Aksara Rasa ( Untuk Rasa Yang Tidak Akan Sempurna )

Aksara Rasa ( Untuk Rasa Yang Tidak Akan Sempurna )
BAB Lima Belas


__ADS_3

Aku tidak tahu kenapa malam ini Mbak Aina terlihat berbeda. Dia menyambutku dengan senyum sumringah. Melempar pandanganku ke arahnya yang amat teramat cantik. Rambutnya yang biasa diikat, kini diurai bebas. Baju terusan warna abu-abu pekat membuat penampilannya terlihat semakin anggun. Bibirnya dibalut lipstick berwarna kelam. Membuatku terheran-heran.


“Kenapa, Mbak? Tumben-tumbenan pake lipstick.” kataku sembari meletakkan sepatu kets di atas rak. Lalu mengikuti langkah Mbak Aina yang berjalan di depanku.


“Hari ini, kan hari ulang tahun Mas Rudi. Mbak nggak bisa ngasih apa-apa, takut nanti nggak di terima. Jadi, Mbak buatin ini aja. Gimana menurut kamu, Al?”


Aku melongo tidak percaya saat tiba di ruang makan. Di atas meja terhidang kue bolu tingkat tiga, lengkap dengan lilin di sekelilingnya. Mangkok-mangkok besar berisi salad buah, salad sayur, daging rendang, sup ayam, dan pete goreng memenuhi sekeliling meja.


Hanif dan Alif yang duduk berdampingan di dekat meja makan menatapku sambil tersenyum lebar.


“Bi, hadiahnya mana?” tanya mereka cengengesan.


Aku lupa, setiap perayaan hari jadi Mas Rudi, hadiahnya dilimpahkan untuk Hanif dan Alif. Dibungkus kado besar, lengkap dengan tulisan, “Semoga Hanif dan Alif selalu bahagia.”


“Besok, ya. Bi Alya belum bungkus kadonya.” sahutku menipu. Membeli hadiahnya saja belum kulakukan. Bahkan aku tidak ingat bahwa hari ini Mas Rudi ulang tahun.


Begitu menarik kursi meja makan, dari luar terdengar suara mesin bemo yang menderu. Mbak Aina segera berjalan ke arah pintu. Menyambut kedatangan suaminya yang baru saja tiba.


Aku tidak tahu bagaimana sambutan dan ucapan hari jadi yang diberikan Mbak Aina pada Mas Rudi. Yang pasti kemesraan mereka berdua benar-benar membuatku iri setengah mati. Entah kata-kata macam apa yang mereka berdua lontarkan. Aku hanya bisa menatap mereka dari kejauhan. Melihat mereka berpelukan. Menyaksikan mereka berdua tersenyum malu-malu setelah selesai berciuman. Seakan tidak sadar bahwa ada aku yang sejak tadi sibuk memperhatikan.


“Bi Alya nikahnya cepetan. Biar nggak usah liatin bapak sama ibu kayak gitu.” ujar Hanif sambil mengemudikan kapal pesiarnya di atas meja.


Aku menatap bocah itu pasrah.


“Ntar pas lahiran Bi Alya, anaknya langsung dua aja, Bi. Supaya rame.” sambung Alif dengan bolamatanya yang berbinar cerah.


Aku menghembuskan napas berat mendengar apa yang mereka berdua katakan.


Malas meladeni candaan Hanif dan Alif, aku bergegas menghidupkan lilin di sekitar kue bolu. Kemudian dalam satu teriakan aku berseru lantang, “Saatnya tiup lilin!”


*****


Sibuk menikmati salad sayur buatan Mbak Aina, aku dibuat tersedak saat Mas Rudi angkat bicara.

__ADS_1


“Karena renovasi perlu waktu sekitar satu bulan, jadi nanti, Ibu, Hanif sama Alif ke Yogya dulu. Seminggu setelah itu, bapak nyusul. Sekalian ngambil cuti tahun ini.”


Mbak Aina menatap Mas Rudi dengan dua alis terangkat tinggi. “Alya gimana? Masa iya Alya kita tinggal sendirian?”


“Alya? Ya, ngawasin rumah, lah. Liat perkembangannya gimana, terus kirimin photonya ke kita. Kalo semua ke Yogya, kan bahaya. Bakal nggak ada mandornya dong.”


Aku hanya tersenyum pahit. Membayangkan betapa menderitanya aku karena ide gila Mas Rudi kali ini. Cutinya memang hanya satu minggu. Tapi, bagaimana mungkin dia meninggalkanku selama itu? Menjadi mandor atau semacam itu bukanlah keahlianku.


“Oh, ya, tadi sore bapak udah ketemu sama Panji. Kata dia, desain interiornya mau liat kondisi rumah kita dulu.” tutur Mas Rudi sambil melahap rendang terakhirnya.


