itu, aku seperti dibuai masa lalu. Kutatap dia sambil tersenyum tipis. Membuatnya meringis.


“Masih bisa senyum gitu lagi.” gumam Arfian sambil menggeleng pelan.


“Di kamar tamu, tapi Mbak Aina sengaja ambil potpourri kamu.” tutur Arfian. Dia nampak mengerti dengan apa yang sedari menjadi pertanyaan dalam pikiranku.


“Fian.” kataku parau. “Besok pagi kamu nggak latihan?”


Arfian balas menatapku sambil tersenyum. “Saya pulang kalo kamu izinin.”


Aku melirik jam dinding di seberang lemari kecil. Jarum pendeknya berhenti sesaat di angka satu, sementara jarum panjangnya menunjuk tepat ke angka lima.


“Saya udah baikkan, kok.” ujarku sambil mencoba bangun. Pemuda itu membantuku duduk dan bersandar di bed head board.


“Lain kali jangan kayak gini lagi, ya, hm?” pinta Arfian sambil mengelus pipiku yang detik itu juga langsung mencair. Hangatnya meluluhkan rasa dingin yang sedari tadi kudera.


Aku tertawa renyah. Kutatap kedua bolamata Arfian yang detik itu juga membuatku lemah. Seluruh tulangku seakan remuk. Sendi-sendinya seolah mati. Otot-ototku seperti tidak berfungsi. Otakku membeku saat Arfian kembali bangkit dari duduknya lalu mendekatkan jarak di antara kami. Pemuda itu memandangku seolah menunggu sesuatu.


Tanpa alasan apapun, entah untuk apa aku justru berhenti menatapnya. Kupejamkan kedua bolamataku perlahan. Kudengar deru nafasnya yang hangat memburu. Sepersekian detik setelah itu aku hanya bisa membeku. Membiarkan kecupan hangat mendarat di bibirku yang kering. Meninggalkan jejak-jejak kelembutan Espresso Macchiato dalam ciuman singkat yang Arfian berikan. Mengalirkan rasa yang membuatku bertanya-tanya.

__ADS_1


Apa sebenarnya Espresso Macchiato itu. Mengapa sekarang jadi lembut dan manis secara bersamaan?


*****


Tidur berkepanjangan membuat kantukku hilang di jam-jam larut seperti ini.


Satu jam sebelumnya, aku memaksa Arfian pulang. Meski sempat menolak, akhirnya pemuda itu luluh ketika Mas Rudi dan Mbak Aina meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja. Aku hanya perlu banyak istirahat untuk cepat sembuh. Maklum, typhusku kambuh.


Sampai sekarang, masih tersisa potongan rasa manis Espresso Macchiato dari bibir lembut Arfian. Aku mencoba mengingat bagaimana semua itu dapat terjadi. Mencerna bagaimana sesuatu sesingkat itu bisa meninggalkan jutaan kesan yang mendalam. Seolah ada pesan yang tertinggal dalam kecupan hangat yang Arfian berikan.


Aku berdecak. Kesal karena mataku tidak mau terpejam. Pikiranku terus berjalan tidak karuan. Namun, mendadak hilang begitu ada getaran handphone di bawah bantal.


Entah karena ingin bercanda atau memang sengaja, Cinnamon membalas pesanku dengan nada kurang menyenangkan. “Keberatan.”


“Saya nggak punya solusi lain. Kalau kamu ada, silahkan tawarkan.” balasku kesal.


Selang beberapa menit setelah itu, handphoneku bergetar. Dia masih terjaga rupanya.


“Saya nggak suka diskusi via online. Kalau mau, kita ketemu di coffee shop seberang kantor kamu.”


“Nggak mau.” balasku, menanggapi penolakan yang sebelumnya dia berikan.


“Nggak usah balas dendam.”


Aku tertawa. Menarik saja, karena percakapan ini diselingi rumor di jam tiga pagi.


“Lusa?” tanyaku asal.


“Udah sembuh?”


Aku tersentak mendapati pertanyaan itu. Apa yang pemuda itu ketahui tentang diriku?


“Kamu punya jimat apa?”


“*Kamu harus traktir saya latte pas nanti kita ketemu.”


“Untuk?”

__ADS_1


“Untuk bilang makasih, karena saya bantu nyelamatin nyawa kamu waktu itu*.”


__ADS_2