“Emang rencananya, kita mau yang kayak gimana?” tanya Mbak Aina penasaran.


“Ya, bapak, sih, maunya Rustic. Tapi, tetap ada gaya modernya gitu. Biar nggak jadul-jadul banget.”


“Berarti gayanya kontemporer, pak.”


Aku melongo mendengar satu kata yang terucap dari mulut Hanif. Bahkan bukan hanya aku saja, Mas Rudi dan Mbak Aina juga dibuat berpandangan. Saling mempertanyakan siapa yang mengajarkan istilah semacam itu padanya.


Selagi aku menghabiskan salad sayur, Mbak Aina berlalu menuju dapur. Dia menyiapkan menu penutup untuk makan malam kali ini. Hanif dan Alif telah berpindah tempat ke depan televisi. Sibuk menjalankan kapal pesiar dan pesawat terbang mereka.


“Al, lusa kamu nggak ke mana-mana, kan?” tanya Mas Rudi terdengar berbisik. Kedua bolamatanya tertuju ke arah dapur, mengawasi pergerakan Mbak Aina.


“Kan, dari besok libur, Mas. Jadinya, ya, nggak ke mana-mana. Kenapa emangnya?” tanyaku setelah meneguk segelas air putih hangat.


“Mas titip anak-anak, ya.” Sedetik kemudian dia melanjutkan. “Besok rencananya Mas mau ngajak Aina liburan. Sekalian bulan madu.” bisiknya pelan. Membuatku batuk berulang-ulang.


“Bulan madu?” tanyaku tidak percaya.


“Iya, kan, Aina nggak mau nambah anak lagi.” sahut Mas Rudi menjelaskan.


“Ya, kalo nggak mau nambah anak, ngapain bulan madu?”


“Nah, ini. Kalo belum berumah tangga nggak bakal tahu alasannya.”

__ADS_1


Aku terdiam. Kenyataannya sesuai dengan yang Mas Rudi katakan. Aku memang belum berumah tangga, jadi tidak tahu mengapa suami istri harus selalu berbulan madu.


“Nggak bisa bawa mereka aja, Mas?” pintaku dengan nada memohon.


“Masa bulan madu ajak anak-anak? Gimana, sih, Al?” sahut Mas Rudi dengan raut wajah tidak mengerti.


“Udah, deh, nggak bakal lama, kok. Kamu tingga bilang aja mau minta apa? Ntar Mas beliin sebagai ucapan terima kasih.”


“Pulang cepet-cepet aja deh, Mas. Tahu sendiri, kan, Hanif sama Alif kalau nggak ada ibunya kayak gimana.” sahutku pasrah.


*****


Begitu memandang langit malam, niatku urung untuk membuka kaca jendela. Anginnya nampak keterlaluan. Terbukti ranting-ranting pohon mulai berjatuhan. Batang-batang pohon bergerak tidak karuan. Ke sana ke mari seperti menari.


Kedua tanganku sibuk mengeringkan rambut di depan kipas angin. Membuka helaiannya perlahan, membiarkan anak-anaknya berterbangan. Handuk kecil yang kugunakan untuk menyerap basahnya, kini sudah mulai terasa berat.


Menyadari bahwa rambutku sudah kering sempurna, aku bergegas menuju tempat tidur. Lalu merebahkan tubuh remukku di atas kasur. Menikmati aroma kayu manis yang menyebar. Membuatku tenang dan nyaman dalam waktu bersamaan.


Aku meringkuk dalam selimut tebal. Membungkus seluruh badanku yang mulai dirundung dingin. Baru sekejap memejamkan mata, telingaku dibuat berdiri seketika. Handphoneku bergetar panjang, menandakan ada panggilan.


Hanya dengan melihat nama Arfian, aku langsung tersenyum tanpa alasan.


“Hallo?” sapaku hangat.


“Punya waktu nggak? Kita ngopi-ngopi bentar, bisa?” tanya pemuda itu hangat.


Aku langsung bangkit dari tempat tidur. Selimut yang tadi membungkus badanku, kubuang ke sembarang arah. Dari kaca jendela, mataku menangkap sosok Arfian yang berdiri di depan sedan tuanya. Pemuda itu menunggu jawabanku sambil menengadah ke atas. Menatap jendela kamarku hingga pandangan kami bertemu.


“Tunggu saya di situ.” sahutku lirih.


Dengan kecepatan cahaya, aku bergegas mengenakan sweater rajutan bapak. Satu tanganku meraih jaket tebal yang tergantung di dalam lemari. Mengingat Arfian yang berdiri di sana hanya dengan mengenakan kaos oblong saja membuatku tidak habis pikir.


Dia lupa atau sengaja?

__ADS_1


__ADS_2